Melihat Kenyataan Masa Lalu untuk Meramal Masa Depan

Pendahuluan

Saya pernah meneliti kondisi dan potensi perikanan di Laut Jawa periode 2002-2013 sebagai tugas akhir saya sebagai mahasiswa jurusan Oseanografi. Potensi perikanan di suatu perairan dalam ilmu oseanografi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, seperti intensitas cahaya, kedalaman perairan, kandungan nutrien dalam laut, variasi musim, dan sebagainya.

Saya tidak akan menjelaskan hal tersebut dalam tulisan ini. Sudah cukup saya menuliskan hal tersebut sebanyak 86 halaman di tugas akhir saya. Saya lebih tertarik menjelaskan bagaimana saya bisa memetakan potensi perikanan di Laut Jawa.

Jawabannya satu : data penelitian. Data tersebut diperoleh dengan cara melakukan perhitungan rumus terhadap faktor-faktor yang mau kita lihat, seperti intensitas cahaya, kedalaman perairan, dan sebagainya. Data yang kita peroleh jumlahnya sangat banyak, ratusan, ribuan, bisa saja lebih. Data sebanyak itu kemudian kita analisis terhadap ruang dan waktu untuk lihat bagaimana polanya (trend), apakah potensi ikan meningkat di lautan yang dalam, apakah menurun saat musim kemarau, dan sebagainya. Pola yang kita dapat itulah yang disebut statistik. Statistik dibuat dari fakta. Dari hal-hal yang sudah terjadi, dan tidak bisa diubah. Namun dari hal yang kaku tersebut kita bisa membuat suatu rangkaian pola yang memudahkan kita meramal masa depan dengan cara ilmiah, bukan dengan mengunjungi paranormal.

Statistik berfungsi sebagai alat untuk memahami rangkaian peristiwa/kondisi lapangan yang benar-benar terjadi (fakta), kemudian membuat skenario, ramalan, prediksi untuk hal serupa di masa depan. Tujuannya jelas, agar dapat dilakukan suatu tindakan preventif dalam mengatasi masalah yang ada dan agar mendapatkan hasil yang lebih baik di masa depan.

Keagungan Statistik dalam Sepakbola

Banyak bidang dalam kehidupan yang erat kaitannya dengan penggunaan statistik. Tak hanya bidang oseanografi, sepakbola sebagai olahraga favorit sayapun termasuk salah satu bidang kehidupan yang tidak bisa lepas dari statistik. Mulai dari suporter, jurnalis, hingga pelatih di zaman sepakbola modern ini banyak yang mengandalkan statistik dalam menganalisa suatu pertandingan. Penggunaan google glass oleh German Burgos (asisten pelatih Atletico Madrid saat menjadi juara La Liga tahun 2014) dalam melihat kondisi pergerakan pemainnya, penggunaan model analisa performa oleh FC Midtjylland (juara Superliga Denmark 2015) ataupun penggunaan GPSports untuk mengetahui kondisi dan kemampuan fisik seorang pemain oleh tim-tim besar eropa saat pramusim adalah contoh-contoh pengumpulan data untuk mendapatkan statistik.

Dalam sepakbola, banyak sekali manfaat yang diperoleh dengan mengumpulkan data statistik. Sebuah klub, mulai dari direksi, manajer tim/ pelatih utama bersama para stafnya dapat melakukan banyak hal terkait penggunaan data statistik, antara lain :

a) Membuat daftar transfer pemain

Dengan melihat statistik seorang pemain, maka dapat dilihat pula karakter seorang pemain, apakah tipe petarung yang tidak segan-segan melakukan tekel, tipe pemain yang malas membantu pertahanan, pencetak gol ulung, mudah cedera/tidak, dan sebagainya. Tim pelatih dapat menentukan pemain yang tepat untuk menjalankan strategi mereka dengan benar.

Sebagai contoh adalah Juventus yang membeli Carlos Tevez pada musim panas 2013 untuk mengatasi masalah minimnya kontribusi gol para striker Juventus di dua musim sebelumnya. Dalam dua musim berseragam hitam-putih, Tevez dapat mencetak 50 gol di seluruh kompetisi, jauh diatas striker pendahulunya seperti Mirko Vucinic (26 gol selama 3 musim), Alessandro Matri (31gol selama 4 musim), dan Fabio Quagliarella (30 gol selama 4 musim). Tevez pula yang membuat manajemen Juventus ‘membuang’ 3 striker tersebut.

307055_heroa
Tevez masuk, Vucinic keluar. Keluar dari Juventus maksudnya. (Foto: http://calciomercato-juve.it)

b) Menentukan metode latihan, taktik dan strategi

Dengan melihat statistik para pemain sendiri maupun pemain lawan, mulai dari jumlah tekel, umpan sukses, stamina, kecepatan lari, clearance, jumlah peluang, jumlah gol, dan sebagainya, baik dari data tertulis ataupun rekaman video, seorang pelatih dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan baik tim sendiri ataupun pemain lawan, sehingga dalam latihan dapat ditentukan strategi dan taktik seperti apa yang dapat menaklukkan lawan dan bagaimana mengantisipasi ancaman lawan, siapa saja yang bermain sejak menit pertama sehingga tercipta permainan yang efektif dan efisien.

Selain itu statistik juga bisa menjadi bahan evaluasi bagi tim, apakah strategi pelatih berjalan atau tidak, kesalahan-kesalahan apa yang sudah dilakukan, demi menemukan solusi agar kesalahan serupa tidak terjadi lagi di pertandingan selanjutnya ataupun di babak berikutnya jika pertandingan belum selesai.

Sebagai contoh, dicadangkannya pemain-pemain seperti Francesc Fabregas, Nemanja Matic, Branislav Ivanovic, maupun Eden Hazard oleh Jose Mourinho di beberapa pertandingan (meski tidak semuanya langsung dicadangkan secara bersamaan) Liga Inggris musim 2015/2016 merupakan buntut evaluasi dari permainan mereka dimana statistik mereka saat ini memburuk dibandingkan dengan musim sebelumnya, seperti Fabregas yang dalam 10 pertandingan hanya membuat 1 assist (musim lalu 9 assist dalam 10 pertandingan).

c) Faktor psikologis untuk memotivasi seorang pemain atau sebuah tim

Dengan melihat statistik performa pribadi, seorang pemain dapat melihat kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana memanfaatkan kelebihan mereka dan menutupi kekurangan mereka dengan bantuan staf pelatih. Selain itu, sebuah tim juga dapat suntikan motivasi luar biasa jika mereka melihat statistik beberapa pertandingan terakhir mereka di liga atau melawan sebuah tim dalam beberapa tahun terakhir tergolong positif, sehingga ada lecutan dalam diri agar trend tersebut berlanjut.

Sebagai contoh, setelah pertandingan semifinal Euro 2012 antara Italia dan Jerman, Miroslav Klose pernah mengungkapkan bahwa beberapa pemain Jerman “sudah merasa kalah” sebelum pertandingan, hal yang bukan tidak mungkin dipengaruhi oleh statistik masa lalu pertemuan kedua tim di kompetisi resmi.

Selain itu statistik juga dimanfaatkan oleh media elektronik dan media cetak sebagai bahan ulasan untuk menarik perhatian masyarakat tentang suatu pertandingan maupun kompetisi/kejuaraan. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

a) Mengulas/memprediksi jalannya pertandingan

Misalnya saja dalam suatu pertandingan yang disiarkan televisi, saat jeda babak pertama kita seringkali melihat statistik ulasan pertandingan, mulai dari jumlah sepak pojok, offside, kartu kuning maupun kartu merah, persentase penguasaan bola, jumlah penyelamatan, dan sebagainya. Hal ini digunakan komentator/pundit untuk mengulas kondisi jalannya pertandingan dan memperkirakan apa yang akan terjadi di babak kedua. Selain itu statistik juga bisa digunakan sebelum pertandingan berlangsung untuk memprediksi bagaimana sebuah laga akan berlangsung.

b) Mengetahui pola pikir seorang manajer atau gaya main sebuah tim

Tiki-taka, totaal voetbal, gegenpressing, catenaccio, hingga parkir bus merupakan gaya main sebuah tim yang istilahnya dipopulerkan oleh media. Meski sebagian besar istilah tersebut muncul jauh sebelum statistik sepakbola modern menjamur, namun sebutan itu juga terlontar dikarenakan kebiasaan atau pola bermain yang selalu diperagakan sebuah tim dalam suatu kompetisi/kejuaraan sehingga terciptalah “statistik” sederhana oleh media untuk melabeli gaya main sebuah tim. Secara tidak langsung statistik pertandingan sebuah tim juga membuat kita bisa meraba bagaimana pola pikir seorang pelatih dalam meramu taktik sebuah tim.

Kumpulan Fakta untuk Masa Depan

Seperti yang sudah dijelaskan dalam pendahuluan, statistik yang diperoleh sebuah tim dalam latihan maupun pertandingan sepakbola merupakan hasil pengamatan data yang merupakan fakta yang terjadi di masa lalu. Fakta-fakta tersebut sudah nyata adanya, tidak bisa diubah, dan telah menjadi sejarah.

Pada praktiknya, data statistik kadangkala tidak berpengaruh dalam pertandingan, karena sepakbola lebih dari sekedar angka-angka dan manusia sebagai pelaku dalam pertandingan bukanlah komputer yang bisa melakukan sesuatu secara terprogram. Satu momen atau kejadian dalam pertandingan dapat mengacaukan statistik, serapi apapun hal itu dibuat. Statistik juga tidak menjelaskan siapa pemenang sebuah pertandingan.

Sebagai contoh, dalam pertandingan final Euro 2004 antara Yunani dan Portugal, statistik seolah berkata bahwa Portugal memborbardir gawang Yunani dengan berbagai serangan. Statistik tendangan sudut pun 17:1 untuk Portugal, tapi cukuplah satu tendangan sudut untuk kemudian dikonversi Angelos Charisteas menjadi gol untuk membuat Cristiano Ronaldo muda menangis setelah pertandingan (19 tahun saat itu, dan masih memakai anting) dan membawa Yunani menjadi juara Eropa.

Namun, perlu diingat, statistik dibuat agar manusia bisa mengubah sejarah menjadi lebih baik untuk sebuah tim, agar seluruh elemen dalam klub bisa memperbaiki diri, melakukan inovasi, terus berjuang meningkatkan martabat tim, untuk terus berharap agar dapat menyongsong masa depan yang penuh kejayaan, bukan terus terpuruk dengan mengulangi kesalahan yang sama.

Ditulis pada bulan November 2015, di-post setahun kemudian, haha.

Featured Image : www.statisticsviews.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s