Sepakbola Indonesia, 13+, Dan Pentingnya Pendidikan

“Tadi malam nonton PSM vs Persib. Kenapa ya rating yg ditulis 13+, bukannya semua umur? Hm..” (Av, 30 Okt 2016 pagi, status LINE)

Itu status LINE teman saya yang muncul di timeline saya. Saya menyoroti rating tontonan televisi yang menunjukkan angka 13+. Sebuah pertandingan sepakbola di Indonesia, yang disiarkan di televisi, saat ini dianjurkan hanya untuk ditonton anak usia 13 tahun ke atas. Gila.

Mungkin pihak televisi selaku pemilik hak siar terlalu lebay dalam memberikan rating. Toh orang tua kebanyakan tidak akan melarang anaknya menonton sepakbola, yang jelas memberikan banyak unsur pendidikan, mulai dari olahraga, sportivitas, kerja sama, dan sederet ajaran moral lainnya.

Atau, pihak televisi memang sudah mempertimbangkan dengan seksama pemberian rating 13+ tersebut. Itu artinya, sepakbola Indonesia bukanlah tayangan yang cocok untuk anak kecil seusia sekolah dasar? Begitu? Apakah siaran sepakbola Indonesia banyak menampilkan hal-hal yang kurang edukatif untuk dilihat di televisi? Seperti kerusuhan antar suporter di dalam stadion, penonton berbondong-bondong masuk lapangan, wasit diserang pemain, atau mungkin keributan antar pemain?

Saya sudah lama tidak menonton pertandingan liga Indonesia (atau Indonesia Soccer Championship namanya saat ini) di televisi, tapi mungkin memang faktor-faktor itulah asal-muasal rating 13+ itu berasal. Tidak menghormati keputusan wasit, memukul wasit, pemain mudah terpancing emosi, adu jotos antar pemain, suporter ricuh lalu masuk lapangan, suporter mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pernah diajari sekolah, orang tua, atau agama, adalah sedikit hal-hal negatif yang jika tidak dicerna dengan bijaksana, tentu akan ditelan bulat-bulat oleh orang yang menontonnya sebagai hal yang boleh dan biasa dilakukan dalam pertandingan sepakbola, apalagi jika yang melakukan adalah pemain idolanya, atau mungkin suporter klub kotanya berasal. Usia 13+ dianggap sudah bisa mencerna hal tersebut dengan baik, mampu mengetahui mana yang sebaiknya dilakukan atau tidak, meski tidak mutlak dan masih butuh bimbingan dari orang tua juga.

Selayaknya seorang perantau yang meninggalkan kota masa kecil untuk menuntut ilmu, saat ini ia sedang pulang kampung. Tapi yang dilihatnya adalah, kotanya sama saja sampai sekarang, tidak berubah. Tidak ada pembangunan signifikan. Dan itulah yang saya rasakan saat melihat status ini. Sepakbola Indonesia atmosfernya masih gitu-gitu aja. Berarti masih rusuh. Contohnya saja, beberapa waktu lalu, meski di luar stadion, seorang suporter Persib Bandung dan seorang suporter Persija Jakarta, di dua pertandingan yang berbeda, menjadi tumbal nyawa melayang akibat pemukulan.

Bunuh anak orang. Mikir apa sih? Ian Rush (saat itu main di Liverpoool) saja pernah bilang, sepak bola tidak pernah sepenting itu jika dibandingkan dengan nyawa. Ia merujuk pada kasus tragedi Heysel tahun 1985 yang menewaskan 39 orang suporter, saat timnya bermain melawan Juventus di final European Cup. Memang, ketika akal sehat dan hati yang damai bergabung, seharusnya semua kerusuhan itu bisa dihindari. Memang mudah mengatakan demikian, apalagi jika kita tidak berada di lokasi. Namun, percayalah, kerusuhan di sepakbola manapun, menurut saya terjadi karena pada dasarnya para perusuh itu memang sudah berniat rusuh. Dalam kasus di Indonesia, mereka sudah berniat cari gara-gara, sudah ada niat mau mukulin orang. Mungkin kebetulan waktu dan tempat yang salah ‘mempersilahkan’ mereka untuk melakukannya.

Padahal para suporter ini semua sama, berangkat dari rumah, mungkin pamitan sama keluarga, untuk menonton hiburan bernama sepakbola, bukannya mau pergi perang. Yang membedakan hanya atribut. Tapi kepala mereka mungkin sudah terisi bahwa penegak hukum adalah musuh, suporter lawan adalah musuh. Singkatnya, beda atribut, berarti bukan teman. Ayolah, kebanggaan terhadap klub tidak sedangkal itu. Sepakbola harusnya menyatukan bangsa, bukan memecah bangsa. Fanatik kedaerahan boleh saja, mendukung klub dengan spartan lewat koor-koor di stadion boleh saja, menghujat keputusan wasit boleh saja, tapi bukan berarti emosi harus ditumpahkan begitu rupa.

Mungkinkah budaya suporter di negara kita meniru liga-liga luar negeri sana yang terkadang rusuh, seperti Liga Italia misalnya. Apakah para kelompok suporter meniru budaya ultras mereka secara bulat-bulat? Saya pernah membaca daftar suporter tewas yang dirilis oleh Save Our Soccer (SOS) melalui situs panditfootball.com. Totalnya 54 sampai saat ini sejak 1995, dengan yang terbaru terjadi pada 23 Oktober dan 6 November lalu. Penyebabnya macam-macam, mulai dari kecelakaan hingga tewas secara konyol karena aksi pengeroyokan, baik dengan benda tumpul atau benda tajam.

Benda tajam. Dapet darimana? Beli di alfamart terdekat dulu sebelum berantem? Bisa jadi. Tapi ingat, bisa jadi benda tajamnya dibawa dari rumah. Jika suporter berangkat menonton bola sambil membawa senjata, ini artinya ada yang salah dengan budaya pendidikan suporter kita di Indonesia. Kita tentu tidak setuju jika hal seperti ini terus dibiarkan.

Pentingnya Pendidikan Untuk Pelaku Sepakbola Indonesia  

Balik lagi ke topik tentang kerusuhan dalam pertandingan sepakbola. Bagaimana cara mengatasinya? Mungkin beberapa hal bisa dilakukan. Suporter harus diajarkan bagaimana bersikap sportif, tertib, menghargai suporter lawan, belajar bagaimana mengendalikan diri dari provokasi, dan diajarkan kesadaran tentang pentingnya menjadi suporter yang cinta damai. Di dalam maupun luar stadion. Begitu juga para pemain, pelatih, dan ofisial klub. Mereka juga harus diajarkan bagaimana bersikap terhadap keputusan wasit yang mereka anggap merugikan, dan bagaimana tidak terpancing emosinya saat bermain, dan tidak walk-out saat keputusan wasit merugikan tim. Wasit (atau pihak PSSI?) juga diminta lebih banyak mensosialisasikan law of the game kepada para pemain, salah satunya dengan melakukan kunjungan ke masing-masing klub, seperti yang dianjurkan oleh Firman Utina. Tidak lupa pula terus belajar memperbaiki kualitas dan integritas dalam memimpin pertandingan agar kualitas pertandingan meningkat. Hal-hal ini hanyalah sedikit upaya yang harus dilakukan agar kualitas pertandingan sepakbola meningkat, sehingga sepakbola Indonesia lebih dikenal karena permainannya, bukan lagi karena kerusuhannya.

0000130585
Main sepakbola tuh isinya di dalem lapangan 23 orang mang, bukan 2300 orang. Aduh. (sumber foto: bola.net)

Saat saya belajar mengenai bencana alam saat kuliah Oseanografi dulu, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk menanggulangi bencana agar tidak menimbulkan korban jiwa yang banyak, yaitu mitigasi dan adaptasi. Dalam mitigasi bencana, contohnya saja tsunami, kita mempersiapkan hal-hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi tsunami dengan cara mengedukasi warga di daerah pesisir tentang pentingnya tanggap bencana tsunami, mulai dari menjelaskan apa itu tsunami, gejala-gejalanya, langkah-langkah yang harus dilakukan ketika gejala-gejala tsunami muncul, mengadakan simulasi bencana, hingga mengatur dan mensosialisasikan undang-undang yang mengatur tentang penanganan bencana. Sementara untuk wilayah yang sudah pernah terkena atau rawan tsunami, kegiatan adaptasi bisa ditambahkan untuk semakin memperkuat pertahanan terhadap ancaman tsunami, mulai dari early warning system, pemetaan lokasi rawan bencana, membangun giant sea wall, menanam hutan mangrove di daerah pesisir, dan lain sebagainya. Tapi tetap, pengedukasian masyarakat merupakan hal yang utama untuk dilakukan.

Dalam kasus sepakbola Indonesia, tentunya hal ini juga bisa dilakukan. Pengedukasian tentang menonton sepakbola yang damai pun berlaku untuk setiap kalangan, baik suporter yang dikenal damai ataupun biang onar. Pengedukasian pemain dan pelatih agar tidak menciptakan kerusuhan dalam lapangan pun perlu juga diberikan. Karena mau seperti apapun adaptasi kita terhadap kerusuhan (sanksi, denda, larangan masuk suporter ke stadion, larangan main untuk pemain, larangan mendampingi tim, penyiapan aparat keamanan berjumlah ribuan, hingga mendiskualifikasikan klub yang suporter/pemainnya rusuh), hal ini akan terjadi terus di masa depan, bila fondasi pola berpikir suporter dan pemain tentang sepakbola yang baik, damai, dan profesional tidak diperbaiki. Lagipula, mendukung klub kesayangan dengan heboh dan spartan bukan berarti harus rusuh kan? Bukan berarti harus menghilangkan nyawa orang lain kan? Apakah menghajar wasit juga akan mengubah hasil pertandingan?

Pendidikan itu sendiri bisa dilakukan oleh para pimpinan kelompok suporter, pihak klub, asosiasi wasit, asosiasi pemain, PSSI atau bisa dari dasar: pengajaran moral di rumah dan sekolah. Pengajaran moral memang terdengar sederhana, namun vital dan penting. Anak-anak yang mendapatkan pengajaran moral dengan baik akan memiliki kemampuan kontrol emosi yang baik, dan juga pikiran yang jernih dalam mengatasi masalah.

Mungkin peran orang tua dan sekolah sudah terlambat untuk kasus pemain profesional, namun berguna untuk calon-calon pemain dan suporter klub masa depan. Agar lingkaran setan ini ada jalan keluarnya, sehingga generasi masa depan tidak perlu pengulangi kesalahan yang sama dengan pendahulunya. Mungkin perselisihan dalam pertandingan sepakbola susah untuk dihilangkan, karena permainan ini tergolong keras, tapi setidaknya kerusuhan dalam stadion bisa berkurang sangat jauh, seperti contohnya Liga Inggris. Sehingga tayangan sepakbola Indonesia tidak perlu lagi diberi rating 13+. Capek ah kalo nonton sepakbola Indonesia gini terus.

Featured Image : tgaerialsat.co.uk/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s