100 untuk Quagliarella!

Biasanya kita mengucapkan kalimat seperti judul di atas jika seorang rekan kita bisa menjawab pertanyaan kita dengan tepat. Hal itu merupakan bentuk pujian dan biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sepakbola, angka 100 sendiri bisa bermakna spesial, namun bisa jadi hal yang biasa saja. Jika seorang pemain sudah tampil dalam 100 pertandingan resmi bersama tim nasional, itu merupakan hal yang luar biasa. Namun jika bermain sebanyak 100 kali untuk sebuah klub, hal tersebut merupakan hal yang bagus, namun tidak spesial, apalagi jika pemain tersebut merupakan pemain inti yang reguler bermain. Jadi, spesial atau tidak, tergantung sudut pandang kita masing-masing.

Begitu juga untuk urusan gol. Mungkin bagi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, mencetak 100 gol di La Liga merupakan perkara gampang. Namun bagi pemain lain, belum tentu mereka bisa meraihnya. Terkadang, butuh perjuangan yang berat, bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama hanya untuk mencetak 100 gol di liga. Hal itupun terjadi pada seorang Fabio Quagliarella.

Pertama kali bermain di Serie A bersama Ascoli di musim 2005/06, ia mencetak gol pertamanya pada 21 Desember 2005 saat melawan Treviso. Lalu baru pada 20 November kemarin, tepatnya pada pertandingan Serie A antara Sampdoria melawan Sassuolo di stadion Luigi Ferraris, di menit 83, sesuai dengan tahun kelahirannya, ia berhasil mencetak golnya ke-100 di kasta tertinggi sepakbola Italia tersebut. Setelah 13 musim berkiprah di Serie A dan berganti klub sebanyak 6 kali, ia akhirnya berhasil masuk dalam klub 100, mengikuti jejak striker-striker kenamaan Italia lainnya seperti Alessandro Del Piero, Luca Toni, Filippo Inzaghi, Christian Vieri dan masih banyak lagi yang sudah lebih dulu meraih pencapaian tersebut.

quagliarella-1-1024x569
Dua jari telunjuknya jika ditempelkan akan membentuk angka 11. Itulah kira-kira rentang tahun antara gol pertamanya dan yang keseratus. (Foto: http://news.superscommesse.it)

Bisa dibilang tidak mudah untuk Quagliarella meraih pencapaian ini. Banyak hal yang menghambatnya untuk bisa meraih hal tersebut. Sempat menjadi andalan di klub-klub seperti Ascoli, Sampdoria, Udinese, hingga Napoli, serta dianggap sebagai calon striker masa depan Timnas Italia, cedera ligamen lutut kanan yang dialami pada Januari 2011 saat membela Juventus sedikit mengganggu karirnya. Sejak itu, ia tidak pernah lagi menyegel posisi striker utama di Juve. Padahal di 4 klub terdahulunya dan juga di Juve sebelum cedera, ia merupakan pemain inti. Sejak itu pula ia harus rela menerima kebijakan rotasi pelatih Antonio Conte bersama striker lain yang membela Juve saat itu, seperti Alessandro Matri, Mirko Vucinic, hingga Sebastian Giovinco. Bahkan ketika Conte memboyong Carlitos Tevez dan Fernando Llorente, kondisinya jadi makin parah. Quagliagol makin terpinggirkan. Di musim terakhirnya di Juve, tepatnya pada musim 2013-2014, ia hanya mencetak 1 gol di Serie A, lebih sedikit dari saat ia membela Ascoli di musim debutnya di Serie A (3 gol). Ia bahkan dicoret dari skuad Juventus yang bermain di fase gugur Liga Europa.

Namun demikian, 23 gol di Serie A berhasil dilesakkan olehnya selama 4 musim membela Si Nyonya Tua, hanya kalah 2 gol dari jumlah golnya bersama Udinese (25 gol selama 2 musim). Rincian sisanya adalah 11 gol saat membela Napoli, 18 gol bersama Torino, 3 gol bersama Ascoli, dan 20 gol bersama Sampdoria sejauh ini.

Ia baru kembali menjadi andalan di lini depan saat hijrah ke Torino di musim 2014-2015. Penjualan jerseynya sangat laris musim itu di kalangan suporter Torino dan penampilannya berhasil membantu Il Toro hingga 16 besar Liga Europa. Namun saat Torino memulangkan Ciro Immobile musim berikutnya, ia pun tergusur. Ia pun memutuskan kembali ke kota Genoa, membela Il Samp, dan berhasil menuntaskan rasa penasarannya sebagai striker dengan menorehkan milestone 100 gol di sana.

Jika kita perhatikan, kesulitan pemain yang memiliki 25 caps untuk Gli Azzurri ini dalam mencetak 100 gol bukan hanya cedera saja, namun kesempatan bermain yang sempat menurun serta kenyataan bahwa klub yang dibelanya kebanyakan bukanlah klub besar tentu ikut mempengaruhi hal tersebut. Bahkan Napoli di musim 2009-10 dan Juventus pada musim 2010-11, dimana saat itu ia masih jadi pemain inti, bukanlah pesaing kuat dalam perburuan gelar Serie A. Ia juga bukan tipe target man yang tugasnya utamanya mencetak gol, terlebih ia harus berbagi peran dengan para penyerang semacam Antonio Di Natale saat di Udinese dan juga Marek Hamsik dan Ezequiel Lavezzi saat di Napoli.

Namun, meski begitu, ia adalah salah satu striker yang cukup diperhitungkan di Serie A. Ia merupakan pemain yang tergolong versatile, meski sebatas di lini depan. Ia bisa ditempatkan di sayap ataupun menjadi second striker, meski kini sudah jarang dilakukannya. Selain itu ia mempunyai kemampuan mencetak gol dari jarak jauh dan juga mencetak gol dengan cara spektakuler. Contohnya pun sudah banyak. Kita bisa melihatnya di youtube. Salah satu yang cukup diingat banyak orang adalah saat ia menjebol gawang Inter di musim 2012/13, saat pertandingan bahkan belum berlangsung selama tiga menit. Tidak lupa juga gol saltonya ke gawang Pescara di musim yang sama.

Tidak lupa juga, ia adalah pemain yang tidak suka berbuat masalah, dan cukup dihormati oleh para fans mantan klubnya. Hal ini dikarenakan sependek apapun waktu yang dihabiskan bersama sebuah klub, ia tetap menghargainya. Ini dibuktikan dengan cara tidak pernah merayakan gol ketika ia berhasil menjebol gawang mantan klubnya. Setidaknya saya sudah melihat langsung di televisi sebanyak 3 kali, yakni saat ia menjebol gawang Napoli pada musim 2011/12, Sampdoria pada musim 2012/2013, dan Juventus pada musim 2014/2015. Hal yang cukup mengesankan bagi seorang pemain yang cukup sering bergonta-ganti klub.

Quagliarella akan berumur 34 tahun pada Januari 2017 nanti, usia yang sudah memasuki masa senja untuk seorang striker. Mungkin terlalu muluk untuk 200 gol di Serie A, seperti rekannya Di Natale yang berhasil pensiun dengan torehan 209 gol. Apalagi jika melihat kontribusi golnya per musim di liga yang tidak pernah lebih dari 20. Namun setidaknya, ini merupakan pencapaian tersendiri untuknya. Sampdoria pun mengapresiasi prestasinya ini dengan menyiapkan kaos bernomor punggung 100 seusai mencetak gol melawan Sassuolo, sebuah ‘piagam’ yang mungkin akan dipajang di ruang tamu rumahnya seumur hidupnya. Apalagi ia juga mempunyai koleksi gelar 3 scudetti bersama Juventus, hal yang tidak dimiliki Di Natale.

Semoga saja kita masih bisa melihat gol-gol indahnya dalam beberapa musim ke depan, sebelum ia memutuskan gantung sepatu. Welcome to the club 100, Quagliagol!

Tulisan tribut ini dibuat karena sejak ia membela Juventus, saya sudah menghitung berapa koleksi golnya di Serie A saat itu dan mengira-ngira apakah ia bisa menembus angka 100. Selain itu, ia juga salah satu striker Juventus berkebangsaan Italia favorit saya selain Del Piero dan Inzaghi.

Featured Image : www.ilsecoloxix.it

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s