Bodo Amat, Yang Penting Menang

Pertandingan sepakbola selalu menjelaskan kepada kita berulang kali bahwa yang menang adalah yang mencetak gol lebih banyak. Mau mainnya secantik Barcelona atau sepragmatis Yunani di Euro 2004, kalau kebobolan lebih banyak ya namanya kalah. Meskipun selalu ada saja orang yang tidak terima dan mengatakan timnya bermain lebih baik, tapi bermain baik tidak akan dicatat dalam sejarah. Hanya yang menang yang dihitung.

Untuk kasus seorang suporter, terkadang fanatisme dan harapan selalu di atas realita dan logika. Jika tidak, buat apa seorang suporter Pescara datang ke stadion saat timnya bertanding melawan, misalnya Juventus? Hanya untuk wisata bersama keluarga, begitu? Tentu harapan timnya menjungkalkan Juventus pasti ada. Itulah salah satu hal yang menggerakkan mereka untuk datang, karena jika hanya memakai logika saja, sudah jelas kemungkinan Pescara menang hampir tidak ada. Untunglah pertandingan sepakbola tidak diukur dengan E=mc2 ataupun rumus ilmu pasti lainnya. Sehingga meski kemungkinan besar Pescara lebih banyak diserang oleh Juventus, tapi selama 90 menit tentu ada harapan mereka bisa mencetak gol dan menang. Jika akhirnya kalah, rasa kecewa tentu ada. Tapi itu karena mereka juga berharap. Namun jika akhirnya menang, seburuk apapun permainan tim sepanjang permainan, mereka akan tetap memuji tim kesayangan mereka.

Begitu juga dengan saya saat menonton timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Menonton timnas sedari dulu pastilah harap-harap cemas. Sekarang lebih parah. Persiapan timnas tidak bisa maksimal, karena waktu yang tersedia tidak banyak. Para pemain juga sudah lama tidak merasakan agenda internasional. Memang 4 kali hasil uji coba tergolong positif, namun tidak dari segi permainan. Lalu lebih kerennya, timnas tidak diberikan kesempatan memilih pemain-pemain terbaiknya karena kebijakan ‘aneh’ yang hanya mengizinkan dua pemain per klub yang boleh dipanggil timnas (mungkin operator Torabika Soccer Championship tidak menyangka bahwa PSSI akan ‘dicairkan’ secepat itu dan timnas bisa bertanding di Piala AFF 2016, sehingga jadwal kompetisi tidak dibuat dengan memasukkan kemungkinan tersebut). Tidak lupa ‘bonus’ kejutan yang kita dapat, yaitu absennya Irfan Bachdim dari turnamen ini 4 hari menjelang pertandingan pertama grup melawan Thailand karena cedera saat latihan. Pak Riedl ini pasti kalo ga sabaran melihat hambatan yang dialami timnas mungkin kepalanya udah meletus. Saya yang cuma nonton aja udah geleng-geleng kepala, apalagi dia yang tugasnya ngelatih?

Kira-kira sejauh apa sih mereka bisa bertahan dengan kondisi itu? Kita sudah melihat sendiri, tiap pertandingan grup timnas kita pasti kebobolan. Melakukan kesalahan-kesalahan mendasar seperti gagal mengontrol bola, salah umpan, sampai melepaskan tembakan tanpa perhitungan saja bisa kita temui di tiap pertandingan grup. Berkali-kali lho. Menonton timnas bermain rasanya sampai kesal sendiri. Berkali-kali saya geleng-geleng kepala sambil tertawa miris setiap timnas gagal membangun serangan. Mending kalo direbut, lha ini ngumpannya yang ngaco.

Sudah banyak orang yang membuat perkiraan tentang kiprah timnas di Piala AFF 2016. Tidak sedikit yang berpikir realistis tentang peluang juara, bahkan sekedar lolos dari babak grup. Namun saya tidak mau mengikuti mereka. Saya tidak mau realita dan logika saya mengalahkan fanatisme dan harapan saya. Biarkan saja timnas kita mainnya tidak memuaskan, tapi saya tetap mau mereka melaju sejauh mungkin. Kita sebagai orang Indonesia pasti ingin timnas kita juara Piala AFF 2016, baik terucap dalam omongan ataupun tersimpan dalam hati karena malu atau gengsi mengatakannya.

66889_86038_Timnas-Indonesia-v-Singapura_Angger-Bondan_Jawa-Pos.jpg
Dia (si nomor 8) yang bahasa Indonesianya nggak fasih aja mau berjuang buat timnas, masa’ kan gua yang cuma nonton doang nggak mau dukung? (Foto: http://www.jawapos.com)

Oleh sebab itu saya senang ketika timnas Indonesia berhasil melaju ke babak semifinal. Biarpun permainan keseluruhan masih jauh dari memuaskan, tapi toh kita berhasil melakukan perbaikan, setidaknya dari segi hasil. Pertama timnas kebobolan 4 kali dari Thailand, kemudian jadi hanya kebobolan dua kali dari Filipina, dan akhirnya hanya kebobolan sekali saat melawan Singapura. Sedangkan pada 3 pertandingan tersebut kita konsisten bisa mencetak dua gol di tiap pertandingan. Artinya, hasil pertandingan pun jadi membaik, mulai dari kalah, seri, hingga akhirnya menang di pertandingan terakhir. Hal ini bahkan tidak bisa dilakukan Filipina atau Singapura. Itu artinya, sektor pertahanan timnas semakin mawas diri, dan sektor penyerangan konsisten mencetak gol, meskipun masih banyak perbaikan sana sini. Hal ini yang sudah pasti akan coba dipertahankan Indonesia. Bayangkan bila timnas terus konsisten mencetak dua gol di partai semifinal melawan Vietnam nanti, tapi pertahanan juga terus semakin baik dan akhirnya mencatatkan clean sheet. Berarti kemungkinan kita lolos ke final semakin besar kan? Semoga saja memang demikian yang terjadi.

Lantas apakah kita sudah menjadi unggulan di Piala AFF 2016 ini? Belum. Kita masih tetap urutan terbawah. Diantara semifinalis yang lain, kita yang paling kecil poin kelolosannya. Memangnya kalau melihat gaya main timnas kita saat melawan Thailand, kita masih bisa bilang bahwa kita lebih jago dari mereka? Saya sih tidak berani bilang iya. Saat Thailand masih bisa menang melawan Filipina ketika hampir semua pemain intinya diistirahatkan, kita masih kesusahan mempertahankan keunggulan ketika melawan negerinya Christian Bautista itu.

Tapi siapa yang peduli dengan status unggulan? Yang penting timnas datang, timnas main, dan timnas menang. Lagipula, para pemain timnas juga tidak leha-leha kok, baik saat latihan ataupun saat pertandingan. Pak Riedl juga tidak sekedar duduk manis di pinggir lapangan. Mereka semua berjuang dengan perannya masing-masing. Sebagai seorang suporter pun, saya percaya mereka terus melakukan persiapan yang terbaik agar semakin siap dalam menghadapi semifinal nanti.

Biarkan saja orang lain pesimis. Mereka mau bilang timnas tidak akan juara Piala AFF dengan sederet analisis yang mereka punya, bebas. Mereka mau mengkritik taktiknya Pak Riedl, bebas. Mereka mau menghujat performa Yanto Basna, bebas. Bodo amat. Toh kalau emang akhirnya juara, nantinya pada senang semuanya. Pihak-pihak yang ragu itu akan ganti tampang semua menjadi pihak yang ikut senang dan ikut memuji.

Buat yang menyukai Liga Italia sejak kecil, kita tahu bahwa bagi klub-klub di sana, hasil adalah yang terpenting. Diving atau memprovokasi wasit sekalipun akan dilakukan mereka di lapangan asal itu bisa menguntungkan mereka. Pemikiran itu juga sedikit terbawa oleh saya yang sejak kecil menyukai Liga Italia. Mau timnas mainnya ngelawak, mau jungkir balik sekalipun, asal bisa golin lebih banyak dari lawan, artinya kita menang. Itu yang penting. Lagipula, berbeda dengan pemain di Liga Italia, pemain-pemain kita tidak suka menghalalkan segala cara. Setidaknya itu yang terlihat di 3 pertandingan grup.

Jika nantinya kita tersingkir dari Piala AFF 2016 ini, mungkin kita akan kecewa berat. Namun sekali lagi, itu karena kita punya harapan dan dukungan yang besar pada timnas. Ingat, timnas kita memang butuh itu, bukan keraguan dari masyarakatnya sendiri.

Selamat bertanding untuk Timnas Indonesia, semoga menang melawan Vietnam dan lolos ke final.

Tulisan ini dibuat sebagai tribut atas kelolosan timnas ke semifinal Piala AFF 2016 di tengah banyak hambatan dan keraguan, termasuk awalnya dari saya sendiri.

Featured Image : pinterest.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s