Biar Terbuang, Harus tetap Berjuang

Dalam sepakbola, manajer (atau pelatih) sebuah klub tentu punya kebijakan sendiri, mulai dari peraturan yang harus dipatuhi pemain, tentang bagaimana timnya harus bermain, hingga strategi apa yang hendak dijalankan. Setiap manajer sudah tentu punya pola bermain pilihannya masing-masing. Hal ini tentu saja berpengaruh kepada komposisi pemain dalam skuad. Apalagi jika manajer tersebut baru ditunjuk oleh pihak direksi untuk menukangi sebuah klub, biasanya perubahan akan terjadi, bisa sedikit, bisa juga banyak. Beberapa pemain lama yang sesuai kebutuhan tentu akan dipertahankan, sementara pemain-pemain yang karakternya tidak tersedia namun dibutuhkan klub akan dicari saat bursa transfer dibuka. Bagaimana dengan pemain yang ada dalam skuad namun bukan tipe yang dibutuhkan? Ya siap-siap saja jadi penghangat bangku cadangan, ikut bermain sesekali. Bisa juga masuk daftar jual, atau lebih parah, diasingkan.

Masuk ke dalam kategori ‘tidak dibutuhkan’ memang menyakitkan. Apalagi jika sebelumnya pemain tersebut merupakan pemain andalan. Kadangkala hal ini bukan hanya karena masalah teknis, namun juga non-teknis, contohnya seperti ribut dengan pelatih atau direksi klub. Jika sudah begini, tentu lebih aman jika pemain yang bersangkutan memutuskan keluar dan mencari klub baru yang lebih menjanjikan. Namun jika bursa transfer sudah lewat batas waktu, pembekuan dari skuad utama biasanya tidak dapat dihindarkan. Si pemain akan ‘dipaksa’ berlatih terpisah dari tim utama. Biasanya pemain itu akan berlatih bersama skuad junior tim tersebut, meski ada juga yang berlatih sendirian.

Pada saat berada dalam kondisi seperti ini, kita bisa menebak kira-kira apa isi kepala si pemain yang terkena hukuman tersebut. Bisa jadi frustrasi, kesal, dan merasa tidak dihargai. Bayangkan saja, saat para pemain muda berharap dipromosikan ke tim utama, mereka yang bertatus pemain bintang malah didegradasikan ke tim junior. Mungkin saja si pemain tanpa sepengetahuan media sudah mulai bergerak mencari-cari klub baru, meskipun pasar transfer belum dibuka. Rencana pemutusan kontrak dengan klub yang menaungi si pemain agar bisa dengan mudah bergerak di bursa transfer pun bisa jadi sudah dipersiapkan.

Namun, sepanjang saya memerhatikan beberapa kasus ‘pembekuan’ yang terjadi, saya tidak pernah mendengar para pemain yang sedang ‘dihukum’ oleh manajernya ini mangkir latihan. Sehancur-hancurnya perasaan mereka, sesi latihan tetap mereka jalani. Mereka tetap menunjukkan sisi profesional sebagai pesepakbola. Mereka dibayar untuk berlatih dan bermain sepakbola, dan mereka berkomitmen dengan hal tersebut. Apakah nantinya manajer mau memainkan mereka atau tidak, itu lain soal. Mereka tahu benar bahwa ngambek tidak ada gunanya. Daripada bertingkah bodoh, lebih baik tetap serius latihan, karena mereka tidak mau ketika nantinya tiba kesempatan untuk bermain, mereka justru jadi menurun kondisinya.

Sikap seperti ini yang membuat mereka tetap dihormati oleh fans. Bahkan mungkin sikap ini pulalah yang membuat beberapa dari mereka mendapatkan ‘pengampunan’ dan dikembalikan ke tim utama. Lagipula, memangnya ada manajer yang mau mengampuni seandainya si pemain yang dibekukan malas latihan? Rajin latihan saja belum tentu diampuni, apalagi kalau malas. Berikut ini adalah sedikit contoh pemain terkenal yang akhirnya mendapatkan ‘amnesti’ dari manajer mereka.

1. David Beckham

Pada saat menjalani musim terakhirnya di Real Madrid yang kala itu ditangani Fabio Capello, Becks harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak akan lagi bermain untuk Madrid hingga akhir musim. Setidaknya begitulah kata Don Fabio, tepatnya tanggal 13 Januari 2007, hanya dua hari setelah Becks menyepakati kepindahannya ke Los Angeles Galaxy pada akhir muim 2006/07. Tentu saja orang menganggap kedua hal tersebut berkaitan. Banyak media berspekulasi tentang alasan kepindahannya ke Amerika ini. Mayoritas yang saya baca saat itu sih, terkait dengan bisnis, Hollywood, dan Victoria, istrinya. Wajar saja, ngapain pemain sekelas dia pindah ke MLS yang (saat itu) ga ada apa-apanya? Dari Real Madrid lagi. Tidak masuk akal dari kacamata sepakbola.

Tapi hal tersebut ternyata tidak berlangsung lama. Hanya sekitar sebulan. Meski sempat cedera, namun akhirnya Don Fabio memasukkan kembali Becks ke dalam skuad. Ia rupanya masih membutuhkan Becks. Bahkan pada pertandingan pertamanya sejak ‘dicairkan’, tepatnya pada 10 Februari 2007, ia berhasil mencetak gol ke gawang Real Sociedad, memberikan kemenangan 2-1 untuk Madrid. Musim itu pun berakhir manis buatnya. Meski mengalami cedera di pertandingan terakhirnya di La Liga saat melawan Real Mallorca, ia berhasil membawa Madrid juara Liga Spanyol, yang pertama dan terakhir selama ia berkiprah di kawasan semenanjung Iberia tersebut.

Jangan lupa juga, jasa Becks bukan hanya itu. Total penjualan merchandise Madrid selama 4 tahun ia di sana benar-benar fantastis saat itu. Memiliki Becks dalam tim memang sebuah keuntungan ganda, baik dari sisi sepakbola maupun ekonomi. Silahkan tanya semua klub yang pernah ia bela. Mereka sudah merasakannya.

2. Yaya Toure

Ini sih bisa dibilang yang paling seru. Semua dimulai saat Toure tidak masuk skuad Manchester City untuk Liga Champions musim ini. Josep Guardiola tentu punya alasan atas pencoretannya. Ditengah keterbatasan jumlah pemain yang bisa ia daftarkan dalam ajang tersebut, ia memilih untuk menghapus nama Toure. Artinya, Guardiola yakin timnya tidak butuh Toure, minimal selama babak penyisihan grup. Namun, hal ini malah berbuntut dengan agennya Toure mengkritik keputusan Guardiola, bahkan mengatakan hal-hal yang membuatnya naik pitam. Maka dimulailah sesi pembekuan ini. Tidak sekalipun Toure dimasukkan dalam tim, kecuali agennya sudah meminta maaf pada Señor Guardiola.

Yah, pelajaran aja buat para agen, ingatlah bahwa klub dan manajer selalu lebih besar dari pemain. Mino Raiola juga ga kaya gini pas Mario Balotelli ‘diasingkan’ Liverpool saat pramusim lalu.    

Dibekukan sejak September, Toure baru mencatatkan penampilan perdananya musim ini di Premier League pada 19 November lalu, ketika melawan Crystal Palace. Sama seperti Beckham, ia langsung mencetak gol (tidak hanya 1, tapi 2) untuk membawa City menang. Ia dimainkan setelah beberapa waktu sebelumnya meminta maaf secara publik atas perselisihan yang terjadi antara agennya dan Guardiola. Meski tidak ada jaminan ia akan terus bertahan dalam skema permainan Guardiola, setidaknya ia membuktikan bahwa pembekuan tidak menurunkan kualitasnya. Hal yang bagus untuknya dan juga klub yang ingin mengambilnya nanti di bursa transfer.

3. Bastian Schweinsteiger

Untuk kasus yang satu ini, tidak ada cerita pengantar yang heboh seperti Toure ataupun Beckham. Ini murni keputusan taktikal Jose Mourinho yang lebih memilih Paul ‘Super Duper Mahal’ Pogba, Michael Carrick, Marouane Fellaini, Ander Herrera, dan Morgan Schneiderlin untuk posisi gelandang tengah. Apakah Schweinsteiger tidak lebih bagus dari mereka? Setidaknya begitu menurut Mourinho. Dan manajer selalu benar untuk urusan pemilihan pemain dalam skuad.

Kehebohan baru terjadi setelahnya. Banyak yang mengkritik keputusan Mou ini, mulai dari rekannya di timnas Jerman hingga pihak klub terdahulunya, Bayern München. Untung saja si pemain lebih memilih kalem. Ia tahu posisinya sebagai pemain. Ia terus berlatih, terus mengutarakan keyakinannya akan dapat kesempatan bermain, dan tidak lupa, menikmati kehidupan barunya bersama Ana Ivanovic.

626114306.jpg
Akhirnya Basti merasakan lagi kursi empuk di bangku cadangan Old Trafford. (Foto: http://www.sportskeeda.com)

Akhirnya pada 27 November lalu, setelah sejak akhir Oktober lalu dikembalikan ke tim utama oleh Mr Mou, ia berhasil masuk skuad yang menghadapi West Ham di Premier League. Apakah ia juga mencetak gol seperti Beckham dan Toure? Tidak, tidak. Kali ini tidak seheroik itu. Ia bahkan tidak diturunkan. Namun, berhasil duduk di bangku cadangan setelah sebelumnya duduk di bangku penonton merupakan sebuah kemajuan bukan?*

Tiga pemain di atas, tentu kita sudah tahu kemampuannya seperti apa. Mereka adalah pemain-pemain yang menjadi terkenal karena prestasi sejak usia muda, bukan sensasi ataupun blow-up yang berlebihan dari media. Sikap mereka juga menjelaskan bahwa dalam sepakbola, dicadangkan adalah wajar. Yang tidak wajar adalah sikap menerima bahwa dirinya dicadangkan. Mental juara mereka tentu sudah mengajarkan mereka harus terus berusaha membuktikan bahwa mereka tidak pantas dicadangkan. Dan mereka pun berhasil, terlepas dari apapun alasan manajer mengembalikan mereka ke tim utama.

Memang ada beberapa pemain yang akhirnya tetap gagal meyakinkan manajer mereka, dan mengakhiri masa pengasingan mereka dengan memilih pindah ke klub lain, seperti yang dialami Florent Malouda (Chelsea, tahun 2012) dan Carvalho Amauri (Juventus, tahun 2011). Namun mereka, sama seperti tiga pemain di atas, juga terus berlatih keras agar bisa terus bermain bagus di klub barunya nanti. Memangnya ada klub yang mau merekrut pemain yang lama tidak bermain jika tidak yakin dengan kemampuan mereka?

*Akhirnya Basti baru benar-benar dimainkan saat perempatfinal Piala Liga melawan West Ham (lagi) pada 30 November, tiga hari setelah pertandingan liga. Ia masuk pada menit 86 menggantikan Anthony Martial.

Featured Image : manutd.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s