Ketika Musibah Menyatukan Dunia Sepakbola

Kisah pesawat jatuh yang membawa para pemain sepakbola dulu sudah pernah terjadi beberapa kali. Tragedi Superga yang menimpa Il Grande Torino pada tahun 1949 dan juga Tragedi München yang menimpa Manchester United pada 1958 merupakan contoh yang paling diingat oleh kita. Sayangnya, pada 28 November lalu, kisah ini berulang lagi. Musibah itu kali ini menimpa Chapecoense, klub Serie A Brazil.

Mendadak tenar diseluruh dunia tentu menyenangkan untuk sebuah klub. Hanya saja, caranya sangat tidak menyenangkan untuk Chapecoense. ‘Ketenaran’ mereka justru didapat dari musibah yang mereka alami. Padahal, mereka punya kesempatan untuk terkenal dengan cara berprestasi di lapangan. Kita tahu jika mereka hendak berangkat ke Medellin untuk bertanding melawan Atletico Nacional pada final leg pertama Copa Sudamericana 2016 saat pesawat LaMia Bolivia Airlines Flight 2933 yang mereka tumpangi akhirnya jatuh dan menewaskan hampir seluruh penumpangnya. Hanya 3 pemain mereka yang selamat dari kecelakaan tersebut, bersama 3 orang lainnya.

Seperti halnya Torino dan Manchester United saat itu, mereka sedang menaiki puncak kesuksesan mereka sebagai sebuah klub. Namun, Tuhan memang punya rencana lain buat Chapecoense. Mereka mungkin tetap akan menjadi juara Copa Sudamericana, namun dengan pemberian sebagai tribut untuk para korban, bukan dengan hasil di lapangan. Mereka pun akan memasuki masa-masa yang menantang kedepannya, karena harus kembali membangun tim agar bisa kembali berprestasi. Paling tidak, menyamai prestasi para rekan mereka yang telah berpulang karena kecelakaan tersebut.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang saya perhatikan dalam peristiwa ini. Segera setelah kecelakaan yang menimpa Chapecoense diberitakan, ucapan dukacita dan solidaritas untuk klub dan juga keluarga korban yang ditinggalkan mengalir deras dari seluruh penjuru dunia, terutama dari dunia maya. Akun twitter semua klub peserta Serie A Brazil kompak menggunakan lambang klub Chapecoense sebagai profile picture mereka. Belum lagi mengheningkan cipta dan juga doa bersama yang dilakukan oleh banyak klub dan suporter sepakbola, baik saat sebelum pertandingan, saat sesi latihan, hingga di stadion dan gereja. David Luiz, yang mengenal dekat Arthur Maia, salah satu pemain Chapecoense yang menjadi korban, juga menulis tribut untuknya dan semua korban pesawat tersebut di akun instagramnya.

161129000843-cnnee-chapecoense-futbol-equipo-exlarge-169
Sang juara abadi yang telah menyatukan dunia sepakbola. (Sumber foto: http://edition.cnn.com)

Itu hanya sedikit contoh pihak-pihak yang bersatu menunjukkan solidaritas mereka sebagai manusia dan juga insan sepakbola. Mereka tahu bahwa musibah yang dialami Chapecoense bukan untuk ditertawakan, apalagi dihina. Solidaritas mereka pun bukan sekedar pencitraan dan ikut-ikutan. Kurang ajar sekali jika ada yang beranggapan seperti itu. Apalagi sebagai pesepakbola, yang hampir tiap minggu melakukan perjalanan jauh untuk melakoni pertandingan, mereka juga bisa bernasib sama seperti yang dialami Chapecoense. Kita yang suka melakukan perjalanan udara pun sama saja resikonya.

Pemandangan seperti ini tidak setiap hari kita temui bukan, melihat suporter dan klub dari berbagai penjuru dunia berkabung bersama, bersatu atas nama kemanusiaan. Bahkan Barcelona dan Real Madrid, dua rival kuda pacu di Liga Spanyol, turut melakukan hal yang sama, mengheningkan cipta saat sesi latihan masing-masing, sedikit menurunkan tensi jelang El Classico yang akan mereka jalani pada akhir pekan. Padahal, menjelang pertandingan biasanya kedua kubu akan saling perang urat syaraf, dan berita tentang mereka akan kita lihat di semua media olahraga, baik online ataupun cetak. Fans-fans garis keras akan saling mengejek di dunia maya dengan kata-kata yang kadang tidak disaring lebih dulu. Setidaknya, untuk hal terkait Chapecoense kali ini mereka sejalan dan sepemikiran. Berita tentang El Classico pun tidak menjadi headline, kalah dengan kecelakaan pesawat ini.

Saya jadi teringat peristiwa yang terjadi ketika Leonardo Bonucci sempat absen membela Juventus dan timnas Italia di awal musim 2016/17 ini karena harus fokus pada perawatan Matteo, anaknya yang sedang sakit. Pada suatu kesempatan wawancara ia mengucapkan rasa terima kasihnya pada seluruh suporter sepakbola di Italia atas dukungan yang diberikan padanya dan keluarganya saat itu. Bonucci mengatakan bahwa tidak peduli seragam klub apa yang ia kenakan, seluruh suporter di Italia memberikan dukungan untuk kesembuhan anaknya. Bahkan ia mengatakan bahwa apa yang dialami anaknya telah ‘menyatukan’ seluruh suporter di Italia. Padahal Juventus adalah salah satu klub yang dimusuhi seantero Italia, meskipun fansnya juga banyak. Kondisi ini seperti membuktikan bahwa saat nyawa yang menjadi bahasannya, hal lain menjadi tidak penting. Arogansi, fanatisme klub, rivalitas, semuanya dipinggirkan.

Contoh-contoh seperti ini sangat banyak terjadi. Ketika Hendrik Johannes Cruijff wafat pada Maret tahun ini, saat itu juga menjelang El Classico. Apakah fans atau pemain Madrid tidak ikut mengheningkan cipta hanya karena ia legenda Barca? Tentu tidak. Kawan atau rival, semuanya berkabung untuk Opa Cruijff.

Saya jadi mengambil kesimpulan bahwa, ternyata musibah dapat menyatukan insan sepakbola, tidak peduli ras, agama, jenis kelamin, daerah asal, ataupun klub favorit mereka. Pada saat musibah terjadi, bukanlah hal yang tepat untuk membicarakan rivalitas, apalagi bila yang tertimpa musibah adalah klub rival abadi. Hal ini tentunya terjadi tidak hanya di sepakbola saja, namun juga cabang olahraga lainnya, bahkan di aspek kehidupan yang lain.

Hanya saja, ketika sedang tidak ada musibah, rivalitas dalam sepakbola seringkali kembali dianggap ‘normal’, bahkan sampai tingkat yang keterlaluan. Seperti halnya saat Derby Della Mole, suporter Torino menghina tragedi Heysel yang menimpa Juventus, dan sebaliknya, suporter Juve menghina tragedi Superga. Bukan contoh yang baik untuk ditiru, kan? Musibah kok dijadiin bahan umpatan.

Apa memang dalam sepakbola, harus ada musibah dulu agar kebisingan rivalitas sedikit menurun tensinya? Apa memang watak manusia seperti itu? Semoga saja tidak seperti itu. Semoga ini memang hanya sebuah pemikiran selintas saja. Toh, permainan sepakbola tujuannya memang untuk menyatukan, bukan memecah belah kita sebagai manusia.

Tidak lupa, ucapan dukacita saya ucapkan atas musibah yang menimpa pesawat LaMia Bolivia Airlines Flight 2933. Semoga semua korban selamat bisa cepat pulih kembali, keluarga korban yang ditinggalkan bisa diberi ketabahan, dan klub Chapecoense bisa kembali membangun tim yang berprestasi. Untuk para korban tewas, khususnya para pemain dan ofisial Chapecoense, semoga bisa beristirahat dengan tenang dan diterima di sisi Tuhan.

Featured Image : abc.net.au

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s