Pakansari, Cerminan Persiapan Kita Sebagai Tuan Rumah

“Gua cuma pengen nonton pertandingan bola, bukannya mau demo. Gua cuma pengen pelesiran santai, bukan bertualang di antah berantah.”

Buat beberapa orang, kalimat di atas hanyalah keluhan seorang pemalas atau newbie yang hendak menonton pertandingan sepakbola langsung di stadion. Namun jika anda mengunjungi langsung Stadion Pakansari di Cibinong, Kabupaten Bogor untuk menonton timnas kita bertanding melawan Vietnam di semifinal Piala AFF 2016 kemarin, anda harus memaklumi keluhan saya sebagai suporter. Mungkin keluhan saya terdengar lebay, namun itulah kenyatannya. Memangnya nonton di stadion itu ga bisa nyaman? Kita berhak dapat fasillitas sesuai dengan harga yang kita bayar kan?

Stadion Pakansari mungkin memenuhi syarat untuk menyelenggarakan pertandingan internasional, seperti yang sudah ditetapkan oleh pihak AFF. Namun hal itu justru mengundang pertanyaan buat saya. Kriteria memenuhi syaratnya apa aja sih? Apakah hanya dilihat dari aspek terkait pertandingan saja?

Jika kita sedang duduk di kursi stadion lalu memandang lapangan pertandingan dan sekitarnya, kita mungkin akan berpikiran biasa saja. Lapangannya tergolong bagus (meski Pak Riedl mengeluh tentang rumput stadion), bangku cadangan sudah rapi, hingga tempat para pemain cadangan berlatih sudah disiapkan di belakang gawang. Intinya, semua terlihat oke. Setidaknya itu yang bisa kita lihat sebagai pihak suporter.

Namun dengan kondisi kita sebagai suporter, kita jadi tahu benar bahwa stadion itu jauh dari kata memenuhi syarat. Stadion Pakansari merupakan stadion yang disiapkan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 lalu. Namun hingga PON selesai, stadionnya masih jauh dari kata selesai. Para wartawan Vietnam juga sudah meliput betapa bobroknya stadion itu pada 1 Desember lalu, 2 hari sebelum pertandingan. Para suporter yang datang pun akhirnya melihat sendiri kebobrokan itu. Kita ini tuan rumah lho, sedang menjamu orang. Memangnya jika kita kedatangan tamu internasional, kita akan menjamu mereka di gubuk reot? Tentu tidak, apalagi kita masih punya rumah (baca: stadion) yang lain. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan. Segitu sederhanakah persyaratan yang diberikan AFF dalam menentukan kelayakan stadion sehingga mereka tidak masalah saat PSSI memilih stadion Pakansari?

stadion-pakansari_20161129_063327
Sementara kandang timnas negara lain banyak yang bagus-bagus, kita malah milih stadion ini. (Foto: tribunnews.com)

Sebagai suporter saya merasakan sendiri, mulai dari tanah basah yang ‘menyambut’ kami di depan stadion, tumpukan paving block yang mengganggu, hingga tidak adanya penerangan di lorong menuju tribun dan juga di luar area stadion adalah bukti nyata yang tidak bisa dibantah. Sisa-sisa renovasi juga masih bisa ditemukan. Semua orang bisa jelas melihat. Untung saja kemarin tidak hujan saat pertandingan. Drainase stadion yang dikabarkan masih belum baik bisa saja mengganggu jalannya pertandingan jika hujan turun. Selain itu, hujan juga bisa membuat tanah disekitar stadion menjadi semakin basah dan mengganggu kenyamanan suporter saat berjalan di sekitar stadion.

20161203_210445.jpg
Contoh sisa-sisa renovasi yang belum dirapihkan. Untung aja ga roboh. (Foto: koleksi pribadi)
20161203_211744
Mau nonton bola kok gini amat ya. (Foto: koleksi pribadi)

Wilayah parkir yang belum selesai dibangun membuat banyak suporter memarkir kendaraan yang mereka bawa di jalan raya yang jaraknya sekitar 1 km dari stadion (panitia juga mensterilkan wilayah stadion dari kendaraan). Akibatnya, saat pertandingan berakhir, gelombang suporter yang keluar secara serentak ini tentu menimbulkan kemacetan parah di sekitaran stadion yang jalannya tidak terlalu lebar. Bayangkan sebuah tempat yang biasanya tenang, tiba-tiba kedatangan 30 ribu suporter dalam semalam, tentu akan mengakibatkan kegaduhan yang tidak biasa. Persikabo dan PS TNI yang memakai Pakansari sebagai kandang mereka pun pendukungnya tidak sebanyak suporter timnas yang datang pada Sabtu lalu.

20161203_214711.jpg
Suporter memenuhi jalan, yang nyetir harus lebih banyak sabar. (Foto: koleksi pribadi)

Hal ini diperparah dengan sulitnya para suporter yang mengandalkan transportasi umum untuk mencari tumpangan untuk ke terminal/stasiun terdekat, mulai dari kesulitan memesan transportasi online (Grab dan sebagainya) hingga sulit menemukan taksi dan angkot di sekitaran stadion. Lagipula dengan kondisi macet yang seperti itu, mana ada taksi yang mau lewat? Saya dan teman-teman harus berjalan agak jauh terlebih dahulu agar bisa mendapat tumpangan.

Saya jadi semakin tidak mengerti dengan logika PSSI yang ingin menyelenggarakan pertandingan di Pakansari. Padahal masih ada stadion yang kondisi dan aksesnya bagus. Mengapa mereka begitu ingin timnas bermain di sini? Tidak mungkin alasannya hanya karena dekat dengan ibukota. Lagipula, timnas tidak harus bermain di ibukota kan? Apakah mereka takut animo suporter di daerah tidak sebesar di ibukota dan sekitarnya? Atau jangan-jangan karena jika bermain di luar Jabodetabek atau Bandung, harga tiket yang dipatok tidak bisa mahal?

Selain dari kondisi stadion, saya juga heran dengan kinerja panitia penyelenggara. Menurut PSSI, mereka menjual 27 ribu tiket untuk suporter Indonesia, yang terdiri dari 3 kategori. Stadion Pakansari sendiri adalah stadion bertipe single seat, tidak seperti Gelora Bung Karno (sebelum direnovasi), sehingga tiap tiket yang kita beli mempunyai nomor tempat duduk. Namun, saat saya masuk kedalam tribun, kondisinya tidak sesuai bayangan saya. Banyak sekali penonton yang tidak bisa duduk di kursi. Mereka berdiri di depan pagar pembatas tribun dan lapangan, duduk di tangga, bahkan memanjat pagar pembatas antar tribun. Kursi-kursi yang ada bukannya kosong. Sejauh saya lihat, semuanya sudah penuh, bahkan banyak suporter yang harus berdiri sepanjang pertandingan, termasuk saya. Hal ini tidak hanya terjadi di tribun saya, tapi juga tribun lainnya, terutama tribun dengan tiket berharga 100 ribu Rupiah. Bahkan teman saya yang membeli tiket VIP juga tidak mendapatkan tempat duduk (situs Pikiran Rakyat menulis bahwa banyak kursi VIP yang diberikan untuk wartawan yang meliput. Emangnya wartawan bayar ya?).

20161203_195748
Ada yang duduk, ada yang berdiri. Ah, itu biasa.. (Foto: koleksi pribadi)

Tentu saja pertanyaan kembali muncul, apakah jumlah tiket yang dijual melebihi kapasitas kursi yang tersedia? Atau banyak penonton yang masuk tanpa membayar? Cuma Tuhan dan PSSI yang tahu. Yang jelas, sebagai suporter yang membayar tiket resmi dan harus berjuang untuk mendapatkan tiket, fasilitas yang saya dapat tidak sesuai. Begitu juga dengan banyak suporter lainnya yang mengalami nasib sama.

Pengamanan yang (katanya) ketat pun hanya sebatas memeriksa tas apakah ada bom atau tidak, karena faktanya di sekitaran stadion masih bisa kita lihat orang-orang yang tidak punya tiket tapi bisa masuk ke wilayah luar stadion yang seharusnya hanya bisa dilalui para pemilik tiket. Pelarangan botol minum untuk masuk ke dalam tribun pun tidak berlaku sepenuhnya karena masih banyak botol minum yang lolos ke dalam stadion. Flare saja bisa lolos, bahkan sampai dinyalakan, apalagi cuma botol minum?

20161203_205629
Dapur siapa tuh yang berasap? (Foto: koleksi pribadi)

Mungkin suporter yang masuk sebelum kick-off merasakan ketatnya pengamanan, namun hal itu tidak dirasakan oleh saya dan ribuan suporter lain yang telat masuk ke dalam tribun. Bahkan antrian untuk masuk wilayah stadion (bukan untuk masuk wilayah tribun) sudah tidak teratur setelah kick-off berjalan.

Sayangnya, hal ini tidak banyak diberitakan oleh situs-situs sepakbola. Sejauh yang saya baca, mayoritas yang dibahas adalah hal-hal terkait pertandingan dan antusiasme suporter dalam mendukung timnas. Padahal, hal-hal ini perlu juga diberitakan sebagai pengingat agar PSSI semakin baik ke depannya. Belum lagi masalah penjualan tiket yang sudah banyak menimbulkan keluhan dari para suporter. Kita tentu tidak ingin jika hal ini terus terjadi bukan? Sebagai permulaan, kinerja PSSI kepengurusan baru ini masih belum bagus, dan harus diperbaiki lagi.

Jika ada hal positif yang saya dapat dari pengalaman menonton di Stadion Pakansari, itu adalah scarf yang saya beli di luar stadion, keseruan menonton langsung di stadion bersama ribuan suporter, tidak adanya ricuh di stadion meski penonton melebihi kapasitas, dan tentu saja, kemenangan timnas kita atas Vietnam.

Apabila timnas kita berhasil masuk final Piala AFF 2016 (Aamiin), tentu salah satu yang harus mereka lakukan adalah memilih stadion yang lebih layak untuk menyelenggarakan pertandingan internasional, kecuali Pakansari selesai direnovasi dalam waktu 1-2 minggu, yang mana saya ragukan saat ini. Tidak lupa juga, mempersiapkan penyelenggaraan pertandingan agar lebih profesional lagi, sehingga para suporter yang datang mendukung pun bisa merasa nyaman. Karena suporter yang sudah membayar tiket dan berjuang datang ke stadion untuk mendukung timnas, tentunya berhak mendapatkan kenyamanan, bukan sebaliknya.

Sumber tambahan untuk tulisan:

http://www.pikiran-rakyat.com/olah-raga/2016/12/03/dipakai-wartawan-banyak-penonton-vip-tak-kebagian-kursi-386761

http://bangka.tribunnews.com/2016/12/02/media-vietnam-bongkar-bobroknya-stadion-pakansari?page=2

Featured Image : bogor.tribunnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s