Ngomong Emang Gampang..

Sering kita dengar bahwa berbicara tentang bagaimana seharusnya melakukan sesuatu jauh lebih mudah dibandingkan mempraktekkannya. Mau dimanapun kita berada, jika kita lebih banyak bicara ketimbang memberikan bukti, itu artinya kita akan dicap ‘Omdo’. Namun, tak jarang orang yang banyak bicara juga justru sering didengar oleh banyak orang. Tentu saja mereka bukan orang-orang sembarangan. Biasanya mereka sudah berkecimpung lama di suatu bidang, sehingga pendapat mereka tentu banyak didengar jika membahas bidang tersebut. Apalagi jika mereka menyertai sejumlah fakta atau alasan yang bisa menguatkan argumentasi, hal tersebut akan lebih bagus.

Seperti itulah saya mendefinisikan pekerjaan para komentator ataupun analis sepakbola. Mereka ini biasanya adalah jurnalis yang sudah lama mengamati dunia sepakbola atau para lulusan (baca: pensiunan) dunia sepakbola, yang sudah belasan, bahkan lebih dari 20 tahun menjadi pemain sebelum akhirnya menjadi tukang cuap-cuap yang dibayar mahal. Para pemain yang menjadi komentator pun bukan sembarangan. Biasanya mereka bergelimang prestasi, baik individu maupun di klub. Tidak lupa, jika mereka pernah memiliki cap yang banyak di tim nasional, hal itu tentu menjadi nilai tambah.

Khusus di tanah Inggris, sepertinya profesi inilah yang lebih populer digeluti para bintang Premier League/Liga Inggris setelah pensiun ketimbang menjadi pelatih atau manajer, profesi lain yang umum digeluti mantan pesepakbola. Bagaimana tidak? Pekerjaan ini sudah jelas jauh lebih ringan ketimbang menangani sebuah klub, ditambah lagi bayarannya mahal. Pada 2014, situs Dailymail menyebut Thierry Henry mendapat bayaran sebesar 4 juta Poundsterling per tahun dari Sky Sports. Pada pertengahan tahun 2016, Mirror memberitakan Gary Lineker menerima 1,8 juta Pounds per tahun dari BBC. Sedangkan Gary Neville menerima bayaran sebesar 1,5 juta Pounds per tahun dari Sky Sports. Angka ini tergolong besar untuk pekerjaan mereka sebagai analis dan komentator, bahkan melebihi beberapa pemain sepakbola aktif yang bermain di Premier League (tentu saja bukan pemain-pemain ternama seperti Diego Costa, Sergio Aguero, apalagi Zlatan Ibrahimovic).

292cfb5b00000578-3102135-image-m-4_1432896129949
Dengan bayaran 1,8 juta Pounds per tahun, wajar aja nih orang mau jadi komentator biar cuma pake boxer. (Foto: http://www.dailymail.co.uk)

Bryan Robson, mantan kapten timnas Inggris dan legenda MU yang juga pelatih timnas Thailand saat Piala AFF 2010, pernah mengutarakan alasan mengapa para pemain sebaiknya menjadi komentator saja ketimbang menjadi pelatih saat sudah pensiun. Ia berujar bahwa tekanan yang tidak besar, waktu yang lebih luang untuk keluarga, dan tentu saja gaji yang besar merupakan alasan-alasan kuat untuk memilih komentator sebagai pekerjaan selanjutnya.

Uncle Bryan mungkin mengatakan ini karena menilik pengalamannya sendiri sebagai manajer. Selama periode 1994-2011, prestasi terbaiknya hanya juara divisi satu (saat ini setara Championship) liga Inggris bersama Middlesbrough. Thailand yang dia besut saja disingkirkan oleh dua penalti Bambang Pamungkas di Piala AFF 2010. Selain itu, memang tidak ada jaminan bahwa pemain hebat akan menjadi manajer hebat. Setidaknya hal ini berlaku di kalangan bintang Premier League pada umumnya, dan yang berasal dari Inggris pada khususnya.

Bintang-bintang sekelas Henry, Neville dan Lineker adalah pesepakbola hebat di zamannya. Jangan lupakan juga Gareth Southgate, Michael Owen, Jamie Carragher, Jamie Redknapp, Alan Shearer, Ian Wright, Robbie Savage dan masih banyak lagi. Sebagai bintang di liga Inggris dan timnas mereka masing-masing pada masa lalu, tentu banyak juga yang berharap mereka bisa menduduki kursi manajerial agar bisa membagi pengalaman mereka kepada junior-junior mereka, selain juga melakukan regenerasi kepelatihan di sepakbola Inggris (bayangkan saja, Serie A Italia sudah menelurkan Antonio Conte, Roberto Mancini, Vincenzo Montella, Simone Inzaghi, Sinisa Mihajlovic, Massimo Oddo, dan masih banyak lagi yang seangkatan dengan para pemain Premier League yang saya sebut diatas).

Namun sepertinya kebanyakan dari mereka tidak tertarik untuk menjadi bagian dari regenerasi itu (meski kini Henry jadi asisten pelatih Belgia, Southgate menjadi manajer baru Inggris, dan Neville pernah menjadi manajer Valencia selama hampir 4 bulan). Pekerjaan sebagai komentator dan analis lebih menarik buat mereka. Saat ini, dari 20 tim di Premier League, hanya Mike Phelan (Hull City), Mark Hughes (Stoke) dan Slaven Bilic (West Ham) yang merupakan manajer alumnus Premier League. Kita tahu bagaimana kondisi tim mereka sekarang di klasemen sementara musim ini. Bahkan klub di posisi 6 besar semuanya ditangani pelatih asing (selain dari luar Inggris, mereka juga besar di liga lain).

Barangkali, banyak mantan pemain yang sudah lelah dengan tekanan yang mereka dapat dari media sewaktu masih merumput. Kita tahu bahwa pemberitaan media Inggris benar-benar menguras emosi para pemain dan manajer. Atau, bisa jadi mereka sudah melihat pengalaman Uncle Bryan dan rekan-rekan mereka yang menjadi pelatih, sehingga mereka berpikir ulang tentang hal tersebut. Daripada merusak reputasi yang sudah terbangun saat menjadi pemain, lebih baik tetap menjaga nama besar itu dengan menjadi analis dan komentator.

Saya pernah mengecek daftar pemain timnas Inggris yang tampil di kejuaraan besar, mulai dari Piala Eropa 1992 hingga Piala Dunia 2006. Mayoritas pemain di skuad itu bermain di Premier League dan sudah pensiun saat ini. Jika diperhatikan, lebih banyak dari mereka yang terkenal sebagai komentator ketimbang terkenal sebagai pelatih. Alumnus Three Lions yang pernah menjadi pelatih bukannya sedikit, namun memang tidak ada yang memiliki prestasi yang mencolok, ditambah lagi klub-klub yang mereka latih ada juga yang berada di divisi bawah. Saya bisa menyebut contoh seperti Teddy Sheringham, Tony Adams, atau Paul Ince. Sisanya masih banyak lagi.

Hal ini membuat saya sedikit tersenyum dan bertanya. Apakah para pemain di Premier League ini memang tidak punya kapabilitas menjadi pelatih top? Atau Premier League memang tidak punya kualitas untuk menempa dan mencetak manajer handal? Entahlah. Sir Alex Ferguson yang hebat saja tidak (atau belum) berhasil mencetak manajer-manajer yang handal (semoga saja Ryan Giggs di masa depan bisa memutus ‘kutukan’ ini). Ia yang melatih 27 tahun di MU saja mungkin keheranan, apalagi saya hehe.

Yang jelas, menjadi komentator memang lebih mudah ketimbang menjadi manajer sebuah klub. Komentator bisa dengan bebas mengkritik manajer dan pemain, selain juga memuji mereka tentunya. Mereka bisa dengan bebas mengatakan apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan saat di lapangan. Dibayar mahal pula. Selain itu, barangkali para mantan pemain ini juga ingin merasakan bagaimana rasanya mengkritik orang lain setelah mereka sering dikritik saat masih bermain dulu.

Hanya saja, ingatlah ketika kita menghujat orang lain, cepat atau lambat tentu kita akan mendapat balasannya. Jika anda tidak percaya, tanya saja Gary Neville. Ia sudah merasakannya. Dikenal pedas dalam berkomentar, ia akhirnya kena batunya saat menjadi manajer Valencia. Yang jelas, ia sekarang akan berhati-hati dalam berkomentar setelah Valencia-nya kalah 7-0 dari Barcelona di semifinal Copa Del Rey 2015-16 dan akhirnya dipecat setelah hanya 4 bulan menangani Los Che.

Memang, ngomong lebih gampang daripada melaksanakan.

 

Tulisan ini terinspirasi dari balasan Jürgen Klopp kepada Jamie Carragher setelah legenda Liverpool itu mengkritik Loris Karius saat The Reds kalah 4-3 dari Bournemouth, setelah unggul 3-1 lebih dulu.

Featured Image : http://www.dailymail.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s