Memangnya Kita Bisa Mengalahkan Thailand?

Semifinal Piala AFF 2016 sudah selesai. Lewat perjuangan selama dua leg, akhirnya timnas kita berhasil ambil bagian di partai final. Total agregat 4-3 kita dapatkan berkat kemenangan 2-1 di Stadion Pakansari dan juga seri 2-2 di Mỹ Đình National Stadium. Tentu hasil ini diluar dugaan banyak orang. Meskipun harapan kita sebagai suporter timnas selalu tinggi dan percaya timnas bisa melaju sejauh mungkin, namun raihan prestasi ini tidaklah semudah berjalan di taman kota. Para punggawa timnas berjuang habis-habisan untuk lolos ke final.

Lima pertandingan telah dilalui timnas di Piala AFF 2016 dengan permainan yang sangat menguras tenaga, dan tidak lupa menguras emosi kita sebagai suporter skuad garuda. Bayangkan saja, Kurnia Meiga dan kawan-kawan baru memastikan lolos ke semifinal di pertandingan terakhir grup A melawan Singapura, di 5 menit terakhir pula. Kemudian saat di semifinal, kita baru lolos ke final setelah melalui perpanjangan waktu yang melelahkan di leg kedua akibat ‘meremehkan’ Vietnam yang sudah bermain 10 orang sejak menit 77. Hal yang tidak boleh diulangi saat di final nanti.

Perjuangan dramatis timnas kita tentu saja terlihat sangat indah untuk para pecinta film drama. Tentang sebuah tim yang diremehkan, persiapan yang tersendat banyak hal, meraih hasil buruk di awal turnamen, namun dengan tekad baja dan kerja keras, akhirnya berhasil melewati segala rintangan yang menghadang dan berhasil maju ke partai puncak. Rasa-rasanya alur cerita seperti ini sudah sering kita dengar. Lebih mengharukan lagi apabila timnas kita berhasil mengangkat piala AFF, lambang supremasi sepakbola Asia Tenggara, tepat di depan muka para pemain asuhan Kiatisuk Senamuang di stadion Rajamangala, Bangkok.

Tunggu, tunggu. Kiatisuk Senamuang? Rajamangala? Bangkok? Yap, benar, lawan kita di final Piala AFF adalah Thailand, skuad teredan (kalau bukan terbaik) di Asia Tenggara saat ini, yang dipimpin oleh maha hebat Kiatisuk dengan segala strateginya. Mereka adalah juara bertahan Piala AFF, peraih medali emas Sea Games 2013 dan 2015, serta menembus semifinal Asian Games 2014. Memang, prestasi yang diraih di Sea Games dan Asian Games merupakan capaian timnas U-23 Thailand, bukan tim senior. Namun, kecuali saat Sea Games 2015, semua raihan itu, termasuk Piala AFF 2014, diperoleh saat Thailand (baik senior ataupun U-23) diasuh oleh Kiatisuk. Bahkan beberapa pemain yang turun di Asian Games 2014, saat ini ada di dalam skuad Piala AFF 2016, berbaur dengan para pemain senior.

35.jpg
Raja Asia Tenggara saat ini. Mukanya ngajak ribut ya. (Foto: http://www.affsuzukicup.com)

Kombinasi pemain muda dan pemain berpengalaman milik Thailand ini pun hasilnya sudah terlihat. Jika ada tim yang ‘terlihat’ seperti berjalan di taman kota, itu adalah Thailand. Mereka selalu menang, mencatatkan 4 cleansheet dari 5 pertandingan, menceploskan 12 gol dan hanya kebobolan 2 gol sejauh ini. Bahkan, salah satu cleansheet itu mereka peroleh saat menang melawan Filipina di partai terakhir grup A. Padahal, saat itu mereka hanya menurunkan ‘Tim B’, dengan mengistirahatkan 10 starter mereka dan mengganti dengan 10 pemain yang saat melawan Singapura duduk di bangku cadangan. Hal ini mengingatkan saya dengan Republik Ceko di Euro 2004. Mereka menang 2-1 atas Jerman yang menurunkan skuad utama, padahal mereka mengistirahatkan 9 pemain intinya, termasuk Petr Čech, Pavel Nedvěd, dan Tomáš Rosický.

Jangan lupa juga, mereka sangat bernafsu mempersembahkan trofi Piala AFF sebagai bentuk penghormatan kepada raja mereka, Raja Bhumibol Adulyadej yang wafat pada Oktober lalu. Ini tentu motivasi tambahan buat mereka.

Begitu bagusnya kiprah Thailand ini sampai saya berpikir sendiri. Emang kita bisa ya menang lawan Thailand?

Jika menggunakan akal sehat, mungkin yang akan bertaruh timnas kita akan menang melawan mereka hanyalah kita, warga Indonesia sendiri, dan juga orang gila. Kita kalah 4-2 dari mereka saat babak penyisihan grup A 19 November lalu. Bahkan, semenjak Kiatisuk menangani Thailand, kita belum pernah menang melawan mereka, baik di level senior maupun U-23. Jadi, bisa dibilang, para pemain Indonesia sudah lama tidak merasakan menang melawan Thailand. Hanya mereka yang terlibat di Piala AFF 2010 dan Sea Games 2011 yang pernah menang melawan The War Elephants. Evan Dimas dan alumnus timnas U-19 mungkin merasakan kemenangan atas Thailand saat memenangkan Piala AFF U-19 pada 2013 lalu. Hanya saja, tidak ada satupun pemain-pemain Thailand saat itu yang ada di skuad Piala AFF saat ini. Pemain termuda di Thailand saat ini adalah Adison Promrak (23 tahun), anggota skuad Asian Games 2014.

Selain tren negatif melawan Thailand selama 4 tahun terakhir, penampilan kita selama turnamen berlangsung tentu membuat kita mawas diri, meski perbaikan terus dilakukan Pak Riedl terhadap skuad asuhannya. Selama turnamen, saya lihat permainan timnas kita terkenal agresif di awal, dan diakhiri dengan kehabisan tenaga di pertengahan babak kedua. Sehingga, saya berkesimpulan bahwa Pak Riedl ini mau mencuri keunggulan selagi kita bermain agresif, kemudian bertahan di akhir babak kedua. Bahkan hal itu juga dipraktekkan saat bermain di Stadion Pakansari melawan Vietnam. Beberapa orang di sekitar saya saat menonton langsung di stadion banyak yang berujar bahwa timnas lebih memilih main aman ketimbang mencoba mencetak gol ketiga, padahal bermain di kandang. Hal ini dimaklumi jika kita melihat sendiri fisik para pemain timnas yang sudah terlihat lelah.

Namun, permainan ini berisiko, karena terbukti 3 kali kita kebobolan di 15 menit akhir babak kedua (melawan Thailand, Filipina, dan Vietnam di leg 2). Hal yang parah tentu saat melawan Vietnam. Yang bermain 10 orang siapa, yang kena serang siapa. Untung saja kita berhasil mencetak gol di perpanjangan waktu dan Vietnam juga kecapekan harus bermain dengan 10 orang selama 50 menit.

Hal ini juga mungkin dikarenakan jarangnya rotasi yang dilakukan Pak Riedl, yang tentu saja menguras tenaga para pemain inti. Hanya 17 pemain sejauh ini yang dipakai oleh Pak Riedl, dengan komposisi pemain inti yang hampir mirip setiap pertandingan. Jumlah pemain yang tampil mungkin tidak akan bertambah, apalagi ini sudah babak final. Kecuali bila ada lagi pemain yang cedera dan absen karena hukuman kartu. Selang waktu seminggu sebelum final leg pertama harus digunakan sebaik mungkin oleh para pemain timnas untuk recovery, selain juga untuk berlatih. Sebab, para pemain Thailand mempunyai waktu recovery yang lebih banyak. Inget, mereka pake Tim B sewaktu ngalahin Filipina.

Tapi tenang saja, saya masih yakin Indonesia bisa menghindari ‘kesempatan’ menjadi runner-up Piala AFF untuk kelima kalinya. Kenapa saya yakin? Ada banyak faktor juga yang mendukung.

Sewaktu saya mengikuti ospek jurusan dulu, saya ingat sedikit orasi kata bijak dari senior saya. Badan boleh capek, namun semangat tidak boleh padam. Mungkin senior saya tersebut ingin saya dan teman-teman yang sudah lelah karena harus melakukan long march untuk tetap semangat dan menyelesaikan kegiatan ospek hari itu. Bila kita kaitkan dengan timnas kita, mungkin para pemain timnas juga punya kata-kata semacam itu di kepala mereka, karena seperti itulah yang terlihat oleh saya.

Contohnya saja saat melawan Singapura di babak grup dan Vietnam di leg 2 semifinal. Saat itu kita harus mencetak gol, karena jika tidak, kita bisa tersingkir. Namun dengan badan yang capai, Boaz Solossa masih bisa menerobos pemain Singapura dan memberikan assist pada Stefano Lilipaly, meskipun umpannya tidak begitu bagus. Ferdinand Sinaga, meski dengan kecepatan yang setara dengan Filippo Inzaghi di usia senja, masih bisa menggiring bola dan membuat kiper dadakan Vietnam, Quế Ngọc Hải, harus melanggarnya dan timnas mendapat hadiah penalti yang dituntaskan dengan baik oleh Manahati Lestusen. Itu adalah bukti, saat tertekan, timnas masih bisa berjuang sampai peluit akhir. Itu adalah bukti, bahwa timnas benar-benar punya keinginan kuat untuk menang dan juara, bukan cuma berpartisipasi di Piala AFF. Menjejaki final, semangat ini tentu semakin meningkat. Mau badan babak belur, asal bisa juara Piala AFF, tentu bukan masalah.

Itu baru terkait semangat juara. Belum lagi dengan kenyataan bahwa timnas kita masih konsisten mencetak 2 gol disetiap pertandingan, menandakan bahwa lini depan kita tidak kalah dengan Thailand. Bahkan, Thailand tidak bisa sekonsisten kita. Jangan lupa, kitalah satu-satunya tim yang bisa membobol Thailand. Ini bukti bahwa pertahanan mereka bisa ditembus oleh kita, terutama dari bola-bola atas. Sebanyak 7 dari 10 gol kita berawal dari umpan silang lho, termasuk dua gol saat melawan Thailand. Ini merupakan senjata yang bisa diandalkan oleh timnas, selain akselerasi individu para pemain seperti Boaz, Andik, ataupun Lilipaly.

b624307e-6229-47da-839d-673f647e2d67_169
Sini, Thailand, kita nggak takut! (Foto: http://www.detik.com)

Sedangkan sisi pertahanan pun semakin membaik menurut saya. Memang timnas belum pernah mencatatkan cleansheet, dan sudah kebobolan 10 gol. Namun jika kita melihat penampilan Hansamu Yama dan Manahati di 2 partai semifinal, saya yakin mereka akan dipasang lagi sebagai starter untuk meredam Teerasil Dangda dan para penyerang Thailand lainnya. Ingat, saat kalah 4-2 dari Thailand, mereka tidak bermain. Jika Lê Công Vinh saja berhasil diredam, kenapa Teerasil Dangda tidak bisa? Lagipula, 2 gol Vietnam di semifinal leg kedua adalah akibat para pemain timnas terserang ‘sindrom sudah merasa menang’, hal yang saya yakin tidak akan terulang lagi saat final nanti.

Selain itu, kombinasi muda dan berpengalaman tidak hanya dimiliki oleh Thailand, tapi juga kita. Pemain muda seperti Hansamu, Manahati, dan Abduh Lestaluhu bisa memainkan peran mereka sebaik para pemain yang lebih matang seperti Kurnia Meiga, Bayu Gatra, Rizky Pora hingga Boaz. Bahkan, keberadaan mereka membuat para pemain senior yang tidak dipanggil karena keterbatasan kuota jadi tak dirindukan.

Faktor terakhir, tidak lupa, dukungan suporter timnas di stadion. Dijadwalkan kembali memakai Pakansari, dipastikan tiket pertandingan akan ludes lagi. Ini tentu akan jadi ujian juga untuk Thailand, apakah mental mereka mampu menahan sorak-sorai para pendukung Indonesia? Lagipula, sudah lama mereka tidak mampir ke Indonesia. Kombinasi stadion berkapasitas kecil dan penonton yang membludak akan menghasilkan kebisingan yang sudah tentu merupakan teror tersendiri buat mereka yang bertamu, seperti Stadion Ali Sami Yen di Turki, markas Galatasaray dahulu. Ini merupakan keuntungan yang harus bisa dimanfaatkan oleh timnas selaku tuan rumah pertama.

20161203_195332.jpg
Suporter melimpah ruah di Pakansari, lebih dari kapasitas tempat duduk! (Foto: koleksi pribadi)

Semua faktor itulah yang membuat timnas bisa sampai di final. Perbaikan-perbaikan sudah Pak Riedl lakukan untuk membuat penampilan timnas membaik dari waktu ke waktu sepanjang gelaran turnamen, meskipun rasa geregetan kita sebagai suporter tak pernah hilang ketika melihat timnas bermain. Timnas pun akan menutupi kiprah di Piala AFF 2016 dengan lawan yang sama seperti pembuka. Apakah perbaikan yang dilakukan timnas selama ini akan berhasil meredam Thailand, kita akan tahu nanti.

Sekedar untuk menambah ketenangan jiwa kita, pada Euro 2004, Republik Ceko, meskipun mereka adalah unggulan turnamen, meskipun mereka menang melawan Jerman dengan menggunakan Tim B mereka di partai terakhir grup, akhirnya dikalahkan Yunani 1-0 di babak semifinal. Yunani, yang tidak diunggulkan, akhirnya menjadi juara. Timnas Indonesia, saat undian Piala AFF 2016, berada di pot 4 bersama Kamboja. Itu artinya kita bukan unggulan, sama seperti Yunani yang saat itu ada di pot 4 undian. Anda paham kan maksud saya? Siapa tahu kita bisa seperti Yunani di Euro 2004.

Jadi jawaban untuk pertanyaan di judul tulisan ini adalah, TENTU SAJA BISA.

Ini adalah tulisan penyemangat untuk diri saya sendiri dalam mendukung timnas, dan semoga menjadi penyemangat para suporter timnas yang membacanya juga. 

 

Featured Image : www.affsuzukicup.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s