Kapitalisasi dan Dominasi (Bagian 1)

Klub papan atas vs Klub non-papan atas

A: kalo dipikir-pikir, nonton Moto GP bosen juga ya, keliatan ga sih polanya?

B: maksudnya gimana?

A: ya kita liat aja, yang ngejer podium tiap seri kalo ga (Rafael) Marquez lagi, ya (Jorge) Lorenzo lagi, atau (Valentino) Rossi lagi. Udah 3 tahun terakhir kayaknya yang bersaing itu-itu aja.

B: ya emang mereka yang paling jago.

A: coba kalo mereka semua naik motor yang sama, mesinnya sama, kan langsung bisa keliatan berdasarkan skill (kemampuan membalap) mereka.

B: ya kompetisinya emang ga kayak gitu. Kejuaraannya memang bukan berdasarkan skill aja, mesin juga masuk hitungan. Siapa yang mesinnya bagus, peluang juaranya makin gede. Liat aja sendiri klasemennya.

A: tapi kan kalo gitu ga bisa keliatan skillnya, siapa tau mereka cuma jago karena motor aja.

B: gini deh, coba liat klasemen Moto GP. Di peringkat atas, pembalapnya pasti yang jago-jago kan? Karena mesin motor mereka paling bagus. Kemudian liat papan tengahnya, mesin-mesin timnya bagus, tapi ga sebagus timnya Rossi atau Marquez. Terus pas di papan bawah, level mesinnya lebih rendah lagi. Tapi tau ga, target tiap tim itu emang beda-beda. Ga mungkin tim yang paling bawah nargetin jadi juara, mereka paling nargetin pembalapnya finis sebanyak mungkin. Kalo dapet poin syukur. Tapi disitu bisa keliatan skill pembalapnya. Diakhir musim mereka bisa dipertimbangin sama tim-tim yang jago, karena kalo pake mesin yang ‘receh’ aja mereka bisa finish sesering mungkin, apalagi kalo pake mesin motor yang jago. Sama aja kaya Rio Haryanto dulu, dia di F1 kan cuma ditargetin finish sesering mungkin. Tapi bisa keliatan skillnya Rio nanti, jago atau nggak, buat dipertimbangin jadi pembalap yang lebih jago, dan ga jadi pembalap yang bayar buat main, tapi dibayar.

A: oh gitu toh.

B: ya kalopun ada kecolongan sama pembalap-pembalap yang level mesin motornya dibawah palingan sesekali, ga sering-sering banget, ga akan sampe bikin mereka jadi penantang juara atau jadi juara. Emang kompetisinya begitu.

A: beda sama sepakbola ya, murni berdasarkan kemampuan pemainnya.

B: siapa bilang? Sama aja bola mah. Liat aja, tim-tim yang gede pasti dijagoin juara kan? Contoh aja Liga Inggris, tim-tim yang dijagoin juara siapa, palingan kaya Chelsea, MU, Arsenal, (Manchester) City. Apa yang kaya Stoke atau Sunderland dijagoin juara? Mereka paling-paling bisa dipapan tengah juga udah bagus banget. Ga mungkin mereka nargetin juara. Misalnya West Ham, mereka nargetin masuk Europa League musim depan itu masuk akal, tapi kalo nargetin juara kan aneh juga, dengan kemampuan tim mereka. Kaya Moto GP tadi, sesekali mungkin tim-tim besar kecolongan, kaya kasus Leicester kemarin, tapi yaudah gitu aja, ga akan sampe mengubah peta persaingan buat musim-musim berikutnya, kecuali Leicester berani investasi besar kaya City atau Chelsea dulu. Buktinya 20 tahun terakhir yang juara itu-itu aja kan selama ini, kalo nggak MU, Arsenal, Chelsea, City.

Percakapan diatas terjadi beberapa waktu lalu, antara saya (A) dan teman saya (B). Padahal saat itu kami sedang tidak menonton Moto GP, namun entah kenapa, percakapan tersebut bisa terjadi. Saya sedikit merenungkan teori si B mengenai persaingan di Moto GP yang ternyata bisa diaplikasikan dalam sepakbola. Sepakbola modern memang seperti itu, terutama di benua Eropa, yang merupakan kiblat sepakbola sampai saat ini, mulai dari kemampuan olah bola hingga olah klub (baca: mengelola klub). Klub yang mempunyai sumber daya mumpuni memang lebih mempunyai kans besar untuk memenangi sebuah kompetisi, baik liga maupun cup competition.

Sumber daya mumpuni mencakup banyak hal, mulai dari fasilitas klub, pembinaan usia muda, manajemen klub yang top, pelatih handal, kumpulan pemain top, gaji yang diperoleh para pemain, dan masih banyak lagi. Namun harus diingat, semua faktor penunjang tersebut harus saling melengkapi, bukan hanya unggul di satu sisi dan buruk di sisi yang lainnya. Karena hal itulah yang akan memberikan perbedaan mencolok antara tim kelas atas, tim medioker, dan tim yo-yo (bolak-balik promosi dan degradasi).

Sebagai contoh, di Liga Primer Inggris, saat ini setiap tim memperoleh uang yang sangat besar setiap musimnya hanya dari hak siar. Mereka bisa membeli dan menggaji pemain-pemain dengan harga mahal yang mana di kompetisi negara lain hal itu hanyalah harapan palsu direksi klub kepada para manajer. Berapa nominal yang mereka dapat? Seperti dikutip detiksport, untuk musim 2016/17 saja, juara liga akan mendapatkan setidaknya 132,5 juta pounds, sedangkan posisi juru kunci minimal mendapat 94,5 juta pounds. Hanya dari hak siar lho. Pendapatan di musim-musim sebelumnya pun juga sudah besar (jumlah uang yg di peroleh Cardiff City sebagai juru kunci musim 2013/14 saja sudah lebih dari 50 juta pounds).

Klub seperti Crystal Palace dengan mudah bisa mendapatkan Yohan Cabaye (dari PSG), Stoke bisa membeli Xherdan Shaqiri (dari Bayern München), Watford bisa membeli Roberto Pereyra (dari Juventus), Swansea bisa merekrut Fernando Llorente (dari Sevilla), dan masih banyak lagi. Itu hanya sedikit contoh, betapa mau-maunya saja mereka pindah dari tim kelas atas di liga negara lain ke tim level menengah Liga Primer. Daya tarik uang dan harapan suatu saat bisa direkrut tim yang lebih hebat (semisal Chelsea atau Manchester City) mungkin adalah alasan mereka menerima pinangan klub-klub menengah ini (Memang siapa yang mau jauh-jauh ke Inggris hanya untuk jadi legenda di Stoke? Shaqiri juga mungkin tidak mau).

Namun apakah tim-tim seperti Swansea, Stoke, Watford, Palace, dan Sunderland juga dijagokan juara? Tentu saja tidak. Bahkan Leicester yang musim lalu membuat kejutan dengan menjuarai Liga Primer juga diprediksi tidak akan juara lagi (saat ini mereka di papan tengah klasemen). Karena mereka tidak mempunyai keseluruhan komponen untuk terus bersaing di papan atas. Mulai dari kurangnya pemain-pemain kelas atas, kualitas pelatih yang biasa-biasa saja, hingga budget gaji yang terbatas. Hanya tim-tim seperti Liverpool, MU (yang ini sih sekarang meragukan), Chelsea, City, dan Arsenal yang memang memiliki kemampuan untuk secara konsisten bersaing di papan atas Liga Primer.

Manchester-City-v-Chelsea-Premier-League.jpg
Apa lo, klub gua lebih kaya woi!! (Foto: http://www.mirror.co.uk)

Kemampuan manajemen klub-klub tersebut untuk merekrut pemain-pemain top yang sesuai kebutuhan klub, menjalin kerjasama dengan sponsor kelas wahid, pemilihan manajer yang tepat, hubungan yang baik antar komponen klub, hingga dukungan dana yang melimpah, membuat mereka berbeda dibandingkan klub papan tengah Liga Primer.

Klub-klub tersebut memenuhi semua syarat yang dibutuhkan untuk menjadi klub papan atas, dan itu sebabnya mereka terus ada di papan atas klasemen, bukan sekedar one hit wonder. ‘Mesin motor’ mereka lebih bagus untuk bersaing sepanjang musim ketimbang klub-klub lain. Mereka juga terus memelihara dan merawat mesin mereka sebaik mungkin agar tetap melaju kencang. Karena jika tidak, yang terjadi adalah kasus-kasus seperti yang pernah menimpa Fiorentina, Portsmouth, Glasgow Rangers, dan Parma. Kualitas pemain mereka tidak perlu dipertanyakan saat mereka terpuruk, bangkrut, hingga akhirnya turun ke kasta terbawah kompetisi liga masing-masing. Tapi siapa yang bisa memberikan kemampuan terbaik di lapangan saat kondisi di luar lapangan tidak baik?

Sederhananya, manajemen klub yang baik dan kumpulan pemain terbaik akan menghasilkan prestasi yang terbaik. Hal yang sama juga berlaku pada Leicester musim lalu (saya tegaskan, hanya untuk musim lalu). Bedanya, kumpulan pemain terbaik yang mereka punya dipandang sebelah mata. Hanya karena mereka Leicester City, bukan Manchester City. Sekarang mereka sudah kembali lagi ke status tim menengah. Kenapa? Karena direksi klub dengan mudahnya menjual N’golo Kante. Kante dibuang, pertahanan pun berlubang, seperti yang kita lihat sekarang.

Tulisan ini bersambung ke halaman ini.

Featured Image : www.gpupdate.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s