Kisah Klasik Calo Tiket Yang ‘Meresahkan’

Ketika kita ingin menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola secara langsung di stadion, tentu kita harus membeli tiket. Jika pertandingan tersebut menarik perhatian dan banyak suporter yang ingin menonton, biasanya tiket akan ludes terjual, bahkan jauh sebelum hari H pertandingan.

Saat ini timnas Indonesia berhasil melaju ke final Piala AFF 2016. Seperti biasa, permintaan tiket jika timnas sedang bermain di kandang pun sangat tinggi. Apalagi ini final Piala AFF, ajang sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara. Kapasitas Stadion Pakansari yang terbatas tentu mengakibatkan tidak semua suporter beruntung untuk bisa menonton langsung.

Permintaan tiket yang tinggi ini tentunya menarik minat mereka yang melihat peluang bisnis dari situasi ini. Mereka ikut serta mencari tiket timnas, bersama dengan suporter yang memang ingin menonton timnas. Tiket-tiket yang berhasil mereka dapatkan, mereka jual lagi kepada yang ‘membutuhkan’, tentu dengan harga yang lebih mahal, sebagai upah ‘perjuangan’ mereka mendapatkan tiket. Mereka terkenal dengan sebutan calo. Menurut situs kbbi.kemdikbud.go.id, calo adalah orang yang menjadi perantara dan memberikan jasanya untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah; perantara; makelar.

Setelah membaca definisi tersebut, saya jadi memikirkan beberapa hal mengenai calo ini.

  1. Ketika kita meminta bantuan orang lain untuk membeli tiket timnas (baik mengantri di loket penjualan atau online) dan memberi orang lain tersebut imbalan atas usahanya, apakah itu artinya kita membeli pada calo?
  2. Ketika ada seseorang yang dari awal mengantri untuk membeli tiket timnas untuk dijual lagi agar mendapat keuntungan, lalu kita membeli tiket tersebut darinya, apakah itu artinya kita membeli pada calo?
  3. Apakah orang yang sudah rela capai mengantri tiket timnas, baik di loket penjualan ataupun secara online (jangan salah, antri online juga sama letihnya, ditambah menguras emosi karena berkali-kali gateway time out dan juga menguras kuota data internet), lalu sengaja menjual lagi tiket yang sudah dibelinya pada orang lain adalah calo?
  4. Ataukah, jangan-jangan calo itu adalah orang yang punya akses ‘orang dalam’ panitia penjualan tiket, sehingga mereka dengan mudahnya bisa mendapatkan sejumlah tiket dan menjual lagi pada orang lain, sementara orang-orang biasa kesusahan mendapatkannya?

Saya berpikir begini karena jika membaca berita ataupun timeline media sosial, cukup banyak orang yang tidak menyukai calo. Sehingga membuat saya bertanya, sebenarnya definisi ‘calo’ yang kebanyakan dibenci orang itu yang mana? Semuanya?

Sejujurnya, jika mengaitkan definisi KBBI dan pemikiran saya, hanya poin 4 yang membuat saya mengerti mengapa orang-orang membenci calo. Bayangkan saja, anda capek-capekan mengantri tiket, sementara ada orang-orang yang dengan mudahnya memiliki tiket dan menjualnya kepada anda dengan harga yang mahal, ditambah lagi ia mendapatkan tiket tersebut dengan mudah karena mereka kenal dengan ‘orang dalam’. Apalagi jika ia tidak perlu mengeluarkan uang, jadi ia hanya perlu ‘menyetor’ sejumlah tertentu pada ‘orang dalam’ tersebut dan mengambil sisa keuntungan. Jelas saja mereka dibenci. Meskipun, untuk kasus ini, kita juga harus memperhatikan ‘orang dalam’ yang sengaja menjual tiket dengan mekanisme penjualan yang merugikan banyak pihak dan hanya menguntungkan sekelompok orang.

Namun untuk poin 1 sampai dengan 3, sejujurnya saya tidak masalah dengan hal tersebut. Pertama, kita tidak perlu capai fisik dan hati untuk mengantri tiket timnas, karena ada orang lain yang ‘bersedia’ menjalankan tugas itu, meski tidak gratis. Mahal atau murah, kembali pada kondisi dompet masing-masing. Kedua, mereka juga harus mengeluarkan uang sebagai modal awal membeli tiket, jadi saya anggap para calo ini sedang berdagang. Kalau tidak suka dengan harga yang ditawarkan, tidak perlu beli kan?

Untitled.jpg
Antrian online. Harus sabar, sebaiknya mengisi waktu dengan banyak berdoa. (Foto: Ario TP)

Jadi, saya mencari tahu mengapa kita tidak menyukai calo. Apakah karena kesal akibat kehabisan tiket, lalu melihat para calo itu lewat didepan muka dan masih mempunyai banyak tiket yang dijual mahal, sehingga butuh pelampiasan? Karena jika membaca berita tentang sekelompok suporter yang menggiring seorang calo ke kantor Kemenpora setelah kehabisan tiket semifinal Piala Aff leg 1, kelihatannya mereka marah karena hal ini. Bahkan calo tersebut sampai digiring ke pos polisi. Pasal apa yang dibebankan pada calo tiket jika mereka sampai ditangkap polisi? Saya tidak paham. Kalau tiket yang mereka jual palsu, itu sih bukan calo, tapi penipu. Kalau mereka dapat tiket dari ‘orang dalam’ tanpa perlu capai mengantri offline atau online, tentu saja oknum ‘orang dalam’ tersebut juga harus dibasmi. Namun kalau mereka sudah mengantri seperti kita untuk membeli tiket, itu hak mereka untuk menjual kembali bukan?

Apakah orang-orang membenci calo karena mereka dianggap bersenang-senang diatas penderitaan orang lain dengan mengambil untung yang besar? Kalau mereka tidak punya bantuan ‘orang dalam’, mereka juga harus menderita ikut antrian lho. Bahkan jika mereka berhasil mendapat tiket, itu artinya mereka juga niat, bela-belain capek, sama seperti suporter timnas lainnya. Karena dalam antrian, tentu yang ada di depanlah yang berpeluang besar mendapat tiket. Mereka pun menjual lagi barang yang mereka dapatkan dengan sistem yang sah dan mengikuti aturan.

Apakah orang-orang tidak menyukai calo karena tidak punya uang banyak untuk membeli tiket di calo? Seorang teman saya, Arvin, membeli tiket kategori 1 semifinal Piala AFF leg 1 seharga 1 juta rupiah dari calo. Lebih dari 3 kali harga normal. Apakah ia bego? Menurut saya, iya. Tapi toh ia bersedia membayar harga segitu. Tiketnya juga asli, karena untuk masuk tentu harus melewati pemeriksaan barcode terlebih dahulu kan? Namun akhirnya ia bisa menikmati pertandingan, sesuai keinginannya. Lagipula, banyak kok orang yang malas mengantri tiket, namun punya uang lebih, bukan hanya teman saya saja. Sehingga mereka pun memilih membeli dari calo. Percayalah, calo juga tidak akan mematok harga kelewat mahal, karena mereka pun ingin tiket mereka terjual.

Apakah calo tidak disukai karena mereka mengantri tiket hanya untuk dijual lagi, sementara masih banyak pendukung setia timnas yang ingin membeli tiket murni karena kecintaannya pada timnas dan benar-benar ingin menonton pertandingan sepakbola? Sayangnya, semua orang boleh mengantri dan membeli tiket timnas, terlepas dari niat mereka membeli tiket. Baik itu suporter fanatik, suporter amatiran, ataupun orang yang tidak suka sepakbola sama sekali, semuanya berhak membeli. Apa kita harus menanyakan satu-satu niat orang yang membeli tiket, lalu mengusir mereka dari antrian karena ingin menjual lagi tiket yang mereka dapat? Rasanya tidak akan ada yang menanyakan itu. Apalagi jika tiket didapat lewat pembelian secara online.

013582900_1481606539-20161213VYT_Antri_Tiket_Final_Piala_AFF_2016_03.jpg
Antrian offline yang menjadi ‘solusi’ penjualan online yang kacau. (Foto: http://www.bola.com)

Atau jangan-jangan orang-orang yang tidak menyukai calo ini merasa iri karena para calo mempunyai akses ‘orang dalam’? Semoga saja tidak ada satupun suporter yang berpikiran begini, karena apa bedanya kita dengan mereka jika kita iri dengan mereka? Jika benar kita iri, artinya saat kita punya akses ‘orang dalam’, mungkin kita akan sama seperti mereka, berusaha mendapatkan tiket dengan cara jalan pintas. Lagipula, kita harus terlebih dahulu membuktikan apakah memang ada oknum ‘orang dalam’ yang mengakali penjualan tiket itu. Jika tidak, berarti memang hanya kita yang apes kan tidak mendapatkan tiket timnas?

Calo, menurut saya, adalah pekerjaan yang susah dimusnahkan, sekalipun penjualan tiket dilakukan di markas TNI. Kecuali, ada orang yang tidak menyukai sistem calo, lalu ia punya kuasa untuk membuat pasal hukum untuk praktek calo ini, yang hukumannya sangat-sangat berat. Meskipun, kembali lagi, saya tidak paham salah mereka dimana. Lagipula, calo bukan profesi yang buruk buat saya, jika kita melihat poin 1 sampai 3 pemikiran saya itu. Orang membeli suatu barang secara legal, lalu dijual lagi sah-sah saja kan? Apalagi jika keuntungannya mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hanya saja, saat ini konteksnya adalah tiket timnas, yang sangat banyak peminatnya. Kemudian ditambah lagi ‘bumbu-bumbu’ semangat nasionalisme mendukung negara, sehingga para calo ini dirasa hanya memanfaatkan momen dan mengambil keuntungan dari para orang-orang yang mencintai timnas kebanggaan kita ini. Yang namanya para pedagang, tentu memanfaatkan momen, kan? Percayalah, ini hanya masalah bisnis bagi mereka, atau mungkin masalah dapur rumah tangga mereka yang harus mengebul. Tidak ada kaitannya dengan nasionalisme. Lagipula, jika ada yang harus diperbaiki lebih dahulu, itu adalah sistem penjualan tiket yang masih menyusahkan suporter, baik offline ataupun online, sehingga para suporter bisa mendapatkan akses tiket tanpa harus berdesak-desakan fisik yang membahayakan jiwa seperti di Gambir, ataupun ‘berdesak-desakan’ di situs kiostix.com.  .

Saya bersyukur bisa membeli tiket timnas melawan Vietnam dan Thailand secara online. Saya bersyukur mempunyai teman yang bersedia meminjamkan kartu kreditnya. Total, saya mengantri online selama sekitar 27 jam saat membeli tiket semifinal leg 1 melawan Vietnam, dan sekitar 18 jam saat membeli tiket final leg 1 melawan Thailand.

Mereka yang mengantri online pasti mengerti bagaimana kesabaran harus mengatasi capai hati dan capai fisik yang dialami. Begitu juga dengan mereka yang antri secara offline, ada risiko cedera fisik yang jauh lebih nyata. Jadi, kalau ada orang yang sama seperti saya, bahkan lebih parah usahanya untuk membeli tiket timnas, maka mereka berhak melakukan apapun terhadap tiket mereka. Apapun, termasuk menjual kembali dengan harga mahal.

Pustaka tulisan:

http://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/3361037/suporter-tangkap-beberapa-calo-digiring-ke-kantor-menpora

http://www.bola.com/indonesia/read/2676860/10-ribu-tiket-timnas-indonesia-vs-thailand-ludes-dalam-25-jam

Featured Image : bristolroverssc.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s