Kapitalisasi dan Dominasi (Bagian 2-Selesai)

 

Dalam sepakbola, zaman tidak pernah berubah

Kondisi dominasi klub kaya ini sebenarnya sudah mulai berlangsung sejak zaman dulu, terutama di Eropa, yang sepakbolanya lebih maju dibanding benua lainnya. Jika tidak, mungkin perolehan gelar liga di setiap negara saat ini tidak akan jauh berbeda antara tim satu dan yang lain. Namun, kenyataannya tidak demikian. Mulai dari negara sepakbola sebesar Spanyol hingga negara muda seperti Kroasia saja punya klub-klub diktator. Silahkan lihat sendiri daftar perolehan gelar juara di masing-masing negara Eropa. Sebagian besar pasti terdapat ketimpangan. Hal ini tentu diakibatkan ketimpangan sumber daya yang dimiliki antara klub-klub di liga tersebut.

Bukan salah Roman Abramovich jika sepakbola saat ini terlihat kapitalis. Ia hanya mengeluarkan uang yang jauh lebih banyak dibandingkan para pendahulunya ketika menjadikan Chelsea klub yang besar dan mapan seperti sekarang, yang mungkin memberikan efek kejut luar biasa, dan mendorong para taipan lainnya untuk ikut mengkuti jejaknya. Jika kita perhatikan, Signor Massimo Moratti (Inter Milan) dan Sergio Cragnotti (Lazio) sudah melakukannya di periode 90-an, dan orang-orang terdahulu sebelum mereka tentu juga sudah (Silvio Berlusconi sudah dari periode 80-an).

abramovich-466100
Ia hanya lebih edan dalam berinvestasi di klub sepakbola. (Foto: http://www.express.co.uk)

Jauh sebelum itu, menurut saya sama saja. Mungkin tidak terlihat dan tidak terlalu diperbincangkan karena uang yang berputar belum setinggi sekarang. Kenapa saya yakin? Karena jumlah gelar bejibun yang dimiliki klub-klub seperti Juventus, Bayern München, Real Madrid, Glasgow Celtic, hingga Ajax Amsterdam bukanlah hasil yang didapat hanya dalam sedekade, melainkan berpuluh-puluh tahun, bahkan seabad. Bahkan Juventus adalah klub yang sudah lebih dari 90 tahun dikuasai oleh dinasti Agnelli.

celtic-title-winners-trophy_3462805.jpg
Tahukah kalian jika mereka sudah mengumpulkan 47 gelar liga Skotlandia sejak 123 tahun silam? (Foto: http://www.skysports.com)

Mungkin yang membedakan zaman dulu dengan sekarang salah satunya adalah format kompetisi dan jumlah pertandingan yang tidak seintens sekarang. Contohnya saja Liga Champions. Zaman era European Cup dulu, formatnya tergolong sederhana, sistem gugur langsung, dengan sedikit modifikasi pada periode akhir 80-an dan awal 90-an. Pesertanya pun hanya juara-juara liga. Kemudian mulai tahun 1994, Liga Champions berubah format menjadi fase grup terlebih dahulu, namun pesertanya tetaplah para juara liga. Menjelang awal millenium ketiga, tepatnya tahun 1997, barulah tim-tim non-juara liga dari liga-liga besar Eropa mulai ambil bagian, hingga sekarang. Saat era sistem gugur langsung, kejutan bisa sering terjadi, karena main jelek sekali saja, akibatnya bisa fatal. Itu sebabnya fenomena juara Eropa seperti Steaua Bucuresti (1986) dan Crvena Zvezda (1991) bisa terjadi. Pada era ini pula juara-juara baru bermunculan, meski mayoritas berasal dari wilayah Eropa barat.

Sekarang? Boro-boro. Coba lihat daftar juara sejak format fase grup seperti saat ini dipakai. Hanya Ajax (1995) dan Porto (2004) yang diluar Big Four (Spanyol, Italia, Inggris, dan Jerman), dan dua klub itupun bukan meraih gelar pertamanya. Sementara itu, berapa banyak klub yang menjadi juara baru selama itu? Hanya Borussia Dortmund (1997) dan Chelsea (2012). Keduanya dari Big Four. Jika kita perhatikan lagi, Ajax dan Dortmund juara saat format fase group masih berisi 16 tim yang hanya terdiri dari para juara liga dan juara bertahan. Ketika peserta fase grup membengkak menjadi 24 tim (hanya selama 2 musim), dan akhirnya 32 tim, praktis hanya Porto yang bukan berasal dari Big Four dan hanya Chelsea yang merupakan juara baru. Semuanya berasal dari Eropa barat. Mereka pun merupakan klub besar yang kompeten (Chelsea sudah jadi klub kaya), klub yang tergolong konsisten berlaga di kompetisi elit ini, bukan klub seperti Tottenham yang masuk Liga Champions saja jarang-jarang.

Karena hanya klub-klub seperti Madrid, Barcelona, Bayern, Juve, Chelsea, dan sebangsanyalah yang mampu bersaing di era format seperti sekarang. Mulai dari finansial sampe kedalaman skuad untuk mengarungi kompetisi, mereka punya. Hal yang saat ini pun Ajax tidak punya (kita tahu sekarang Ajax pun kesusahan untuk sekedar lolos fase grup, terakhir mereka masuk perempat final Liga Champions adalah tahun 2003, saat Zlatan Ibrahimovic masih bermain di sana). Perbedaan investasi terhadap klub sepakbola di Eropa barat dan timur yang saat ini semakin timpang akan membuat kondisi ini terus berlanjut, kecuali terjadi krisis ekonomi dahsyat yang membuat klub-klub besar tak mampu lagi mengguyur para pemain dengan gaji melimpah.

Itu baru contoh di Liga Champions, di kompetisi dengan format cup competition. Jika kompetisi dengan format cup competition saja sudah susah memunculkan kejutan, apalagi ketika melihat ke kompetisi berformat liga. Saking susahnya, keberhasilan Leicester menjuarai liga musim lalu saja sampai menjadi fenomena yang menggemparkan dunia. Dortmund saja sudah susah mengulangi keberhasilan mereka di Bundesliga, begitupun dengan Atletico Madrid di La Liga. Jadi kalau kita bisa melihat fenomena seperti Leicester City dalam hidup kita yang hanya sekali, maka nikmatilah, karena belum tentu hal seperti ini terulang (itu sebabnya prestasi mereka disebut kisah dongeng). Karena sepakbola tidak selalu mendapatkan people’s champion, apalagi ditengah kapitalisme yang semakin menggila ini.

Liga champions musim 2016/17 sudah memasuki 16 besar. Pesertanya adalah 4 klub Spanyol (Madrid, Barcelona, Atletico, Sevilla), 3 klub Inggris (City, Leicester, Arsenal), 3 klub Jerman (Bayern, Dortmund, Bayer Leverkusen), 2 klub Italia (Juve dan Napoli), 2 klub Portugal (Benfica dan Porto), dan 2 klub Prancis (PSG dan AS Monaco).

Jika kita perhatikan daftar urutan liga terbaik berdasarkan koefisien UEFA, 6 negara ini ada di peringkat teratas. Hanya Leicester City yang menjadi klub debutan. Bahkan 11 tim minimal pernah masuk final Liga Champions/European Cup dan 14 tim pernah menjuarai kompetisi antar klub Eropa, baik Liga Champions/European Cup, Piala Uefa/Liga Europa, atau Piala Winners. Bye bye Liga Turki, Ukraina, Rusia, Swiss, apalagi Belanda. Segera cari investor baru, atau kalian mungkin akan semakin tertinggal.

Ini adalah cerita sambungan dari sini.

Pustaka tulisan:

http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2016/08/02/120629/3266546/1497/hak-siar-durian-runtuh-premier-league

Featured Image : allbluedaze.com

Advertisements

2 thoughts on “Kapitalisasi dan Dominasi (Bagian 2-Selesai)

  1. Tapi ada contoh beberapa kasus klub-klub kaya yang gagal seperti misalnya Anzhi Makachkhala dulu yg sempat bikin heboh tp sekarang udah nggak kedengeran lagi. Malaga dulu juga sempat diakuisi aipan tp entah kenapa cm berprestasi semusim doang.

    Liked by 1 person

    1. Iya mas bener itu, kaya portsmouth juga. Kekuatan finansial yg bagus juga harus dikuatkan sama manajemen yang bagus, sama pemilihan pemain yg bagus juga. Jadi ga bisa asal beli klub aja. 3 tim ini bisa dibilang ga sebagus city, chelsea, psg pengelolaannya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s