Penutup: Sampai Bertemu Di Piala AFF 2018!

Timnas kita akhirnya hanya ‘berhasil’ menjadi runner-up Piala AFF untuk kelima kalinya. Segala harapan itu sekarang sudah sirna. Segala keyakinan kita terhadap perjuangan timnas ternyata bertepuk sebelah tangan. Sangat antiklimaks memang hasilnya. Meskipun media sudah banyak memberitakan alasan-alasan timnas akan menjadi juara Piala AFF 2016, mulai dari yang bersifat statistik hingga mitos, toh nyatanya hal tersebut tidak menjadi kenyataan. Timnas harus puas membawa pulang medali perak yang kelima, sementara lawan kita, Thailand, membawa medali emas mereka yang kelima, serta trofi Piala AFF.

Memang timnas kita masih belum sehebat Thailand saat ini. Semangat juang yang besar dari para pemain, serta dukungan luar biasa dari para suporter di 7 pertandingan sudah dikerahkan. Pak Riedl pun sudah berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan timnas ini di segala keterbatasannya, namun memang hal itu belum cukup. Kemenangan 2-1 di stadion Pakansari ternyata hanya sedikit ‘menyengat’ mereka saja, sekedar membangunkan mereka bahwa melawan timnas kita, mereka tidak boleh main-main. Saat leg 2, dengan dukungan suporter 2 kali lipat lebih banyak dari kapasitas Pakansari, mereka menunjukkan bahwa Asia Tenggara masih milik mereka.

suvenir.jpg
Dua kali nonton di Pakansari, dua kali menang. Timnas memang tidak pernah mengecewakan. (Foto: koleksi pribadi)

Semuanya sudah selesai. Sudahilah semua kecewa, sedih, dan marah kita. Tak perlu juga berandai-andai tentang siapa yang seharusnya dimainkan, taktik apa yang seharusnya dipakai, mengapa si A diganti. Tak perlu pula menyalahkan kebijakan yang hanya mengizinkan 2 orang pemain tiap klub untuk memperkuat timnas, apalagi menyalahkan kepengurusan PSSI, baik yang baru ataupun lama, ataupun pemerintah. Semuanya sudah lewat. Yang penting, kita tidak boleh lupa untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.

Biarkan saja pengurus federasi sepakbola negara ini menjalankan kebijakan mereka membenahi sepakbola nasional, sembari pemerintah dan kita para pecinta sepakbola ikut mengawal dan mengkritisi jika ada yang salah, dan tak lupa mendukung jika kebijakan sudah berjalan di arah yang tepat. Karena pembenahan yang harus dilakukan pun banyak, mulai dari kompetisi usia muda, perbaikan infrastruktur, manajemen klub yang baik, operator liga yang baik, perbaikan kualitas wasit, perbaikan kinerja pengurus PSSI pusat dan daerah, dan masih banyak lagi. Jangan sampai juga kejadian pembekuan federasi dan bentrok jadwal kompetisi dengan agenda timnas terulang lagi di masa depan. Semua itu tentu harus dibantu, tidak bisa jika PSSI dibiarkan bekerja sendirian.

skuat_indonesia_aff
Timnas tidak pernah semembanggakan ini sebelumnya seumur hidup saya. (Foto: http://www.panditfootball.com)

Semua perbaikan itu perlu dilakukan sebaik mungkin, agar timnas kita nantinya benar-benar bisa diunggulkan untuk menjadi juara di setiap kejuaraan AFF, kalo perlu menjadi tim yang dihormati di Asia. Bukan seperti saat ini, dimana di setiap penampilan timnas selalu bermain tidak memuaskan meskipun menang. Jika dipikir-pikir, memang tidak ada tim yang menjadi juara dengan penampilan yang tidak pernah meyakinkan sepanjang turnamen, meskipun saya sendiri adalah orang yang mengutamakan hasil ketimbang bagus tidaknya bermain. Akhirnya kita kena sendiri akibat dari bermain tidak bagus itu.

Ada yang bilang, bahwa mungkin kekalahan di final ini menjadi pengingat bahwa masih banyak yang harus diperbaiki, karena jika nantinya kita menang atas Thailand dan juara, ditakutkan perbaikan-perbaikan yang harus dilakukan dalam sepakbola nasional justru nanti malah terlupakan. Saya setuju dengan hal itu. Meski demikian, pencapaian timnas benar-benar sudah membanggakan banyak orang. Setidaknya, dalam dua pertandingan kandang, timnas berhasil memenangkan pertandingan meski dengan perjuangan yang sulit. Mereka seperti tidak mau mengecewakan para pendukungnya, dan juga tidak mau merasa inferior di rumah sendiri. Main di kandang, harus menang. Sayangnya, Thailand juga bersikap demikian.

Tahun ini memang timnas kita tidak berhasil juara. Namun, kita juga harus ingat bahwa hanya di tahun ini timnas Thailand menjadi yang terbaik. Artinya, 2 tahun ke depan kita punya tugas untuk membawa Piala AFF itu ke Indonesia dengan menjadi juara. Dengan adanya pembekuan PSSI selama setahun lebih yang membuat kita dipastikan absen dari kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia, maka turnamen internasional FIFA terdekat yang bisa kita temui adalah Piala AFF 2018. Semoga saja timnas kita bisa dipersiapkan lebih baik di Piala AFF berikutnya. Semoga saja dalam dua tahun kedepan sudah ada perbaikan yang terlihat nyata dalam sepakbola nasional. Semoga, kita bisa menjadi juara Piala AFF 2018.

Tulisan ini adalah penutup dari seri tulisan saya mengenai kiprah timnas di Piala AFF 2016. Tidak ada analisis pertandingan, taktik, ataupun strategi sama sekali dalam seri itu, karena saya merasa hal tersebut bukanlah sesuatu yang menarik untuk dibahas, apalagi bila melihat gaya main timnas selama turnamen. Semua tulisan berisi opini dan keyakinan mengenai peluang timnas di Piala AFF. Jika para pembaca ingin melihat semuanya, silahkan mencari tulisan dalam blog ini dengan kategori ‘Timnas Indonesia’.

Featured Image : http://www.juara.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s