Agar Kelak Wasit Tidak Disalahkan Lagi

Sebuah kejadian dalam pertandingan sepakbola seringkali berlangsung begitu cepat. Begitu cepat sebuah peristiwa terjadi, hingga seorang wasit pun juga harus memutuskan segala sesuatunya dengan cepat. Apakah bola telah masuk sepenuhnya ke dalam gawang, apakah seorang striker telah berada di posisi offside, apakah bola telah meninggalkan lapangan pertandingan sebelum ditendang kembali oleh seorang pemain, apakah seorang pemain hanya diving saja atau benar-benar dilanggar, apakah seorang pemain layak mendapat kartu merah, apakah sebuah tim harus dihukum tendangan penalti, dan lain sebagainya.

Meski sudah mendapatkan bantuan dari para asisten wasit, namun kadangkala keputusan yang dibuat tidaklah sesuai dengan yang seharusnya. Hasilnya adalah keputusan kontroversial yang merugikan sebuah tim yang seharusnya mendapatkan keuntungan.

Contoh-contoh diatas banyak sekali kita temui dalam pertandingan sepakbola. Mulai dari gol ‘tangan Tuhan’ Diego Maradona saat melawan Inggris di Piala Dunia 1986, kartu merah David Beckham di Piala Dunia 1998 saat melawan Argentina, gol hantu Luis Garcia saat melawan Chelsea di Liga Champions tahun 2005, gol hantu Frank Lampard di Piala Dunia 2010 saat melawan Jerman, gol hantu Sulley Muntari di Serie A Italia tahun 2012 saat melawan Juventus, kartu merah Kieran Gibbs saat melawan Chelsea di Premier League tahun 2014, dan masih banyak lagi. Semua keputusan kontroversial itu akhirnya berujung pada banyaknya hujatan yang diterima oleh wasit.

Dilatarbelakangi oleh banyaknya peristiwa kontroversial yang terjadi itulah akhirnya FIFA mulai membuka mata terhadap segala hal yang dianggap bisa mengurangi kesalahan-kesalahan wasit dalam mengambil keputusan. Salah satunya adalah menambah hakim garis tambahan yang berdiri di samping gawang, yang diresmikan pada tahun 2012. Peran hakim garis tambahan ini cukup membantu, terutama untuk melihat apakah bola sudah masuk ke dalam gawang atau belum. Selain itu, penggunaan teknologi pun mulai dijajal. Hal ini merupakan sebuah kemajuan dalam sepakbola. Apalagi sepakbola bisa dibilang sudah tertinggal untuk urusan penggunaan teknologi dalam mengambil keputusan dibandingkan cabang lain.

Sejauh ini teknologi yang sudah terkenal di kalangan penikmat sepakbola adalah goal-line technology (GLT). GLT sendiri sebenarnya hanya wujud lebih canggih dari hakim garis tambahan, namun tugasnya lebih sederhana. Jika hakim garis tambahan masih bisa membantu wasit dalam melihat proses tendangan penalti, melihat sebuah pelanggaran, hingga menentukan pemberian sepak pojok atau tendangan gawang pada sebuah tim, maka GLT hanyalah alat untuk membantu mata manusia dalam menentukan apakah bola sudah melewati garis gawang sepenuhnya atau tidak. Sederhana memang, karena sifatnya hanyalah membantu.

frank-lampard-ghost-goal
Seandainya goal-line technology sudah dipakai saat ini…. (Foto: worldsoccertalk.com)

Namun, sejak resmi diperbolehkan (bukan diwajibkan) untuk dipakai pada tahun 2012, dampaknya luar biasa. Hasil yang ditampilkan oleh GLT sejauh ini membuat keputusan gol hantu berkurang. Pada kompetisi-kompetisi yang memakai sistem GLT, sudah tidak ada lagi protes-protes pemain terdengar mengenai gol hantu, karena saat sistem ini berjalan efektif (GLT tidak rusak), maka kontroversi gol hantu dapat dihindari. Bola yang melewati garis gawang sepenuhnya baru bisa dipertimbangkan sebagai gol oleh wasit. Jika bola belum sepenuhnya lewat, biarpun hanya satu sentimenter, maka GLT tidak akan mengonfirmasi hal tersebut sebagai sebuah gol.

Kenapa ditulis ‘dipertimbangkan sebagai gol’, karena wasit tentu juga baru mengesahkan sebuah gol jika proses gol tersebut bersih (tidak ada pelanggaran, posisi pemain tidak offside, dan sebagainya). Namun, dari kacamata GLT, jika bola telah melewati garis gawang sepenuhnya, barulah sebuah gol akan dianggap terjadi. Contohnya saja ketika Liverpool melawan Bournemouth pada 4 Desember lalu. Saat itu banyak yang mengira tendangan sudut James Milner sudah masuk gawang, namun ternyata wasit tidak mengonfirmasi hal tersebut sebagai gol. Setelah kita melihat cuplikan tayangan ulang dengan bantuan GLT, tentu tidak akan ada yang protes jika memang paham law of the game, karena memang tidak ada gol yang terjadi.

Cy11JY5UcAA92Zk.jpg
Kalian tahu ini bukan gol. (Foto: twitter @panditfootball)
Cy11JY5VQAA3oX4.jpg
Apalagi setelah melihat ini. (Foto: twitter @panditfootball)

Selain GLT yang telah berhasil mengurangi ribut-ribut seputar gol hantu, mulai tahun 2016 ini dipopulerkan sebuah inovasi berupa adanya Video Assistant Referee (VAR) dalam sebuah pertandingan. VAR sendiri merupakan bantuan yang diberikan kepada wasit dalam bentuk video tayangan ulang sebuah kejadian. Pertama kali digunakan dalam pertandingan United Soccer League (USL) antara New York Red Bulls II dan Orlando City B pada Agustus lalu, sejauh ini penggunaan VAR terus dilakukan. Terakhir, VAR diujicoba pada Piala Dunia Antarklub 2016 lalu. Sejauh ini FIFA menjelaskan bahwa VAR dapat digunakan dalam 4 kesempatan, yaitu kejadian gol, keputusan penalti, pemberian kartu merah, dan mencegah kesalahan identifikasi pemain. Penggunaan VAR pertama kali di Piala Dunia Antarklub 2016 terjadi saat Atletico Nacional melawan Kashima Antlers di babak semifinal. Kala itu, wasit Viktor Kassai memutuskan untuk memberikan penalti untuk Kashima setelah melihat video tayangan ulang.

Meskipun penggunaan VAR ini terkesan ‘makan waktu’, namun penggunaan VAR ini dapat membantu wasit mengurangi kesalahan dalam mengambil keputusan. Terbukti dari keputusan yang tepat yang diambil oleh wasit Enrique Caceres saat mengesahkan gol Cristiano Ronaldo dalam pertandingan antara Madrid menghadapi Club America, meski saat itu kondisinya sempat membingungkan para pemain di lapangan.

VAR dan GLT hanyalah alat bantu tambahan yang berguna bagi wasit dalam menjalankan tugasnya sebagai pengadil pertandingan. Keputusan tentu kembali ke tangan sang pengadil setelah mempertimbangkan apa yang ia lihat. Sayangnya, besarnya biaya yang digunakan untuk mengaplikasikan dua jenis teknologi ini mengakibatkan tidak semua kompetisi bisa memakainya. Hanya kompetisi seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Copa America, Liga Champions, dan liga-liga besar seperti Serie A Italia, Bundesliga Jerman, English Premier League, dan La Liga Spanyol yang saat ini memakai GLT. Sementara VAR rencananya baru akan dipakai oleh Major League Soccer (MLS) dan Bundesliga pada tahun depan. Ini artinya, masih banyak kompetisi yang belum bisa memanfaatkan teknologi ini, termasuk Liga Indonesia.

Selain itu, penggunaan teknologi dalam sepakbola sejauh ini masih banyak menimbulkan perdebatan dengan alasan yang beragam. Hal yang cukup wajar, mengingat hal ini masih baru dan belum banyak pihak yang terbiasa dengan perubahan ini, terutama para pemain sebagai pelaku utama di lapangan.

Namun, bila kita membaca pernyataan mantan wasit yang kini menjadi kepala perwasitan FIFA, Massimo Busacca, kita akan memahami tujuan digunakannya teknologi ini. Dikutip dari FourFourTwo Indonesia, dalam menanggapi kritik yang ada terkait penggunaan VAR di Piala Dunia Antrklub 2016, Busacca mengatakan sejauh ini tidak terlihat adanya ketidakadilan yang muncul karena pemakaian VAR ini. Selain itu, ia mengatakan poin utamanya adalah tidak ada pihak yang kalah karena keputusan keliru yang dibuat wasit. Hal yang sama juga berlaku pada penggunaan GLT. Saya setuju dengan hal itu, dan saya yakin banyak orang akan berpikiran sama.

Semakin majunya zaman, tentunya perubahan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas wasit dalam memimpin sepakbola perlu didukung. Apalagi dengan sepakbola sudah menjadi industri berskala besar seperti ini, tentu kesalahan kontroversial perlu ditekan seminimal mungkin. Seperti yang dikatakan Andrea Pirlo dalam bukunya ‘I Think Therefore I Play’, mengatakan tidak pada teknologi tersebut sama saja seperti menolak kemajuan zaman. Kita hidup di tahun 2016, dan merupakan sebuah kekonyolan jika hal yang terjadi di tahun 1966 (‘gol Wembley’ Geoff Hurst di final Piala Dunia 1966) terulang terus hanya karena kita memilih untuk tetap ‘ketinggalan zaman’.

Tentu saja penggunaan VAR dan GLT tidak menjamin wasit akan menjadi super adil. Kesalahan-kesalahan masih akan terjadi. Namun, setidaknya di masa depan, persentase wasit menjadi kambing hitam dalam sebuah pertandingan bisa jauh berkurang. Sehingga, jika tim favorit kita kalah, kita tak lagi menyalahkan keputusan wasit, namun memang dasarnya tim favorit kita yang blo’on karena tidak bisa mencetak gol.

Advertisements

2 thoughts on “Agar Kelak Wasit Tidak Disalahkan Lagi

  1. Yang saya heran dari penggunaan VAR adalah kenapa wasit harus keluar lapangan untuk melihat tayangan replay. Padahal asisten wasit kan bisa memberitahu keputusannya benar/salah via alat komunikasi. Atau video replay bisa diputar di layar stadion.

    Like

    1. Bener juga ya mas. Kalo di basket sih wasitnya juga gitu, keluar lapangan, terus nonton videonya langsung. Tapi memang bedanya kalo basket kan mainnya ‘clear time’, sedangkan bola waktunya kan bergulir terus. Mungkin itu bakal jadi evaluasi fifa dari penggunaan VAR, biar waktu permainan ga kebuang percuma. Kemarin2 kan masih coba2. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s