Bola Emas Untuk Si Rambut Emas

14 Mei 2003, Stadion Delle Alpi bergemuruh. Seorang pemain Juventus bernomor punggung 11 berlari meninggalkan lapangan, menuju arah belakang gawang yang dijaga Iker Casillas, kemudian sambil merentangkan tangannya ia berlutut di hadapan para Juventini yang bersorak. Itulah gaya selebrasi yang dilakukan Pavel Nedved setelah berhasil menjebol gawang Real Madrid di menit 73 lewat tendangan kerasnya, mengubah skor menjadi 3-0. Saat itu sedang berlangsung partai semifinal leg kedua Liga Champions, dan Juventus unggul agregat 4-2. Semua orang yang menonton pertandingan tersebut pastilah sudah menganggap Juventus akan melangkah ke final. Apalagi dengan penampilan luar biasa yang ditampilkan para punggawa Juventus sepanjang pertandingan, Los Galacticos benar-benar tidak berkutik. Bahkan penalti Luis Figo pun berhasil ditepis oleh Gianluigi Buffon, membuat orang-orang hanya tinggal menanti peluit panjang babak kedua ditiup. Tidak ada harapan tersisa untuk Madrid, bahkan fans mereka sudah terdiam.

nedved
Eat that, Casillas! (Foto: sportslens.com)

Namun ternyata kejutan dalam pertandingan tidak selesai sampai disitu. Tepatnya pada menit ke 82, secara gegabah Pavel melakukan sebuah tekel keras terhadap Steve Mcmanaman, padahal saat itu Mcmanaman sedang berada di tengah lapangan, dan kondisinya sedang tidak membahayakan gawang Juve. Pavel pun harus menerima kartu kuning dari wasit Urs Meier. Hal ini langsung membuatnya kembali berlutut, namun kali ini dengan tertunduk lesu. Rambutnya yang panjang ‘berhasil’ menutupi kekecewaan yang ia rasakan saat itu dari sorotan kamera televisi. Ia sadar bahwa kartu kuning yang sudah ia terima membuatnya harus absen di final Liga Champions jika Juve lolos, pertandingan yang sangat ia idam-idamkan untuk terlibat dan berkontribusi. Ia sudah menerima kartu kuning yang pertama saat melawan Manchester United di fase kedua penyisihan grup, sehingga tambahan kartu kuning tersebut membuatnya terkena akumulasi kartu. Sialnya, ia harus absen di partai super penting. Padahal, 5 partai setelah melawan United dilaluinya tanpa terkena kartu.

Pavel dengan tegar terus melanjutkan pertandingan. Meskipun Zinedine Zidane berhasil memperkecil ketinggalan di menit 89 dan membuat semangat Madrid kembali menyala, nyatanya additional time babak kedua selama 5 menit tidak dapat digunakan kedua kubu untuk mencetak gol, sehingga agregat hanya berubah menjadi 4-3, tetap dengan kemenangan Juve. Delle Alpi kembali bergemuruh sesaat setelah pertandingan usai. Setelah puasa 5 tahun, akhirnya Juve kembali mentas di final Liga Champions, kompetisi sepakbola paling bergengsi se-Eropa. Semua orang yang beratribut hitam-putih di dalam stadion bersorak girang, namun tidak dengan si nomor 11 itu. Pavel berjalan di lapangan, membalas tepuk tangan kepada suporter, berterima kasih atas dukungan mereka pada Juve malam itu, dan mungkin dukungan pada dirinya yang terkena akumulasi. Namun saat dihampiri oleh Marco Di Vaio, ia tidak kuasa menahan tangisnya. Ia bagaikan anak kecil yang ‘mengadu’ pada ayahnya setelah bekal makan siangnya diambil si gendut preman di sekolah. Ya, malam itu sesuatu telah diambil darinya, yaitu kesempatan bermain di final Liga Champions.

Itulah sepenggal ingatan saya mengenai Pavel di pertandingan semifinal Liga Champions antara Juve dan Madrid. Tanpa Pavel di final, Juve merasakan dampaknya. Mereka kesulitan menembus AC Milan, meski hal yang sama juga berlaku bagi Paolo Maldini dan kawan-kawan. Juve terpaksa bermain sampai babak adu penalti di Old Trafford, sebuah pertandingan yang menguras emosi bagi pemain maupun suporter (saya ingat kamera televisi menyorot beberapa pendukung Juve dan Milan yang matanya sudah berkaca-kaca, padahal pertandingan masih memasuki babak tambahan). Sialnya, Juve kalah 2-3 saat itu, membuat semua pihak berkesimpulan bahwa jika Pavel ada di lapangan, kondisinya pasti akan berbeda. Namun akhirnya itu tidak pernah terjadi dan Juve hanya menjadi runner-up. Bahkan Pavel tidak terlihat batang hidungnya sama sekali saat pengalungan medali perak, entah karena tidak disorot kamera televisi, atau memang tidak ada di deretan para pemain.

Pavel adalah sosok yang fenomenal saat itu. Pada musim itu ia juga berhasil membawa Juve mempertahankan gelar juara Serie A Italia. Performanya sebagai salah satu sayap kiri terbaik di Serie A dan Eropa benar-benar menuai banyak pujian. Kontribusinya benar-benar nyata, terlihat dari torehan 14 gol dan 10 assist dari 46 penampilan di seluruh kompetisi. Ia benar-benar dipercaya oleh Marcello Lippi kala itu. Bahkan hingga ia pensiun di tahun 2009, siapapun pelatihnya, pasti menyertakan Pavel dalam rencana taktiknya.

Penampilannya sepanjang musim 2002/03 membuatnya dianugerahi banyak penghargaan, diantaranya adalah Ballon d’Or, sebuah penghargaan bergengsi dari majalah France Football yang 9 tahun belakangan hanya ‘digilir’ oleh 2 orang saja (anda tahu siapa). Bisa dibilang, saat itu Pavel berada di puncak karirnya. Yah, mirip Cristiano Ronaldo sekarang inilah. Sayangnya, prestasinya sedikit ternoda dengan raihan runner-up Liga Champions. Yang paling menyedihkan, itulah satu-satunya kesempatan ia memenangkannya, karena selama 8 musim memperkuat Juve, hanya sekali saja Si Nyonya Tua berhasil masuk final.

h-variant1400x787
Bahkan Xavi dan Iniesta tidak punya bola emas ini. (Foto : http://www.juventus.com)

***

Pavel bukanlah orang seperti Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, atau Francesco Totti yang sudah menjadi simbol klub sejak usia muda. Usianya sudah menjelang 29 tahun saat hijrah ke Juve. Ia sudah mengukuhkan namanya di hati para Laziale berkat penampilan apiknya. Bersama Lazio, raihan gelarnya bahkan lebih variatif ketimbang selama di Juve. Raihan gelarnya meliputi juara Serie A, Coppa Italia, Supercoppa Italiana, Piala Winners, Piala Super Eropa, dan runner-up Piala UEFA (Lazio saat itu sedang jaya, dan royal mendatangkan pemain bintang). Sedangkan di Juve ia ‘hanya’ meraih gelar Serie A, Supercoppa Italiana, runner-up Liga Champions dan Serie B. Hanya saja, Pavel lebih banyak mendapatkan penghargaan individu saat bermain di Juve, menandakan ia sudah semakin naik kelas. Penampilan yang diganjar dengan banyak penghargaan tentu menandakan bahwa ia bermain sepenuh hati untuk Juventus, meskipun dulu ia adalah rival.

Selain itu, kesetiaannya terhadap Juve ketika harus bermain di Serie B membuat para Juventini semakin mencintainya. Ia adalah 1 dari 5 pemain bintang yang memilih bertahan kendati punya banyak peminat (yang lain adalah Del Piero, Gianluigi Buffon, David Trezeguet, dan Mauro Camoranesi). Saat ia pensiun, sebuah tribut perpisahan pun dilakukan untuknya di stadion Olimpico Turin, sebuah hal yang jarang didapat pemain Juve beberapa tahun terakhir, karena memang tidak banyak pemain Juve yang pensiun disana. Ia telah menjadi legenda di Juve. Namanya juga sudah berada di jajaran 50 pemain Juve yang masuk daftar ‘walk of fame’ di J Stadium, kandang Juve saat ini.

pavel_nedved_327
Bahkan Del Piero tidak mendapatkan perlakuan seperti ini. (Foto : http://www.pinterest.com)

Kini, mantan kapten timnas Ceko yang pernah membawa klubnya masuk final Piala UEFA, Piala Winners, dan Liga Champions (sebuah prestasi langka) ini menjadi wakil presiden Juve. Semenjak 2010 ia memang telah masuk jajaran direksi Juve, dan naik jabatan di tahun 2015. Bersamanya di jajaran manajemen, Juve kembali menjadi raja Italia, dan kini kembali disegani di Eropa, seperti dulu kala saat ia masih bermain. Memang, sebuah tim bermental juara juga harus diisi dengan manajemen bermental juara, dan Pavel tentu memenuhi syarat tersebut.

Tulisan ini dibuat untuk memperingati tanggal 22 Desember 2003, ketika Pavel dinobatkan sebagai peraih Ballon d’Or. Ia menjadi pemain Juve keenam dan (sampai saat ini) yang terakhir yang mendapatkan penghargaan tersebut. Kebetulan penghargaan Ballon d’Or 2016 juga belum lama berlalu, hehe.

Featured Image : http://www.by433.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s