Dia Lagi, Dia Lagi…

Pada 22 Desember lalu, Alan Pardew resmi diberhentikan dari jabatannya sebagai manajer Crystal Palace. Sehari setelahnya, Sam Allardyce resmi diumumkan sebagai manajer baru. Kasus yang menimpa dirinya September lalu saat masih menukangi timnas Inggris tampaknya tidak mempengaruhi reputasinya. Apalagi, dengan kondisi Palace saat ini, mereka butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk mendongkrak posisi mereka di klasemen Premier League. Saat musim kompetisi sudah berlangsung setengah jalan, tentu sulit mencari manajer yang sedang lowong dan memiliki kualitas dan pengalaman melatih di Premier League, sehingga dipilihlah Allardyce, yang memang punya reputasi mentereng untuk menyelamatkan sebuah tim dari jeratan degradasi (aneh juga sebenarnya untuk dibilang sebagai reputasi).

Sebenarnya tidak ada yang aneh dari penunjukan ini. Hanya saja, kenyataan bahwa pelatih setua dan ‘selevel’ Allardyce masih diminati, terutama oleh klub-klub level menengah Premier League (serius, mereka terlihat seperti bergiliran memakai jasanya), menunjukkan bahwa mungkin saat ini stok pelatih-pelatih berpengalaman di Premier League yang tersedia memang sedikit. Sedikit, dalam artian, benar-benar sedikit yang tersedia di pasar, bukan karena mereka semua sedang dipekerjakan oleh klub lain. Calon-calon selain Allardyce yang diberitakan oleh media saja adalah muka-muka lama seperti Chris Coleman, Roy Hodgson, Roberto Mancini (menurut saya dia tidak mungkin mau). Kalau stoknya sedang kosong, kadangkala klub-klub menengah ini mengambil pelatih-pelatih asing yang berkualitas, namun minim pengalaman di Premier League, seperti Francesco Guidolin dan Remi Garde. Memangnya yang lokal kemana?

allardyce2212.jpg
A: ga ada dendam nih ya. P: tenang aja, ini juga gua lagi nunggu ada yang dipecat, ntar gua ngelatih lagi deh. (Foto: http://www.standard.co.uk)

Ya, saya ingin membicarakan pelatih lokal. Lokal, dalam artian pelatih berkebangsaan Inggris, atau yang berasal dari Britania Raya (yah, Republik Irlandia boleh deh). Sudah lama Premier League terkena invasi, bukan hanya pemain asing, namun juga manajer asing. Kondisinya makin parah untuk musim ini, dimana hanya ada 7 manajer asal Britania Raya. Jika ingin dipersempit, hanya 4 yang berasal dari Inggris. Mereka adalah Allardyce, Eddie Howe (Bournemouth), Mike Phelan (Hull), dan Sean Dyche (Burnley). Selain Allardyce, yang lain belum punya pengalaman panjang sebagai manajer di Premier League (belum ada yang lebih dari 2 musim). Sedangkan 3 manajer asal Britania Raya yang lain adalah Mark Hughes, Tony Pulis dan David Moyes. Semuanya muka lama.

Jika dibandingkan dengan 5 liga besar Eropa (Spanyol, Jerman, Italia, Portugal, dan Prancis), Premier League adalah yang paling sedikit memakai pelatih lokal. Sekedar info, di Bundesliga Jerman terdapat 10 manajer lokal dari 18 klub, kemudian disusul La Liga Spanyol (14 dari 20 klub), Ligue 1 Prancis (14 dari 20 klub), Serie A Italia (17 dari 20 klub), dan Primeira Liga Portugal (16 orang dari 18 klub).

Apakah tidak ada pelatih-pelatih lokal lain yang berasal dari generasi mereka? Atau yang lebih muda? Tentu saja ada. Jika kita hanya melihat sejak musim 2006-07 hingga sekarang, sebenarnya banyak manajer lokal yang berkecimpung di Premier League. Total ada 71 manajer lokal, termasuk mereka yang bertugas sebagai caretaker. Namun, sebagian besar dari mereka tidak bertahan lama di Premier League, paling lama hanya 1-2 musim, bahkan cukup banyak yang kurang dari itu. Penyebabnya adalah mereka keburu selesai masa tugasnya (dipecat, mengundurkan diri, atau kontrak yang tidak diperpanjang) atau tim yang mereka tangani terdegradasi, sehingga mereka harus kembali meninggalkan Premier League.

bo.jpg
Daftar manajer asal Britania Raya dan Rep. Irlandia yang menukangi klub Premier League sejak musim 2006/07. Hanya nomor 7 dan 34 yang pernah juara Premier League sebagai manajer, bahkan hanya sedikit yang pernah merasakan juara First Division atau Premier League ketika masih bermain.

Jika melihat tabel yang saya buat, hanya 11 manajer yang saat ini terhitung sedang aktif sebagai manajer di kompetisi level tertinggi. 7 nama yang diberi warna pink menandakan mereka yang sedang menjadi manajer di Premier League, sementara yang berwarna kuning menandakan mereka sedang dipekerjakan oleh tim lain, namun bukan di Premier League. Brendan Rodgers sedang melatih Glasgow Celtic, sementara Gareth Southgate, Chris Coleman, dan Martin O’Neill sedang menjadi manajer timnas, berturut-turut Inggris, Wales, dan Republik Irlandia.

Bagaimana dengan mantan manajer Premier League sisanya? Masih banyak juga yang sedang aktif menjadi manajer, namun di kasta bawah liga Inggris, seperti Paul Lambert, Ian Holloway, Chris Hughton, dan Steve McClaren. Ada juga yang pensiun, seperti Sir Alex Ferguson dan Alan Curbishley. Selain itu, ada yang sedang menganggur saat ini seperti Ryan Giggs, Pardew dan Roy Hodgson (percayalah, tunggu ada 1 manajer Premier League lagi yang dipecat, maka nama mereka mungkin akan muncul kembali sebagai kandidat pengganti). Tidak lupa, ada yang sedang sibuk mengurus sepakbola, namun dengan cara berbeda, seperti Alan Shearer (komentator) atau Tony Adams (kepala pengembangan pemain muda di salah satu klub liga Tiongkok).

Namun, bila kita perhatikan, para manajer lokal seringkali ‘hanya’ diberi kepercayaan melatih klub-klub level menengah, seperti yang kita lihat sekarang. Sebagian besar dari 71 nama itupun menangani klub-klub yang bertarung di papan tengah atau zona degradasi, bukan klub besar. Saat ini, diantara 7 manajer lokal tersebut, tim Pulis (West Bromwich Albion) berada di posisi tertinggi, yaitu peringkat 8. Sedangkan di posisi 6 besar, yang memperjuangkan gelar Premier League dan jatah kompetisi Eropa, saat ini semuanya diisi oleh manajer asing. Bahkan Chelsea sudah 20 tahun tidak memakai manajer lokal, kecuali sebagai caretaker untuk 1-2 partai saja. Arsenal sudah lama memakai Arsene Wenger. Manchester City selalu menunjuk manajer asing sejak Sheikh Mansour mengambil alih.

Apakah kualitas manajer lokal saat ini kalah jika dibandingkan manajer asing? Bisa jadi para direksi klub besar berpikiran begitu. Toh, jika berkaca pada kondisi Premier League sejak 1992, hanya Sir Alex dan Kenny Dalglish yang bisa meraih gelar juara. Mereka pun bukan orang Inggris meski mereka tergolong manajer lokal. Namun mereka adalah veteran. Pertanyaannya saat ini, adakah pengganti mereka yang sepadan? Di saat negara-negara besar Eropa yang lain sudah memunculkan pelatih-pelatih lokal baru yang menjuarai liga, seperti Pep Guardiola, Jurgen Klopp, Laurent Blanc, Luis Enrique, Antonio Conte, hingga Frank De Boer, Inggris masih jalan di tempat. Bahkan manajer-manajer asing yang menjuarai Premier League sebelumnya sudah berprestasi di luar Inggris, menandakan bahwa kualitas mereka bukan sekedar level lokal. Sedangkan manajer Britania Raya saat ini tergolong sedikit yang berprestasi di luar negeri, selain karena memang sedikit yang mempekerjakan mereka.

Mungkin hal ini disebabkan semakin besarnya pendapatan klub-klub besar liga Inggris, selain juga semakin ketatnya persaingan kompetisi, sehingga para direksi lebih memilih pelatih-pelatih yang sudah teruji kualitasnya ketimbang yang masih sekedar rising star. Karena investasi yang besar tentu harus sebanding dengan prestasi. Apakah Chelsea bisa berpeluang menjadi juara jika seandainya ditangani oleh Eddie Howe? Mungkin saja. Namun prestasi dalam CV-nya hanya menjuarai Championship League, sedangkan Antonio Conte menjuarai Serie A tiga kali. Lebih milih yang mana hayo?

Selain itu, banyak mantan pemain lokal jebolan Premier League lebih memilih menjadi komentator dan analis ketimbang melatih sebuah klub. Hal ini tentu mengakibatkan regenerasi pelatih lokal terhambat. Bayangkan jika para mantan pemain yang menjadi pelatih kebanyakan yang berasal dari kasta Championship, League One, League Two, mungkin lebih bawah, sedangkan mantan bintang Premier League hanya mengomentari kinerja mereka ketika tim yang mereka bawa promosi berlaga di Premier League. Jika memang ada yang bagus sih tidak masalah, namun jika tidak ada? Ini tentu tidak baik buat perkembangan sepakbola Inggris sendiri.

Kondisi ini mungkin saja mengakibatkan minat klub-klub memakai jasa manajer lokal semakin tergerus di masa depan, selain jumlah manajer lokal berkualitas yang semakin sedikit. Jika tidak segera muncul manajer-manajer lokal baru yang berkualitas, mungkin beberapa tahun ke depan, saat seorang manajer Premier League dipecat, bila terjadi di klub besar, maka klub besar tersebut akan terus mencari manajer asing, sementara jika terjadi di klub menengah ke bawah, maka mereka akan menunjuk muka-muka lama untuk menggantikannya, muka-muka lama yang sudah makan asam garam di kehidupan medioker Liga Inggris. Kalau Allardyce dipecat, tinggal ambil Moyes. Kalau Moyes dipecat, tinggal ambil Pulis. Kalau Pulis dipecat, tinggal ambil Mark Hughes. Mungkin juga McClaren, Hodgson, atau balik lagi ke Pardew. Itu-itu aja terus.

Featured Image : http://www.skysports.com

Advertisements

4 thoughts on “Dia Lagi, Dia Lagi…

  1. Ini pelatih emang nyebelin sih walaupun saya akuin dia jago banget. Musim lalu Sunderland yang lebih sering berada di posisi paling buncit aja tau-tau bisa nyalip Newcastle di pekan-tekan terakhir. Melihat materi pemain Palace sepertinya Big Sam bisa lebih berprestasi musim ini, prediksi saya mereka bakalan tembus zona eropa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s