Karya Tulis Si Brengsek

Siapakah ia? Gondrong. Berjanggut. Italia. Brescia. Deep-lying playmaker. Nomor 21. Tendangan bebas.

Jika kita sedang diberi kata kunci seperti itu dalam sebuah kuis televisi yang berhadiah 1 miliar rupiah, mungkin kita akan menjadi kaya mendadak, karena kita semua tahu jawaban yang tepat. Ya, Andrea Pirlo. Jika anda heran dengan judul tulisan saya, jangan. Sang metronom pun tidak akan marah, karena ia sendiri melabeli dirinya dengan kata ‘pirla’, yang dalam dialek Milan artinya brengsek. Hal itu tertulis dalam autobiografinya yang berjudul ‘I Think, Therefore I Play’.

Judul tersebut adalah plesetan dari kalimat bahasa latin yang dipopulerkan oleh seorang filsuf asal Prancis, Rene Descartes, yaitu ‘Cogito Ergo Sum’ yang berarti ‘I Think, Therefore I am’. Ya, Andrea rupanya adalah orang yang suka berkelakar, terkadang sampai keluar batas, sehingga ia mengakui dirinya sendiri dengan sebutan kasar tersebut. Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas pengalaman saya membaca buku tersebut.

Autobiografi ini pertama kali dirilis di Italia pada 2013, saat Andrea masih berseragam Juventus. Namun, edisi bahasa Indonesianya baru terbit pada Juli 2016. Saya membelinya dua bulan kemudian di Gramedia, dan baru selesai dibaca pada akhir bulan ini. Bukunya tidak tebal, hanya 184 halaman. Namun, gaya bahasanya dalam penulisan seringkali membuat saya berpikir sejenak untuk mencernanya, membuat mood agak malas untuk membacanya sekaligus dalam satu waktu. Memang ini adalah buku pertama yang saya baca kembali setelah sekian lama.

20161227_171011-1.jpg
Dibalik wajah tenangnya, ternyata ada bekas pukulan Gennaro Gattuso. (Foto: koleksi pribadi)

Ditulis bersama jurnalis Italia bernama Alessandro Alciato, buku ini bukanlah sebuah sekedar biografi seorang pemain yang sejak kecil berhasrat menjadi pesepakbola, lalu berjuang keras dan dengan kejeniusannya berhasil menjadi pemain bintang dan meraih banyak gelar bersama klubnya dan tim nasional. Buku ini jauh lebih berharga dari itu. Andrea menjadikan buku ini sebagai tempatnya menuangkan pendapat, nasehat, berbagi cerita lucu, selain juga kilas balik perjalanan hidupnya tentu saja.

Bisa dibilang, inilah cara Andrea memberitahu hal yang ia ingin orang tahu tentang dirinya selama ini. Sesederhana itu. Yang namanya biografi bukannya seperti itu? Memang, namun bedanya, Andrea menjual biografi ini dengan cara seelegan permainannya, yaitu dengan menceritakan kehebatan dia dan orang-orang sekitarnya. Tidak ada bab khusus tentang keburukan seseorang, karena masih banyak hal lain yang lebih penting yang bisa ia ceritakan. Saya yakin, dengan hanya 20 bab, pasti masih banyak yang terlewatkan.

Secara garis besar, saya suka membagi biografi ini berdasarkan 6 buah tema, yang sebenarnya saling tercampur dalam satu buku ini.

  1. Cerita konyol oleh Pirlo

Sulit membayangkan ternyata Andrea adalah sosok jenaka jika melihat kepribadiannya di lapangan. Segala gerak-geriknya mencerminkan keseriusan dan ketenangan. Namun, cerita konyol di dalam buku ini bukanlah bahan lawakan yang ia karang sendiri, melainkan pengalaman konyolnya selama ia bermain sepakbola. Mulai dari kisah para punggawa AC Milan dan Italia yang hobi mengerjai Gennaro Gattuso, macam-macam takhayul yang menghinggapi orang-orang di sekitarnya, mulai dari Filippo Inzaghi hingga Andrea Agnelli, kisah seorang penerjemah Fatih Terim yang tidak pernah menerjemahkan kalimatnya dengan tepat, paranoid khusus yang dimiliki oleh Alessandro Matri, hingga betapa gilanya penawaran sebuah klub Qatar hanya agar Andrea mau bermain di sana. Cerita-cerita tersebut akan membuat kita tersenyum sendiri membacanya.

  1. Pirlo, sang penyair asal Brescia

Dalam sebuah pembahasan, Andrea terkadang membuat perumpamaan yang agak aneh, seolah dirinya sedang menjadi penyair. Ia membandingkan koper kecil Adriano Galliani yang ada di bawah meja dengan Monica Lewinsky yang disembunyikan oleh Bill Clinton, mengatakan bahwa pemanasan sebelum pertandingan sama saja dengan membiarkan Bar Rafaeli yang sedang telanjang sendirian di kasur, menyebut para pemain Juventus bagaikan gerombolan siberat yang habis digeledah jika sedang bertanding di kandang lawan, hingga membandingkan kondisi pemain Milan setelah tragedi Istanbul 2005 bagaikan sekelompok orang gila yang sedang dikumpulkan, namun tanpa seorang psikiater di ruangan tersebut. Itu hanya sedikit contoh. Percayalah, beberapa kalimat yang ada di buku ini benar-benar membuat kita sesekali mengernyitkan dahi (paling tidak saya mengalaminya).

  1. Ketika Pirlo bicara

Andrea bukanlah orang yang cuek. Hal itu bisa dilihat ketika membahas hal-hal yang dianggapnya penting dalam dunia sepakbola, selain latihan dan bertanding tentunya. Ia mengutarakan beberapa pendapatnya, yang kebanyakan masuk akal. Mulai dari dugaan doping dalam sepakbola, kasus pengaturan pertandingan yang diduga marak dilakukan di Italia, budaya ultras di Italia yang meresahkan (sayangnya, kultur suporter sepakbola Indonesia terlihat masih mencontoh mereka), perilaku rasisme dalam sepakbola, hingga penggunaan teknologi dalam sepakbola (Andrea setuju dengan penggunaan GLT dan VAR). Pendapat yang dikeluarkan Andrea tentang sebuah masalah cukup memperlihatkan bahwa ia adalah seorang pemikir, karena ia pun mengutarakan solusinya dalam masalah tersebut, meski belum tentu bisa diaplikasikan.

  1. Pirlo dan sepakbola

Bagian ini sudah pasti merupakan hal yang wajib ada dalam setiap biografi pesepakbola, tak terkecuali Andrea. Mulai dari kisahnya di Brescia junior, mempermalukan pemain yang usianya dua kali umurnya saat dipromosikan ke tim senior, caranya mengganti ketertinggalan pelajaran di sekolah dengan menjadi pesepakbola, pelajaran hidup yang diambil dari kekalahan di final Liga Champions 2005, perasaannya sebagai penendang penalti di final Piala Dunia 2006 dan perempat final Euro 2012, ketekunannya mempelajari trik tendangan bebas Juninho Pernambucano, keinginannya bermain di Spanyol yang tak pernah terwujud, hingga bangganya dia sebagai pemain yang ditakuti para pelatih sampai-sampai para pelatih itu menugaskan seseorang untuk menjaganya. Pengalamannya sebagai pesepakbola tentu tidak semuanya dituangkan di sini, namun yang ia bahas di sini cukup menarik untuk dibaca.

  1. Pirlo dan kawan-kawan

Singkat cerita, dalam setiap babnya Andrea akan membahas dirinya sendiri dan para koleganya dalam sepakbola, baik itu agen, pelatih, presiden klub, ataupun pemain. Mulai dari Andrea Agnelli, Josep Guardiola, Paolo Maldini, Alessandro Del Piero, Marcello Lippi, hingga Mario Balotelli. Tidak lupa juga ia membahas keluarganya (dalam beberapa bab tertentu saja). Dalam setiap bab itu tertulis pula pandangannya mengenai para koleganya itu, seperti bagaimana keperibadian mereka, apa yang bisa dicontoh dari mereka, hingga pengalamannya bersama mereka. Singkat kata, pesepakbola yang hebat adalah mereka yang bisa menyerap ilmu dari orang-orang sekitarnya dan membagikan ilmu kepada orang-orang yang membutuhkan dalam sepakbola (para pemain muda). Andrea adalah salah satunya.

  1. Pirlo dari masa ke masa

Sesi ini merupakan kumpulan foto-foto pilihan kehidupan Andrea, mulai sejak ia masih kecil hingga ia menjadi kapten timnas Italia di Olimpiade Athena 2004. Sebuah kumpulan foto sederhana yang beberapa diantaranya tidak bisa didapat dari para fotografer sepakbola.

***

Membaca buku ini merupakan suatu pengalaman baru buat saya, karena ini adalah buku bertipe biografi pertama yang saya baca. Untuk permulaan, tentu tidak mengecewakan. Isi buku juga cukup menyegarkan. Hanya saja, alur dalam buku ini sering maju mundur, sehingga kurang tepat jika disebut sebagai ringkasan perjalanan karir. Contohnya saja, bab pertama dibuka dengan kisahnya pada masa ia akan meninggalkan Milan, lalu buku ini ditutup di bab 20 dengan kisah di periode waktu yang sama pula. Namun hal itu tidak akan mengganggu pembaca, karena Andrea dan Alciato tahu bagaimana menyambungkan sebuah bab dengan bab lainnya.

Kalaupun ada hal yang sedikit mengganggu, itu adalah beberapa kesalahan penulisan kata dalam cetakan pertama edisi bahasa Indonesia ini. Selain itu, beberapa kalimat seringkali terdengar ambigu. Entah karena terjemahannya yang sedikit bermasalah, atau memang kalimat yang ditulis oleh Andrea dan Alciato bersifat ambigu. Sejujurnya, beberapa kalimat dalam buku ini pernah saya baca di internet dalam bahasa Inggris, dan ketika dibandingkan kalimat dengan bahasa Indonesia, artinya lebih mudah dicerna. Namun, secara keseluruhan, saya cukup senang membeli buku ini.

Apakah Andrea akan menulis kembali lanjutan dari autobiografinya? Entahlah, namun rasanya jika ia masih berkarir di dunia sepakbola di masa yang akan datang, dan masih berprestasi, tentu kita penasaran ingin membaca lagi kisahnya, karena itu artinya ia masih punya banyak hal untuk diceritakan kembali.

Featured Image : http://www.mirror.co.uk

Advertisements

4 thoughts on “Karya Tulis Si Brengsek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s