Loyalitas Dalam Karir Pesepakbola

“Terlalu cepat untuk menilai saya tak loyal bukan? Tapi apa sih makna dari ketidakloyalan itu? Apakah loyalitas itu artinya kalian harus menghabiskan waktu bersama sebuah klub yang sama? Saya merasa selalu loyal sepenuhnya terhadap klub saya.” (Mats Hummels, 2016, setelah Bayern München bertanding melawan Borussia Dortmund di Piala Super Jerman, dikutip dari Detikcom, dikutip dari Soccerway).

Riuhnya bursa transfer pemain di kompetisi sepakbola Eropa mulai berdengung lagi. Setelah musim panas lalu dikejutkan dengan transfer Paul Pogba dengan harga yang kelewatan, belum lama ini kita mendengar pindahnya Oscar dos Santos dari Chelsea ke Shanghai SIPG dengan biaya transfer 60 juta poundsterling, serta Carlitos Tevez yang pindah ke Shanghai Shenhua dengan menjadi pemain  bergaji termahal sedunia.

Setiap kali bursa transfer berlangsung berarti akan ada pemain-pemain yang berganti seragam klub. Hal ini tidak akan lepas dari pengamatan media. Tinggi-rendahnya tensi berita transfer tentunya bergantung pada siapa yang terlibat disana. Transfer pemain terkenal, yang melibatkan klub besar, liga yang terkenal, ditambah lagi agen yang kondang, tentu porsi pemberitaannya lebih besar. Pemain yang pindah ke Granada tentu akan jarang, bahkan tidak diliput media besar (mungkin hanya media lokal tempat klub itu berasal saja) dibandingkan pemain yang pindah ke Manchester United.

Umumnya seorang pemain yang pindah klub tentu akan disambut dengan meriah di klub barunya. Itu hal yang wajar. Sementara untuk klub yang ditinggalkannya, ada yang memberinya penghormatan, seperti contohnya Robert Lewandowski (dari Borussia Dortmund ke Bayern München) namun juga ada yang memberinya cacian, contohnya Mats Hummels (juga dari Dortmund ke Bayern). Cacian biasanya datang dari fans, dan secara umum dialamatkan dengan embel-embel ‘tidak setia’ atau ‘pengkhianat, apalagi kalau pemain tersebut pindah ke klub rival (meskipun perbedaan kontras terjadi antara Hummels dan Lewandowski).

Kesetiaan pemain terhadap sebuah klub memang menjadi sebuah tuntutan dari fans. Seorang pemain dituntut untuk memiliki ikatan yang sama kuatnya dengan fans dari klub yang ia bela. Suporter sepakbola umumnya loyal pada sebuah klub karena ‘ikatan geografis’. Bisa jadi itu tempat mereka lahir dan dibesarkan, tempat mereka mulai mengenal sepakbola, dan alasan-alasan lain. Hal ini yang membuat kesetiaan mereka tidak perlu dipertanyakan, karena hubungan mereka dan klub sudah seperti ikatan batin dalam diri mereka. Saya mengatakan ‘umumnya’, karena itu tidak sepenuhnya tepat. Contohnya saja, kabarnya cukup banyak warga London yang merupakan fans MU (akibat dominasi mereka di Inggris di era Sir Alex). Begitu juga dengan fans Juventus yang tersebar di sepanjang peninsula Italia yang jumlahnya lebih besar dari fans lokal mereka (warga kota Torino). Hal ini biasanya disebabkan faktor prestasi dan popularitas. Namun, untuk ukuran loyalitas, mereka juga tergolong loyal, meski ada juga yang tidak.

Namun kadar kesetiaan seorang pemain terhadap sebuah klub belum tentu sama dengan fansnya. Perbedaan interpretasi antara pemain dan fans tentu wajar, karena tidak semua pemain berasal dari wilayah geografis yang sama dengan klub tempatnya bermain. Selain itu, arti kesetiaan sendiri juga kompleks. Ada banyak faktor yang mempengaruhi para pesepakbola ini. Pada paragraf paling atas, saya mengutip tanggapan Mats Hummels mengenai arti kesetiaan setelah ia dicap sebagai pengkhianat. Kalimat terakhir dari kutipan di atas yang mengatakan ‘saya merasa selalu loyal sepenuhnya terhadap klub saya’ menurut saya adalah sebuah penggambaran yang cukup tepat mengenai arti kesetiaan bagi seorang pesepakbola.

Benar, seorang pemain akan setia dengan klub yang ia bela di masa sekarang, klub yang sedang mempekerjakannya sebagai pemain. Ia harus berjuang untuk klub yang telah membayar mahal untuk jasanya. Ia tidak akan setia dengan klub idolanya saat kecil atau klub yang membesarkannya hingga jadi bintang sebelum direkrut klub besar. Bahkan saya yakin, Paolo Maldini, Francesco Totti, atau Paul Scholes sekalipun, jika mereka pernah pindah klub, maka klub barunya itulah tempat ia menempatkan loyalitasnya (meski nyatanya tidak pernah terjadi).

Seorang pemain tidak akan pernah tiba-tiba menolak atau tidak sepenuh hati bermain ketika melawan klub idolanya atau mantan klubnya, bahkan beberapa diantaranya tetap bermain bagus dan mencetak gol, meski terkadang mereka tidak melakukan selebrasi. Untuk masalah hati, rasa hormat dan sebagainya, itu masalah personal masing-masing pemain. Tapi profesionalitas tetap yang utama. Jika kita lihat bersama, ada banyak faktor yang mempengaruhi arti kesetiaan seorang pemain sepakbola profesional. Beberapa di bawah ini adalah contohnya.

  1. Kecintaan pada klub

Ini bisa anda lihat pada sosok Maldini, Totti, Scholes, John Terry (Chelsea), atau Marcell Jansen (Hamburg SV) dan Gianpaolo Bellini (Atalanta) sekalipun. Seperti halnya fans, ada ikatan batin yang terjalin antara dirinya dan klub. Entah karena mereka besar disana atau faktor personal lainnya.

Football_against_poverty_2014_-_Paolo_Maldini.jpg
Baru setelah pensiun, Maldini mau memakai seragam strip hitam-putih. (Foto: wikipedia.org)

Pemain-pemain seperti ini, terutama yang bermain di klub besar, bukannya sepi tawaran. Siapa yang tidak mau punya mereka dalam klubnya, apalagi saat masa jaya mereka. Namun hati mereka tak bergeming. Rekan setim dan manajer boleh berganti, namun mereka tetap ikon, andalan dan panutan bagi rekan-rekan dan juga fansnya. Xavi Hernandez, Alessandro Del Piero, atau Steven Gerrard juga akan demikian seandainya para bos klub memberi kesempatan berupa perpanjangan kontrak.

  1. Keluarga

Hal ini menjadi alasan Tevez saat meninggalkan Juve dan kembali ke Boca Juniors. Kala itu ia merasa sudah waktunya pulang ke ‘rumah’ dan mengakhiri petualangan di Eropa (meski kini ia kembali merantau. Wajar sih, apalagi ada yang menawarkan gaji hampir 3 juta pounds per bulan). Bahkan, karir sepakbola mendiang Opa Johannes Cruijff dikabarkan banyak dipengaruhi oleh keluarganya, termasuk kepindahannya ke Barcelona pada tahun 1973.

Keluarga tentu menjadi hal penting bagi pesepakbola. Ketika mereka pindah, tentu keluarga seringkali ikut pindah juga, sehingga banyak hal yang harus dipersiapkan, mulai dari tempat tinggal hingga sekolah untuk anak-anak. Mereka tentu tidak ingin karir mereka terganggu hanya karena keluarga tidak merasa betah kan?

  1. Gaji besar

Pesepakbola professional bermain bola untuk menafkahi hidup, baik diri sendiri atau keluarga. Pemain pindah karena masalah gaji adalah lumrah. Siapa yang tidak mau mendapat gaji 16 juta euro semusim dari yang biasanya hanya 2 juta euro semusim (contoh kasus Graziano Pelle)? Chinese Super League sudah membuktikan bahwa uang bisa mempengaruhi seorang pemain.

Hanya saja, jarang pemain yang bicara terang-terangan bahwa alasannya pindah adalah gaji. Demba Ba (saat pindah ke Chelsea dari Newcastle United) adalah sedikit contoh yang berani berkata demikian. Hal yang biasanya keluar dari mulut pemain adalah mencari tantangan baru, mengejar gelar juara, dan sebagainya yang terkait prestasi, meski memang banyak juga yang niatnya seperti itu.

img-20161224-wa0000
Jika ini benar adanya, apakah anda percaya perkataannya? Saya tidak. (Foto: twitter @footyjokes)
  1. Kesempatan bermain

Mengenai yang satu ini, banyak faktornya, mulai dari tidak sesuai skema taktik manajer hingga perselisihan dalam klub. Buat apa setia jika terus duduk di bangku cadangan atau bahkan tidak masuk dalam skuad yang didaftarkan dalam satu pertandingan? Mau sebesar apapun klubnya, sebesar apapun penghasilannya, secinta apapun seorang pemain pada klubnya, pada titik ini seorang pemain tidak lagi memikirkan gaji, tapi tujuannya untuk bermain sepakbola yang diinginkannya.

fabregas.jpg
Masih betah pake rompi itu, Cesc? (Foto: independent.co.uk)

Banyak bermain juga berarti banyak kesempatan untuk sang pemain menunjukkan kemampuannya, yang jika memang bagus, bisa menarik perhatian banyak klub besar untuk meraih prestasi dan pendapatan yang besar. Selain itu kesempatan bermain di tim nasional juga akan semakin besar. Kecuali kamu adalah Vincenzo Iaquinta (eks Juve), yang ‘lebih suka’ dibekukan tapi tetap digaji besar ketimbang pindah klub namun gajinya berkurang.

  1. Gelar juara dan bermain di level tertinggi

Dahulu, Zinedine Zidane pindah ke Real Madrid dari Juventus karena mau meraih gelar juara Liga Champions. Lewandowski dan Hummels pindah ke Bayern juga karena alasan yang sama. Mau disebutkan lebih banyak? Kalian tentu bisa menambahkannya sendiri. Seorang pemain sepakbola tentu ingin terus menjadi lebih baik, apalagi di usia keemasan mereka. Gelar juara dan bermain di kompetisi elit juga akan meningkatkan level mereka sebagai pemain.

Saat Juve terkena hukuman degradasi pada tahun 2006, eksodus pemain pun tak terelakkan karena pemain-pemain itu ingin bermain di level kompetisi tertinggi, bukan di Serie B. Kalau hal itu tidak bisa didapat di klub yang sebelumnya, mereka akan pindah.

juventus_mgzoom
6 dari 11 pindah karena tidak mau bermain di Serie B. No hard feelings, dude. (Foto: corriere.it)

Tuntutan kesetiaan dari fans kepada seorang pemain memang wajar. Namun sudah sepatutnya pula mewajarkan saat seorang pesepakbola pindah klub. Karena faktor-faktor di atas cukup menjelaskan perbedaan arti kesetiaan antara seorang fans dan seorang pesepakbola profesional. Jangan serta-merta mencaci mereka, karena kita mungkin akan melakukan hal yang sama dengan mereka, dengan alasan yang sama pula. Jika ada perusahaan yang mau mempekerjakan kita dengan gaji yang lebih besar, atau kesempatan karir yang lebih bagus, apakah kita akan menolaknya dengan mengatakan kita loyal pada perusahaan? Belum tentu kan?

Featured Image: bundesliga.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s