3 Pelajaran Dari Tsubasa Untuk Sepakbola Indonesia

Semasa sekolah dasar dan menengah pertama, sepakbola adalah hobi yang hampir tiap hari dimainkan oleh saya dan teman-teman saya. Pada saat itupun komik-komik yang berkaitan dengan sepakbola bermunculan di Indonesia, yang kebanyakan berasal dari Jepang. Mulai dari Shoot, Offside, hingga Fantasista. Tidak lupa juga serial kartun Captain Tsubasa yang populer di kalangan teman-teman saya.

Meski pada masa itu komik dan kartun sepakbola sangat populer, namun saya tidak mengikuti trend tersebut. Pernah sesekali membaca 1-2 komik Offside, melihat beberapa halaman komik Fantasista, dan menonton 1-2 episode Captain Tsubasa, meski tidak sampai habis (waktu itu buat saya kartun Tsubasa terlihat lebay, bahkan slogan ‘bola adalah teman’ terdengar menggelikan). Buat saya, main sepakbola dan menonton pertandingan sepakbola yang sebenarnya (baik di TV ataupun tarkam) lebih seru.

Pada usia seperempat abad lebih sedikit ini, barulah saya sedikit mengubah pandangan saya. Sebabnya, beberapa hari yang lalu, kembaran saya membelikan saya komik Captain Tsubasa, volume pertama dari serial komik paling pertama dari Captain Tsubasa. Singkatnya, komik Tsubasa yang pertama kali terbit, deh. Ia membelikan ini agar saya menambah bacaan tentang sepakbola (malah dibellin komik ya?).

tsu-3
Komik sepakbola pertama di rumah. (Foto: koleksi pribadi)

Komik ini tergolong tebal, 347 halaman untuk isi ceritanya, sekitar 1,5 kali lipat komik normal. Inti cerita komik ini berkisar antara persaingan dua sekolah dasar dalam sepakbola, yang peta kekuatannya langsung berubah drastis setelah Tsubasa Ozora dan Taro Misaki masuk SD Nankatsu. Yang awalnya SD Shutetsu adalah jagoan yang tak tertandingi, tiba-tiba jadi susah menang melawan Nankatsu.

Isi cerita pun tak ubahnya komik Jepang pada umumnya, yang biasanya penuh dengan drama, seperti Tsubasa yang selamat dari kecelakaan saat kecil karena bola yang ia pegang, tendangan Tsubasa yang bisa segitu jauhnya dari bukit menuju rumah Genzo Wakabayashi di tengah kota, kesombongan Wakabayashi yang merasa dirinya sudah jagoan dan pantang kebobolan (untuk ukuran anak SD, dia kelewatan congkaknya), hingga gol salto Tsubasa di akhir waktu normal pertandingan.

Yah, saya maklumi saja, namanya juga komik, kalo ga dramatis ga seru kan? Meskipun awalnya saya tersenyum sendiri membacanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, namun membaca 1 volume sampai habis pun membuat saya jadi terbawa alur cerita.

tsu-2
Yang saya suka adalah Yoichi Takahashi benar-benar meneliti dan menyesuaikan kamar Tsubasa dengan kondisi sepakbola saat itu. Logo-logo yang saya lingkari adalah tim-tim yang sedang berjaya di periode 1981, kala ia menerbitkan cerita ini. Mulai dari kiri adalah Hamburg SV, Penarol, Bayern Munchen, Nottingham Forest, dan Liverpool. (Foto: koleksi pribadi)

Terus terang saya menyukai tentang konsep komiknya. Cerita tentang turnamen sepakbola anak-anak memang seru, apalagi tidak ada unsur drama di luar sepakbola yang tidak perlu (saya tidak tahu episode-episode selanjutnya, namun di volume 1 ini murni urusan sepakbola saja).

Pertama kali  diterbitkan pada tahun 1981, Yoichi Takahashi bisa dibilang berani membuat komik tentang sepakbola, padahal saat itu sepakbola belum ada liga profesionalnya di Jepang dan kalah populer dibandingkan olahraga seperti baseball. Namun siapa sangka bahwa banyak pemain Jepang yang menjadi pesepakbola karena mendapat pengaruh dari karakter Tsubasa ini.

Pada halaman belakang komik ini terdapat esai dari Masayuki Okano, mantan pemain Jepang yang pernah bermain di Piala Dunia 1998. Dalam esai tersebut ia mengatakan bahwa banyak pemain J-League yang seangkatan dengannya ternyata mengikuti komik dan kartun Tsubasa semasa kecil. Esai tersebut dibuat pada tahun 1993, 12 tahun sejak Tsubasa pertama kali muncul di komik mingguan Shonen Jump. Kala itu Okano sudah menjadi pemain profesional J-League. Karena buku ini merupakan cetak ulang yang baru terbit lagi pada tahun 2015, maka esai tersebut dimasukkan pula ke dalam komik ini. Namun esai Okano menjadi bukti bahwa cerita Captain Tsubasa secara tidak langsung punya pengaruh kepada perkembangan sepakbola Jepang.

tsu.jpg
Duel Wakabayashi dan Ozora. Perhatikan tulisan yang saya lingkari. Entah ini narasi komik biasa saja, atau ini ramalan yang menjadi kenyataan? Karena faktanya pemain sepakbola Jepang dahulu banyak yang terinspirasi oleh Tsubasa dan kawan-kawannya. (Foto: koleksi pribadi)

Setelah membaca komik ini, ada hal menarik yang saya ambil sebagai pelajaran, yaitu tentang pentingnya pembinaan sepakbola usia dini untuk kemajuan sepakbola di suatu negara. Ada tiga hal tentang itu yang saya perhatikan dari komik ini.

Pertama, dalam komik ini diceritakan bahwa Tsubasa hampir tidak bisa lepas dari bola sepak. Ia selalu mendribel bola, bahkan dalam perjalanan ke sekolah, hingga akhirnya ia pun terbiasa dengan bola berada di kakinya. Begitu pula dengan teman-temannya. Dalam komik pun terlihat Tsubasa sudah menguasai teknik dasar dalam bermain bola, seperti menendang, mendribel, mengoper dan mengontrol bola yang benar. Instingnya pun sudah mulai jalan. Bukan berarti bahwa anak-anak harus diajari teknik dasar sepakbola dengan cara membawa bola kemanapun mereka pergi, namun yang terpenting adalah latihan yang rutin, sehingga menimbulkan efek sudah terbiasa tadi.

Jika kita kembali ke Piala AFF 2016 lalu, kita melihat sendiri bagaimana pemain timnas kita berkali-kali salah dalam mengoper atau mengontrol bola dalam setiap pertandingan. Apakah teknik-teknik dasar sepakbola belum dikuasai benar oleh para pemain timnas? Setidaknya di media nasional sudah  banyak yang mengkritik demikian.

Kedua, dalam komik ini kita bisa lihat bagaimana Tsubasa selalu rajin berlatih, bahkan mulai dari pagi hari. Kiper Wakabayashi bahkan berlatih habis-habisan sebagai kiper hingga bolos sekolah (meskipun bukan contoh yang baik, namun ia membuat pilihan untuk fokus berlatih sepakbola ketimbang datang ke kelas karena ia ingin menjadi kiper hebat di masa depan). Sebuah bukti bahwa berlatih untuk bermain sepakbola yang benar harus ditanamkan sejak kecil jika kelak ingin menjadi pemain profesional.

Lalu yang ketiga, tentang turnamen sepakbola antar sekolah. Setelah membaca komik ini saya merasa bahwa turnamen usia dini sebaiknya sudah ada sejak level sekolah dasar. Di Jepang sendiri sudah ada turnamen sepakbola antar sekolah, baik di level lokal hingga nasional. Mulai dari sekolah dasar hingga universitas. Level berjenjang begini yang sebenarnya dibutuhkan di Indonesia.

Saya juga merasa, ketimbang turnamen antar sekolah sepakbola (SSB), turnamen antar sekolah mempunyai jangkuan lebih luas untuk mencari pemain-pemain muda berbakat di Indonesia. Sekolah-sekolah di Indonesia jauh lebih banyak jumlahnya ketimbang SSB bukan? Level kompetisi yang berada dalam ranah pendidikan sekolah pun bisa memastikan sang pemain tetap bersekolah, sehingga bila pemain muda gagal menjadi pemain profesional, mereka masih bisa tetap bersekolah hingga jenjang sarjana dan tidak takut akan masa depan mereka (apalagi sebagai negara berkembang, pendidikan di negara ini belum merata). Bandingkan dengan SSB yang pada umumnya hanya mengajarkan sepakbola. Saat PSSI dibekukan kemarin saja banyak pemain nasional yang kalang kabut. Jika level pendidikan mereka tinggi, mungkin mereka tidak akan ragu untuk banting setir.

Saya juga sudah beberapa kali membaca di media nasional tentang ulasan pembinaan sepakbola dan olahraga lain yang bermula dari sekolah. Semuanya berkesimpulan bahwa sistem ini lebih cocok diterapkan di Indonesia ketimbang memakai SSB. Alasan yang umum diutarakan adalah para pemain tetap mendapat pendidikan yang cukup untuk memasuki dunia kerja jika gagal menjadi pemain profesional, selain juga kemudahan dalam memantau pemain-pemain berbakat oleh klub-klub profesional atau sekolah-sekolah yang sepakbolanya berprestasi.

Sistem SSB yang kita pakai sekarang mungkin dikarenakan kita berkiblat pada sistem sepakbola di Eropa yang sudah maju sejak dulu dengan sistem SSB. Jepang dan Amerika Serikat yang mengadakan pembinaan olahraga dari sekolah-sekolah memang tertinggal sepakbolanya dulu.

Namun, sekarang Jepang dan Amerika sudah jauh diatas kita. Sepakbola mereka kini berprestasi. Jepang yang pada awal tahun 80-an belum punya liga profesional, kini sudah juara Asia 4 kali. Medali emas Asian Games pun sudah pernah diraih pada 2010, bahkan dengan komposisi pemain pro dan pemain dari universitas. Tiongkok saja saat ini sudah memasukkan sepakbola dalam kurikulum sekolah mereka. Alangkah baiknya bila kita bisa mencontoh mereka.

Latihan dasar sepakbola yang benar, kontinuitas latihan, dan adanya wadah kompetisi usia dini yang berjenjang sejak sekolah dasar. Itulah poin yang saya bisa dapat dengan membaca 1 komik Captain Tsubasa saja. Bukankah semua itu sama dengan yang selama ini dikoar-koarkan banyak pihak untuk kemajuan sepakbola Indonesia? Memang iya.

Memangnya dengan sistem SSB seperti sekarang hal itu tidak bisa dilakukan? Bisa juga kok, asal memang ditata dan dikelola dengan baik pembinaan berjenjangnya. Toh di Eropa saja bisa berjalan. Ini hanya sebuah metode kan. Tinggal mencari mana yang tepat untuk dilakukan di Indonesia.

Penyebab selama ini sepakbola kita jalan di tempat kan, karena hal ini hanya menjadi sebuah konsep sejak dulu, namun belum dipraktekkan dengan benar oleh para pengurus sepakbola negeri ini. Entah apa alasannya. Kalau dibilang tidak tahu rasanya tidak mungkin, toh sudah diteriakkan sejak dulu, mungkin sampai telinga mereka sudah bosan mendengarnya.

Namun mereka kelihatannya lebih senang dengan proyek-proyek mercu suar sejak dulu, seperti PSSI Primavera hingga Deportivo Indonesia. Mungkin lebih murah biayanya ketimbang mengurus pembinaan sepakbola di pelosok negeri. Tapi, kalo melihat sendiri hasilnya, ga pernah sesuai harapan kan. Tapi anehnya malah dicoba terus ya, hehe.

Mungkin para pengurus sepakbola negeri ini harus membaca komik Captain Tsubasa seperti saya juga ya, biar sadar dengan sendirinya. Sebab jika dikritik pedas, rasanya mereka sudah bebal. Jutaan mulut sudah mengatakan pentingnya pembinaan sepakbola usia dini, namun tidak pernah ada aksi berkelanjutan.

Featured Image : captaintsubasa.wikia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s