Naturalisasi Bukan Solusi

Saya masih ingat pertama kalinya menyaksikan ‘orang asing’ seperti Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim memakai seragam merah putih khas timnas Indonesia. Di Piala AFF 2010, pertama kalinya saya melihat timnas mengandalkan duet lini depannya pada orang yang bahkan besar di Indonesia pun tidak. Namun selebrasi mereka saat mencetak gol untuk timnas seolah menunjukkan bahwa mereka tidak berbeda dengan kita yang lahir, besar, dan berbahasa Indonesia sejak kecil. Cristian mencium lambang garuda, sedangkan Irfan menari layaknya penari tradisional (entah tarian apa yang ditirunya). Keduanya seperti menunjukkan bahwa mereka bersungguh-sungguh untuk membela timnas, bahwa mereka sama dengan kita, sama-sama orang Indonesia.

Enam tahun sudah berlalu dan sudah sekian banyak orang-orang asing yang datang  untuk memperkuat timnas kita. Mayoritas dari mereka besar di negara Belanda, tentu mengingat hubungan sejarah kita yang ‘erat’ dengan mereka. Proses mereka menjadi warga negara pun lebih mudah, karena mereka mempunyai darah Indonesia langsung dari keluarga mereka. Namun ada juga yang menjadi warga negara kita setelah memenuhi syarat-syarat tertentu seperti durasi tinggal dan lainnya. Cristian, Victor Igbonefo, dan Bio Paulin masuk kategori ini.

Tujuan proses naturalisasi dalam sepakbola Indonesia adalah untuk menambah kekuatan timnas kita, terutama dalam menghadapi sebuah turnamen. Tentu saja, kalo mereka ga masuk timnas apa mereka mau dinaturalisasi? Terutama yang keturunan dan belum tinggal di Indonesia dalam waktu lama. Kompetisi seperti Piala AFF dan Sea Games pun menjadi target realistis yang bisa diraih timnas, sehingga mereka pun dipersiapkan untuk kompetisi tersebut. Hasilnya? Sebagian pemain tersebut mempunyai kontribusi yang baik untuk timnas, karena kualitas mereka yang memang baik dan juga didukung kondisi tim yang baik pula, seperti Cristian dan Irfan (AFF 2010), Stefano Lilipaly (AFF 2016), dan Diego Michiels (Sea Games 2011 dan 2013). Namun sebagian lagi gagal atau belum memberikan kontribusi nyata, meskipun ada yang sempat menyegel posisi di timnas, seperti Raphael Maitimo.

Hanya saja, jika kita membicarakan gelar, belum ada yang bisa terlalu dibanggakan. Empat medali perak sudah kita dapatkan dari Piala AFF dan Sea Games (masing-masing 2 medali) sejak 2010, tepatnya sejak timnas kita mulai mengikuti turnamen dengan menggunakan pemain naturalisasi. Hasil yang tidak buruk untuk kawasan Asia Tenggara. Bandingkan dengan prestasi Filipina yang sebagian besar timnya terdiri dari pemain keturunan, meskipun kini kita kesusahan untuk mengalahkan mereka. Namun kita masih kalah jika dibandingkan dengan Singapura dan Thailand. Dua negara terakhir sudah berhasil membawa pulang medali emas Sea Games ataupun Piala AFF dengan memakai pemain naturalisasi ataupun keturunan.

Trend naturalisasi pemain di Asia Tenggara ini menimbulkan pertanyaan. Apakah itu artinya peran pemain naturalisasi penting untuk mendongkrak prestasi sebuah timnas di kawasan Asia Tenggara? Bisa jadi, tapi tidak mutlak. Pada final Piala AFF 2010 dan Sea Games 2011, timnas kita dikalahkan oleh lawan yang sama, Malaysia. Apakah mereka memakai pemain naturalisasi kala itu? Tidak sama sekali.

Penggunaan pemain naturalisasi di Indonesia sebenarnya diharapkan memberikan dampak langsung yang bagus bagi timnas, apalagi mereka besar di negara lain yang sepakbolanya jauh lebih maju ketimbang di negara kita. Teknik dasar, kemampuan olah bola, bahkan mental bertanding mereka umumnya bagus. Tak jarang mereka bisa menjadi penyemangat rekan-rekan yang lain. Contoh nyatanya bisa kita lihat sendiri bagaimana kiprah Stefano dan Irfan kala Piala AFF 2016 lalu. Mereka berdua seringkali mem-posting hal-hal yang menunjukkan kepercayaan diri mereka bahwa timnas bisa juara di media sosial. Hal ini tentu menularkan semangat positif yang besar bagi yang membacanya.

Kontribusi Stefano selama turnamen juga signifikan. Begitu pula dengan Irfan. Kontribusinya selama 3 pertandingan ujicoba sebelum turnamen juga berpengaruh. Ia punya peran penting dalam strategi Alfred Riedl. Saat ia cedera menjelang turnamen, Pak Riedl pun langsung kelimpungan. Perannya tak tergantikan. Bahkan pengganti Irfan pun tidak pernah dimainkan sama sekali selama turnamen, seakan cuma menjadi pelengkap kuota pemain.

091938900_1480648205-_20161125nh_stefano_001
Ia menjadi pemain naturalisasi ke-4 yang berhasil mempersembahkan medali perak untuk timnas. (Foto: http://www.bola.com)

Namun sebagus-bagusnya pemain naturalisasi, jika pemain-pemain lain di sekitarnya tidak sebagus dirinya, hasilnya akan sama saja. Apalagi jika ternyata pemain naturalisasi tersebut tidak lebih baik dibandingkan pemain lokal, kondisinya malah jadi lebih parah. Itu sebabnya semua pihak penggiat sepakbola Indonesia mengatakan bahwa pemain naturalisasi hanya akan memberikan efek jangka pendek. Efek jangka panjang bisa diperoleh dengan pembinaan dan tata kelola kompetisi yang baik. Contohnya saja Thailand pada Piala AFF 2016. Meski mereka punya Tristan Do dan Charyl Chappuis yang merupakan pemain keturunan, namun pemain-pemain lokalnya tidak kalah kualitasnya, seperti Tanaboon Kesarat, Chanathip Songkrasin, Teerasil Dangda, Siroch Chatthong, hingga Theerathon Bunmathan.

Sederhananya, pembinaan sepak bola dan tata kelola kompetisi yang baik akan menghasilkan kualitas pemain-pemain lokal yang baik, sehingga kualitas tim nasional pun menjadi mumpuni. Jika timnas sudah berkualitas, pemain-pemain keturunan pun akan tertarik dengan sendirinya, sehingga proses naturalisasi sekedar menjadi pelengkap untuk lebih memperkuat kualitas timnas yang sudah ada, bukan menjadi cara utama untuk menambah kekuatan timnas seperti sekarang ini. Apalagi jika pemain keturunan ini memilih negara kita atas dasar kemauan sendiri, bukan dengan ajakan, tentu hal itu menandakan bahwa timnas kita sudah berprestasi sehingga mereka pun berminat membela timnas kita (entah kapan situasi ini akan terjadi).

Saya mendukung proses naturalisasi. Itu bukanlah sebuah masalah. Masalahnya adalah pemain-pemain naturalisasi ini biasanya dipersiapkan menjelang turnamen Piala AFF dan Sea Games, seolah mereka adalah cara utama agar timnas kita berprestasi, bukannya serius memperbaiki pembinaan sepakbola dan tata kelola kompetisi.

Seperti diumpamakan dalam cerita, ada seorang siswa bernama Budi (pengurus sepakbola negara kita) yang kebingungan karena pekan raya sains (turnamen besar) di sekolahnya (Asia Tenggara) akan diadakan sebentar lagi, namun selama ini proyek sainsnya jauh dari kata selesai (pembinaan dan tata kelola kompetisi sepakbola yang baik), entah karena kurang serius atau memang tidak dikerjakan sama sekali. Sehingga dalam waktu yang mepet ini ide proyek yang muncul dadakan dan tak memerlukan persiapan panjang (naturalisasi pemain) pun dipakai.

Karena Budi cukup pintar, hasil dari proyek dadakan ini pun cukup mendapat apresiasi di sekolahnya (timnas masuk final Piala AFF dan Sea Games). Namun karyanya tidak berhasil dinobatkan sebagai yang terbaik. Ia pun tidak bisa membawa karyanya untuk dipertandingkan di pekan raya sains yang skalanya lebih besar, yaitu antar sekolah (Piala Asia dan Piala Dunia), karena masih banyak siswa-siswa lain (pengurus sepakbola negara lain) yang hasil proyeknya jauh lebih bagus (timnas mereka lebih bagus dan berprestasi).

Meskipun hasil kerja Budi diapresiasi oleh orang tuanya (masyarakat Indonesia), namun sebagai orang tua, pasti ada nasehat yang terlontar seperti, ‘Coba kamu lebih rajin nyiapin proyeknya (pembinaan dan tata kelola kompetisi sepakbola yang baik), kamu pasti bisa jadi juara di sekolah (Asia Tenggara), mungkin bisa sukses juga di pekan raya sains antar sekolah (Piala Asia dan Piala Dunia).’

Ya, kalau ‘proyek sainsnya’ tidak pernah dipersiapkan dengan baik, mau sampai kapanpun tidak akan pernah bisa juara, bahkan untuk sekedar di level ‘sekolah’.

Tulisan ini terinspirasi dari berita di situs FourFourTwo tentang ketua PSSI yang ingin menaturalisasi seorang pemain Ajax Amsterdam yang juga besar di Belanda, Ezra Walian. Kesimpulan yang saya ambil dalam berita tersebut adalah proses naturalisasi ini merupakan cara agar kesempatan timnas memenangkan medali emas sepakbola Sea Games 2017 lebih besar.

Ketua PSSI juga mengatakan bahwa jika dalam dua tahun ke depan ia masih menaturalisasi pemain, ia mempersilahkan orang-orang menegurnya (bagaimana jika ia diminta mundur?). Semoga saja maksud perkataannya adalah ia sedang berusaha memperbaiki pembinaan pemain muda Indonesia. Semoga saja hal tersebut benar-benar dijalankan, karena sejak dulu, saya yakin program pembinaan pemain muda pasti selalu ada dalam agenda PSSI, namun tak ada yang serius menjalankannya.      

Pustaka Tulisan :

http://www.fourfourtwo.com/id/news/ketua-umum-pssi-dua-tahun-ke-depan-masih-pakai-naturalisasi-tegur-saya

Featured Image : www.ajaxshowtime.com

Advertisements

2 thoughts on “Naturalisasi Bukan Solusi

  1. Saya setuju, naturalisasi sah-sah saja asalkan pemain tersebut benar-benar layak mendapatkannya. Jangan sampai kasus Van Beukering terulang lagi.

    Problem sebakbola Indonesia adalah tidak ada sistem pembinaan jangka panjang yang ajeg. Setiap kali pengurus PSSI berganti sistem ini juga ikut berubah.

    Harusnya PSSI meniru apa yang dilakukan PBSI. Meski prestasi bulutangkis kita naik turun, tetapi regenerasi terus berjalan.

    Liked by 1 person

    1. Setuju mas, makanya saya juga seneng nonton bulutangkis, regenerasinya lancar. kalo sepakbola mungkin kurikulum dasarnya belum ada ya, jadi berubah terus. Wah, kalo inget van beukering jadi pengen ketawa mas, haha. PSSI ngerekrut dia pas dia udah ga oke lagi performanya.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s