Pelatih Bagus? Ga Ngaruh!

Beberapa hari terakhir ini terdapat topik menarik dalam persepakbolaan nasional yang sedang ramai dibahas. Topik itu mengenai siapakah orang yang akan menjadi pelatih baru timnas kita.

Sempat muncul wacana mempertahankan Alfred Riedl karena hasil positif yang ia raih bersama timnas di Piala AFF 2016 lalu meskipun dihambat sejumlah masalah dalam sepakbola nasional, toh akhirnya hal tersebut benar-benar sebuah wacana saja. Dalam waktu dekat ini akan diumumkan siapa nahkoda baru timnas kita.

Menurut pengakuan ketua umum PSSI seperti dikutip dari Goal.com pada tanggal 8 Januari, proses pencarian pelatih baru ini sudah berlangsung sejak sebulan sebelumnya. Artinya, kepengurusan baru PSSI sejak awal memang berencana mengganti Pak Riedl. Hal ini bisa dimaklumi mengingat Pak Riedl sendiri sempat berujar bahwa mungkin ia akan pensiun setelah Piala AFF 2016. Namun bisa jadi memang kepengurusan baru berniat mencari pelatih baru, terlepas dari prestasi timnas. Persoalannya adalah umur Pak Riedl yang sudah 67 tahun, sudah tergolong tua, sehingga dianggap tidak sesuai kriteria. Setidaknya begitulah perkataan ketua umum PSSI.

Proses perekrutan pelatih timnas pun saat ini mengerucut kepada dua orang. Satu orang berpaspor Spanyol, satu lagi berpaspor Prancis namun kelahiran Spanyol. Si Spanyol adalah bekas rekan setim Gary Lineker di Barcelona, sedangkan si Prancis adalah bekas rekan setim Michel Platini di timnas. Mereka memiliki beberapa persamaan. Mulai dari sama-sama lahir di Spanyol, sama-sama bernama Luis, sama-sama menghabiskan seluruh karir bermainnya di negara masing-masing, sudah pernah melatih timnas, dan yang tidak kalah penting, mereka sudah berhasil meraih sejumlah gelar, baik saat masih bermain maupun ketika mereka sudah menjadi manajer.

Luis Milla, si Spanyol, dan Luis Fernandez, si Prancis, bisa dibilang adalah pelatih berpengalaman. Keduanya dipertimbangkan oleh pengurus baru PSSI setelah melakukan penilaian dan seleksi. Pemilihan mereka pun didasarkan kebijakan pengurus baru yang ingin berkiblat ke Spanyol dalam urusan pengembangan sepakbola. Salah satu alasannya, postur tubuh mereka mirip dengan kita. Hanya saja, saat ini belum ada keputusan resmi siapa yang akan terpilih.

Sejak saat nama mereka diumumkan, berbagai pihak pun mulai membandingkan keduanya, mengira-ngira siapa yang paling pantas terpilih. Keduanya, seperti sudah disebutkan sebelumnya, sama-sama berpengalaman melatih timnas. Bedanya, Milla melatih timnas Spanyol dalam berbagai kategori umur, sedangkan Fernandez melatih timnas senior Israel dan Guinea. Jika membandingkan prestasi di timnas, Milla lebih unggul. Ia sudah meraih gelar Piala Eropa U-21 dan runner-up Piala Eropa U-19, sedangkan Fernandez masih nihil. Namun, Fernandez adalah pemenang Piala Eropa 1984 yang mengalahkan Spanyol di final. Ia pun pemain inti kala itu. Keduanya bisa dibilang punya mental juara yang bisa ditularkan berdasarkan pengalaman mereka.

Namun jika membaca media nasional, kelihatannya Milla lebih dijagokan. Hal ini dikarenakan ia terbiasa melatih timnas kategori umur. Seperti yang dikutip dari Panditfootball, pelatih yang terpilih tidak hanya akan menjabat sebagai nahkoda timnas senior, namun juga akan merangkap sebagai pelatih timnas U-23.

luismilla
‘Hmm, di Indonesia ada kiper yang sekelas De Gea ga ya?’ (Foto: alchetron.com)

Kebetulan, turnamen terdekat yang akan dihadapai timnas tahun ini adalah Sea Games 2017, yang diikuti oleh timnas U-23. Dengan pengalamannya mengorbitkan sederet bintang-bintang muda timnas Spanyol ke level senior, mulai dari Koke (Atletico Madrid) hingga Cesar Azpilicueta (Chelsea), Milla diharapkan bisa memaksimalkan potensi pemain-pemain muda timnas di Sea Games nanti agar tampil bagus dan bisa meraih medali emas sesuai dengan target PSSI dan Satlak Prima (hanya cabang yang berpotensi meraih emas yang dikirim ke Sea Games).

Selain itu, ia pasti diharapkan bisa membangun fondasi timnas kita. Pemain-pemain muda berbakat tentunya diharapkan bisa menjadi andalan timnas untuk beberapa tahun ke depan, sehingga kita tak lagi mengandalkan pemain senior ataupun mengambil ‘jalan tol’ dengan cara naturalisasi.

Namun apakah itu artinya Fernandez tidak cukup bagus? Dengan keberhasilannya mengantarkan Paris Saint-Germain (PSG) menjuarai Piala Winners tahun 1996, tak mungkin menyebut dia kalah hebat.

013568100_1483699271-luis_fernandez
‘Gimana, di Indonesia ada yang sejago Platini kan?’ (Foto: bola.com)

Lagipula jika kita perhatikan, timnas yang ia latih memang bukan poros kekuatan utama di benua masing-masing. Israel hanyalah tim level menengah di kancah sepakbola Eropa, lolos Piala Eropa saja tidak pernah. Guinea? Sama saja menurut saya, meskipun mereka lebih bagus prestasinya. Mereka pernah menjadi runner-up Piala Afrika 1976 (40 tahun yang lalu), meski tidak pernah masuk Piala Dunia. Sedangkan di PSG ia memiliki pemain seperti Bernard Lama, Rai Oliveira, Paul Le Guen, hingga Youri Djorkaeff. Perlu diingat juga, Milla tidak pernah berprestasi saat menukangi klub. Yah, pelatih bagus juga akan kesulitan jika skuad yang ia punya kurang mumpuni. Apalagi meningkatkan kualitas timnas bukan pekerjaan sebentar toh.

Inilah yang kini saya perhatikan dengan rencana penunjukan salah satu dari kedua Luis ini. Bukannya tidak akan mungkin berprestasi, namun rasanya jika mereka ditunjuk, mereka harus diberikan kepercayaan dan jangka waktu yang tidak sebentar oleh pengurus PSSI, mengingat kualitas timnas kita saat ini. Ingat, bila kita ingin mengadopsi sepakbola Spanyol, ini artinya bukan hanya pola bermain timnas saja, namun sepakbola secara keseluruhan, mulai dari pembinaan pemain muda yang baik, kurikulum pendidikan sepakbola yang baik, struktur liga yang baik, hingga fasilitas yang bagus pun harus diadopsi. Sepakbola Spanyol bisa sedemikian bagus karena manajemen sepakbola yang baik di segala bidang. Jika perbaikan itu benar dilakukan PSSI, kerja Milla atau Fernandez pun jadi lebih ringan. Tidak perlulah kisah seperti Pak Indra Sjafri yang pontang-panting keliling Indonesia mencari bibit muda potensial dengan biaya sendiri itu terulang lagi.

Jangan lupa, Milla bisa membawa Spanyol juara Piala Eropa U-21 karena pemain-pemainnya hasil didikan sepakbola Spanyol yang pembinaannya bagus. Pemain-pemain yang membawa Spanyol U-21 juara Eropa itu sudah bermain di liga profesional sejak usia muda. Silahkan cek, hampir semuanya adalah pemain yang bermain di La Liga, meski belum semua menjadi pilihan utama di klubnya. Sistem liga dan pembinaan yang baiklah yang membuat mereka berkembang secara bertahap. Semoga memang inilah yang ada di pikiran para pengurus PSSI. Kalo cuma pengen timnasnya aja yang main ala Spanyol sih susah. Emangnya tiki-taka belajarnya cuma bentar?

Rencana training selama 3 bulan di Spanyol dengan beberapa pertandingan persahabatan melawan tim yang lebih kuat pun juga diharapkan hanya menjadi program jangka pendek dalam menghadapi Sea Games 2017 saja, bukannya menjadi cara dalam mempersiapkan diri menghadapi setiap turnamen. Karena jika kita memperbaiki fondasi dasar sepakbola kita, maka tanpa pemusatan latihan yang lama pun timnas tetap bisa berlaga dengan baik karena pemain-pemainnya sudah digembleng selama kompetisi nasional bergulir. Negara-negara kuat yang berlaga di Piala Dunia saja pemusatan latihannya tidak ada yang sampai selama itu.

Kita tentu sudah belajar dari pengalaman masa lalu. Pada 2006, kita menggunakan jasa Foppe de Haan untuk menangani timnas U-23 dalam turnamen Asian Games. Namun hasilnya kita berada di peringkat buncit babak penyisihan grup B, di bawah Irak, Suriah, dan Singapura. Padahal kala itu timnas U-23 sudah sampai melakukan pemusatan latihan di Belanda. Apakah prestasi buruk itu salahnya? Padahal Opa de Haan berhasil membawa Belanda juara Piala Eropa U-21 tahun 2006 dan 2007, dengan materi pemain seperti Tim Krul, Ron Vlaar, hingga Klaas-Jan Huntelaar. Dua tahun berturut-turut lho. Silahkan analisis sendiri apa penyebabnya, hehe.

foppe-de-haansc-heerenveen01-11-20151
‘Opa udah berusaha, tapi waktu itu Opa ga dikasih striker yang kaya Huntelaar.’ (Foto: soccernews.nl)

Jangan sampai kejadian itu terulang lagi. Jangan sampai proyek pemusatan latihan itu hanya menjadi sia-sia. Jika memang pengurus PSSI serius mengadopsi sepakbola Spanyol, maka sudah sepatutnya mereka tetap mempertahankan Milla atau Fernandez (jika salah satu dari mereka jadi ditunjuk), terlepas apapun hasil Sea Games 2017, Asian Games 2018, dan Piala AFF 2018. Kalau perlu selama kepengurusan yang baru ini berlangsung, pelatihnya tetap sama atau paling tidak sistem kepelatihannya tetap dipertahankan. Jangan sampai mereka dicopot setelah gagal memberikan prestasi, lalu kita meninggalkan sistem sepakbola Spanyol yang hendak diadopsi. Ingat, mengadopsi sistem sepakbola sebuah negara itu merupakan program jangka panjang lho. Harus sabar.

Karena jika ujung-ujungnya berhenti ditengah jalan, itu artinya pengurus PSSI tidak konsisten dalam membenahi sepakbola nasional. Atau, mereka cuma mengincar prestasi jangka pendek saja, karena jika timnas U-23 nanti berhasil meraih medali emas Sea Games 2017, paling tidak kepengurusan mereka sudah terlihat berhasil dan lebih baik dari yang sebelumnya karena memberikan prestasi.

Tapi yaudah, cuma segitu aja. Dibawa ke level Asian Games pasti kena gebuk juga sama timnas U-23 Jepang, Korea Selatan, Irak, atau mungkin Thailand. Level senior? Ya kira-kira sendirilah, paling di kisaran Asia Tenggara lagi.

Mau sebagus apapun pelatihnya, kalo tata kelola sepakbola Indonesia masih gitu-gitu aja mah tetep aja hasilnya ga akan memuaskan. Mau pake Jose Mourinho sekalipun juga ga ngaruh. Tetep aja ga bakal juara.

 

Jika dipikir kembali, 3 tulisan terakhir saya selalu membicarakan tentang pembinaan pemain muda dan tata kelola kompetisi yang baik. Bosan juga ya? Tapi gimana dong, memang itu yang penting, hehe. Lagipula, semuanya dibahas dalam sudut pandang berbeda, namun arahnya sama. Artinya, memang hal itulah yang perlu diperbaiki oleh pengurus PSSI agar sepakbola nasional jadi lebih baik. Jika sudah berjalan dengan baik, timnas pun akan kena getahnya juga. Itu harapan kita semua toh.

Pustaka tulisan :

http://panditfootball.com/berita/207287//170108/menimbang-calon-pelatih-timnas-indonesia-antara-luis-fernandez-dan-luiz-milla

http://www.goal.com/id-ID/news/1387/nasional/2017/01/08/31267742/alasan-pencoretan-alfred-riedl-cerita-perburuan-calon

Featured Image : europe.newsweek.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s