Pahamilah Payet

Sebuah hubungan akan berjalan lancar bila masing-masing pihak saling memahami. Tidak sepakat akan suatu hal bisa saja terjadi, namun jika hubungan yang baik ingin dipertahankan, maka mereka pasti akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Gaya banget ya, nikah aja belom sok-sok ngasih petuah tentang ‘relationship’, hehe.

Namun bagaimana bila salah satu pihak memang ingin putus, ingin berpisah, ingin bercerai? Bisa jadi masalahnya tidak akan selesai dengan mudah, apalagi bila salah satu pihak bersikeras ingin mempertahankan hubungan tersebut.

Sesuai tema blog saya, saya ingin membahas tentang sebuah hubungan dalam sepakbola. Ya, kali ini saya ingin membahas hubungan sebuah pemain dengan klub. Spesifiknya, antara Dimitri Payet dan West Ham United. Seperti dikutip dalam CNNIndonesia, Dimitri saat ini menolak bermain untuk The Hammers karena ia ingin pindah klub. Kebetulan, waktunya pas sekali, yaitu di tengah-tengah jendela transfer musim dingin.

Memang, dengan prestasinya mengangkat performa West Ham di Premier League musim lalu, serta penampilan menawannya saat Euro 2016 bersama timnas Prancis, sangat wajar bila Dimitri kedatangan ‘tamu-tamu kaya’ yang mengajaknya pergi dari London Stadium. Wajar juga bila klub-klub besar berusaha mencomot pemain-pemain berkualitas dari tim level menengah di sebuah liga, seperti yang dialami Dimitri saat ini. Kombinasi iming-iming gelar, bermain di level tertinggi, dan penghasilan yang tentunya lebih besar pasti sulit ditolak bukan? Meskipun West Ham bermain di Premier League yang sangat mewah dan bayaran Dimitri juga pasti sudah cukup besar, West Ham saat ini tetaplah klub yang sulit memberikan pemainnya kesempatan merebut gelar bergengsi.

Namun bila seorang pemain menolak bermain, itu sama saja dengan nyari ribut dengan klub yang mempekerjakannya. Berkaca pada kasus Carlos Tevez tahun 2011 lalu, maka bisa dipastikan Dimitri mengalami perlakuan yang sama: pembekuan. Hal tersebut bukan sebuah ‘gertak sambal’ lagi, namun sudah menjadi kenyataan. Setidaknya Slaven Bilic, sang manajer klub, mengatakan demikian. Bahkan, Dimitri harus melakukan latihan terpisah dari klub, ritual yang biasa dilakukan untuk para ‘pemain buangan’. Sampai kapan? Pastinya sampai Dimitri bersedia bertahan (mungkin dengan adanya kesepakatan-kesepakatan baru), atau ada klub yang mau membeli pemain asal Reunion ini. Dengan daftar peminat seperti Arsenal, Chelsea, hingga tim-tim Chinese Super League, harganya bisa dipastikan tidak murah.

Kondisi ini bisa menjadi bumerang buat Dimitri sendiri. Jika kondisinya tetap digantung dan gagal pindah pada Januari ini, ia harus ‘berdamai’ dengan West Ham atau siap-siap tidak bermain lagi sampai akhir musim, sampai ia ada kesempatan untuk pindah lagi di jendela transfer musim panas. Sebuah kerugian untuknya dari segi teknis. Selain itu, ada kemungkinan ia tak lagi mendapat sambutan ramah dari para pendukung West Ham. Pemain yang dianggap egois tentunya sulit mendapatkan respek dari para pendukung, utamanya mereka yang sudah membayar tiket mahal untuk melihat penampilan Dimitri namun kenyataannya tidak sesuai harapan. Jangan lupa juga, West Ham masih keteteran di musim ini. Peringkat mereka jauh dari kata bagus. Saat mereka masih membutuhkan Dimitri, eh ia malah bersikap ngawur.

Mungkin Dimitri menyatakan keinginannya di waktu yang salah, sehingga ia terkesan ingin kabur dari West Ham yang saat ini sedang terpuruk. Mungkin saat ini kondisi West Ham dianggapnya sebagai kapal yang bocor di tengah lautan luas, dan sebelum ia nantinya ikut tenggelam, lebih baik menerima ajakan helikopter yang datang untuk menolongnya keluar dari bencana ini. Namun para pengemar dan pihak klub mungkin menganggap Dimitri harusnya ikut membantu menambal kebocoran kapal, bukannya lari.

Namun, jika kita ingin menyelami isi kepala Dimitri, bisa jadi ia hanyalah salah satu dari sekian banyak pesepakbola modern saat ini, yang sangat ingin berprestasi di level tertinggi, dan tidak segan untuk berpindah klub. Dengan level permainannya seperti yang kita lihat musim lalu dan di Euro 2016, mungkin Dimitri merasa sudah waktunya ia membela klub yang lebih besar, untuk mendapatkan prestasi tersebut. Kalo gaji sih, udah pasti berbanding luruslah ya.

france-dimitri-payet-celebrates_3439377
Siapa lagi yang mau ajak aku bergabung? (Foto: skysports.com)

Lagipula, memangnya West Ham bisa menjamin keinginan Dimitri? Mereka ingin mempertahankannya selama mungkin, namun mereka juga harus tahu bahwa saat ini, kecuali para suporter mereka sendiri, sedikit yang menganggap The Hammers adalah klub besar. Kemungkinan West Ham untuk mengulang kisah dongeng Leicester pun sangat berat, karena klub-klub besar tak akan mau kecolongan lagi seperti musim lalu. Paling tidak, musim ini duo Manchester, trio London (West Ham tidak termasuk ya), dan Liverpool sudah membuktikannya. Apalagi, saat ini West Ham sudah tak ada kesempatan untuk meraih trofi (memangnya ada yang percaya West Ham bisa juara Premier League musim ini? Saya sih tidak).

Premier League adalah kompetisi paling royal sedunia. Tiap klubnya memiliki pendapatan yang tergolong besar, sehingga pemain-pemain hebat dari liga lain, baik dari dalam atau luar Eropa banyak yang datang. Apalagi klub level menengah sekalipun bisa membayar para pemain ini dengan gaji yang lumayan, meski tidak sampai segila Manchester City misalnya. Namun, para klub level menengah ini (termasuk West Ham) juga harus sadar bahwa mungkin mereka hanyalah ‘pemberhentian sementara’ para pemain ini, tak terkecuali Dimitri. Kecuali level permainan Dimitri menurun dengan alasan tertentu (cedera, gaya hidup yang rusak, dan lain-lain), rasanya wajar jika ia tidak mau bertahan selamanya di West Ham. Dimitri tentu menunggu adanya panggilan dari klub-klub besar. Sekali ada panggilan, tentu wajar jika ia berusaha mewujudkannya. Ia ingin pindah pasti karena ia tahu ada klub besar yang mau membelinya kan?

Saat sebuah hubungan antara pemain dan klub tidak bisa sejalan lagi, tentu sebaiknya harus diselesaikan dengan cara baik-baik. Mungkin West Ham bisa belajar dari lawannya saat pembukaan London Stadium lalu sekaligus jagoan Italia, Juventus. Bianconeri tergolong tim yang tidak akan memaksa para pemainnya untuk bertahan. Kita bisa lihat contoh dari musim 2015/2016, ketika Andrea Pirlo, Arturo Vidal, dan Carlos Tevez keluar Juve di periode yang sama. Begitupun ketika Alvaro Morata memutuskan untuk pulang ke Real Madrid pada pertengahan tahun lalu. Direktur Umum Juve, Giuseppe Marotta, mengatakan bahwa Juve tidak akan memaksakan para pemain untuk bertahan, karena tidak ada gunanya. Apalagi jika sang pemain sudah tak berniat membela klub tersebut. Hal yang sama juga sedang berlaku kepada Patrice Evra yang kini sedang memikirkan masa depannya.

Hal ini mungkin didasari pemikiran bahwa Juve akan tetap besar dan tetap kuat meskipun mereka ditinggalkan pemain hebat, karena Juve tetap akan bisa merekrut pemain hebat lainnya. Mungkin pemikiran seperti ini juga yang harus ditanamkan oleh kubu West Ham, bahwa mereka akan bisa menemukan pengganti Dimitri. Kecuali, mereka memang sadar bahwa mereka adalah klub level menengah yang belum tentu bisa kembali menarik perhatian pemain lain dengan kehebatan seperti Dimitri atau lebih hebat darinya. Maka jadi wajar jika West Ham mati-matian mempertahankannya. Apalagi jika West Ham sedang ingin membangun fondasi tim untuk masa depan.

Namun, percayalah, jika seorang pemain sudah mendeklarasikan keinginan untuk hengkang, maka ia akan sulit untuk ditahan. Mungkin, memahami Dimitri dan melepaskannya ke klub lain adalah jalan yang terbaik. Kecuali, mereka memilih memahami Dimitri dengan cara menaikkan gajinya (lagi) atau membangun tim yang berisikan pemain kelas dunia, yang mungkin sesuai keinginannya. Namun, cara yang pertama rasanya lebih mudah. Tinggal menunggu pembeli yang membawa uang paling banyak, tentunya.

* Menurut kabar terbaru, Dimitri memang ingin pindah ke Marseille dengan alasan keluarga. Gajinya pun dikabarkan sedikit lebih rendah ketimbang di West Ham. Namun, dengan kondisi Marseille yang kini dipegang pengusaha kaya asal AS, Frank McCourt dan posisi Marseille dan West Ham di klasemen yang bertolak belakang bisa jadi ikut punya peran. Entahlah. Semoga sukses dimanapun anda bermain, Dimitri.

Pustaka Tulisan :

http://www.cnnindonesia.com/olahraga/20170112182010-142-185911/payet-dibekukan-west-ham-setelah-menolak-bermain/

http://www.telegraph.co.uk/football/2017/01/12/dimitri-payet-does-not-want-play-west-ham-reveals-manager-slaven/

http://m.juara.net/read/sepak.bola/inggris/167982-west.ham.resmi.lepas.dimitri.payet.ke.marseille

Featured Image : www.mirror.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s