Media Olahraga Bukan Tempat Untuk Menghina

Sejak lama kita sudah disuguhi berbagai macam berita olahraga oleh banyak media cetak, baik lokal (daerah) ataupun nasional. Sejak kecil, saya sudah menggemari berita olahraga, baik itu sepakbola, bulutangkis, formula 1, dan lainnya. Tentu pada usia tersebut membaca berita olahraga hanya sekedar ingin tahu sesuatu informasi olahraga, seperti contohnya hasil pertandingan. Tak akan terlintas di kepala hal-hal seperti bagaimana taktik bermain sebuah tim, analisa sebuah pertandingan, dan lain sebagainya yang harus mikir.

Begitu juga dengan siaran tentang olahraga, terutama sepakbola, di televisi. Dulu, seringkali saya menunggu highlight Serie A Italia di akhir pekan untuk melihat cuplikan gol-gol yang terjadi pada pertandingan-pertandingan di pekan sebelumnya. Untuk melihat skor akhir, paling cepat saya harus melihat media cetak harian (kala itu keluarga saya berlangganan Kompas) dan melihat kolom olahraga jika misalnya kita tidak menonton pertandingan di hari sebelumnya, karena tabloid seperti Bola tidak terbit setiap hari.

Terkadang, sebelum berangkat sekolah saya harus mantengin TV yang menyiarkan hasil pertandingan malam sebelumnya. Melihat hasil pertandingan Liga Champions pun paling cepat seperti ini, karena jika pertandingan dilaksanakan pada Selasa dinihari, beritanya baru keluar di media cetak nasional pada hari Rabu pagi. Atau, paling gampang ya nanya Abang saya yang menonton pertandingan tersebut. Dengan kondisi yang masih kecil, tidak setiap pertandingan dinihari saya bisa menonton, apalagi zaman sekolah dasar dulu.

Tahun 2017 ini, semua berubah total. Berita sepakbola bisa diakses di ponsel masing-masing. Hasil pertandingan bisa kita lihat secara real-time melalui aplikasi Livescore, sehingga kita tidak perlu khawatir ketika sedang tidak sempat menonton sepakbola secara live di televisi. Highlight pertandingan pun bisa kita lihat tidak lama setelah pertandingan berakhir di internet. Tak perlu lagi kita menunggu di televisi. Tentu, masih ada cuplikan hasil pertandingan yang disiarkan di televisi, namun tidak semuanya. Biasanya cuplikan gol-gol yang disiarkan hanya pertandingan yang melibatkan klub-klub besar. Sebuah kemajuan zaman.

Perkembangan media dalam memberitakan sepakbola pun berkembang pesat. Setiap hari ada saja yang baru. Semua hal terkait sepakbola pun dibahas, sampai gosip-gosip pemain sepakbola yang menurut saya tidak penting pun ikut dibahas. Penting amat ya ngikutin si Cristiano Ronaldo pacaran sama siapa?

Perkembangan ini memang berpengaruh juga ke ranah konten. Dulu, tempat untuk gosip sepakbola sedikit, termasuk di tabloid olahraga. Apalagi di media cetak nasional seperti Kompas, halaman untuk topik olahraga saja sudah tidak banyak, tentu berita yang ditulis harus memenuhi syarat tertentu. Tidak bisa hanya berita ecek-ecek semata. Hal ini pun masih berlaku di media cetak sampai terakhir kali saya membeli sebuah koran. Berbeda dengan media online, yang tak terbatas jumlah halaman, sehingga mereka membuat banyak berita, baik yang ‘berat’ sampai yang ‘ringan’.

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika konten berita menjadi lebih ‘ringan’, toh masih banyak yang menyajikan berita-berita, analisis, dan kajian serius terkait sepakbola. Semua tergantung pilihan pembaca. Toh, dari sekian banyak eksemplar koran Kompas yang terjual, masih banyak yang lebih memilih harian Lampu Merah. Sekali lagi, selera.

Namun yang saya sayangkan adalah pergeseran konten ini jadi mengakibatkan konten berita terkadang keluar jalur. Bukannya mengedukasi, malah memprovokasi. Di sebuah masa ketika media sepakbola online sudah dipenuhi perang cacian antar suporter, media yang ada malah ikut membuat pernyataan ketidaksukaan, kalau tidak mau disebut kebencian.

Beberapa hari lalu di timeline Twitter saya ada sebuah tulisan yang dicuit Fandom.id, sebuah media komunitas sepakbola di Indonesia. Saya mem-follow mereka, karena tulisan mereka bagus-bagus. Tapi saya sedikit heran ketika mereka memuat sebuah artikel tentang Real Madrid. Saya memang baru aktif mengikuti mereka, jadi baru membaca artikel yang pertama kali dimuat pada 23 November 2015 tersebut. Saya bisa membaca artikel itu karena mereka mengangkat topik itu lagi.

Sang penulis mengutarakan betapa bosannya ia melihat Madrid. Alasannya pun berentet. Saya berpikir, ‘niat amat nih orang mau ngejek aja sampe bikin analisis’. Anda bisa membacanya sendiri. Saya tidak tahu apa alasannya penulis membuat tulisan tersebut. Apakah hanya karena sekedar tidak suka, atau memang ingin membuat artikel dengan gaya penulisan yang berbeda, atau alasan lainnya, tak tahulah saya.

Artikel tersebut tentu ditanggapi beragam komentar. Dengan penulis yang mengakui bahwa ia adalah penggemar Arsenal, tentu ada yang menanggapi tulisan dengan menceritakan kondisi Arsenal saat ini. Istilahnya, cuma bela Arsenal kok malah ngejekin Madrid.

Saya juga tidak mengerti bagaimana kriteria sebuah media komunitas meloloskan artikel yang seperti itu. Yang jelas artikelnya sudah dianggap memenuhi syarat. Namun, ketika sebuah kalimat ‘piece of s**t’ tertulis jelas-jelas, dan kalimat itu dialamatkan pada orang lain, saya menjadi kurang respek. Sebuah media yang baik tentu tidak boleh menuliskan umpatan kata, apalagi menulis ketidaksukaannya dengan sederet alasan seperti itu, meskipun itu hanyalah opini.

untitled1
Yang dikasih balok hitam bacaannya ‘shit’. (Foto: ngecrop dari Fandom.id)

Saya yakin penulis pun punya teman yang menyukai Madrid dan tak mempermasalahkan tulisannya. Namun bila kita membaca tujuan Fandom.id yang bertujuan menjadi sarana edukasi, saya rasa ini bukan cara mendidik yang tepat. Apalagi jika hinaannya sampai didukung banyak pembaca. Pernahkah terpikir bahwa mungkin tulisannya itu hanya di-share oleh para pembenci Madrid, bukan karena tulisannya memang bagus? Apabila ide tulisannya dianggap menarik dan layak muat, saya rasa tulisan provokatif hanyalah menarik orang agar membacanya, namun berlawanan dengan tujuan edukasinya. Sudah cukup saling hina terjadi di kolom komentar, tak perlu sampai membuat artikel segala. Lagipula, media komunitas bukan bertujuan utama mencari kuantitas pembaca sebanyak-banyaknya tanpa mengatur baik-buruknya isi kan?

Saya tak tertarik untuk mengomentari pendapatnya tentang Madrid, meski banyak yang bisa dikomentari. Saya lebih menyorot yang ‘piece of s**t’ itu. Apalagi sampai diangkat kembali, membuat banyak orang kembali membacanya, termasuk saya.

Tulisan tentang Madrid ini tidak membuat saya berhenti membaca tulisan sang penulis lagi, ataupun Fandom.id. Masih banyak tulisan mereka yang bagus kok. Anggap saja ini sebagai keluhan dari penggemar yang ingin situsnya jadi lebih baik lagi. Sebagai suporter Juventus, saya juga tidak perlu menghina Inter Milan ataupun klub lainnya toh. Jangan membuat ladang keributan.

Saya juga tidak berharap media olahraga di Indonesia, termasuk media komunitas, jadi seperti di luar negeri sana yang konon ada yang terlalu berpihak pada suatu klub ataupun suka menghujat seseorang atau klub lewat tulisannya. Kritik boleh, tapi tetap adil. Jangan sampai mengabaikan semua prestasi yang pernah dilakukan Madrid dan hanya melihat dari sisi negatifnya saja. Saya yakin sang penulis artikel pun bisa bersikap objektif. Masa banyak-banyak baca buku cuma buat dijadiin acuan buat ngejek orang lain. Mari kita anggap aja yang ini lagi korslet dikit. Manusia pasti pernah salah toh. Yang penting jangan diulangi lagi.

Ditengah banyaknya arus informasi yang semakin banyak memuat tulisan negatif, saya hanya berharap semua media olahraga di Indonesia tidak ikut-ikutan, apalagi membuatnya tanpa dasar alasan yang kuat.

 

Acuan Tulisan :

http://fandom.id/analisis/opini/2015/11/kenapa-mendukung-real-madrid-harusnya-membosankan/

Featured Image : babab.net

Advertisements

2 thoughts on “Media Olahraga Bukan Tempat Untuk Menghina

  1. Haha artikel tentang Madrid itu memang sempat bikin heboh sih dulu. Kalau nggak salah ada yang nulis artikel balasannya juga di panditfootball.

    Kecenderungan media online sekarang memang gitu sih, nggak cuma media sepakbola saja. Tetapi ya mau gimana lagi, media-media tersebut memang membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menyatakan opininya secara bebas.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s