Para Penakluk Pep

English Premier League memang seru untuk ditonton. Permainan tempo cepat di liga terkompetitif di dunia tersebut (ini menurut saya) memang membuat klub manapun yang bermain, baik medioker ataupun tim papan atas, selalu bisa menghibur para penggemar. Sekali saja ada 1 pertandingan yang berlangsung dalam tempo lambat, maka akan terlihat membosankan. Buat saya yang juga menggemari Liga Italia, menonton Liga Inggris memang sebuah hiburan, toh tak ada tim yang dibela juga kan.

Keseruan ini terulang saat saya menonton Everton melawan Manchester City pada 15 Januari lalu. Meski terganggu dengan siaran streaming yang tak mulus dan rasa kantuk, saya sangat suka melihat Everton bisa membungkam City-nya Josep Guardiola Sala dengan 4 gol tanpa balas. Buat City, hasil ini lebih parah daripada ketika melawan Leicester City pada 11 Desember lalu. Setidaknya saat itu City masih bisa membalas dan membuat perubahan kala memasukkan Nolito, yang kemarin tidak bermain. Meski telat dan tetap kalah, 2 gol masih sanggup dibuat saat itu.

Musim 2016/17 sudah berlangsung setengah jalan, namun sejauh ini Manchester City sudah kalah 7 kali dari 32 kali main di seluruh kompetisi. Musim ini City memang sempat menang 10 kali beruntun, namun dalam 22 pertandingan selanjutnya City hanya menang 9 kali dan 13 kali gagal menang (7 kali kalah dan 6 kali seri). Rapor Guardiola di City pun lebih buruk dibandingkan ketika ia membesut Barcelona dan Bayern München. Memang, ia belum semusim penuh menjadi manajer City, namun dengan kondisi media Inggris yang tentu berbeda dengan Spanyol atau Jerman, tekanan padanya pun sudah meningkat.

Saat menukangi Barca dan Bayern, rapor kemenangan Guardiola mencapai lebih dari 70%. Di Barca, dalam 4 musim, ia menang La Liga 3 kali, Copa Del Rey 2 kali, dan Liga Champions 2 kali. Saat di Bayern, ia menang Bundesliga 3 kali, DFB Pokal 2 kali dan membawa Bayern 3 musim beruntun masuk semifinal Liga Champions.

Catatan ini meski sangat bagus, namun terlihat wajar karena (katanya) ia tak punya banyak saingan, terutama di kompetisi domestik. Di Liga Champions pun Guardiola baru kalah jika sudah masuk babak semifinal. Di La Liga Spanyol, ia hanya bersaing dengan Real Madrid. Selama 4 musim, selisih poin mereka berdua dengan peringkat 3 klasemen La Liga saja terpaut jauh. Kala itu Atletico Madrid bahkan bukanlah ancaman berarti.

Sementara di Jerman, saingannya tidak ada yang seperti Madrid. Gertak sambal saja kalo menurut saya, karena sekali Bayern mengunci posisi pertama klasemen di pekan-pekan awal Bundesliga, maka tidak ada yang bisa merebutnya lagi. Hal itu berlangsung selama tiga musim. Bahkan, di era Guardiola-lah Bayern bisa membuat rekor juara Bundesliga tercepat sepanjang sejarah di musim 2013/14, dengan menyisakan 7 pertandingan.

Kondisinya berbeda di City. Saat Guardiola datang, klub-klub kaya Premier League juga sedang berbenah setelah musim sebelumnya dipermalukan Leicester City. Di Premier League ia harus berkompetisi dengan banyak klub yang mempunyai sumber daya yang mirip dengan City, hal yang tak ia alami di dua klub sebelumnya.

Belum lagi dengan para klub saingan juga mempunyai manajer kelas atas yang sudah punya reputasi, seperti Antonio Conte, Jurgen Klopp, Jose Mourinho, Arsene Wenger, Mauricio Pochettino, Claudio Ranieri, hingga rekan setimnya dulu, Ronald Koeman. Wajar saja jika langkah City tak semulus Barca dan Bayern. Bahkan, 6 dari 7 kekalahan Guardiola musim ini terjadi di tangan para manajer yang saya sebut di atas (kecuali Arsene), seolah mereka sudah tahu cara menjinakkan taktik Guardiola yang mengutamakan penguasaan bola dan pressing tinggi itu.

Sebenarnya, sejak masih menukangi Barca, banyak pengamat sudah melihat bahwa pola bertahan, pressing tinggi, dan serangan balik adalah penawar racun taktik Guardiola. Namun, tidak semua klub bisa menghadang tim asuhan Guardiola dengan cara itu. Kualitas dan performa pemain saat pertandingan cukup menentukan di sini. Bayangkan saja, mereka harus konsentrasi penuh sepanjang laga untuk menghadang penguasaan bola tim asuhan Guardiola. Sekali lepas fokus, mereka bisa kecolongan gol. Apalagi mereka dipastikan akan lebih sering bertahan ketimbang menyerang, sehingga butuh serangan balik yang efektif juga untuk bisa menang.

Saya bukan pemerhati sejati Guardiola. Saya juga jarang menonton La Liga, apalagi Bundesliga. Namun, selama 7 musim berkiprah di Liga Champions dan selama melihat kiprahnya bersama City di musim ini, saya melihat ada 3 tipe manajer yang timnya bisa membungkam Guardiola. Berikut klasifikasinya.

  1. ‘Orang Italia’

Pernahkah terpikir bahwa selama 5 kali tersingkir di semifinal Liga Champions, Guardiola kalah 4 kali dari ‘orang Italia’? Roberto Di Matteo (tahun 2012) dan Carlo Ancelotti (2014) memang orang asli Italia. Namun 2 sisanya, Mourinho (2010) dan Diego Simeone (2016) menurut saya juga ‘orang Italia’.

Pada 2010, Mourinho melatih Inter Milan, yang pada kala itu memainkan taktik bertahan dan serangan balik yang luar biasa, termasuk di final saat mengalahkan Bayern (disinilah saya seperti menyamakan kondisinya dengan Belanda yang kesusahan menembus 10 pemain Italia di Euro 2000). Bahkan saya mengira pragmatisme Mou semakin menjadi sejak ia menukangi Inter.

Sementara Diego Simeone juga terkenal dengan gaya bertahannya yang luar biasa meski dengan formasi normal 4-4-2, terutama saat menukangi Atletico. Menurut kalian mereka belajar taktik bertahan dan serangan balik seperti itu darimana? Jangan lupa juga, Diego selama 8 musim dalam karirnya bermain di Italia. Selain mereka, ada Conte dan Ranieri yang pernah mengalahkan Guardiola musim ini meski mereka kalah penguasaan bola selama pertandingan.

carlo1-479479-1
Berani main possession ball lawan dia, Pep? (Foto: express.co.uk)

‘Orang Italia’ tahu bagaimana para pemainnya harus bersikap jika berhadapan dengan sistem permainan Guardiola, berbekal pemahaman taktik mereka yang sangat baik. Jangan lupa juga, sepakbola Italia terkenal dengan pertahanan gerendelnya. Tentu saja tidak semua orang Italia pasti menang melawan Guardiola. Francesco Guidolin dan Max Allegri saja kalah saat melawan Guardiola. Namun, 6 orang di atas adalah bukti nyata efektivitas permainan yang berhasil mengalahkan sepakbola penguasaan bola. Karena menang ditentukan oleh jumlah gol, bukan lama penguasaan bola.

  1. Orang Barcelona

Pemikiran saya sederhana. Jika kita mengenal seseorang dengan baik, maka kita juga tahu bagaimana menghadapi orang tersebut. Guardiola besar di Barcelona, sehingga gaya permainan timnya pun tentu dipahami oleh para pemain ataupun bekas pemain Barca. Luis Enrique dan Ronald Koeman adalah contoh bekas pemain yang pernah bermain bersama Guardiola di Barca. Mereka belajar taktik yang sama di sana. Wajar juga kan bila mereka tahu penawar taktiknya?

Everton-Koeman-Man-City-Guardiola-Barcelona-721243.jpg
Suka dan duka pernah dilewati bersama. (Foto: express.co.uk)

Jalan hidup memang memisahkan mereka. Saat Guardiola merengkuh sukses bersama Barcelona, Enrique dan Koeman berjuang di tempat lain. Saat bertemu lagi, mungkin ada perbedaan gaya melatih. Ilmu yang dipelajari selama menjadi pelatih mungkin juga berbeda-beda. Tapi tak mengubah taktik dasar mereka. Buat saya, mereka tetaplah penganut mazhab yang sama.

  1. Penganut Counterpressing/Gegenpressing

Guardiola adalah penganut gaya bermain pressing tinggi. Bagaimana jika cara mengalahkannya adalah dengan menggunakan cara yang sama? Bagaimana jika tim yang selama ini terkenal dengan pressingnya justru di-pressing? Pochettino dan Klopp adalah contoh orang-orang yang fasih menggunakan sistem permainan ini. Bahkan Klopp sudah pernah mengalahkan Guardiola saat masih menukangi Borussia Dortmund.

32e83e5700000578-3526741-image-a-21_1459960512032
‘Gimana Pep, udah bisa menangkal gaya heavy metal gua?’ (Foto: dailymail.co.uk)

Sistem ini membuat mereka bisa cepat melancarkan serangan balik saat berhasil merebut penguasaan bola lawan. Kita sudah melihat City-nya Guardiola kalah dari Liverpool dan Tottenham Hotspur musim ini. Bahkan gaya bermain Tottenham menurut Guardiola lebih baik darinya saat City kalah 2-0 dari Spurs, itu sebabnya mereka layak menang (memangnya ‘orang Italia’ peduli dengan gaya main bagus? Yang penting mereka juga menang).

Bersama mereka berdua, Liverpool dan Tottenham saat ini adalah pesaing gelar juara, selain juga City, Arsenal, dan Manchester United yang sedang memburu Chelsea di puncak klasemen Premier League.

***

Sejak 2007 hingga saat ini (termasuk saat melatih Barcelona B), Guardiola sudah pernah kalah sebanyak 52 kali, sehingga 3 kategori di atas hanyalah contoh kecil saja. Bisa jadi ada banyak tipe manajer yang gaya permainan timnya bisa membungkam tim asuhan Guardiola. Namun, seperti tiga tipe di atas, tipe manajer yang lain mungkin juga mengandalkan serangan balik yang mematikan.

Kelihatannya, Guardiola butuh adaptasi yang lebih lama di Premier League ketimbang di Bundesliga. Bisa jadi ia akan mengubah gaya bermain City, bisa juga tidak. Bisa jadi ia belum punya komposisi pemain sebaik saat menangani Barcelona dan Bayern dulu. Namun, jika tak ada perbaikan, ia harus siap-siap merasakan musim tanpa trofi untuk pertama kalinya semenjak menjadi pelatih.

Tulisan ini merupakan pemikiran saya dengan analisis sederhana. Oleh karena itu, jika ada yang punya pendapat berbeda atau menganggap pandangan saya keliru, silahkan kita berdiskusi. Untuk saling menambah ilmu tentu saja.

Pustaka Tulisan :  

http://fandom.id/analisis/taktik/2015/10/apa-itu-gegenpressing/

http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2016/08/29/163438/3286126/1480/counterpressing-vs-gegenpressing-yang-berakhir-imbang

http://www.dribble9.com/belajar-taktik-membangun-tembok-kokoh-4-4-2-ala-diego-simeone/

https://en.wikipedia.org/wiki/2016%E2%80%9317_Manchester_City_F.C._season

https://en.wikipedia.org/wiki/Pep_Guardiola#Managerial_record

Featured Image: juara.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s