Yang Penting (J)uara!

17 Januari 2017, ketika bangun pagi saya melihat ada pesan whatsapp dari abang saya. Ia penggemar AC Milan sejak zaman Marco Van Basten. Selain mengajak saya membahas Gianluigi Donnarumma yang baru saja menepis penalti Adam Ljajic, ia memberikan kabar tentang Juventus yang berganti logo. Tidak lupa ia memberikan juga gambarnya. Saya kaget. Apa-apaan ini tiba-tiba ganti logo? Saya tidak pernah dengar sebelumnya bahwa Juve akan mengganti logo. Entah memang belum pernah diumumkan sebelumnya oleh pihak Juventus di media, atau memang saya yang Juventini gadungan.

Saya sedikit tertegun melihat logo itu. Logo tersebut adalah lambang ketiga Juve sejak saya menyukai klub tersebut pada akhir 90-an (Filippo Inzaghi masih berduet dengan Alessandro Del Piero). Lambang yang pertama dan kedua tak begitu jauh berbeda. Namun lambang yang baru ini benar-benar mengejutkan.

Cuma huruf J? Apa mereka serius mau memakai lambang itu? Dalam waktu singkat, Juventus tiba-tiba terlihat seperti sebuah merk fashion ternama dengan sebuah logo yang mudah diingat. Jika ‘tanda centang’ langsung mengingatkan kita pada Nike, maka Juve seperti ingin memberikan kesan bahwa jika melihat logo ‘J’, maka orang-orang akan langsung mengingat Juventus. Memang, tak banyak klub yang berawalan huruf J. Bisa jadi Juventus adalah klub tersukses di dunia yang berawalan huruf J.

Kok kayak merk dagang gini ya? Emang bagus apa nanti dipasang di jersey? Saya pun ikut membayangkan kostum dengan logo baru tersebut. Strip vertikal hitam-putih dengan logo ‘J’ di dada kiri, logo adidas di dada kanan, dan perisai scudetto (Aamiin) di dada tengah.  Jawabannya, saya tidak terbayang sama sekali akan seperti apa kostum Juve musim depan. Apakah nanti lambangnya tetap oval dengan huruf J di dalamnya? Atau J dalam sebuah perisai? Atau murni hanya J saja, tanpa ornamen apapun? Tak tahulah. Lihat saja musim depan.

Untitled.png
Voting dari PanditFootball. Saya vote ‘Jelek’. (Foto: akun twitter @panditfootball)

Setelah membaca pernyataan resmi pihak Juventus yang dimuat dalam sebuah artikel, barulah saya paham maksudnya. Si bos (Andrea Agnelli) ingin Juve bisa menembus segala lapisan masyarakat, baik yang suka sepakbola ataupun tidak. Itu sebabnya jajaran manajemen Juve memutuskan logo ini yang akan dipakai. Sederhana dan mudah diingat. Hal yang bagus untuk pemasaran bisnis bukan?

Benar dugaan saya, si bos ingin Juve lebih jualan. Ia ingin Juve menjadi merk global. Ia ingin Juve selangkah lebih maju dari siapapun. Lebih maju dari Barcelona, Real Madrid, dan Bayern Munchen. Bahkan lebih maju dari orang kaya baru macam Manchester City dan Paris Saint-Germain yang juga sudah mengganti logonya.

Coba bayangkan, misalnya kalian bukanlah penggemar Juve, namun tertarik membeli sebuah kaos polo dengan logo ‘J’ di dada karena alasan desain yang menarik. Jika desainnya sudah menarik, kalian akan membeli kaos polo tersebut karena memang modelnya yang bagus dan kalian suka, tanpa peduli bahwa itu adalah logo Juventus. Hal ini adalah keuntungan buat Juventus.

Tanpa disadari, para pengguna kaos polo tersebut sedang mempromosikan Juventus juga, meskipun mungkin mereka tidak begitu suka sepakbola, atau yang lebih parah, mereka pendukung klub lain. Ditambah dengan para pendukung yang sudah sejak lama mendukung Juventus, maka ‘duta besar’ Juve di lapisan masyarakat semakin meningkat.

Dampaknya, bisa saja mereka yang tadinya tidak aware dengan sepakbola, tiba-tiba jadi memerhatikan sepakbola. Jika sudah begini, klub mana yang kemungkinan besar akan diperhatikan lebih dulu oleh para newbie tersebut? Pastilah Juventus.

Efek jangka panjangnya, jumlah fans meningkat, penjualan merchandise meningkat, dan keuntungan finansial pun meningkat. Hal ini bisa berdampak besar kepada prestasi di lapangan. Apalagi manajemen Juventus di tangan keluarga Agnelli sudah sangat teruji kehebatannya (sudah hampir seabad, lho).

Jika perusahaan Red Bull menjadikan klub-klub olahraga sebagai alat pemasaran produk minuman mereka dengan merangkul para penggemar klub atau olahraga tersebut, maka Juventus menjadikan klub sepakbola sebagai merk dagang global. Baik fans Juve ataupun bukan, semuanya bisa menjadi ambassador mereka.

Jika Red Bull sudah identik dengan minuman, maka logo ‘J’ ini bisa dipakai dimana saja, mulai baju hingga (mungkin) jenis mobil Fiat terbaru. Hal ini lebih hebat dari yang Red Bull lakukan. Meski tak ada jaminan sukses, namun strategi bisnis ini mirip dengan yang dilakukan para pemain Juventus di lapangan. Selalu berusaha menjadi yang terdepan. Karena hanya kemenanganlah yang dihitung, dan tak akan ada yang mengingat si nomor dua. Sangat Juventus, sangat Agnelli.

Yang namanya perubahan tentu mendatangkan banyak reaksi. Kritikan tajam pun terlontar, termasuk dari para Juventini. Ada yang heran mengapa mereka harus mengganti lambang, seperti yang saya alami. Selain itu, ada yang menjadikan logo baru tersebut sebagai bahan jokes dengan modifikasi yang beragam, entah dibuat oleh Juventini ataupun non-Juventini.

Yang agak miris, ada yang menganggap bahwa para Juventini sudah dianggap sebagai customer oleh pihak Juventus, bukan lagi fans. Ada juga yang menganggap Juve sedikit melupakan sejarah dan lebih mengutamakan bisnis, meski kabarnya dulu Juve pernah memakai jersey yang hanya bertuliskan huruf J di depan kostum. Yah, seperti apapun penolakan dari para suporter Juve, terutama yang di Italia, namun saya rasa logo itu akan tetap dipakai mulai musim depan. Yang punya Juve kan Agnelli, suka-suka dia aja mau kaya gimana lambang klubnya. Begitu pikir saya.

Namun yang paling penting, Juventus yang logonya ‘J’ itu, tetaplah Juventus yang sama dengan yang dulu. Mereka tetaplah klub yang punya sejarah sebagai pemilik 3 bintang di Liga Italia. Mereka tetaplah Juventus yang dulu diperkuat bintang-bintang seperti Del Piero, Gaetano Scirea, Michel Platini, Omar Sivori, dan Giampiero Boniperti. Mereka tetaplah klub yang dulu pernah main di Serie B di musim 2006-07. Mereka bukan seperti ‘Persebaya’ yang baru, terpisah dengan Persebaya yang asli. Tak ada Juventus yang lain. Juventus ya cuma satu itu aja. Logo boleh berubah, namun semangat pantang menyerah tetap sama. Semangat fino alla fine yang mereka kumandangkan tidak akan pernah berubah. Hal itulah yang membuat saya tidak mempermasalahkan perubahan ini.

Selama Juventus terus juara, selama si bos dan keluarganya bisa terus membawa Juve di puncak kejayaan Italia, Eropa, dan dunia, maka percayalah, masalah logo ini tidak akan jadi masalah besar. Bahkan tidak akan pernah diributkan lagi di masa depan, kecuali sedang membahas sejarah Juve.

Saya punya dua jersey Juventus dengan dua lambang yang berbeda. Apakah logo yang ini akan saya beli jerseynya? Masih mikir-mikir, hehe.

Featured Image : goal.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s