Manajer Anti-Teroris: Perlukah?

Pernahkah terbayangkan jika dalam sebuah pertandingan sepakbola, tiba-tiba saja pertandingan terhenti karena ada bom yang meledak di salah satu tribun belakang gawang stadion? Atau misalnya meledak di ruang ganti pemain? Atau mungkin ada granat yang dilemparkan ke lapangan barangkali? Jika kita melihat hal tersebut dalam pertandingan yang disiarkan televisi, mungkin kita akan merasa terkejut dan takut, apalagi jika terjadi di negara atau kota sendiri. Lebih parah jika hal itu terjadi saat kita menonton langsung di stadion, pastilah lebih mengerikan.

Itulah sebabnya ketika kita mengunjungi sebuah tempat dengan potensi keramaian yang tinggi, seperti pertandingan sepakbola, konser musik, atau ke mall sekalipun, biasanya kita akan menemukan petugas-petugas yang memeriksa barang bawaan kita, untuk mencegah terjadinya hal – hal mengerikan yang saya sebut di paragraf pertama. Saat berkunjung ke stadion Pakansari untuk menonton langsung Piala AFF 2016 pada Desember lalu pun, saya juga mengalami pengecekan barang bawaan oleh petugas keamanan, bahkan sejak sekitar 1 km dari stadion. Meskipun, pengecekan ini tidak tergolong ketat, namun setidaknya tidak ada musibah yang terjadi saat itu.

Masalah tentang keamanan dalam sebuah pertandingan sepakbola ini kembali menarik perhatian saya setelah beberapa hari yang lalu saya membaca berita tentang Manchester United yang baru saja mempekerjakan seseorang sebagai manajer anti-teroris. Manajer tersebut kabarnya merupakan bekas inspektur di kepolisian Greater Manchester. Masuk akal memang. Siapa lagi yang lebih paham tentang penanganan ancaman terorisme jika bukan aparat keamanan negara?

United merupakan klub olahraga pertama di Inggris yang memiliki jabatan khusus seperti ini. Memang, isu keamanan adalah salah satu isu yang serius di sepakbola. Peristiwa bom yang meledak di luar stadion Stade de France, Saint-Denis, saat pertandingan Prancis melawan Jerman sedang berlangsung pada November 2015 lalu membuat semua kalangan semakin fokus terhadap masalah ini. Apalagi sang pengebom awalnya hendak masuk ke dalam stadion, namun gagal. Bahkan Piala Eropa 2016 pun diliputi masalah keamanan yang membuat seluruh Prancis waspada agar kejadian di Stade de France tak terulang lagi.

Setelah kejadian itupun United semakin meningkatkan keamanan di stadion mereka, Old Trafford. Namun, keteledoran tetap terjadi. Kita masih ingat tentang kasus lolosnya dua orang pengunjung tur stadion yang berniat menonton gratis pertandingan United melawan Arsenal pada November 2016. Enam bulan sebelumnya, partai United melawan Bournemouth dalam lanjutan Premier League harus ditunda karena ada bom di toilet stadion (yang ternyata palsu).

_89698334_89698333
Udah enak-enak duduk, eh disuruh keluar lagi. (Foto: bbc.com)

Mungkin kedua hal yang terjadi di stadion mereka inilah yang membuat United merasa perlunya mempekerjakan seseorang yang benar-benar bisa diandalkan untuk mengatasi masalah ini. Mungkin manajemen United sudah berpikir, ‘Untung saja dua orang penyusup itu hanya ingin menonton gratis, meski tetap saja sebuah kecolongan. Namun bagaimana bila di kesempatan lain ada yang bermaksud buruk dan dapat mengakibatkan munculnya banyak korban jiwa?’ Hal ini yang tidak diharapkan oleh United, sebagaimana tidak diharapkan terjadi pada klub-klub lain di dunia ini.

Penunjukan manajer anti-teroris ini tentunya merupakan sebuah hal positif dan membuat para pengunjung Old Trafford semakin merasa aman. Namun hal ini tetap membuat saya berpikir. Sepenting itukah jabatan manajer anti-teroris bagi mereka? Atau se-parno itukah United terhadap terorisme? Memangnya selama ini petugas keamanan mereka kurang berkualitas? Mereka klub papan atas level dunia lho. Atau hal ini hanyalah langkah United mempertebal lapisan keamanan mereka? Semua pertanyaan itu bisa dijawab dengan satu kalimat: Ya, bisa jadi.

Ya, bisa jadi United menganggap jabatan itu penting. Bisa jadi tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada manajer anti-teroris lebih besar dan lebih kompleks ketimbang sekedar menjadi kepala keamanan biasa. Menyewa mantan inspektur kepolisian merupakan wujud nyata usaha mereka untuk membuat Old Trafford menjadi salah satu stadion teraman (atau mungkin paling aman) di dunia.

Ya, bisa jadi mereka memang parno jika peristiwa seperti di Saint-Denis sampai terjadi pada mereka. Apalagi mereka juga menganggap klub sebesar United bisa menjadi sasaran target terorisme. Bayangkan efek yang muncul jika ada bom meledak di dekat stadion mereka yang diakibatkan keteledoran kecil saja. Hal ini bisa mempengaruhi citra mereka sebagai klub ternama dan tentu tidak baik juga untuk bisnis. Ingat, Paris sempat sepi setelah peristiwa bom 2015 lalu. Banyak orang yang tidak mau keluar dengan alasan keamanan. Ini berpengaruh pada kegiatan ekonomi, dan United tentu tidak mau mengalami itu. Sehingga daripada mereka menyesal nantinya, lebih baik mereka membuat langkah pencegahan dari sekarang.

Ya, bisa jadi langkah ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kewaspadaan para petugas keamanan mereka, karena keteledoran kecil yang mereka alami tetaplah sebuah evaluasi keras. Bagaimana mungkin jumlah peserta tur tidak dihitung dengan seksama saat akan meninggalkan stadion? Mereka pasti melakukannya setiap saat, namun bisa jadi kala itu mereka alpa. Pastinya terdapat kritikan pada kualitas pengamanan mereka saat itu, sehingga cara ini adalah sebuah respons terhadap kritik tersebut.

Ya, bisa jadi mereka hanya ingin mempertebal lapisan pengamanan mereka, memastikan bahwa kejadian tersebut tak akan terulang lagi di masa depan. Dengan adanya manajer anti-teroris ini, bisa jadi langkah pengamanan mereka menjadi lebih baik, sehingga tak perlu waktu beberapa hari untuk menemukan bahwa ada bom palsu bekas latihan pengamanan yang tertinggal. Zero accident tentu merupakan sebuah prestasi bagi para petugas keamanan United sendiri bukan?

Langkah ini mungkin memakan biaya yang besar, namun sebagai klub terkaya sedunia, United tentu punya sumber daya untuk mengakomodasi itu semua. Lagipula, apa artinya jadi kaya raya, jika tak bisa memperbaiki kualitas di segala bidang, termasuk aspek keamanan dan kenyamanan stadion?

Apakah langkah United ini akan ditiru oleh semua klub olahraga di Inggris? Atau mungkin klub-klub besar di Eropa akan menerapkan hal yang sama? Menurut saya, ini hanyalah sebuah metode untuk mengatasi problem keamanan. Tiap klub pasti sudah memikirkan cara terbaik untuk menjaga keamanan lingkungan stadion mereka masing-masing, baik saat hari pertandingan ataupun tidak. Sehingga, langkah ini bisa saja ditiru, namun bisa saja tidak. Yang penting, stadion mereka semua aman dari penyusup tak bertanggung jawab kan.

Featured Image : http://www.itv.com

Pustaka Tulisan :

http://www.bbc.com/sport/football/38661302

http://www.skysports.com/football/news/11667/10733532/manchester-united-appoint-full-time-counter-terrorism-manager-at-old-trafford

http://www.bbc.com/indonesia/olahraga-38663098

http://www.bbc.com/indonesia/olahraga-38063308

http://www.cnnindonesia.com/olahraga/20170118174607-142-187230/mu-jadi-klub-pertama-yang-miliki-manajer-antiterorisme/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s