Awamnya Kita Terhadap Piala Afrika

Piala Afrika. Kompetisi sepakbola yang selevel dengan Euro, Piala Asia, Piala Emas Concacaf, Copa America, bahkan OFC Nations Cup, yang negara anggotanya lebih terkenal sebagai tempat wisata ketimbang negara sepakbola. Namun, Piala Afrika tidak (atau belum) sementereng Euro atau Copa America. Kehadirannya pun mungkin tidak begitu dinantikan oleh para pecinta (tayangan) sepakbola di negeri ini.Oh awal tahun nanti ada Piala Afrika ya,’ begitu pikir saya di akhir 2016. Tapi ya sudah, begitu saja. Bukan seperti saat Euro yang benar-benar menantikan kapan jadwal tandingnya, siapa saja tim yang sudah mengumumkan skuad resminya, siapa berpotensi ketemu siapa di babak knockout, dan mencari tahu info-info menarik seputar Euro lainnya.

Porsi pemberitaan media pun berbeda. Saat Euro bisa mengisi hampir semua headline media cetak dan online (khususnya yang memang bertema olahraga) di negara ini, hal serupa tidak terjadi di Piala Afrika. Bahkan, berita yang seringkali dibahas hanyalah efek yang diberikan Piala Afrika terhadap klub-klub Eropa yang diisi pemain-pemain asal Afrika, dimana mereka harus absen sementara karena tugas negara. Wajar bila berita ini muncul, karena pada periode Januari-Februari banyak liga-liga Eropa yang sudah bergulir kembali setelah sebelumnya menikmati libur musim dingin. Periode awal tahun pun lebih genting di kompetisi Eropa karena liga memasuki putaran kedua (kecuali di beberapa negara, contohnya Swedia dan Norwegia), dan kompetisi antar klub Eropa seperti Liga Champions dan Liga Europa memasuki fase knockout. Dengan lebih populernya kompetisi di Eropa, maka wajar pula bila Piala Afrika tertutup pemberitaannya oleh Liga Inggris, Spanyol, dan lainnya.

Tanpa disadari, akhirnya kita (lebih tepatnya saya) pun juga harus berusaha ‘lebih keras’ untuk lebih mengenal Piala Afrika. Meskipun saya sudah tahu adanya Piala Afrika sejak 1998, dimana Mesir menjadi juara dan saya jadi mengenal nama negara-negara seperti Burkina Faso dan Pantai Gading (saya tahu akibat membaca tabloid Bola punya abang saya, bukan karena membaca buku pelajaran IPS), namun tetap saja, selain prediksi dan ulasan pertandingan, info-info lainnya seringkali tidak ditemui dengan bantuan media olahraga (bisa jadi saya yang kurang membaca).

Setelah sedikit mencari tahu, hasilnya pun cukup menarik, meski hanya informasi dasar saja yang bisa didapat. Contohnya saja kesebelasan Afrika Selatan, yang meskipun merupakan salah satu pencetus Piala Afrika di pertengahan 1950-an, namun baru pertama kali ikut secara resmi saat menjadi tuan rumah di Piala Afrika 1996, saat politik Apartheid, yang mengakibatkan mereka batal berpartisipasi di Piala Afrika edisi pertama dan sempat membuat mereka disanksi FIFA, sudah dihilangkan.

Fakta seru lainnya, ternyata sejak tahun 2009, diadakan kejuaraan Piala Afrika dimana negara yang lolos hanya dibolehkan memilih pemain yang bermain di liga nasional mereka sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pemain-pemain di liga nasional masing-masing karena banyaknya pemain-pemain bintang mereka yang hijrah ke Eropa. Kejuaraan ini juga diadakan tiap dua tahun. Jika Piala Afrika yang kita tahu (Africa Cup of Nations) sejak 2013 diadakan pada tahun ganjil, maka Piala Afrika yang ini (African Nations Championship) diadakan pada tahun genap.

_72253488_85299729
Ini juga trofi Piala Afrika lho, bukan cuma yang di pegang Kolo Toure diatas. (Foto: bbc.com)

Selain itu, ada pula nama-nama negara peserta yang terdengar asing di telinga, namun saat mendengar namanya yang sekarang, tentu tidak asing lagi. Contohnya saja Republic of Upper Volta di Piala Afrika 1978 (sekarang Burkina Faso), United Arab Republic di Piala Afrika 1959, 1962, dan 1963 (sekarang Mesir), Congo-Leopoldville di Piala Afrika 1965 yang kemudian berubah menjadi Congo-Kinshasha di Piala Afrika 1968, lalu berubah lagi menjadi Zaire di Piala Afrika 1972 (sekarang Republik Demokratik Kongo). Ada faktor diluar sepakbola yang membuat nama mereka berubah.

Yang tak kalah menarik, ternyata cukup banyak para pemain yang tampil di Piala Afrika ini yang tidak lahir dan besar di Afrika. Hal ini merupakan dampak dari merantaunya keluarga-keluarga mereka di masa lalu, sehingga mereka pun memiliki dua kewarganegaraan. Namun, mereka tetap memutuskan untuk membela negara asal-usulnya dengan beragam alasan. Contohnya saja Aljazair, dimana 13 dari 23 pemain mereka yang diikutsertakan pada Piala Afrika 2017 ini lahir dan besar di Prancis, termasuk Riyad Mahrez dan Nabil Bentaleb. Hal yang wajar mengingat dulu Aljazair dijajah oleh Prancis. Mungkin kondisinya sama dengan warga Indonesia yang pindah ke Belanda. Hal ini pun juga terjadi di negara-negara lain, contohnya di Pantai Gading, Maroko, Tunisia, dan masih banyak lagi. Dibandingkan dengan Piala Eropa, para pemain diaspora ini kelihatannya lebih banyak ditemukan di Piala Afrika. Apalagi mereka sampai menyeberang benua. Alasan perang dan ekonomi mungkin menjadi penyebab merantaunya keluarga mereka di masa lalu.

Namun, meskipun sudah menemukan beberapa fakta menarik, namun saya tetap merasa awam, terutama jika membahas kekuatan tim-tim Afrika. Maklum, liga negara-negara Afrika hampir tidak pernah disorot media nasional, jadi butuh usaha ekstra untuk melihat negara mana saja yang liganya berkualitas tinggi dan mempunyai banyak pemain bertalenta. Meskipun beberapa negara punya status yang mentereng saat ini, seperti Nigeria, Kamerun, Ghana, Pantai Gading, hingga Aljazair, namun bisa jadi itu dikarenakan partisipasi mereka di Piala Dunia sebagai wakil Afrika atau karena banyak pemain mereka yang merumput di klub-klub tenar Eropa. Namun bagaimana soal prestasi? Apakah berbanding lurus dengan banyaknya pemain mereka di Eropa? Apakah ada poros kekuatan di Afrika saat ini? Jika dulu sempat ada Mesir yang mirip dengan Spanyol di Eropa, bagaimana dengan sekarang? Bagaimana dengan 5 negara di atas?

Dimulai dengan Ghana. Mereka adalah satu-satunya tim yang konsisten menembus semifinal dalam 5 edisi terakhir, namun tak pernah juara pula selama itu. Mereka tentu diharapkan memutus kutukan itu tahun ini. Pantai Gading? Mereka juara bertahan dan langganan Piala Dunia 3 edisi terakhir, seperti Ghana. Pemain-pemainnya pun banyak yang terkenal di sepakbola Eropa. Mereka juga minimal masuk perempat final di 5 edisi terakhir. Yah, kita lihat saja di Piala Afrika ini sejauh apa laju mereka. Kamerun? Sejak terakhir juara pada 2002, mereka hanya sekali lagi masuk final, yaitu pada 2008. Selain itu, paling banter hanya masuk perempat final. Bahkan pernah tidak ikut di dua edisi (2012 dan 2013). Untung saja pada 2017 ini setidaknya mereka sudah lolos ke perempat final dengan menyingkirkan negaranya Pierre-Emerick Aubameyang, Gabon. Aljazair? Meskipun ada analisis dari sebuah situs sepakbola nasional yang meramalkan bahwa mereka bisa melaju jauh di Piala Afrika 2017, faktanya mereka sudah angkat koper sekarang (entah berdasarkan penilaian apa analisis itu dibuat). Nigeria? Meskipun juara pada edisi 2013, sayangnya pada edisi 2017 ini mereka tidak lolos kualifikasi.

3387a79300000578-0-image-a-149_1461615325634
Pulang duluan ya, ditunggu bos Ranieri. Klub gua hampir degradasi nih. (Foto: dailymail.co.uk)

Selain itu, masih ada pula Tunisia, Mesir, dan Republik Demokratik Kongo yang kelihatannya cukup kuat di Afrika. Tentu, pendapat saya ini dibuat dengan hanya melihat fakta bahwa ada beberapa pemain mereka yang terkenal di Eropa dan selama sepuluh tahun terakhir liga Champions Afrika, juaranya kebanyakan dari 3 negara yang saya sebut diatas. Namun tidak tertutup kemungkinan kan jika juaranya ternyata Senegal? Maroko? Atau mungkin Burkina Faso? Ah lihat nanti sajalah hasilnya.

Berbeda dengan di Eropa dimana kita bisa mengira siapa saja negara-negara kuat yang difavoritkan juara Euro karena kita mengikuti perkembangannya lewat media, hal itu tidak berlaku di Piala Afrika. Kita (saya) hanya penonton yang awam tentang Piala Afrika kok. Zambia saja pemainnya tak satupun yang saya tahu (mungkin kalian juga), namun bisa mengalahkan Pantai Gading di final tahun 2012 yang kala itu diperkuat Didier Drogba, Yaya Toure, Gervinho, Kolo Toure, Salomon Kalou, hingga Emmanuel Eboue.

Ya, saya (mungkin juga kalian) masih belum banyak tahu tentang Piala Afrika. Dan saya tidak mau membuat prediksi hanya berdasarkan penelitian yang sangat mendasar (karena setelah saya baca, analisis yang menjagokan Aljazair juara itu menurut saya kurang dalam. Wajar, siapa sih yang begitu memerhatikan sepakbola Afrika?). Karena, seperti yang kita tahu, tim yang punya banyak pemain dengan nama besar bukan berarti mereka adalah tim yang lebih unggul dibandingkan tim yang pemain-pemainnya tidak begitu terkenal. Di Piala Eropa lalu kita punya contoh seperti Inggris yang dikalahkan Islandia. Siapa sih yang kita ingat jika menyebut Islandia? Paling-paling Gylfi Sigurdsson dan Eidur Gudjohnsen.

Akhirnya, selamat menikmati Piala Afrika bagi yang ingin lebih mengenal sepakbola Afrika. Kita bisa jadikan Piala Afrika sebagai sebuah alternatif hiburan, terutama jika sedang bosan menonton liga-liga besar Eropa karena tim favorit kita sedang kalah.

* Kabar terbaru, Pantai Gading pun sebagai juara bertahan harus tersingkir di fase grup, sehingga akan ada juara baru. Terkejut? Saya sih nggak. Wong tahu peta kekuatan di Afrika aja nggak, hehe.

Featured Image : africasacountry.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s