Yang Tua, Dilarang Main Bola

Kongres PSSI pada pada awal Januari mengeluarkan banyak keputusan. Dimulai dari pencabutan sanksi yang diberikan pada 7 klub lokal, penunjukan pelatih baru timnas (saat ini Luis Milla sudah resmi ditunjuk), hingga pengurangan kuota pemain asing dan pembatasan usia pemain yang berlaku di setiap kasta liga Indonesia.

Terkait kuota pemain asing, saya merasa tak perlu didebatkan, karena peraturan ini bisa memberikan kesempatan untuk pemain lokal lebih banyak bermain. Namun hal ini bertolak belakang dengan pembatasan usia pemain, yang justru mengancam kesempatan bermain banyak pemain lokal.

Menurut rencana, setiap klub di Liga 1 (menggantikan nama ISL) wajib memainkan 3 orang pemain berusia dibawah 23 tahun di setiap pertandingan, dan hanya boleh mempunyai dua pemain berusia diatas 35 tahun. Di Liga 2 (Divisi Utama), kondisinya lebih parah lagi. Setiap klub hanya membolehkan memiliki 5 pemain berusia diatas 25 tahun. Di Liga 3 (Liga Nusantara), kabarnya juga akan diberlakukan pembatasan usia.

Target PSSI

Kontroversialkah peraturan ini? Jelas. Terutama untuk para pemain. Pastilah mereka semua sedang ketar-ketir. Jika peraturan tersebut direalisasikan, karir mereka terancam selesai lebih cepat. Bukan karena tidak ada yang mau mengontrak mereka lagi, tapi klub-klub terpaksa untuk tidak mengontrak mereka lagi. Seumur-umur, rasanya baru kali ini saya mendengar ada liga kasta teratas sebuah negara yang membatasi usia para pemainnya.

110874
F: Yo, disuruh pensiun lu sama PSSI. P: Iya nih, gua masih mau maen padahal. (Foto: goal.com)

Bapak Hidayat selaku anggota Exco PSSI menjelaskan, bahwa rencana peraturan ini ingin diterapkan agar pemain muda bisa mendapatkan kesempatan bermain lebih besar, terutama bagi pemain berusia antara 21-23 tahun, karena memang tak ada kompetisi khusus untuk rentang usia tersebut. Selain itu, peraturan ini merupakan bagian dari rencana ketua umum PSSI yang disebut football for nation, football for business, dan football for football. Sederhananya, timnas berprestasi, sepakbola berkembang secara bisnis, dan pembinaan dan tata kelola sepakbola berjalan lancar.

Fokus pada ketiga hal sekaligus tentu berat, sehingga menurutnya kepengurusan kali ini fokus pada hal yang pertama dahulu, yaitu timnas yang berprestasi, yang memang sudah lama tak terjadi. Dua hal yang lain bukannya tak diperhatikan, namun untuk tahun 2017 dan 2018, porsi football for nation kelihatannya akan lebih besar. Target medali emas Sea Games 2017 dan masuk semifinal Asian Games 2018 pun sudah ditetapkan oleh pengurus.

Kebetulan, dua turnamen tersebut menggunakan pemain-pemain u-23, sehingga saya melihat anggapan saya selama ini benar, bahwa peraturan ini diharapkan memudahkan Luis Milla selaku pelatih timnas U-23 dan senior dalam memilih pemain-pemain yang berlaga di dua ajang tersebut. Dengan banyaknya pemain muda yang tampil di liga, maka diharapkan kualitas pemain-pemain timnas (khususnya U-23) akan meningkat. Belum lagi dengan tambahan beberapa pemain naturalisasi yang sedang diusahakan PSSI.

Barangkali alasan penunjukan Luis Milla juga karena hal itu, mengingat ia mantan pelatih junior timnas Spanyol. Apalagi dengan kontraknya yang hanya dua tahun, sedangkan dalam periode tersebut kita hanya akan menghadapi Sea Games, Asian Games, dan Piala AFF 2018. Semoga saja ini hanya su’udzon saya.

Yang Sebaiknya Dilakukan

Bambang Nurdiansyah atau biasa dipanggil Banur, mantan striker dan pelatih timnas, menyarankan bahwa peraturan ini jangan sampai diterapkan, karena selain akan ‘merampas’ kesempatan pemain-pemain yang sebenarnya masih punya kualitas untuk bermain namun usianya sudah melewati batas regulasi, hal ini juga seperti memaksakan pemain muda untuk ‘naik kelas’ sebelum waktunya. Karena jika kualitas mereka masih dipertanyakan namun sudah dipaksa bermain karena aturan kompetisi, dikhawatirkan mereka justru akan memperburuk kualitas kompetisi.

Menurutnya, seperti yang banyak dikoarkan pecinta bola Indonesia selama ini, pengadaan kompetisi usia muda level daerah dan nasional yang berjenjang di berbagai kategori umurlah yang seharusnya diperbanyak. Selain itu, klub-klub profesional seharusnya bukan hanya memiliki tim junior U-21 dan U-19 saja, namun hingga kategori umur sekolah dasar. Memang selama ini kompetisi level junior sudah banyak dan rutin diselenggarakan oleh pihak swasta, namun masih kurang menjembatani para pemain junior ini ke level berikutnya karena memang jalur menuju karir professional tidak tertata dengan rapi di Indonesia. Akibatnya, banyak pemain-pemain muda kebingungan setelah melewati usia tertentu. Mereka bingung harus kemana untuk melanjutkan karir sepakbola, karena klub-klub tidak punya tim kategori junior, namun juga tidak bisa tetap di sekolah sepak bola (SSB) karena umur mereka sudah lewat.

by9j0xkcaaaut3i
Coba kalo semua klub liga Indonesia punya tim U-10 seperti ini. (Foto: akun twitter @acmilanyouth)

Banur bahkan menyarankan sebaiknya klub-klub peserta Liga 1 diwajibkan punya tim yang terdiri dari tim utama hingga tim-tim junior berbagai kategori umur. Kalau perlu disanksi bila tidak melakukannya. Meski mungkin tidak bisa dilaksanakan dengan segera, tapi hal ini juga bisa menjadi salah satu penegasan PSSI kepada klub-klub profesional agar memperbaiki diri, sehingga tercipta sebuah jenjang bagi para pemain muda untuk menapaki karir profesional mereka.

Kompetisi usia muda diharapkan menjadi tempat pengembangan para pemain muda, sehingga sebaiknya mereka dibiarkan berkembang di sana, sampai tiba waktunya mereka siap secara teknik, fisik, dan mental, sehingga kualitas mereka memang pantas untuk bermain di Liga 1 ataupun Liga 2. Tak masalah jika para pemain muda ini masuk tim utama klub di usia berapapun, namun hal itu memang karena kualitas mereka yang mumpuni dan mampu bersaing dengan pemain senior, bukan karena ‘difasilitasi’ seperti sekarang ini. Sebab, berkaca pada turnamen-turnamen yang diselenggarakan saat PSSI dibekukan, peraturan seperti ini sudah pernah diberlakukan, namun kebanyakan hanya sebagai formalitas, karena setelah para pemain muda dimainkan beberapa menit, biasanya mereka langsung diganti lagi.

Jika para pemain muda sudah ditempa dengan baik sejak usia muda, kualitas timnas di masa depan akan lebih baik dari sekarang. Sehingga, mau ditargetkan setinggi apapun (tampil di Piala Dunia atau lolos semifinal Piala Asia misalnya) juga tak akan menjadi hal yang muluk lagi.

Dampak Di Masa Depan

Peraturan PSSI ini memang masih akan dibicarakan lagi dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Indonesia (APPI). Namun bila sampai diberlakukan, hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana membina para pemain yang tidak bisa berkarir lagi agar tetap bisa menyambung hidup setelah mata pencahariannya sebagai pesepakbola hilang.

c3almqqwiaaknog
Jurnalis, PSSI, perwakilan pemain, dan pelatih dikumpulkan di tempat yang sama. Yang dibahas? Itu judulnya keliatan kan. (Foto: akun twitter @TabloidBOLA )

Hal ini bisa dimulai dari pembinaan agar para pemain bisa mengelola penghasilannya selama ini dan mungkin menggunakannya sebagai cara mendapatkan penghasilan baru, contohnya membuka usaha/berbisnis. Sedangkan untuk mereka yang mau menjadi pelatih, PSSI diharapkan memfasilitasi mereka agar bisa mengikuti kursus kepelatihan hingga level pro, jika perlu membiayai, karena saat ini kursus kepelatihan harganya lumayan. Hal tersebut tak hanya berguna bagi mantan pemain dalam memulai karir kepelatihan mereka, namun berguna juga untuk PSSI dalam mengembangkan sepakbola nasional karena turut menambah jumlah pelatih nasional yang berkualitas, di mana saat ini kita sangat kekurangan.

Kebijakan PSSI memfasilitasi pemain menjadi pelatih pun sebaiknya tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk seterusnya. Hal ini juga bisa menjadi bukti kepedulian nyata PSSI bagi kelangsungan hidup para mantan pemain tersebut. Para pelatih baru ini pun nantinya diharapkan tidak hanya melatih tim utama sebuah klub, namun juga tim-tim junior dan SSB, sehingga para pemain kita sedari kecil sudah mendapatkan pengarahan yang bagus dari pelatih yang bagus, bukan seperti saat ini, di mana masih banyak pelatih SSB yang lisensinya dipertanyakan. Dengan demikian, pembinaan sepakbola usia dini di Indonesia sedikit-sedikit bisa berkembang ke arah yang lebih baik.

***

Sulit memang bila di satu sisi PSSI mengejar target jangka pendek dengan kondisi tata kelola yang masih dalam perbaikan, sementara pihak lain seperti pemain, pelatih, hingga pemerhati sepakbola nasional banyak yang mengutamakan konsep ‘lebih baik tak berprestasi dalam kurun waktu tertentu asal pembinaan menjadi lancar, berjenjang, dan tertata rapi’. Ya, sulit memang menahan godaan untuk berprestasi dan mendapatkan hasil secara instan. Namun proses dan kerja keras yang benar, terukur, dan terarah tak akan membohongi hasil yang diraih kan?

Apapun keputusan yang diambil, semoga bisa membantu timnas U-23 bisa meraih emas di Sea Games 2017 dan menembus semifinal Asian Games 2018. Namun yang penting, semoga PSSI kepengurusan saat ini mau bersabar dan tak melupakan langkah mereka dalam mengutamakan pembinaan pemain muda yang merupakan bagian dari football for football.

Jika peraturan pembatasan usia ini resmi diberlakukan, semoga para pemain muda bisa memanfaatkan dengan baik kesempatan ini dan membuktikan kualitas mereka, bukannya leha-leha karena merasa sudah mendapat tempat. Dan jika keputusan pembatasan usia pemain ini nantinya tak membawa dampak positif, semoga PSSI tidak ragu dan gengsi untuk mengubahnya. Dan tak perlulah kita, para pemerhati sepakbola, mencacinya. Justru keinginan untuk berubah ke arah positif harus diapresiasi kan?

Tulisan ini merupakan hasil catatan saya setelah mengikuti forum diskusi bola bertema ‘Pembatasan Usia Pemain Di Kompetisi’ yang diadakan oleh Tabloid Bola pada 25 Januari 2017 di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Pembicara dalam forum itu adalah Bapak Hidayat (Dosen dan juga Exco PSSI), Mas Valentino Simanjuntak (CEO APPI), dan Om Bambang Nurdiansyah (mantan pemain nasional, kini pelatih Persita Tangerang).

Tulisan ini banyak berisi poin-poin yang disampaikan ketiga pembicara tersebut dan juga hasil sesi tanya jawab yang terjadi. Menurut saya, forum-forum diskusi seperti inilah yang harus dikembangkan oleh banyak media olahraga, agar dapat membantu PSSI dalam mengembangkan sepakbola nasional. Oh ya, saya juga berfoto dengan Om Bambang Nurdiansyah sebagai kenang-kenangan.

20170125_1633081111
Yang terakhir dapet medali emas Sea Games di sepakbola ya orang di sebelah saya ini. (Foto : koleksi pribadi)

Featured Image : bola.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s