Penyelamatan Bagus Itu Memang Ada

Jika anda seorang suporter Juventus dan Timnas Italia, heran rasanya jika mendengar seorang pemain sekaliber Gianluigi Buffon dikritik pedas hanya karena beberapa blunder yang ia lakukan akhir-akhir ini. Para pengkritik itu seolah lupa bahwa ialah yang mencatat total 27 penyelamatan selama Piala Dunia 2006 dan mengantar Italia juara dunia keempat kalinya. Meski tidak sampai beradu bacot dan mengatakan sumpah serapah di kolom-kolom komentar berbagai situs sepakbola, hal ini tetap membuat saya pernah berpikir: Apa benar ia sudah habis? Apa ia terlalu memaksakan dirinya dan belum siap mundur? Atau yang lebih buruk, apa ia hanya ingin menambah rekor caps agar tidak terkejar siapapun (seperti yang pernah saya tuduhkan dulu pada Fabio Cannavaro saat Italia bermain buruk di Piala Konfederasi 2009 dan Piala Dunia 2010)? Pertanyaan-pertanyaan lain pun juga mulai mencuat terkait bapak tiga anak ini.

Hal tersebut dimulai saat Piala Eropa 2016. Meski sempat berharap besar pada skuad Antonio Conte yang dianggap medioker oleh banyak orang, akhirnya Italia harus pulang setelah kalah adu penalti dari Jerman. Tak satu pun dari 4 penalti yang bisa diselamatkan Buffon saat adu penalti memasuki fase sudden death.  Jika diperhatikan, keempat penalti tersebut dapat dibaca olehnya, namun tidak ada yang bisa diselamatkan. Kemampuannya dalam membaca arah tendangan tidak perlu diragukan, namun ada yang mengatakan umurnya mempengaruhi daya refleks dan kecepatannya. “Udah keliatan tuanya, udah lambat refleksnya.” Begitulah kira-kira isi komentar yang pernah saya baca di akun media sosial path teman saya. Meski rasanya tidak adil menyalahkan Buffon ketika masih banyak pemain lain yang lebih pantas untuk disalahkan (Matteo Darmian misalnya), namun komentar itu tetap membekas di pikiran. Apa benar, sebaiknya Buffon sudah diganti saat Piala Dunia Rusia 2018 nanti? Apalagi masih ada (Mattia) Perin dan (Gianluigi) Donnarumma, dua kiper muda Italia yang saya rasa paling menjanjikan saat ini.

Kemudian hal itu sempat terlupakan, mengingat timnas Italia dan Juventus bermain baik di awal musim 2016/17, meski saya akui belum menghadapi jadwal yang cukup berat (masing-masing hanya mengalami satu kekalahan, dan menurut saya Buffon bukanlah penyebabnya). Namun saat menonton pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 melawan Spanyol pada 6 Oktober lalu, sisi pikiran yang meragukan Buffon kembali muncul. “Apa nih, masa cuma clearing bola kayak gitu aja malah nge-los?” Meski kalimat itu tidak benar-benar keluar dari mulut saya, tapi ekspresi saya kira-kira seperti itu saat Vitolo berhasil mencetak gol setelah Buffon gagal mengamankan bola yang datang ke arahnya. Saya garuk-garuk kepala, heran dengan blundernya. Seketika saya langsung teringat lagi dengan ‘Peristiwa Lecce’ pada tahun 2012, di mana saat itu Luis Muriel berhasil mencuri bola darinya yang sedang mengontrol bola dan membuat kedudukan jadi 1-1. Meski saat itu Italia tidak jadi kalah (skor akhirnya juga 1-1), namun sudah pasti banyak yang akan menghujatnya.

Pada 15 Oktober, Buffon kembali membuat kesalahan, kali ini giliran melawan Udinese pada lanjutan Serie A. Ia gagal menghadang sepakan Jakub Jankto dan malah menepis bolanya ke dalam gawang. Beruntung, Juve akhirnya menang dengan skor akhir 2-1, sehingga blunder yang satu ini tidak berdampak besar sepeti gol Luis Muriel ataupun Vitolo. Melihat gol yang satu ini saya langsung teringat dengan gol yang dicetak oleh Ivan Perisic saat Italia bersua Kroasia dalam kualifikasi Piala Eropa 2016 di San Siro. Kondisinya tidak jauh berbeda. Sepakan Perisic dari sisi kanan wilayah pertahanan Italia malah melewati kolong ketiak Buffon dan masuk ke gawang. Skor pun saat itu menjadi 1-1 setelah Italia unggul terlebih dahulu dan bertahan hingga usai.

Dua blunder dalam rentang waktu yang tidak jauh bisa dibilang ‘kebanyakan’ untuk seorang Buffon. Hal ini biasanya akan menimbulkan keraguan, apa ia masih sebagus dulu. Kok rasanya sekarang seperti melihat kiper yang biasa-biasa saja. Namun, saya berpikir ulang. Sejak ia pindah ke Juve sampai sekarang, sudah 15 tahun ia bermain, dan berapa banyak ia membuat blunder? Persentasenya sangat kecil sekali, malahan hanya empat blunder itu saja yang ingat (meskipun saya tidak begitu ingat tahun-tahun awal dia di Juve karena saya masih kecil saat itu dan akses ke pertandingan Juve atau timnas Italia tidak semudah sekarang yang bisa ditonton di TV kabel ataupun streaming).

Ini yang membuat saya kembali yakin bahwa Buffon bisa main selama yang ia mau dan ia akan selalu menjadi kiper yang hebat. Jika ia bukan kiper hebat, mana mungkin ia berhasil melalui banyaknya pergantian pelatih selama 15 tahun di Juve dan Azzurri dengan tetap menjadi pilihan utama dan membuat banyak kiper pensiun tanpa pernah tahu seperti apa rasanya bermain bagi Juve atau timnas Italia?

10vecsey-large3
Siapa yang bisa melupakan peristiwa ini? (Foto : nytimes.com)

Pemain yang baru saja meraih penghargaan Golden Foot 2016 ini adalah pemain yang tahu betul dengan kemampuannya. Ia tahu betul kapan harus berhenti, dan ia akan melakukan itu tanpa diminta jika memang sudah tiba waktunya. Namun sekarang bukanlah waktu yang tepat.

Baru pada 18 Oktober lalu ia menunjukkan bahwa dirinya masih bisa menjadi panutan bagi kiper-kiper di seluruh dunia, seperti apa kiper yang hebat itu. Terhitung empat penyelamatan fantastis ia lakukan saat Juventus melawan Olympique Lyonnais dalam lanjutan penyisihan grup H Liga Champions di Stade des Lumières. Mulai dari menepis penalti Alexandre Lacazette, point blank save dari sundulan Corentin Tolisso, single handed save dari sepakan Nabil Fekir, sampai tembakan jarak jauh Maxime Gonalons berhasil ia halau untuk menjaga gawangnya tetap bersih dan membantu Juventus meraih kemenangan tandang. Kemampuannya membaca arah tendangan penalti masih tajam, dan kecepatan serta refleksnya juga masih bagus. Jika tidak, semua peluang Lyon tersebut mungkin sudah menjadi gol dan Juve pulang dengan kekalahan. Ketenangannya dalam mengomando pertahanan Juventus juga pantas diacungi jempol. Sekali lagi, ia belum habis, seperti perkataannya setelah pertandingan tersebut, yang dalam bahasa Inggris berarti people can organise my funeral, but nobody’s there.” Pujian dari berbagai penjuru dunia pun langsung membanjiri dirinya, seolah menyucikan dirinya kembali.

Saya jadi teringat perkataan pahlawan Manchester United di malam magis Camp Nou 1999, Ole Gunnar Solskjaer. “Tidak ada yang namanya penyelamatan bagus, yang ada hanya penyelesaian akhir yang buruk.” Saya yakin, Mr. Solskjaer sedang memotivasi para penyerang untuk lebih tajam di depan gawang dan tidak perlu takut terhadap kiper-kiper manapun, karena sebagus-bagusnya kiper, toh akan kebobolan juga dan pasti pernah membuat kesalahan. Kata-katanya merupakan opini dengan sudut pandang seorang striker. Namun jika ia benar-benar mengatakan dan mengartikannya secara harafiah, saya tentu tidak sepaham. Karena diluar sana, kenyataannya, memang ada penyelamatan bagus, seperti yang Buffon lakukan saat melawan Lyon. Lagipula, selama saya menjadi suporter Juventus, gawang Bianconeri selalu dijaga oleh kiper-kiper utama yang berkualitas dengan curriculum vitae yang mentereng: Angelo Peruzzi, Edwin Van Der Sar, dan terakhir, sampai saat ini, Gianluigi Buffon. Aksi penyelamatan mereka adalah salah satu alasan Juve terus menjadi tim papan atas Serie A.

Saya lebih setuju dengan yang Andrea Pirlo ucapkan dalam autobiografinya, I Think, Therefore I Play, bahwa tim-tim terbaik dibangun dari belakang dan pertahanan adalah bagian terpenting dari sebuah tim. Dan itu artinya, diperlukan kiper dan bek-bek tangguh, yang bisa melakukan penyelamatan bagus dan menjaga wilayahnya tetap aman. Kalau perlu, tanpa mengotori baju, seperti Paolo Maldini. Karena ketika kamu mencetak gol, tim-mu belum tentu menang. Tapi jika tidak kebobolan, sudah pasti tim-mu tidak kalah. Jadi, menang dimulai dengan berusaha tidak kebobolan.

Tulisan ini merupakan tribut untuk merayakan hari lahir Gianluigi Buffon pada 28 Januari 1978. Tulisan ini pertama dibuat pada tanggal 19 Oktober 2016, kurang dari 24 jam setelah saya menonton pertandingan Juventus melawan Olympique Lyonnais di televisi, namun baru dipublikasikan hari ini.

 

Featured Image : www.stuff.co.nz

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s