Glory For Azzurri(?)

Timnas Italia U-21 adalah salah satu timnas junior yang paling berprestasi di Eropa. Meskipun terakhir kali juara Eropa U-21 pada 2004 dengan para pemain seperti Alberto Gilardino, Andrea Barzagli, Cristian Zaccardo, hingga Daniele De Rossi, namun mereka adalah salah satu tim yang rutin ikut kejuaraan tersebut. Tercatat, sejak 2004, mereka hanya absen sekali, yaitu pada tahun 2011. Di tahun 2013, mereka hampir juara, namun kalah dari Spanyol di final, mengikuti jejak para senior mereka di final Euro 2012. Untuk kejuaraan yang hanya bisa diikuti 8 peserta, bisa dibilang Gli Azzurrini punya kualitas yang istimewa.

Mengesankan memang, apalagi bila mengingat cukup banyak tim-tim di Serie A (terutama tim-tim besar) yang jarang memainkan pemain-pemain muda. Skuad Gli Azzurrini tidak jarang berisikan pemain-pemain muda yang berlaga di Serie B atau Lega Pro (Serie C). Kalaupun mereka ada di tim Serie A, ada kemungkinan mereka jarang dimainkan. Saat Italia kalah di final Euro U-21 tahun 2013, salah satu kritik yang terlontar adalah minimnya tim-tim Serie A memberikan jam bermain kepada para pemain muda, dan malah meminjamkan mereka ke klub lain yang berada di kasta bawah. Wajar bila berpikiran seperti itu, karena para pemain Spanyol U-21 saat itu sudah banyak yang bermain di La Liga. Saat itu, bahkan David De Gea sudah juara Premier League dengan menjadi kiper inti Manchester United, sementara Luca Marrone, kapten Gli Azzurrini, hanyalah ban serep di Juventus.

Efek yang terjadi di Serie A ini juga bisa kita lihat di timnas senior Italia. Sepanjang saya mengikuti mereka, bukan hal aneh bila melihat Gli Azzurri memberikan debut pada mereka yang sudah berusia matang, atau bisa dibilang late bloomer. Bahkan bila mereka tak pernah masuk Gli Azzurrini sebelumnya, hal itu bukan masalah juga. Nama-nama seperti Enrico Chiesa, Stefano Fiore, Vincenzo Montella, Cristiano Doni, Fabio Grosso, Luca Toni, Antonio Di Natale, Marco Parolo, hingga Graziano Pelle mampu membuktikan kualitas mereka meskipun bukan seorang rising star seperti halnya Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, ataupun Francesco Totti dahulu.

Harus diakui, tidak banyak memang tempat untuk pemain-pemain muda di Gli Azzurri, terutama dalam menghadapi turnamen besar. Berbeda mungkin dengan yang dilakukan Jerman dan Spanyol. Bahkan, pada Euro 2016 lalu, seperti dilansir Juara.net, Italia mempunyai skuad dengan rataan usia 28,9 tahun. Para fans Azzurri tidak pernah heran dengan hal ini. Saat kita (udah berasa orang Italia ya, hehe) juara dunia pada 2006 lalu, Italia membawa 6 striker, dan yang termuda adalah Gilardino (24 tahun), dan ia merupakan 1 dari 5 (dari 23) pemain Italia yang berusia 25 tahun atau kurang saat itu. Rataan usia pemain saat itu pun 28,2 tahun.

Namun trend itu bisa saja berubah sejak Serie A menerapkan peraturan baru mulai musim 2016/17. Dilansir oleh FourFourTwo, setiap klub harus mempunyai 8 pemain homegrown, dengan rincian 4 pemain binaan klub dan 4 lainnya merupakan pemain yang sudah membela klub Italia manapun, baik level junior maupun senior, selama 3 tahun dalam rentang usia 15-21 tahun. Aturan ini sudah dilaksanakan pada musim 2015/16, namun baru semacam fase transisi dan resmi diterapkan pada musim ini.

Sejalan dengan hal tersebut, FIGC pun menunjuk Gian Piero Ventura sebagai allenatore baru Gli Azzurri. Ventura adalah pelatih yang sudah 40 tahun lebih berkecimpung di dunia kepelatihan, namun bisa dibilang Timnas Italia adalah tim besar pertama yang dilatihnya (tanpa mengurangi rasa hormat, ia pernah melatih klub-klub seperti Sampdoria, Napoli dan Torino, namun mereka bukanlah penantang gelar Serie A kala ia menjadi pelatih). Khawatir? Mungkin. Namun ia juga dikenal sebagai pelatih yang mampu mengorbitkan pemain-pemain muda. Hal ini mungkin disebabkan oleh pengalamannya melatih klub medioker, yang biasanya memiliki budget belanja pemain yang terbatas, sehingga mengorbitkan pemain muda bertalenta lebih gampang dilakukan.

Kemampuan Ventura inilah yang mungkin dilihat oleh FIGC. Bahkan, pada November 2016 lalu Ventura sudah pernah mengadakan training camp timnas Italia yang hanya terdiri dari 22 pemain muda, seperti Manuel Locatelli (AC Milan) dan Mattia Caldara (Atalanta). Pemusatan latihan seperti ini tampaknya akan sering terjadi selama ia menjadi pelatih. Bisa jadi, hal ini akan diterapkan oleh pelatih-pelatih Gli Azzurri selanjutnya.

Dampak dari kombinasi penunjukan Ventura dan peraturan pemain homegrown ini membuat para pemain muda lokal mulai mendapatkan kesempatan main di Serie A, bahkan hingga di timnas senior. Optimisme para pendukung Azzurri pun mulai meningkat, apalagi melihat hasil-hasil timnas yang cukup baik hingga saat ini. Tanda-tandanya pun sudah terlihat, seperti munculnya contoh prediksi dibawah ini.

img-20170130-wa0008
Siapa sih yang bikin ini? Gua aja ga kepikiran. (Foto : akun twitter @CalcioDirect)

Gambar itu dikirimkan oleh kembaran saya via Whatsapp, yang ia unduh dari Twitter. Kaget? Saya sih iya. Seumur-umur, saya belum pernah melihat ada yang seperti ini di timnas Italia. Kalo Inggris sih, pernah. Media Inggris kelihatannya suka membuat prediksi yang kelewat cepet seperti ini, tapi untuk Italia, rasanya baru sekarang ini.

Namun jika melihat komposisi pemainnya, ada beberapa poin yang membuat saya merasa prediksi ini memiliki kemungkinan akurasi yang baik. Pertama, tidak tertulis target mereka akan tampil di kejuaraan yang mana, yang artinya bisa saja ini merupakan prediksi jangka panjang dan mereka baru menjadi andalan Gli Azzurri di usia matang, mungkin saja 5-6 tahun lagi. Ingat, tidak sedikit pemain Italia yang tergolong late bloomer. Mungkin waktu paling cepat saat mereka semua ada di turnamen resmi adalah Euro 2020 nanti, dengan kombinasi beberapa pemain senior tentunya. Saya rasa tidak ada timnas yang berprestasi dengan hanya memakai kumpulan para pemain muda saja. Jerman dan Spanyol pun demikian.

Kedua, mereka semua masih berusia 25 tahun atau kurang, tapi tidak ada yang berusia dibawah 20 tahun, kecuali Donnarumma. Artinya, mereka masih muda, namun tidak kemudaan saat prediksi itu dibuat. Mereka semua pun kini bermain di Serie A, dan sebagian besar menyegel posisi inti. Silahkan cek sendiri jumlah penampilan mereka di musim ini. Sejauh ini, hanya cedera yang menghalangi mereka. Bisa jadi, peraturan baru membuat mereka akhirnya bisa tampil dan menunjukkan bahwa kualitas mereka tidak kalah dari pemain asing yang ada di Serie A.

Ketiga, mereka semua sudah merasakan tampil membela timnas Italia, baik U-21 ataupun timnas senior. Kenapa harus U-21? Fakta membuktikan, timnas Italia junior sangat kuat di level umur ini. Persentase jebolan kategori umur ini untuk menembus timnas senior pun lebih besar. Wajar, timnas Italia U-21 lah yang sering tampil di kejuaraan besar dibandingkan dengan kategori umur lainnya. Gambar diatas menunjukkan 8 pemain sudah pernah bermain untuk timnas senior, dengan 4 diantaranya sudah ikut kejuaraan besar, yaitu  Alessandro Florenzi, Marco Verratti, Federico Bernardeschi, dan Mattia De Sciglio. Sedangkan yang belum mempunyai caps senior yaitu Domenico Berardi, Mattia Caldara, dan Andrea Conti sudah menjadi langganan timnas U-21. Dua nama terakhir pun ikut dipanggil Ventura dalam training camp pemain muda Italia berkat Atalanta yang kini mulai memercayakan para pemain muda dalam skuad mereka.

11 pemain diatas hanyalah prediksi starting line-up timnas Italia di masa depan. Bisa jadi mereka akan ikut dalam turnamen yang sama, misalnya Piala Dunia 2022 atau Euro 2020. Bisa jadi formasi tersebut hanya pernah muncul di pertandingan babak kualifikasi atau persahabatan. Bisa jadi, formasi tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Wajar, pemain muda harapan Italia bukan mereka saja. Masih ada contoh-contoh seperti Mattia Perin, Matteo Darmian, Nicola Sansone, Lorenzo Insigne, Manuel Locatelli, Federico Chiesa, Stephan El Shaarawy, Marco Benassi, Stefano Sturaro, Davide Zappacosta, dan masih banyak lagi.

623411070
4 muda, 3 tua. Jarang kan melihat komposisi seperti ini di Azzurri? (Foto: gettyimages.com)

Namun prediksi ini adalah dampak dari perubahan yang dilakukan FIGC untuk sepakbola Italia yang lebih berprestasi. Perubahan ini merupakan sebuah penyegaran bagi timnas Italia. Dengan para pemain muda yang semakin banyak ditambah pemain-pemain senior yang siap membagi ilmu dan mental juara, mungkin mulai sekarang tak akan ada lagi yang berani mengatakan skuad Italia hanyalah sekumpulan pemain medioker, seperti saat Euro 2016 lalu. Toh, faktanya tim medioker itu mengalahkan Belgia yang lebih populer di mata media, mengirim pulang Spanyol, dan membuat Jerman menunggu hingga penalti ke-9 untuk lolos ke semifinal. Asalkan mereka tidak tertimpa kasus cedera parah seperti Giuseppe Rossi ataupun berulah seperti Antonio Cassano, tampaknya masa depan terlihat lebih cerah bagi Gli Azzurri. Kita lihat saja di Piala Dunia 2018 mendatang.

Tulisan ini saya buat sebagai tanggapan atas foto prediksi yang saya dapat. Akhirnya saya pun ikut-ikutan membuat prediksi. Hehe, tak apalah. Anggap saja ini sebagai sebuah harapan.

Pustaka Tulisan :

http://www.fourfourtwo.com/id/features/perubahan-peraturan-yang-bisa-menyelamatkan-sepakbola-italia-serie

http://m.juara.net/read/piala-eropa/news/148095-timnas.italia.jelek.kotor.tua.tapi.indah

Featured Image : goal.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s