Kelanjutan Salary Cap di Sepakbola Indonesia

Penunggakan gaji adalah masalah yang sering diberitakan di sepakbola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya hal ini dikarenakan ketidakselarasan antara kontrak pemain dan kemampuan finansial klub. Pemain dikontrak dengan harga ‘kemahalan’, sementara klub pada akhirnya tidak memiliki uang yang memadai. Ketidakcermatan dalam negosiasi kontrak, kegagalan mendapatkan sponsor yang bisa mengucurkan dana, hingga minimnya pendapatan dari penjualan tiket dan merchandise klub hanyalah sedikit contoh penyebab.

Memang, sejak pelarangan penggunaan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) diterapkan, klub-klub harus mandiri dalam menghidupi para pekerjanya, mulai dari pemain sampai tukang bersih-bersih sekalipun. Mereka yang terbiasa menanti dana APBD dipastikan kocar-kacir. Rajin-rajin mencari sponsor adalah salah satu cara. Namun sponsor pun belum tentu mau mendanai klub, terutama yang laporan keuangannya tidak transparan.

Penyelenggaraan Soccer Championship (ISC) tahun lalu pun tak lepas dari masalah penunggakan gaji. Contohnya seperti yang sempat dialami PS Bangka, Persiba Bantul dan Persiraja Banda Aceh. Namun, jika kita melihat lebih jauh, masalah tersebut hanya muncul di ISC B. Khusus untuk ISC A, hingga akhir kompetisi, berita tentang hal tersebut tak pernah muncul.

Bisa dibilang, kebijakan salary cap, budgeting cap, serta ancaman sanksi pengurangan poin dan diskualifikasi yang diterapkan oleh pengelola ISC tergolong berhasil, terutama di ISC A. Pembatasan pengeluaran antara 5-10 miliar rupiah per klub dan aturan gaji minimum pemain sebesar 5 juta rupiah per bulan memang terlihat hal yang biasa saja dan wajar untuk dipenuhi, apalagi jika mengetahui klub-klub ISC A kabarnya mendapat sudsidi 5 miliar rupiah per klub. Belum lagi ditambah dengan pendapatan dari rating televisi dan peringkat klasemen ISC. Jangan lupakan juga sponsor yang diperoleh klub masing-masing.

Namun, kebijakan tersebut merupakan hal yang cocok untuk menebus kesalahan manajemen keuangan klub di masa lalu. Apalagi musim-musim sebelumnya tak pernah terdengar adanya sanksi yang diberikan atas penunggakan gaji oleh klub. Dengan adanya aturan tersebut, klub-klub Indonesia pun jadi mempunyai arahan dan pedoman yang jelas dalam mengelola klub.

Dengan prinsip budgeting cap, klub bisa mengetahui kemampuan mereka di awal, sehingga dapat berpikir dengan cermat bagaimana mendapatkan dana serta menyiasati dana yang tersedia mampu untuk menjalankan operasional klub setiap musimnya, mulai dari gaji, sewa stadion, hingga akomodasi. Jika mereka ingin menembus angka budgeting cap yang maksimum, itu artinya mereka harus mencari sponsor sebanyak-banyaknya, menjual tiket dan merchandise sebanyak mungkin, sehingga bisa mengontrak pemain bagus yang harganya mungkin tidak murah namun tetap dalam anggaran. Atau, mereka yang sadar akan keterbatasan kemampuan finansial bisa mengontrak pemain-pemain muda atau mempromosikan pemain akademi (jika punya), yang biasanya harganya masih murah. Intinya, klub jadi sadar diri.

Begitu juga dengan salary cap. Hal ini sangat berguna bagi klub-klub untuk mengatur nilai kontrak pemain dengan kondisi ekonomi terkini klub. Hal ini untuk menghindari pemain yang dibayar terlalu murah atau pun terlalu mahal. Berbeda dengan Major League Soccer (MLS) yang mempunyai batas atas dan bawah untuk nominal gaji serta total maksimum dana klub yang bisa digunakan untuk menggaji pemain, ISC tahun lalu hanya menerapkan batas gaji minimum saja. Namun dengan bantuan budgeting cap, nilai maksimum gaji pemain dengan sendirinya bisa terkontrol, sehingga hasilnya pun tidak jauh berbeda dengan MLS. Salah satu tujuan aturan pembatasan gaji di MLS pun adalah untuk menjaga kondisi keuangan klub agar tetap stabil.

nycfcrecap-400482295
Ngikutin MLS? Gapapa, asal keuangan klub-klub sehat. (Foto : http://www.vavel.com)

Dua aturan tersebut, ditambah dengan penerapan sanksi pengurangan poin, seperti yang sudah sering diterapkan di sepakbola profesional Eropa, dapat menjadi kombinasi yang pas dalam mencegah terjadinya penunggakan gaji di sepakbola nasional. Memang dalam penerapannya akan berbeda dengan MLS. MLS punya segudang aturan terkait dengan urusan gaji pemain ini, mulai dari designated player, allocation money, hingga generation adidas yang belum tentu bisa dijalankan di Indonesia. Namun budgeting cap dan salary cap yang sudah dijalankan dalam ISC berhasil menjadi contoh bahwa aturan ini bisa terus diterapkan di Indonesia, tentu dikombinasikan dengan peraturan-peraturan lain seperti pengawasan keuangan klub secara rutin, transparansi kontrak, dan masih banyak lagi agar tetap berjalan dengan semestinya.

Kalaupun ada masalah dalam pembayaran gaji pemain seperti yang terjadi di beberapa klub peserta ISC B, menurut saya itu dikarenakan tidak adanya kekuatan dana dari pihak klub. Bisa jadi, klub-klub tersebut kesulitan mencari sponsor, manajemennya bermasalah, atau bisa jadi hanya mengandalkan dana subsidi yang diberikan operator ISC, yang ternyata tidak cukup untuk operasional klub selama kompetisi. Apalagi ISC B juga tidak mendapat hak siar televisi, sehingga dana yang didapat tak sebanyak klub partisipan ISC A.

Selain itu, kelemahan dalam budgeting cap dan salary cap adalah semakin sulitnya sebuah klub untuk memiliki banyak pemain bintang (yang biasanya bergaji mahal) dan juga membuat para pemain asing yang bergaji mahal jadi sedikit enggan untuk datang ke Indonesia karena melihat mereka tak bisa dibayar sesuai keinginan mereka. Namun, dengan terbatasnya sebuah klub memiliki pemain top dalam jumlah banyak, kualitas antar klub pun menjadi tidak begitu senjang, sehingga liga menjadi lebih kompetitif dan menarik. Lagipula, ada peraturan pembatasan pemain asing di Liga 1, jadi buat apa mengontrak pemain asing banyak-banyak?

Saya menyukai konsep salary cap dan budgeting cap ini. Untuk kondisi sepakbola kita yang sempat bermasalah dalam urusan gaji, aturan ini terasa tepat. Saya juga berharap aturan ini dicoba untuk dijalankan selama beberapa tahun ke depan di Liga 1 dan Liga 2, sampai semua klub-klub Indonesia menjadi benar-benar profesional dan stabil secara keuangan. Jika itu sudah terjadi, mungkin saja di masa depan aturan ini tidak perlu dijalankan lagi.

Namun bisa saja aturan ini tetap dipakai dan level salary cap dan budgeting cap ini meningkat, sehingga besaran gaji minimum para pemain pun meningkat, seperti kompetisi basket NBA. Klub pun bisa terus memperbaiki infrastrukturnya. Dampak lainnya, bisa saja pemain asing yang datang ke Indonesia kualitasnya jadi lebih baik dari saat ini. Tapi yang terpenting saat ini adalah keuangan klub yang stabil, gaji yang layak untuk seluruh personel klub terbayarkan, dan semua pihak pun senang, dimana hal tersebut bisa ditawarkan oleh konsep salary cap dan budgeting cap.

Hanya saja, yang menjadi sorotan saya adalah pada ISC lalu klub-klub mendapat subsidi dalam jumlah besar dari operator kompetisi, plus tambahan-tambahan lainnya dari sponsor, rating televisi, hingga bonus peringkat klasemen. Apakah subsidi itu juga akan didapatkan oleh klub-klub nantinya di Liga 1 dan Liga 2? Jika iya, apakah sebesar saat ISC kemarin? Jika kurang atau bahkan tidak ada, artinya klub-klub harus benar-benar serius berusaha mendapatkan sponsor agar kasus keterlambatan gaji pemain tidak terulang lagi. Karena jika klub-klub tidak punya sumber finansial yang memadai untuk operasional klub, mau sebagus apapun peraturannya, tidak akan ada gunanya.

Semoga, aturan budgeting cap dan salary cap ini tidak berhenti di ISC saja.

Jika ingin tahu bagaimana konsep salary cap di MLS, dibawah ini ada video yang bisa sedikit menjelaskan.

Pustaka Tulisan :

http://www.bola.com/indonesia/read/2296196/salary-cap-standarisasi-masa-depan-sepak-bola-indonesia

http://www.fourfourtwo.com/id/features/mengapa-tak-ada-kasus-tunggakan-gaji-di-isc-a

http://www.bola.com/indonesia/read/2602016/2-kasus-tunggakan-gaji-mengoyang-kompetisi-isc-b-2016

https://en.wikipedia.org/wiki/Salary_cap

http://pressbox.mlssoccer.com/content/roster-rules-and-regulations

http://www.cnnindonesia.com/olahraga/20150105150036-142-22461/dilema-salary-cap-di-pentas-mls/

http://www.viva.co.id/bola/read/760672-terungkap-angka-gaji-minimal-dan-maksimal-di-isc

Featured Image : www.indonesiansc.com

Advertisements

2 thoughts on “Kelanjutan Salary Cap di Sepakbola Indonesia

  1. Cukup senang sih mendengar kabar kalau tim-tim TSC sudah nggak ada yang nunggak gaji lagi. Saya rasa klub-klub Indonesia sudah cukup bagus perkembangannya. Contoh yang paling keliatan adalah Bali United yang pengelolaannya sudah mengikuti klub-klub eropa. Semoga klub-klub lain bisa segera mengikuti.

    Liked by 1 person

    1. Iya mas, semoga penunggakan gaji ga kejadian lagi. Biar pemain2nya ga kasian kaya dulu lagi. Iya, saya juga terkesan waktu baca cerita tentang bali united. Pengelolaannya keliatannya bagus dan bisa dicontoh klub lain.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s