Magnifico, Marco!

Jika anda bertanya, apa yang saya ingat pertama kali jika mendengar nama Marco Parolo, itu adalah sundulannya yang membentur mistar gawang saat Italia melawan Swedia di Euro 2016.

Ya, salah satu cara mengingat seorang pemain sepakbola adalah dengan mengingat momen yang ia alami, baik itu sebuah kesuksesan maupun kegagalan. Seperti halnya ada yang mengingat Marco Van Basten karena gol spektakulernya ke gawang USSR di final Euro 1988 ataupun Roberto Baggio karena penaltinya yang melambung di final Piala Dunia 1994. Perspektif tiap orang berbeda tentunya, karena mungkin saja ada yang mengingat Baggio ketika ia mengangkat trofi Piala UEFA 1993. Siapa yang tahu, kan?

Agak aneh memang cara saya mengingat Parolo, karena pertandingan tersebut bukanlah pertandingan yang begitu penting, ‘hanya’ sekedar penyisihan grup E Euro 2016. Padahal jika diperhatikan,  masih banyak yang bisa diingat darinya, misalnya dua golnya saat melawan AC Milan di musim 2014-15. Sekali lagi, tiap orang tentu berbeda memorinya.

Namun kelihatannya mulai sekarang para penikmat liga Italia bisa mengingatnya dengan cara baru, yaitu sebagai gelandang yang pernah mencetak quattrick di Serie A. Ya, ia berhasil melakukannya saat Lazio menghantam Pescara 6-2 pada 5 Februari lalu, tiga gol diantaranya diciptakan lewat sundulan. Saya pun kaget sekaligus kagum saat melihat namanya 4 kali di daftar pencetak gol Lazio melalui aplikasi Livescore.

633908426
Eh Ciro, bisa ga lu bikin quattrick kaya gua? (Foto : fantamagazine.com)

Jarang-jarang seorang gelandang di Serie A mencetak 4 gol dalam satu pertandingan. Mencetak 4 gol dalam satu pertandingan Serie A saja bukanlah pekerjaan yang mudah untuk para striker, apalagi untuk seorang gelandang. Dries Mertens saja baru berhasil mencetak quattrick saat ia diplot sebagai penyerang tengah oleh Maurizio Sarri, allenatore Napoli. Lagipula, tidak ada seorang pemain pun yang pernah berpikir akan mencetak 4 gol dalam satu pertandingan, bukan? Bisa mencetak 1 gol tiap pertandingan saja sudah sangat bagus.

Parolo pun kini masuk ke dalam klub Quattrick Serie A, bersama dengan  nama-nama hebat seperti Christian Vieri, Cristiano Lucarelli, Alberto Gilardino, Domenico Berardi, Roberto Baggio, Marco Van Basten, dan masih banyak lagi.

Merangkak Dari Bawah

Tidak semua pemain hebat Italia memiliki nasib seperti Francesco Totti yang berguru di akademi Roma sejak kecil, ataupun tercium bakatnya sejak usia muda seperti halnya Andrea Pirlo dan Fabio Cannavaro. Tidak pula direkrut oleh tim besar sejak usia muda, seperti halnya Gennaro Gattuso. Ya, Parolo tidak bernasib seperti itu. Saya berpikir perjalanan karirnya lebih mirip seperti pahlawan Italia di Piala Dunia 2006, Fabio Grosso.

Ya, seperti Grosso, Parolo adalah salah satu pemain timnas Italia yang menapaki karirnya sepakbola profesionalnya dari level bawah. Ia memulai karirnya di usia 19 tahun dari Serie C1 dan terus bermain di kasta tersebut selama 5 musim. Selama itu, ia berganti klub selama 4 kali, yaitu Como (2004-05), Pistoiese (2005-07), Foligno (2007-08) dan Hellas Verona (2008-09). Sebenarnya, sejak 2005, Parolo sendiri dimiliki oleh Chievo Verona, namun usianya yang masih muda dan tentunya demi menambah jam terbang, ia dipinjamkan ke klub-klub tersebut, sebagian besar melalui praktek co-ownership, peraturan yang kini telah dihapus dari sepakbola Italia. Meskipun dimiliki Chievo, namun kenyataannya ia tak pernah sekalipun bermain untuk tim berjuluk ‘keledai terbang’ tersebut.

immagini-quotidiano-net
Bermain di Foligno membuka jalannya untuk ke Cesena. (Foto : lanazione.it)

Selama 5 musim di Serie C1, ia benar-benar mendapatkan menit bermain yang cukup. Kemampuannya berhasil membuatnya dipercaya para pelatihnya. Total, selama 5 musim ia bermain sebanyak 148 kali, sebagian besar menjadi pemain inti, dan mencetak 13 gol.

Parolo baru ‘naik kasta’ setelah Cesena merekrutnya pada Juli 2009. Di petualangan barunya di Serie B, ia pun bereuni dengan mantan pelatihnya di Foligno, Pierpaolo Bisoli, yang memang sudah mengenal kemampuannya. Cesena sendiri merupakan tim promosi di Serie B kala itu, sehingga wajar bila merekrut pemain dari Serie C1 seperti Parolo. Namun hanya perlu semusim bagi Cesena dan juga Parolo untuk berada di Serie B, karena di akhir musim 2009-10 Cesena berhasil finish di posisi dua klasemen, memperoleh tiket promosi ke Serie A. Total, Parolo bermain sebanyak 36 kali dan mencetak 5 gol.

Sejak membawa Cesena promosi, tak ada lagi yang namanya kasta bawah untuk Parolo. Cesena boleh saja terdegradasi ke Serie B pada tahun 2012, namun Parolo tetap bertahan di Serie A sampai sekarang. Ya, kemampuannya sebagai gelandang kelas atas di Italia kini sudah terlalu bagus jika hanya bermain di Serie B, apalagi Lega Pro (nama baru Serie C).

parolo_lazio
Ban kapten Cesena melingkar di lengan. (Foto : sportromagna.blogspot.co.id)

Yang paling mengesankan, selama ia bermain di Serie A, ia juga menjadi pemain inti, baik bersama Cesena (2010-12), Parma (2012-14), hingga Lazio (2014-sekarang). Sering menjadi pemain inti sejak berkarir di Serie C1 hingga di Serie A tentu menunjukkan konsistensi luar biasa yang dimiliki Parolo. Di musim terakhirnya bersama Parma, ia berhasil membawa Gialloblu lolos ke Liga Europa, meskipun dianulir oleh FIGC karena masalah administrasi keuangan. Di musim pertamanya bersama Lazio, ia membawa Biancoceleste menembus final Coppa Italia (kalah dari Juventus) dan merebut tiket ke Liga Champions, meskipun juga kalah di babak play-off dari Bayer Leverkusen. Kerja keras dan konsistensinya pun akhirnya mendapatkan ganjaran yang setimpal : panggilan untuk membela timnas Italia.

Protagonis Gli Azzurri

Parolo pertama kali mendapat debut pada 2011, di usia 26 tahun, saat melawan Ukraina, menggantikan Claudio Marchisio di menit 88. Ia akhirnya mulai mendapatkan panggilan reguler sejak musim keduanya di Parma. Selain membawa Parma ke peringkat 6 di musim terakhirnya, ia pun akhirnya ikut serta ke Piala Dunia 2014. Praktis, sejak saat itu, satu slot di Gli Azzurri seolah menjadi miliknya.

Sejak membela Lazio, ia menjadi langganan timnas. Dari total caps sebanyak 29 kali sampai saat ini, 23 diantaranya berstatus sebagai pemain Lazio. Ia pun ikut serta di Euro 2016. Memang, gaya mainnya yang cukup versatile di lini tengah, kuat di udara, mau membantu pertahanan, mampu menginisiasi penyerangan, serta dapat mencetak gol sangat sesuai dengan kriteria yang disukai Antonio Conte, pelatih Italia dulu yang sangat menuntut para pemainnya untuk bekerja keras dan menyukai pemain yang serba bisa. Beruntung bagi Parolo, kerja keras memang ada dalam kamusnya. Meskipun, gaya mainnya juga tergolong agresif. Sejak tahun 2005 hingga laga terakhir Serie A melawan Pescara, sudah 94 kartu kuning dan 1 kartu merah ia terima, baik di klub ataupun timnas. Namun, catatan itu tak membuat para pelatihnya mengesampingkannya. Mereka tahu Parolo bukan pemain gegabah dan catatan 1 kartu merah yang ia terima sepanjang karirnya menunjukkan hal tersebut.

01da5082aebac1e7d4b875712c2aae54
Manuel Neuer aja ga bisa nepis tendangan penalti dia. (Foto: pinterest.com)

Bahkan di era Gian Piero Ventura yang sangat menyukai para pemain muda, pemain berusia 32 tahun ini masih punya tempat. Bersama dengan para senior Azzurri lainnya seperti Gianlugi Buffon dan Daniele De Rossi, ia tentu diharapkan dapat membangun kombinasi tua-muda yang baik di timnas Italia, terutama dalam menghadapi Piala Dunia 2018 nanti yang, jika tak ada halangan, kemungkinan akan menjadi turnamen besar terakhirnya. Namun nasib orang siapa yang tahu. Jika ia terus konsisten bermain seperti saat ini, bukan tidak mungkin ia terus mendapat panggilan dari timnas Italia hingga usia senja dan suatu saat nanti bisa membantu klubnya ataupun timnas Italia meraih gelar juara, sesuatu yang ia tidak punya sampai sekarang.

Namun, terlepas dari itu semua, marilah kita mengucapkan selamat kepada Parolo atas konsistensinya sebagai pemain profesional, dan juga atas quattrick yang ia cetak ke gawang Pescara.

Magnifico, Marco!

Featured Image : sportal.co.in

Pustaka Tulisan :

http://int.soccerway.com/players/marco-parolo/94345/

http://www.italianfootballdaily.com/sebastian-giovincos-exclusion-contes-azzurri-truly-looking-facts/

http://www.football-italia.net/51529/parolo%E2%80%99s-point-prove

http://www.gazzetta.it/Calcio/Serie-A/Lazio/05-02-2017/parolo-entra-ristretto-club-poker-grandi-calcio-180706856069.shtml?refresh_ce-cp

https://en.wikipedia.org/wiki/Marco_Parolo

http://www.bbc.com/sport/football/38875127

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s