Amarah Yang Salah Sasaran

Periode September 2016 lalu, kita masih ingat adanya sekelompok suporter Borussia Dortmund yang menolak untuk datang mendukung tim kesayangan mereka kala bertandang ke kandang RasenBallsport (Red Bull) Leipzig pada pekan ke-2 Bundesliga musim ini. Alasannya? Karena mereka tidak mau membayar tiket untuk klub yang dianggap telah ‘mencederai asas olahraga’. Meskipun, tidak semua suporter Dortmund bersikap seperti itu karena tiket untuk suporter pendukung Dortmund pun nyatanya terjual habis. Ya, hanya ’sekelompok’ suporter yang menolak hadir, bukan semuanya.

RB Leipzig memang musuh nomor satu di Bundesliga saat ini. Mereka pun dianggap hanya sebagai sebuah alat pemasaran Red Bull, minuman berenergi yang terkenal di seluruh dunia. Seandainya mereka berkompetisi di negara lain, mungkin mereka tidak akan menghadapi hinaan seperti ini. Seperti yang kita tahu, sepakbola Jerman memang terkenal dengan sistem 50+1, dimana angka tersebut merupakan total persen saham yang harus dimiliki oleh pihak klub demi mencegah terjadinya kepemilikan tunggal ataupun dikuasai oleh korporasi swasta. Jumlah saham non-komersil tersebut biasanya dimiliki oleh anggota klub yang bisa sampai berjumlah ratusan ribu orang. Wajar, karena para anggota ini juga sebenarnya merupakan fans klub tersebut. Para anggota ini pun memiliki hak voting untuk menentukan keberjalanan klub.

Kondisi seperti inilah yang tidak dialami Leipzig, dan hal tersebut membuat mereka dibenci seantero negeri. Memang mereka masih mengikuti aturan 50+1 tersebut, namun mereka terlihat seperti ‘mengakali’ aturan tersebut. Biaya keanggotaan yang mahal, jumlah anggota dengan hak voting hanya sebanyak 17 orang, ditambah kenyataan bahwa semua anggotanya adalah pegawai Red Bull tentu membuat geram publik sepakbola Jerman yang tidak suka dengan kebijakan Leipzig. Dortmund pun adalah salah satu pihak yang terang-terangan mengkritik hal ini.

Namun sebesar apapun kebencian publik sepakbola Jerman pada Leipzig, tentunya bukan berarti mereka diperbolehkan melampiaskan kebencian dengan cara kekerasan. Sayangnya, hal ini terjadi.

Pada pertemuan kedua Dortmund dan Leipzig di Bundesliga pada 4 Februari lalu, saat Dortmund bertindak sebagai tuan rumah, terjadi aksi penyerangan yang dilakukan sejumlah suporter Dortmund kepada para suporter Leipzig yang datang untuk mendukung langsung Die Roten Bullen. Kabarnya, mereka tidak berhasil menyerang bus tim Lepizig karena dijaga ketat polisi. Sebagai gantinya, mereka menyerang fans Leipzig. Aksi ini mengakibatkan sejumlah korban luka-luka dari pihak suporter Leipzig. Dilansir oleh espnfc.com, sebanyak 28 suporter Dortmund ditahan atas kerusuhan itu, dan penyelidikan lanjutan masih dilakukan untuk mencari tersangka-tersangka baru.

35fe01d4c08c4196d102e54683808d36e9a8509652136879da85b11990a40040
Tangkep aja pak yang rusuh-rusuh! (Foto: thelocal.de)

Selain itu, puluhan spanduk anti-Leipzig dibentangkan di stadion dan para pemain Leipzig beberapa kali disorot wajahnya oleh sinar laser, seperti yang pernah dialami kiper Malaysia, Sharbinee Allawee, saat menghadapi Indonesia di pertandingan Piala AFF 2010. Untuk suporter klub sekelas Dortmund, tindakan ini tentu disayangkan dan menuai banyak kecaman, termasuk dari pihak klub Dortmund sendiri. Padahal, suporter Dortmund sendiri sedang dalam masa percobaan setelah kerusuhan yang mereka lakukan di final DFB-Pokal 2016 lalu. Bisa jadi aksi kali ini akan menimbulkan sanksi yang lebih besar lagi untuk mereka.

Kritik yang datang pun bukan hanya untuk suporter, namun juga untuk pihak klub sendiri. Dortmund dikritik oleh pihak kepolisian karena membiarkan spanduk-spanduk bernada provokasi masuk ke dalam stadion. Selain itu CEO Dortmund, Hans-Joachim Watzke juga dikritik akibat perkataannya di awal musim ini. Saat itu, ia menganggap Leipzig hanyalah cara pemasaran baru dari Red Bull. Perkatannya terhadap Leipzig, yang dalam bahasa Inggris berarti ‘play football to perform for cans of drink’ bisa saja dianggap sebagai ‘lampu hijau’ bagi suporter garis keras Dortmund. Tak masalah untuk membenci Leipzig, karena bos kita pun juga demikian. Kalimat itu bisa saja terpikirkan oleh para suporter Dortmund. Kalo sudah begini, anda juga yang repot kan, Herr Watzke?

***

Kerusuhan antar suporter berlatar kebencian seperti ini memang sudah sering terjadi, namun tetap saja tak bisa dibenarkan. Apalagi jika aksi kekerasan ini hanya terjadi sepihak, dalam artian hanya suporter Dortmund-lah yang menyerang, tanpa ada balasan dari suporter Leipzig. Karena jika kita membaca berbagai macam situs yang memberitakan kejadian ini, kelihatannya seperti itulah yang terjadi.

Kerusuhan yang berlatar belakang kebencian pun biasanya tidak pernah punya alasan yang masuk akal. Termasuk yang dilakukan para suporter Dortmund ketika menyerang suporter Leipzig. Apa salah suporter Leipzig? Apakah mendukung sebuah klub adalah kesalahan? Tentu tidak. Apalagi para suporter ini datang jauh-jauh dari timur Jerman untuk bertamasya dengan cara menonton sepakbola. Tidak hanya pria dewasa, mereka juga terdiri dari keluarga, wanita dan anak-anak. Apa itu cara sebuah penduduk kota menyambut para pelancong yang datang? Tentu tidak. Sayangnya, sekelompok suporter Dortmund tidak bisa berpikir sejernih itu.

Padahal, para suporter Dortmund itu salah sasaran. Buat apa marah terhadap pemain dan suporter Leipzig? Para pemain Leipzig hanya menjalani karir sepakbola mereka. Dan selama mereka menjadi pemain, mereka tentu mencari klub yang bisa membantu perkembangan karir mereka. Bila itu adalah Leipzig, maka jadilah. Suporter pun demikian. Mereka tinggal di Leipzig, lalu ada klub baru yang bisa berprestasi, membawa nama kota mereka, permainannya pun menghibur, dan mereka suka, kenapa tidak didukung? Mereka juga punya hak untuk bersenang-senang menikmati pertandingan sepakbola kan? Mereka juga ingin punya klub yang berlaga di Bundesliga, bukan di divisi 5.

2bac07ad00000578-3211317-image-a-4_1440584096109
Kami sudah biasa dicaci maki! (Foto: dailymail.co.uk)

Saya bukanlah pendukung Leipzig, karena saya menyukai sistem 50+1 yang mereka ’langgar’, selain sistem salary cap tentunya. Saya menyukai sistem-sistem yang bertujuan untuk menjaga kestabilan finansial sebuah klub sepakbola. Namun diluar itu semua, menurut saya alasan Leipzig dibenci publik sepakbola Jerman, khususnya suporter Dortmund adalah karena mereka adalah pendatang baru yang sedang menggoyang hegemoni klub-klub besar Jerman. Meskipun ada yang bilang bahwa ini adalah kebencian klub-klub asal Jerman barat yang tidak suka jika klub asal Jerman timur menguasai Bundesliga, namun saya tidak percaya teori itu.

Dimana-mana, tidak ada yang suka bila tiba-tiba ada ‘klub kaya baru’ datang dan langsung berprestasi, mengalahkan klub-klub ‘tradisional’ yang selama ini menguasai liga. Lihat saja Chelsea pada 2003 lalu, betapa mereka tidak disukai. Menurut saya kasus Leipzig kali ini pun sama. Hanya saja, sekelompok suporter Dortmund bersikap kelewatan dalam menghadapi situasi ini.

Buktinya, TSG Hoffenheim yang mirip statusnya seperti Leipzig pun adem-ayem saja. Padahal mereka lebih dulu ada di Bundesliga ketimbang Leipzig. Memang mereka pun dikecam, namun apakah sampai seheboh Leipzig sekarang ini? Rasanya tidak. Buat apa mempermasalahkan klub yang kerjanya selama ini cuma bertahan di papan tengah Bundesliga?

Kepada yang terhormat, para suporter Dortmund yang ricuh pada Sabtu lalu, jika kalian ingin marah, jangan kepada RB Leipzig. Marahlah pada klub kesayangan kalian, kalo perlu pada CEO kalian itu, kenapa klub kalian bisa kalah sama klub yang cuma dibuat untuk pemasaran minuman berenergi itu dan berperingkat lebih rendah dari mereka saat ini. Padahal klub kesayangan kalian adalah klub yang berasas sepakbola. Sekali lagi, kalian salah sasaran.

Ya, karena jika Dortmund juara terus tiap musimnya, seperti yang dilakukan rival mereka, Bayern, maka saya yakin para suporter Dortmund itu tidak akan peduli pada Leipzig, seperti sekarang ini.

* Akhirnya Dortmund pun didenda 100 Ribu Euro oleh DFB, federasi sepakbola Jerman. Salah satu tribun berdiri di Signal Iduna Park pun dikosongkan selama 1 pertandingan sebagai bagian dari hukuman.

Featured Image : espnfc.com

Advertisements

2 thoughts on “Amarah Yang Salah Sasaran

  1. Kecewa sih, suporter Dortmund yang katanya salah satu suporter terbaik di eropa itu ternyata malah melakukan aksi yang tidak terpuji. Padahal RB Leipzig juga sebenarnya tak terlalu jor-joran di bursa transfer. Dibanding Chelsea atau Man. City, menurut saya mereka lebih seperti Tottenham Hotspur yang sukses berkat kejelian pelatihnya dan kecerdasan tim scouting mereka yang berhasil mendapatkan pemain-pemain muda potensial.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s