Get Up, Foxes!

Dongeng indah Leicester City musim lalu sudah tak berbekas lagi. Setidaknya hal tersebut terucapkan langsung dari kiper andalan The Foxes sendiri, Kasper Schmeichel. Ia sadar bahwa performa timnya di premier league musim ini sudah merosot jauh. Siapa yang menyangka bahwa Leicester, sang juara bertahan, kini berada di posisi 16 dan hanya selisih satu poin di atas zona degradasi (sampai pekan 24)? Saya yakin tidak ada. Padahal, musim lalu, di periode yang sama, mereka ada di posisi pertama klasemen. Kondisi Leicester saat ini seolah mengulang perjalanan mereka di musim 2014-15, saat mereka juga harus berjuang hingga pekan 37 untuk memastikan mereka benar-benar aman dari jeratan klasemen.

From hero to zero. Itulah kalimat yang saya akan lontarkan bila bertemu Jamie Vardy atau pemain Leicester lainnya di jalanan (entah jalanan mana). Bagaimana mungkin mereka bisa merosot seperti sekarang ini? Bahkan di tahun 2017 ini mereka belum mencetak gol sama sekali di premier league.

Sudah banyak analisis yang muncul mengenai penurunan performa mereka. Mulai dari segi taktik, Claudio Ranieri dianggap masih tetap memainkan gaya permainan yang sama, namun tidak menggunakan pemain yang tepat. Hal ini kemungkinan besar disebabkan pindahnya N’golo Kante pada musim panas lalu.

Pihak klub juga dianggap gagal melakukan pembelian yang bagus untuk menambal kepergian Kante. Pemain-pemain baru Leicester belum bisa beradaptasi dengan baik dalam taktik Ranieri dan belum memberikan dampak yang signifikan. Sebagian masih jarang dimainkan, contohnya saja Bartosz Kapustka. Bahkan Luis Hernandez sudah dijual lagi.

Belum lagi jika melihat penurunan performa pemain-pemain Leicester yang musim lalu bermain cemerlang, seperti Danny Drinkwater, Riyad Mahrez, Robert Huth, Wes Morgan, dan Vardy. Saya menganggap bahwa permainan bagus mereka disebabkan adanya Kante disekitar mereka. Begitu ia keluar, pemain yang bertugas menambal Kante tidak bisa melakukan tugas sama baiknya. Memang, pemain bagus tidak akan berkembang bila tidak didukung pemain bagus lainnya.

a-espncdn-com
Para bek ini pasti merindukan Kante. (Foto: espnfc)

Kondisi negatif Leicester ini diperparah dengan isu kondisi ruang ganti yang tidak sedap. Apalagi sebelum bursa transfer Januari berakhir tersiar kabar kekecewaan Leonardo Ulloa yang dilarang pindah oleh pihak klub, dalam hal ini Ranieri. Hal ini semakin membuat runyam.

Agar kondisi negatif di Leicester bisa berakhir, Signor Ranieri sebagai manajer harus bisa merangkul para pemainnya. Ia harus bisa mengangkat moral para pemain Leicester yang sedang jatuh, dan bersama mengangkat Leicester ke papan tengah. Ia pun harus bisa menyelesaikan perselisihan di ruang ganti, jika memang ada.

Itu baru dari sisi personal. Dari segi taktik, ia tentu harus bisa kembali menemukan strategi baru agar permainan Leicester membaik dan hasil-hasil buruk bisa segera berakhir. Tentu saja ia sudah melakukannya sejak awal musim, tapi toh nyatanya hasilnya belum memuaskan.

Mumpung masih ada 14 pekan tersisa, dan dimulai dengan melawan Swansea di pekan 25, Ranieri harus bisa membuat para pemainnya menampilkan permainan sebagus musim lalu dan tentunya, meraih kemenangan di liga. Apalagi sudah ada modal positif berkat kemenangan atas Derby County di Piala FA yang harus dijadikan momentum oleh skuad The Foxes. Tentu mereka tidak ingin kemenangan itu hanya sekedar ‘numpang lewat’ saja kan?

Untung saja, sebagian para pemain Leicester yang ada di musim 2014-15 masih ada sampai sekarang. Sehingga mereka sudah punya pengalaman dan tahu bagaimana caranya keluar dari masalah ini, meskipun kali ini tidak ada jaminan berhasil tentunya.

***

Ranieri harus berhasil. Setidaknya itulah pendapat saya. Tidak ada kata tapi, karena jika gagal dan Leicester terdegradasi, bisa saja ia kehilangan pekerjaannya di akhir musim (atau lebih cepat). Atau yang lebih parah, ia harus berjuang membawa Leicester kembali promosi dengan skuad yang mungkin jauh lebih lemah. Kenapa?

Kita tahu bahwa media sudah membocorkan salah satu klausul kontrak para pemain, dimana mereka semua akan mengalami pemotongan gaji sebesar 40% dari yang mereka terima saat ini bila terdegradasi. Kondisi ini pun berlaku untuk para pemain baru. Para pemain Leicester tentu tahu hal ini. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah para pemain mau bertahan jika Leicester bermain di divisi championship? Apakah mereka mau menerima pemotongan gaji? Apakah Mahrez mau? Bagaimana dengan Christian Fuchs? Islam Slimani? Ron-Robert Zieler?

31be47a200000578-3471820-image-a-16_1456865976821
Cepat cetak gol kalau tidak mau dipotong gaji! (Foto: dailymail)

Untuk kali ini, saya sedikit meragukannya. Memang beberapa pemain Leicester sudah membela The Foxes sejak masih di kasta bawah, seperti Andy King, Schmeichel, Drinkwater, Morgan, dan Vardy. Namun saat ini sebagian besar sisanya adalah pemain yang bergabung saat Leicester sudah menjadi tim premier league. Tentu tidak semua pemain memiliki loyalitas tinggi seperti Andy King. Jika ada tawaran yang menarik, gaji yang baik, dan tetap bermain di premier league atau level teratas kompetisi Eropa lainnya, bisa saja mereka akan mempertimbangkannya.

Hal ini juga berlaku untuk para pemain seperti Vardy dan kawan-kawan yang sudah membela Leicester sejak di kasta bawah. Bisa saja saat ini mereka tidak mau bermain di Championship lagi. Daripada bertahan dan dipotong gajinya, lebih baik pindah bila ada tawaran menarik. Bila sudah begini, Ranieri sendiri yang repot. Oleh karena itu, sebelum terlambat, lebih baik Ranieri memperbaiki cara bermain dan mental anak asuhnya. Jika para pemain tetap ingin pindah musim depan, setidaknya mereka sudah menyelamatkan Leicester.

Jika Ranieri berhasil membuat Leicester bertahan di premier league, ia masih bisa memperbaiki skuadnya untuk musim depan dengan membawa para pemain baru berkualitas baik seandainya para pemain bintangnya memutuskan hengkang. Namun bila sudah berada di divisi championship, tentu pillihan pemain yang bersedia bergabung semakin sedikit, apalagi gaji yang diterima pemain baru tersebut tidak akan sebesar jika bermain di premier league. Jika sudah begini, perjuangan untuk promosi bisa lebih berat bagi Leicester, siapapun pelatihnya. Ingat, divisi championship adalah liga yang keras, menguras tenaga (46 pertandingan tiap klub!), dan relatif seimbang. Tidak banyak klub yang baru terdegradasi bisa langsung promosi kembali di musim berikutnya.

Semoga saja The Foxes bisa segera bangkit meraih kemenangan. Semoga Ranieri tidak dipecat dan bisa membawa Leicester bertahan. Semoga saja dongeng indah Leicester akhir musim lalu tidak berubah menjadi mimpi buruk di akhir musim ini. Ranieri tentu tidak mau sejarah sepakbola mencatat namanya sebagai pelatih yang membawa sebuah tim juara liga di satu musim dan terdegradasi di musim berikutnya kan?

Waktunya bangun, Leicester!

*Sayangnya, Ranieri harus berhenti dari pekerjaannya sebelum musim berakhir. Dengan pelatih baru, mungkinkah mereka bertahan di Premier League? Kita lihat saja.

Featured Image : europe.newsweek.com

 

Advertisements

2 thoughts on “Get Up, Foxes!

  1. Saya cukup yakin Leicester akan bertahan di PL. Mereka cukup berpengalaman menghadapi situasi semacam ini. Musim 14-15 mereka bahkan lebih banyak berada di posisi juru kunci sampai akhirnya secara ajaib memenangkan beberapa pertandingan terakhir.Kemarin saya abis baca, ada pandit yg memprediksi klo 3 tim yg akan terdegradasi adl Bournemouth, Palace, & Sunderland. Kayaknya saya setuju dengan prediksi tsb.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s