NDRC, Alat Perbaikan Sepakbola Nasional (?)

Pada awal Februari ini kita mendengar berita mengenai sanksi larangan bermain selama 4 bulan yang diterima oleh pemain Bayer Leverkusen dan timnas Turki, Hakan Calhanoglu. Akibatnya, ia tidak bisa memperkuat klubnya sampai akhir musim ini. Timnas Turki pun tidak bisa memakai jasanya dalam beberapa pertandingan. Hakan dijatuhi hukuman tersebut karena, ketika masih memperkuat Karlsruher, ia dianggap melanggar kesepakatan kontrak dengan Trabzonspor. Bukannya pindah ke liga Turki, ia malah memperpanjang kontraknya bersama Karlsruher, padahal ia sudah menerima uang sebesar 100 ribu Euro dari Trabzonspor. Sanksi itu sendiri diberikan oleh pengadilan arbitrase olahraga, atau dikenal  sebagai Court of Arbitration for Sport (CAS).

Jika kita suka membaca berita mengenai kisruh mengenai transfer dan kontrak pemain sepakbola, utamanya jika pihak-pihak yang berseteru berbeda asal negara, maka biasanya mereka membawa kasus tersebut ke pengadilan olahraga yang satu ini. Ya, CAS memang bertujuan untuk menyelesaikan sengketa yang berkaitan dengan olahraga. Jadi, bukan hanya sepakbola saja, namun juga cabang-cabang lainnya. Jenis kasus yang masuk pun beragam, termasuk kasus doping para atlet. Kasus-kasus yang masuk CAS biasanya bersifat internasional. Namun kasus-kasus lokal juga bisa dibawa ke pengadilan ini bila hasilnya di pengadilan lokal masih belum terselesaikan (salah satu pihak masih mengajukan banding).

Di Indonesia, jarang sekali terdengar berita mengenai kasus-kasus olahraga yang dibawa ke CAS, khususnya sepakbola. Memang, jika bisa selesai di ranah lokal, tentu lebih baik. Contohnya saja kasus Bambang Pamungkas dan Leo Saputra yang pernah menggugat Persija pada 2013 lalu karena menunggak gaji mereka. Mereka mengajukan gugatan ke pengadilan negeri Jakarta, dan akhirnya gugatan tersebut dicabut setelah pihak klub melunasi gaji mereka.

Namun, bisa saja sedikitnya kasus gugatan seperti ini bukan karena para klub selalu melunasi gaji pemain, namun karena kebanyakan pemain tidak punya keberanian yang sama seperti Bambang dan Leo. Kisruh seperti ini memang baru mengemuka beberapa tahun terakhir, setelah kondisi sepakbola kita mulai banyak disorot sisi buruknya, yang puncaknya adalah pembekuan PSSI pada tahun 2015.

Nah, setelah federasi dicairkan pada pertengahan 2016 dan ketua baru terpilih di akhir tahun lalu, langkah-langkah perbaikan sepakbola nasional mulai dilakukan. Salah satunya adalah upaya pembentukan National Dispute Resolution Chamber (NDRC) melalui bantuan FIFA. Dikutip dari Juara.net, badan ini merupakan pengadilan arbitrase independen yang bertugas menyelesaikan sengketa yang membelit antara klub dan pemain, dan bekerja berdasarkan aduan yang diterima. Mirip dengan CAS, kan? Hanya saja, NDRC hanya bertugas mengurusi sepakbola nasional. Badan ini direncanakan aktif di tahun 2018, dan tahun ini adalah masa persiapannya. Rencananya badan ini akan diisi oleh para perwakilan klub, perwakilan pemain, dan pengacara.

0626c877-d0e7-48d4-8b0c-875023ea6aff_169
Dikasih 40 ribu USD sama FIFA nih buat bikin NRDC. (Foto: cnnindonesia)

NDRC mempunyai tiga tugas utama menyelesaikan sengketa terkait sepakbola Indonesia. Yang pertama adalah sengketa mengenai kontrak pemain di klub. Gugatan bisa diajukan pemain bila isi kontraknya dilanggar oleh klub yang ia perkuat. Misalnya saja gajinya ditunggak oleh klub selama beberapa bulan. Namun bisa saja hal sebaliknya terjadi, yaitu klub yang menggugat pemain jika sang pemain yang melanggar kontrak yang sudah disepakati.

Kedua, sengketa mengenai biaya compensation training. Jika ada yang belum tahu, compensation training adalah biaya yang harus dibayarkan satu klub kepada klub lain atas pembinaan seorang pemain muda sampai rentang usia 23 tahun. Klub yang menerima biaya ini adalah klub dimana sang pemain bernaung saat ia mendapatkan kontrak profesional dari klub lain.

Dikutip dari detiksport, compensation training dibayarkan kepada klub yang sudah membina pemain pada situasi: (1) ketika seorang pemain menandatangani kontrak pertamanya sebagai pesepakbola profesional dan (2) setiap kali seorang pemain profesional ditransfer antara dua klub sebelum akhir musim pada ulang tahunnya yang ke-23. Kewajiban untuk membayar compensation training lahir saat transfer muncul pada saat pemain bersangkutan masih dikontrak atau di akhir masa kontraknya.

Dan yang ketiga, sengketa mengenai biaya mekanisme solidaritas, yaitu biaya yang harus dikeluarkan klub baru seorang pemain profesional kepada klub-klub yang pernah melatih sang pemain antara usia 12-23 tahun. Untuk biaya mekanisme solidaritas dan compensation training, FIFA sudah menetapkan peraturan mengenai persentase dan hitung-hitungannya.

Jika kita melihat tiga hal yang akan diurus oleh NDRC, tentu kita melihat keseriusan  upaya perbaikan tata kelola sepakbola Indonesia oleh PSSI. Apalagi pembentukan NDRC ini didanai FIFA sebesar 40 ribu USD. Tentunya harus serius kan? Jangan lupa, Indonesia adalah negara percontohan dalam proyek ini, sehingga hasilnya akan menentukan apakah NDRC akan diterapkan secara global atau tidak.

***

Saya yakin bahwa sepakbola Indonesia menjadi percontohan proyek NDRC dikarenakan kondisi sepakbola kita yang carut marut beberapa tahun belakangan. Meskipun FIFA menyangkal dan mengatakan bahwa Indonesia ditunjuk karena mereka melihat keinginan PSSI untuk bekerja sama, namun perkataan Kepala Sepak Bola Profesional FIFA, James Johnson tidak mencerminkan itu. Dikutip dari Tempo, ia mengatakan ‘Kalau bisa diaplikasikan di Indonesia, maka sistem ini dapat dilaksanakan secara global’, yang menurut saya artinya ‘kalo negara yang carut-marut tata kelolanya aja bisa berhasil, berarti negara yang lebih baik tata kelolanya pun harusnya bisa berhasil juga’. Namun itu bukanlah masalah, karena kesediaan PSSI menjalankan program itu pun perlu diapresiasi.

Saya berpendapat jika kemunculan NDRC bisa memperbaiki tata kelola sepakbola nasional. Mengapa? Pertama, NDRC mampu menjadi tempat mengadu klub-klub kecil/amatir di Indonesia jika klub-klub profesional Indonesia tidak mau membayar biaya training compensation ataupun mekanisme solidaritas kepada mereka. Hal ini bisa membuat klub-klub profesional di Indonesia mau tidak mau harus mengikuti peraturan PSSI dan FIFA. Mereka tidak mau dituntut oleh klub-klub kecil di masa depan kan?

Ingat, pemberian dua biaya tersebut kepada klub-klub kecil akan membuat pembinaan sepakbola di Indonesia bisa berjalan lebih baik. Klub-klub kecil yang menerima uang tersebut dapat menggunakan uang yang didapat untuk mendanai pembinaan mereka kembali atau memperbaiki infrastruktur klub. Bayangkan berapa banyak klub-klub kecil di Indonesia yang akan mendapatkan dana ini. Penerapan peraturan ini akan merangsang pertumbuhan sepakbola nasional, terutama di daerah-daerah. Oleh karena itu, peran NDRC dalam mengawasi keberjalanan hal ini sangat penting. Tidak lupa, para klub-klub kecil ini juga harus aktif meminta hak mereka.

20110428091036sekolah-bola
Apakah SSB juga dihitung klub kecil? Harusnya sih iya. (Foto: antaranews)

Kedua, dengan adanya NDRC, tentu para pemain bisa lebih berani meminta hak mereka pada klub jika kontrak mereka dilanggar. Mereka juga tahu kemana mereka harus mengadu. Dengan  adanya perwakilan pemain di dalam NDRC, mereka lebih leluasa untuk mengeluarkan unek-unek mereka. Proses penyelesaian sengketa pun bisa cepat dilakukan jika para pemain cepat mengadukan masalahnya.

***

Proses pembentukan NDRC serta keberjalanannya harus diawasi sebaik mungkin. Jangan sampai dana yang diberi FIFA tidak dipakai sesuai dengan koridornya. Jangan sampai juga NRDC nantinya tidak bersikap tegas ketika terjadi kasus-kasus sengketa seperti ini, yang malah akan semakin merugikan pihak-pihak penggugat.

Semoga, hadirnya NDRC di sepakbola nasional dapat menjadi pemicu klub-klub Indonesia untuk menjadi semakin profesional serta memperbaiki pembinaan dan pengelolaan mereka, bukannya menjadi semakin hancur dan bangkrut karena besarnya denda pengadilan yang disebabkan kelalaian mereka membayar hak para pemain dan klub-klub kecil.

Featured Image : bbc.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s