Parfait, Les Parisiens!

Jika anda perhatikan, kalimat ‘Ici C’est Paris’ tertera dengan jelas di dalam stadion Parc des Princes, tepatnya di bagian atas salah satu tribun belakang gawang. Artinya kira-kira ‘ini Paris’. Sedangkan di tribun belakang gawang lainnya, terpasang kalimat ‘Fiers de Nos Couleurs’ yang artinya ‘bangga akan warna kami’.

Dua kalimat itu seolah ingin menyampaikan pesan dengan jelas kepada klub manapun yang berkunjung ke sana untuk mengingat di mana mereka sedang bermain dan siapa lawan yang mereka hadapi. Tentunya juga, sebagai pengingat agar bahwa para suporter di sana bangga akan klub tuan rumah dan akan mendukung mereka habis-habisan. Jadi, para tamu jangan mengharapkan sambutan hangat dari para suporter dan jangan pula berharap akan bisa bermain tenang tanpa tekanan dari tim tuan rumah dan suporter fanatiknya.

Tanya saja pada para pemain Barcelona yang baru saja melawan sang tuan rumah Paris Saint-Germain tadi malam (14 Februari). Mereka benar-benar merasakannya.

Bermain di babak 16 besar Liga Champions, alih-alih bermain layaknya juara Spanyol dan pemenang Liga Champions 5 kali, mereka justru bermain bagaikan tim medioker. Mungkin sebutan tadi terlalu sarkas, namun El Barca benar-benar tak berkutik. Mereka dicukur 4 gol tanpa balas. Dua orang birthday boy, Edinson Cavani dan Angel Di Maria, berhasil mencetak 3 gol. Satu gol sisanya dicetak wonderkid Jerman yang juga pemain baru Les Parisiens, Julian Draxler.

Pressing tinggi di segala kesempatan

psg
Formasi dan statistik pertandingan. Menurut siaran UEFA Champions League, PSG memakai formasi 4-2-3-1. (Foto: whoscored)

Sejak kick-off, tim asuhan Unai Emery sudah bermain dengan tempo tinggi dan melakukan pressing ketat pada para pemain Blaugrana. Tidak hanya di belakang, namun juga di wilayah Barcelona. Bahkan pressing sudah dilakukan sejak kiper Barcelona hendak melakukan tendangan gawang. Sedangkan Barcelona baru melakukan pressing ketat seperti ini di babak kedua, yang hasilnya tidak begitu sukses.

Sebelum gol pertama, para pemain PSG selalu menekan sejak wilayah pertahanan Barca. Mereka berusaha merebut bola secepat mungkin, kalau perlu sebelum bola berada di pertahanan mereka. Garis pertahanan mereka pun cukup tinggi. Baru setelah gol pertama, para pemain PSG masih tetap melakukan pressing, tapi sudah tidak seagresif sebelumnya. Mereka lebih mengatur tempo. Mereka tahu kapan harus tenang menunggu untuk kemudian merebut, dan kapan harus melakukan pressing ketat. PSG memang hendak unggul terlebih dahulu, sehingga mereka bisa mengatur tempo, dan itu berhasil tadi malam. Dan sangat disayangkan untuk Barcelona, mereka terbawa tempo permainan PSG.

Dua hal yang paling mencolok adalah pertama, Les Parisiens berusaha tetap memenangkan bola liar meskipun di wilayah pertahanan Barcelona. Setelah satu serangan mereka gagal, mereka langsung mengejar bola kembali, seperti tak mau melepaskan momentum yang ada. Apalagi, seringkali Barcelona dalam keadaan tidak siap ketika bola direbut oleh para pemain PSG.

Yang kedua, para pemain PSG tidak segan-segan untuk ‘mengeroyok’ pemain depan Barcelona yang memegang bola, baik di pertahanan mereka ataupun di daerah Barcelona. Setidaknya 2-4 pemain PSG akan berada di sekeliling pemain Barcelona yang memegang bola, membuat mereka kesusahan untuk menembus pertahanan PSG ataupun sekedar mengumpan pada rekan mereka. Mereka pun berhasil melakukannya tanpa harus membuat banyak pelanggaran.

Contoh yang paling jelas adalah gol kedua yang di cetak Draxler, yang bermula dari berhasilnya Adrien Rabiot merebut bola dari Lionel Messi, kemudian bola lepas tersebut diambil oleh Marco Verratti. Verratti, Rabiot, dan Christopher Nkunku (pengganti Verratti) sebagai double pivot benar-benar mampu melindungi pertahanan dan juga membantu penyerangan.

Tercatat PSG berhasil merebut bola dari kaki pemain Barcelona sebanyak 14 kali, melakukan 31 tekel berhasil, melakukan 18 intersep, dan 24 clearance. Barcelona pun kehilangan penguasaan bola sebanyak 31 kali. Jumlah sebanyak itu sangat berperan dalam susahnya Barcelona melepaskan tembakan.

Selama ini Barcelona sering kesulitan mencetak gol dari lawan yang bermain super defensif, namun biasanya mereka masih bisa mencetak banyak tendangan ke gawang. Tadi malam, untuk sekedar menembak pun mereka kesusahan. Sundulan Samuel Umtiti yang membentur tiang dan sepakan Andre Gomes adalah peluang terbaik El Barca. Sisanya? Gitu-gitu aja. Luis Suarez bahkan tidak bisa menembak sama sekali tadi malam.

psg-2
Perhatikan statistik tekel pemain inti PSG. Kecuali kiper, semuanya melakukan tekel! (Foto: whoscored)

Counter-attack oke, build-up dari belakang pun tidak masalah

Selama ini PSG adalah tim papan atas yang terbiasa menyerang terlebih dulu dan mengutamakan penguasaan bola, sama seperti Barcelona. Tapi tadi malam mereka membiarkan Barcelona yang memegang bola sekalipun bermain sebagai tuan rumah. Saat Barcelona selalu membangun serangan dari belakang, PSG berusaha untuk merebutnya dan kemudian melancarkan serangan balik. Dua gol pertama mereka pun prosesnya dari sini, termasuk tendangan bebas Di Maria yang berawal dari pelanggaran Umtiti terhadap Draxler yang menyambut umpan Di Maria.

PSG pun juga berhasil membangun serangan dari bawah. Ingat, mereka sudah mengatur tempo setelah gol pertama. Gol ketiga PSG pun berawal dari passing antara Kevin Trapp-Rabiot-Draxler-Blaise Matuidi-Layvin Kurzawa di wilayah kiri serangan PSG, lalu Kurzawa melakukan dribbling sebelum akhirnya memberi umpan pada Di Maria. Gol keempat yang dicetak Cavani pun juga berasal dari pola build-up serangan, namun melalui sisi kanan dan terkonsentrasi pada Thomas Meunier saja yang melakukan dribbling sejak wilayah pertahanan sendiri.

Para pemain PSG benar-benar memanfaatkan kosongnya lini tengah Barcelona yang jarak antar lininya renggang tadi malam. Saat pemain Barcelona menekan, mereka gagal merebut bola dari PSG. Begitu juga ketika membangun serangan. PSG sering menggagalkan serangan mereka. Akibatnya, PSG bisa menyerang dengan leluasa karena pemain Barcelona sering telat mundur. Apalagi, mereka tidak seagresif para pemain PSG.

PSG leluasa menyerang baik dari sisi kanan, kiri, maupun tengah. Kedua bek sayap mereka, Kurzawa dan Meunier juga ikut membantu penyerangan. Bahkan pada dua gol terakhir PSG terlihat jelas betapa dua bek sayap ini dengan mudah menembus lini tengah Barcelona. Di Maria dan Draxler pun sesekali bertukar posisi, membuat bingung para bek Barcelona yang menjaga mereka. Saat proses dua gol pertama pun Draxler berada di sisi kanan penyerangan PSG, yang biasanya diisi Di Maria.

Super-duper efektif

Sederhana saja. Penguasaan bola PSG hanya sebesar 41 persen namun berhasil mencatat 10 tendangan ke gawang, 4 diantaranya menjadi gol. Bahkan jika saja para pemain PSG lebih tenang, mereka bisa mencetak gol lebih banyak dari itu. Hal ini mungkin disebabkan kondisi yang sudah unggul telak, sehingga secara psikis para pemain depan tidak tertekan untuk harus mencetak gol. Padahal, jika mereka bisa lebih tenang, mereka bisa membuat peluang Barca untuk lolos ke perempat final menjadi hampir tidak ada.

pay-wayne-rooney-testimonial-manchester-united-v-everton
Kenapa pas ada gua PSG ga bisa main kaya gitu? (Foto: mirror)

Ya, kali ini PSG tak perlu menguasai bola lama-lama. Yang penting, setiap mereka berhasil menguasai bola, hal itu bisa menjadi peluang untuk menembus gawang Barcelona.

***

Permainan PSG begitu baik tadi malam, mendekati sempurna. Unai Emery berhasil menjalankan taktiknya dengan baik. Akibatnya, permainan Barcelona tidak berkembang. Bahkan permainan Barcelona baru membaik saat sudah ketinggalan 4 gol. Hal ini pun dipengaruhi oleh PSG yang temponya menurun dan lebih banyak menunggu Barcelona di belakang, tidak lagi melakukan pressing di depan. Perubahan ini sudah sangat telat tentunya.

psg3
Berdasarkan polling itv, masih banyak yang mengharapkan Barcelona. (Foto : itv.com)

Sekarang yang perlu dilakukan PSG adalah terus menjaga konsistensi performa seperti ini agar bisa diulangi di leg 2. Mereka bisa mencontoh Bayern Munchen pada 2013 lalu ketika menggulung Barcelona dengan agregat 7-0 (4-0 di leg 1 pada partai kandang, sama seperti sekarang). Jika mereka berhasil mempertahankan keunggulan ini pada 8 Maret mendatang, maka tiket perempat final ada dalam genggaman mereka. Bagaimana dengan Barca? Sebaiknya Luis Enrique dan anak asuhnya mulai mencari cara agar bisa menembus pertahanan PSG dan mengungguli taktik Emery, karena mungkin PSG akan menerapkan cara yang sama. Jika mereka tidak bisa, ya mereka akan tersingkir.

Sebagai penutup, marilah kita mengucapkan pujian bagi PSG atas penampilan luar biasa mereka. Parfait, Les Parisiens!

Data statistik : whoscored

Featured Image : itv.com

Advertisements

3 thoughts on “Parfait, Les Parisiens!

  1. Memang hasil tadi malam sangat mengejutkan sih. Kalau menurut saya Barca tampil cukup bagus pas skor masih 1-0. Mereka punya beberapa peluang untuk menyamakan kedudukan, salah satunya peluang Andre Gomes yang harusnya 90% itu gol.

    Di babak kedua sih emang permainan Barca medioker banget, mereka beruntung nggak kebobolan lebih banyak.

    Liked by 1 person

    1. Iya mas, nggak nyangka main Barcelona kaya gitu. Sekarang sih yg bikin penasaran, gimana Barcelona ngutak ngatik strategi buat leg 2. Soalnya habis kalah telak di leg 1, biasanya mereka ga bisa membalikkan keadaan di leg 2.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s