Dzeko Sempurna, Villareal Merana

Untung saja manajemen AS Roma masih mau mempertahankan Edin Dzeko, meskipun banyak media yang membahas kepindahannya pada musim panas lalu. Untung saja mereka masih mau bersabar, meskipun penampilan Dzeko musim lalu tidak sesuai harapan. Kesabaran mereka akhirnya membuahkan hasil, setidaknya untuk musim ini.

Dzeko yang musim lalu hanya mencetak 10 gol dari 39 pertandingan diseluruh kompetisi, musim ini sudah mencetak 28 gol dari 34 pertandingan di seluruh kompetisi, dan diyakini akan bertambah lagi.

Perubahan gaya main Roma selepas pergantian manajer dari Rudi Garcia ke Luciano Spaletti turut berperan disini. Jika Garcia terlihat saklek memakai 4-3-3, Spaletti justru  belakangan ini memakai formasi 3-4-2-1, yang semakin mengakomodir kemampuan Dzeko.

Dilatih Garcia selama setengah musim pada musim 2015-16, Dzeko hanya mencetak 3 gol di Serie A dan 2 di Liga Champions. Setengah musim berikutnya pun ia hanya menambah 5 gol saja di Serie A. Hal ini disebabkan Spaletti masih memakai formasi warisan Garcia. Ditambah dengan moncernya Francesco Totti sebagai supersub menjelang musim berakhir, wajar bila ia pun semakin tertekan berada di bawah bayang-bayang Il Capitano.

Namun, musim ini, Dzeko mulai dipasang sebagai striker tunggal oleh Spaletti. Meskipun beberapa kali diduetkan bersama Diego Perotti, namun ia lebih bagus kala berada sendirian di depan. Perotti pun kini ditaruh dibelakangnya, bersama Mohamed Salah, Radja Nainggolan, ataupun Stephan El Shaarawy. Mulai dari formasi 4-2-3-1 sampai 3-4-2-1, Dzeko tetap diandalkan di depan. Totti pun kini hanya main di saat-saat darurat saja. Hasilnya? Dzeko kembali tajam, seperti yang pernah ia tunjukkan bersama Wolfsburg dan Manchester City.

Begitu juga pada pertandingan babak 32 besar Liga Europa tadi malam. Dzeko berperan besar dalam menghancurkan Villareal 4-0, di kandang mereka, stadion El Maridgal. Ia melakukan 7 kali tembakan, 5 diantaranya mengarah ke gawang, dan 3 yang berujung gol. Villareal sendiri bukannya bermain seperti Barcelona yang tidak bisa apa-apa kala melawan PSG. Mereka pun juga berusaha mengimbangi permainan Roma. Namun Dzeko menjadi faktor pembeda. 3 gol yang ia cetak pun menujukkan kelasnya sebagai striker. Bukan hanya dari jumlahnya, namun bagaimana ia bersikap dalam mencetak 3 gol tersebut.

capture
Perhatikan nilai untuk Dzeko saat melawan Villareal. (Foto : whoscored)

Ya, mulai dari pergerakan, ketenangan, pengambilan keputusan, hingga bagaimana ia melepaskan tembakan pun benar-benar luar biasa, jika tidak bisa dibilang sempurna.

Pada gol pertamanya, dua kali Dzeko melakukan gerak tipu. Yang pertama, kala Salah mengumpan pada Dzeko lewat sisi kanan. Dzeko yang menerima umpan dari Salah pun seolah-olah akan langsung menembak dengan kaki kanannya, itu sebabnya Mateo Musacchio pun langsung bergerak menutup. Namun itu hanyalah gerak tipu Dzeko. Ia membiarkan bola bergulir lebih dulu dan mengontrolnya dengan kaki kiri. Musacchio yang tertipu pun sudah tidak bisa menghadang. Kedua, kala Dzeko tinggal berhadapan dengan Sergio Asenjo setelah menipu Musacchio. Gerakan kakinya berhasil membuat kiper Villareal tersebut bergerak ke kanan, sementara ia malah melepaskan tendangan ke sisi kiri gawang Villareal. Victor Ruiz yang datang melakukan sliding pun kalah cepat. Gol.

dzeko1
Sekali tembak, 3 pemain Villareal di-kadali.

Pada gol ketiga Roma, lewat umpan lambung Juan Jesus, Dzeko berlari kencang ke depan sambil melihat arah bola yang datang padanya. Saat Victor Ruiz gagal menyundul bola umpan tersebut, ia pun jadi tak terkawal. Pada timing yang pas, sebelum Jaume Costa datang, ia dengan tenang melepaskan tendangan voli. Pada kesempatan ini Dzeko menendang dengan posisi ketinggian bola yang tepat. Ia menunggu bola sedikit turun dahulu baru melepaskan tembakan. Tenang dan tajam. Meskipun ditepis Asenjo, tetap saja, gol.

dzeko2
Tunggu bola turun, langsung hantam!

Kemudian pada gol keempat Roma, atau hattrick-nya pada malam itu, ia lagi-lagi mengecoh Musacchio. Berawal dari umpan Jesus (lagi), ia melakukan aksi satu-dua dengan Nainggolan. Umpan yang diterima Dzeko pun ditahan lebih dulu, kemudian digiring ke sisi kiri. Pada kondisi ini Musacchio yang sudah bergerak ke kanan, terpaksa harus berubah haluan lagi. Telatkah ia? Tidak. Hanya saja, sliding yang ia lakukan menyisakan celah yang besar. Dzeko menendang bolanya melewati kolong Musacchio. Pada kondisi ini, posisi Asenjo pun sudah terlalu ke kanan, sehingga tendangan kaki kiri Dzeko yang mengarah ke sisi kiri gawang Villareal sudah tak terjangkau tangannya. Gol.

dzeko3
Dikolongin emang paling ngeselin.

***

Malam itu seolah sedang baik kepada Dzeko. El Madrigal pun terdiam sunyi. Hanya sekumpulan suporter Roma dan para pemain I Lupi saja yang berteriak kencang, merayakan golnya dan gol Emerson. Gol-golnya tersebut membuat Dzeko semakin tajam, baik di Serie A, Coppa Italia, maupun Liga Europa. Ia sudah menemukan permainan terbaiknya. Ia pun sudah klop dengan skema Spaletti dan rekan-rekannya.

Kini Dzeko pun berpeluang menjadi top skor Serie A dan Liga Europa musim ini. Harapannya tentu ia bisa terus mencetak gol lagi dan membawa Roma meraih trofi di tiga kompetisi tersebut. Bila kala di Manchester City dulu setiap musimnya ia dirumorkan pindah (mengingat kesempatan untuk menjadi starter tidak banyak, meskipun catatan golnya mentereng), maka bisa dipastikan pada musim panas nanti manajemen Roma dan Spaletti akan berusaha meredam rumor itu.

c4izsirxuaabjlq
Dengan adanya dia, mungkin Totti bisa pensiun dengan tenang. (Foto : twitter @EuropaLeague)

Dzeko memang striker yang berbahaya. Bahkan kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon pun menganggapnya sebagai striker paling berbahaya yang pernah ia hadapi di masa kini. Kalau Buffon sudah berbicara, apakah masih ada yang berani meragukannya?

***

Ada pendapat yang mengatakan bahwa striker hebat adalah ia yang bisa tetap tajam, di liga manapun ia bermain. Ada juga yang mengatakan bahwa sebagus-bagusnya striker adalah mereka yang bisa menaklukkan Liga Italia, liga yang taktikal dan begitu ketat pertahanannya. Jika belum bermain di Liga Italia, maka wajar bila pundi-pundi gol striker tersebut sangat banyak. Tentu dua pendapat di atas bisa diperdebatkan, tapi bukan di sini.

Di sini, hanya ada penahbisan bahwa memang Edin Dzeko adalah seorang striker yang hebat, karena Dzeko telah membuktikan bahwa ia bisa menjadi bomber tajam, baik di Bundesliga Jerman, Premier League Inggris, dan terakhir, Serie A Italia. Mirip dengan dua pendapat diatas kan?

Ya, tadi malam Dzeko bermain sempurna, dan Villareal pun merana akibatnya.

Featured Image : eurosport.com

Advertisements

7 thoughts on “Dzeko Sempurna, Villareal Merana

      1. Kalo fiorentina sih harapan terselubung mas. Kalo lolos terus syukur, nggak ya ikhlas aja haha. Kalo roma baru harapan saya cukup tinggi. Soalnya fiorentina masih suka ga konsisten, padahal komposisi pemain udah bagus.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s