3 Hal Dibalik Kemenangan Juve Atas Porto

Tidak ada kejutan di 16 besar Liga Champions minggu ini. Bila pekan lalu kita dikejutkan dengan tumbangnya Barcelona dan Arsenal dengan skor yang mencolok, minggu ini semua tim yang diunggulkan menang. Termasuk Juventus yang bertandang ke Estadio Do Dragao, Porto, pada 22 Februari 2017 lalu. Menghadapi sang tuan rumah, Juve berhasil memenangkan laga leg pertama dengan skor 2-0. Bukan skor yang mencolok memang. Lagipula, memang bukan kebiasaan tim-tim Italia untuk mencukur habis tim lawan di kompetisi Eropa, meskipun pekan lalu Roma melakukannya terhadap Villareal. Namun, menang dan clean sheet di kandang lawan tentu merupakan hasil positif. Selain sebagai modal berharga untuk melaju ke perempat final Liga Champions musim ini, asa Juve untuk meraih treble pun tetap terjaga.

Ya, kemenangan tersebut betul-betul berharga karena pertandingan tersebut bukanlah pertandingan yang mudah bagi Juventus. Dua gol yang dicetak Marko Pjaca dan Dani Alves pun baru muncul di 20 menit terakhir. Namun, bila kamu menonton pertandingannya dengan seksama, maka kita akan mengerti mengapa La Vecchia Signora pantas mengalahkan Dragões dalam pertandingan kali ini. Tercatat ada 3 hal yang membuat Juve bisa menang tadi malam.

  1. Kartu merah Alex Telles

Ya, kartu merah yang didapat oleh pemain asal Brazil ini pada menit 26 membuat alur pertandingan berubah secara total. Dua tekel cerobohnya pada Juan Cuadrado dan Stephan Lichtsteiner hanya dalam rentang waktu kurang dari 90 detik memang merugikan timnya.

portos-defender-alex-telles-covers-his
Penyesalan memang selalu datang terlambat. (Foto: AFP)

Akibatnya, manajer Nuno Espirito terpaksa mengorbankan Andre Silva untuk digantikan Miguel Layun demi menambal lubang yang ditinggalkan Alex. Dampaknya adalah Francisco Soares terisolasi sendirian di depan tanpa tandemnya, sehingga tak bisa berbuat apa-apa. Kondisi kalah jumlah pemain memang membuat Porto lebih fokus menjaga pertahanannya, terutama pada babak pertama. Jangankan membantu Soares, menahan aliran serangan Juve pun mungkin sudah merepotkan.

Di babak kedua pun Porto hanya berhasil mencatat 2 peluang lewat sundulan sang sombrero, Hector Herrera, di awal babak kedua (menit 48) dan aksi Yacine Brahimi beberapa menit sebelum gol Pjaca. Sisanya? Lebih banyak bertahan dan gagal menciptakan serangan.

  1. Pola serangan Porto yang monoton

Mengapa Porto gagal menciptakan serangan? Karena polanya cenderung monoton. Sejak awal pertandingan, saat masih bermain dengan 11 orang, Dragões sudah terlihat berusaha menyerang lewat sisi sayap. Porto juga membiarkan Juve menguasai bola, dan berusaha mengandalkan serangan balik.

Ada dua pendapat terkait pola serangan Porto ini. Pertama, hal itu memang menjadi strategi Porto pada pertandingan ini. Dua peluang yang dimiliki Porto selama bermain dengan 11 orang pun berasal dari serangan lewat sayap. Tendangan bebas Brahimi berawal dari tusukan Andre Silva dari sisi kanan ke tengah, yang akhirnya dihentikan Giorgio Chiellini. Sedangkan sepakan melambung Ruben Neves berawal dari umpan silang Brahimi ke kotak penalti Juve.

2868019_big-lnd
Brahimi adalah pemain terbaik Porto pada pertandingan itu. (Foto: fifa.com)

Kedua, para pemain Juve memang sengaja menggiring para pemain Porto agar menyerang lewat sayap. Pertahanan Juve tadi malam memang rapat, terutama di bagian tengah, sehingga tusukan lewat sayap dan umpan silang pun lebih mudah dilancarkan. Sayangnya, hal itu juga mudah dipatahkan. Apalagi Porto tidak banyak mengubah gaya main di babak kedua, sehingga makin memudahkan pemain-pemain Juve dalam menjaga pertahanannya. Total, Porto hanya membuat 3 tembakan malam itu, 2 diantaranya saat bermain dengan 11 orang, dan tak ada yang tepat sasaran.

  1. Pergantian strategi Juve yang jitu

Unggul jumlah pemain dan mampu menahan serangan monoton Porto bukanlah jaminan menang untuk Juve. Bianconeri memang mengusai bola sejak awal pertandingan, namun mereka kesulitan untuk menjebol gawang Porto. Setelah kartu merah Telles, pertahanan Porto makin rapat dan berlapis, terutama di tengah (sama seperti Juve). Di babak kedua, Porto juga sesekali mulai melakukan pressing untuk mengganggu penguasaan bola Juve.

Rapatnya pertahanan Porto sebenarnya bukannya tak bisa ditembus. Beberapa kali serangan lewat tengah berhasil menembus pertahanan Porto. Juve memainkan umpan-umpan pendek dan through ball di sektor ini. Sayangnya, penyelesaian akhirnya kurang bagus.

Serangan lewat sisi sayap pun tak lebih baik. Juve terlalu banyak melakukan umpan silang sia-sia, baik dari sisi kiri maupun kanan. 26 kali Porto berhasil melakukan clearance, dan hanya 3 yang terjadi di luar kotak penalti.

Kerapatan pertahanan ini membuat Juve beberapa kali melakukan percobaan tembakan jarak jauh. 10 dari 19 tembakan Juve berasal dari luar kotak penalti, dan yang paling berbahaya hanyalah tendangan Paulo Dybala yang menerpa tiang gawang di akhir babak pertama.

Keadaan baru berubah saat Max Allegri memasukkan Pjaca dan Alves untuk menggantikan duet sisi kanan, Cuadrado dan Lichtsteiner. Duet Kolombia-Swiss ini lebih banyak melancarkan umpan silang pada pertandingan tadi malam, sedangkan Pjaca dan Alves lebih bergerak menusuk ke dalam kotak penalti. Perbedaan gaya main duet Kroasia-Brasil ini dengan pendahulunya ternyata memberikan hasil positif.

Tak sampai 10 menit keduanya ada di lapangan, Juve berhasil mencetak dua gol. Hebatnya, Pjaca dan Alves-lah yang mencetaknya. Kedua gol tersebut tak akan terjadi bila mereka berdua tak berani melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti Porto. Setelah unggul dua gol, Juve jadi bermain lebih leluasa. Bahkan mereka hampir memperbesar keunggulan andai sepakan Sami Khedira tak melebar.

porto-vs-juventus-0-2-extended-highlights-goals-2017-ucl-22-02-2017
Lihat aksi Pjaca yang terus bergerak masuk ke kotak penalti dan akhirnya mencetak gol.

***

Formasi 4-2-3-1 yang dipakai Allegri dalam beberapa pekan terakhir ternyata juga ampuh dipakai di Liga Champions. Jika ada satu hal yang mengganggu pada performa Juve tadi malam, itu adalah mandulnya Gonzalo Higuain. Di Liga Champions musim ini, Higuain belum menemukan ketajamannya yang sesungguhnya. Ia memang sudah mencetak 3 gol. Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat, dua diantaranya dicetak ke gawang Dinamo Zagreb. Satu sisanya adalah tendangan penalti ke gawang Olympique Lyonnais.

Ya, Juve sudah selangkah lagi keperempat final. Mereka pun ingin menjadi juara. Bila ingin mewujudkan impian itu, maka peran Higuain semakin vital. Ia harus segera mengoyak gawang lawan yang kelasnya lebih baik dari Lyon dan Zagreb. Karena, mulai perempat final nanti (jika lolos), lawannya akan lebih berat. Bahkan, lebih berat dari Porto sekalipun.

Featured Image : mirror.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s