Leicester, Kalian Pikir Kalian Siapa?

Kala Leicester City menjadi juara Premier League musim 2015/16, semua orang terkejut. Terkejut karena itu adalah tim yang di musim sebelumnya baru lolos degradasi di pekan 37. Keterkejutan juga kembali muncul dalam level yang lebih besar begitu mendengar kabar bahwa Claudio Ranieri, sang manajer dibalik kesuksesan itu, dipecat pada 23 Februari lalu. Ya, siapa yang menyangka, pria 65 tahun itu, yang sudah berhasil membuat tim level medioker itu memenangkan liga, bakal dipecat. Padahal, sekitar dua minggu sebelumnya sang pemilik, yang namanya susah diingat itu, sudah menyatakan akan terus mendukung Ranieri!

Pemecatan seorang manajer tim memang wajar dalam sepakbola modern yang sangat menginginkan hasil instan. Kasus seperti Sir Alex Ferguson yang diberi kesempatan jangka panjang ataupun Arsene Wenger yang tetap dipertahankan meskipun paceklik gelar adalah kasus langka saat ini. Namun, khusus untuk kasus Ranieri, rasanya sangat disayangkan. Bahkan mendengar berita tersebut, reaksinya sudah meningkat menjadi kekecewaan dan kemarahan.

skysports-claudio-ranieri_3893460
Padahal dia sudah menaikkan harkat dan martabat Leicester di dunia sepakbola (Foto: skysports)

Ya, banyak yang menganggap pihak klub tidak tahu rasa terima kasih pada Ranieri. Berani-beraninya mereka memecat orang yang membuat Leicester jadi juara yang dicintai banyak orang. Garis bawahi kalimat itu. Seantero Inggris, bahkan dunia, sangat senang melihatnya.

Masih ingat kan betapa senangnya pendukung Chelsea ketika Eden Hazard menjebol gawang Tottenham Hotspur musim lalu? Itu adalah kesenangan karena gol itu membuat Leicester semakin dekat dengan gelar juara, bukan sekedar kesenangan karena berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Bagaimana mungkin para pendukung tim sebesar Chelsea merayakan gelar juara yang diraih oleh tim lain? Ya itu tadi, karena Leicester telah menjadi idola semua orang.

Ketika sebuah tim besar dengan dana segudang uang Paman Gober dan sekumpulan pemain bergaji mahal yang menjadi juara, hal itu dianggap wajar. Namun Ranieri berhasil menembus batas nalar dalam sepakbola, menjadi juara dengan skuad ‘seadanya’. Bahkan, di partai pekan terakhir Premier League musim lalu, Ranieri disambut dengan meriah di Stamford Bridge, termasuk oleh Roman Abramovich, bos Chelsea yang memecatnya tahun 2004 lalu.

Sayangnya raihan gelar itu seperti tak berbekas musim ini. Leicester tak terlihat seperti tim yang menjuarai liga musim lalu. Performa mereka menurun drastis, hingga berada di posisi 17 klasemen saat Ranieri dibebastugaskan. Masalah teknis memang muncul setelah N’golo Kante pindah ke Chelsea, dan Ranieri tak berhasil meracik strategi baru dengan pemain yang ada.

Namun, yang disayangkan adalah sikap beberapa pemain senior yang kabarnya mulai hilang kepercayaan kepada Ranieri. Alih-alih berusaha memperbaiki diri, mereka malah mengkritik metode latihan Ranieri dan juga pemilihan pemain dalam tim yang dilakukan olehnya.

Padahal menurut Frank Sinclair, mantan pemain The Foxes era 1998-2004, seharusnya para pemain Leicester memperbaiki mental mereka, bukannya mengkritik manajer. Mereka adalah pemain profesional yang dibayar mahal, tidak seharusnya mereka bersikap manja seperti itu. Apakah sikap itu dikarenakan mereka telah berada lebih lama di Leicester ketimbang Ranieri? Mungkin saja.

skysports-leicester-dejected-premier-league_3872319
Mana sentuhan musim lalumu, Mahrez? (Foto : skysports)

Malahan, beberapa pemain dikabarkan melakukan pertemuan dengan sang pemilik klub setelah pertandingan melawan Sevilla di Liga Champions untuk membahas Ranieri, dan saat itu mereka masih berada di Sevilla, bukan Leicester! Jika benar, sungguh tega melihat bagaimana mereka memperlakukan Ranieri.

Para pemain Leicester tampaknya sudah merasa naik kelas, tanpa ingat bahwa Ranieri-lah yang membuat mereka jadi terpandang seperti sekarang. Apakah mungkin Leicester menjadi juara jika pelatihnya bukan Ranieri? Bahkan Ranieri saja hanya ditargetkan lolos degradasi di awal musim lalu, begitu juga dengan musim ini. Jangan lupa juga, banyak pemain Leicester yang kontraknya diperbaharui. Harusnya mereka lebih termotivasi, bukan makin  menurun semangat dan performanya.

Pihak manajemen pun juga sama. Dengan menjadi juara, tampaknya mereka sudah merasa menjadi klub papan atas Premier League. Padahal prestasi musim lalu hanyalah sebuah kejutan. Untuk menjadi tim papan atas, mereka harus terus memperbaiki diri, baik dari sisi komposisi pemain hingga kemampuan manajemen dalam mengelola klub. Mereka tidak boleh menunjuk pelatih sebagai orang yang disalahkan ketika prestasi tim memburuk, padahal mereka juga yang menjual Kante.

Lebih parah lagi, mereka memecat Ranieri tanpa memberinya kesempatan lebih banyak, padahal mereka masih belum berada di zona degradasi dan masih ada 13 pertandingan tersisa. Di musim 2014/15, Leicester menjadi juru kunci selama 19 pekan! Namun mereka tak memecat Nigel Pearson kala itu dan membiarkan ia berjuang membawa Leicester keluar dari zona degradasi. Ironis, bukan? Sekali lagi, mereka tampaknya sudah merasa menjadi tim besar.

***

Keputusan ini benar-benar membuat banyak pihak kesal terhadap Leicester. Kalian kira kalian siapa, Foxes? Kalian hanyalah tim yang hobinya naik turun di kasta pertama dan kedua liga Inggris sejak kalian berdiri. Mengapa sekarang berlagak harus memecat sang juru selamat kalian? Padahal kalian sendiri yang mengatakan akan terus mendukungnya.

Kalian juga bukan klub yang keuangannya memburuk seperti Leeds United dan Blackburn Rovers di zaman dulu, sehingga bila kalian terdegradasi pun, kalian masih bisa membangun tim kalian kembali. Ranieri sebagai manajer pun mempunyai kapabilitas yang baik sekalipun harus berada di Championship musim depan. Ingat, dia sudah pernah 4 kali membawa tim yang diasuhnya promosi (Cagliari 2 kali beruntun, Fiorentina, dan AS Monaco). Lagipula belum tentu kalian akan terdegradasi kan?

Bila kalian takut jika nantinya terdegradasi para pemain kalian tidak mau menerima pemotongan gaji dan malah memutuskan pindah, biarkan saja. Itu artinya mereka-lah yang menjadi sumber masalah di klub sejak awal. Buat apa memakai pemain yang tidak mau susah? Padahal mereka sendiri yang menyebabkan kesusahan itu. Kalian bisa membangun kembali tim kalian dengan pemain-pemain baru. Ranieri sebagai pelatih pun bisa jadi daya tarik untuk para pemain baru.

west-bromwich-albion-v-leicester-city-premier-league
Semoga Leicester-mu bisa sukses dalam jangka waktu yang panjang, sepanjang namamu, tuan Vichai Srivaddhanaprabha. (Foto: mirror)

Yang paling penting, kalian juga harus memperbaiki kemampuan manajemen kalian, terutama di bidang teknis. Jika kalian ingin menjadi tim yang besar, lebih cermatlah dalam membeli dan menjual pemain. Ingat, dibutuhkan jangka waktu yang panjang untuk menjaga stabilitas sebagai klub besar, apalagi kalian bukan tipe klub seperti Chelsea ataupun duo Manchester yang gemar ‘membuang uang’ dengan jumlah kelewat besar dan mengacaukan harga pasar transfer pemain.

Semoga kalian bisa sukses bertahan di Premier League dengan manajer baru kalian. Semoga Kasper Schmeichel dan kawan-kawan benar-benar membuktikan bahwa taktik Ranieri-lah yang salah, bukan mereka yang memburuk permainannya.

Dan jangan lupa, buatlah patung Ranieri di depan King Power Stadium, supaya kalian masih dianggap tahu terima kasih dan tidak makin dibenci oleh banyak orang di luar sana yang merasa ‘dikhianati’ oleh tindakan kalian memecat Signor Claudio Ranieri.

 

* Di pertandingan pertama mereka tanpa dikomandoi Ranieri, The Foxes berhasil mengalahkan Liverpool 3-1, dengan Vardy mencetak 2 gol. Permainan Leicester kala menghantam The Reds pun bagus, seperti halnya musim lalu. Apakah anda merasa aneh dengan perubahan ini? Saya sih iya, hehe.

Featured Image : eurosport.co.uk

Advertisements

3 thoughts on “Leicester, Kalian Pikir Kalian Siapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s