Raksasa Itu Bernama Donnarumma

Thomas Alva Edison pernah berkata bahwa keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Hal ini berarti sekalipun kesempatan datang di depan mata, bila kita tidak siap, menyiapkan diri, atau berlagak siap, maka kita akan kehilangan keberuntungan.

Masih ingat bagaimana pada musim 2003/2004, manajer Barcelona, Frank Rijkaard  memilih Victor Valdes ketimbang Rustu Recber hanya karena Recber belum fasih Bahasa Spanyol? Padahal saat itu Recber adalah kiper terpandang berkat penampilan gemilang di Piala Dunia 2002.

Sayangnya, Recber tidak menyiapkan diri dengan belajar bahasa Spanyol lebih keras setibanya di Barcelona sehingga ia tersingkir dari posisi kiper utama. Valdes, yang meskipun tidak berpengalaman, mampu menunjukkan pada pelatih Barcelona saat itu, Frank Riijkard, bahwa ia siap diturunkan. Dan akhirnya ia menjadi bagian dari sejarah kesuksesan Barcelona di awal abad 21 ini.

Pada musim 2015/2016 hal tersebut terulang lagi di peninsula Italia, dengan penyebab yang sedikit berbeda. Saat itu, Sinisa Mihajlovic, manajer AC Milan, merasa bahwa Diego Lopez tidak kunjung memainkan perannya dengan baik. Akhirnya dengan nekat ia memasang kiper ketiga Milan, yang secara logika hanya dipromosikan untuk didaftarkan sebagai pelengkap skuad, menjadi kiper starter kala melawan Sassuolo pada 25 Oktober 2015. Anak itu masih muda, umurnya baru 16 tahun 242 hari. Namanya Gianluigi Donnarumma.

donnarumma
Donnarumma di pertandingan debutnya. Ia yang membuat Diego Lopez minta pindah. (Foto: dailymail)

Sama halnya dengan Valdes, Donnarumma berhasil tampil karena saat sesi latihan ia menunjukkan bahwa dirinya siap diturunkan. Ia sukses menutupi segala kekurangannya dan mengamankan posisi utama di bawah mistar Milan untuk seterusnya. Donnarumma juga berhasil membuat kita lupa, bahkan tidak peduli, siapa yang menjadi pelapisnya. Saat berulang tahun ke 17 tahun pun ia sudah semakin tampak sempurna untuk menjadi kiper Milan hingga rasanya seperti tidak butuh pengganti.

***

Apa yang telah dicapai Donnarumma sejauh ini adalah hal yang menarik. Di usia remaja, saat masih banyak yang bersekolah dan menuntut ilmu untuk meraih cita-cita di masa depan, Donnarumma sudah meniti karir di jalan profesional, di jalur yang diinginkannya, sepakbola.

Donnarumma pada dasarnya adalah anak normal yang mempunyai mimpinya sendiri, namun ia memiliki daya tahan dan daya saing untuk mewujudkannya sejak usia dini. Ia tidak tahu kapan ia akan dipercaya untuk bermain dan siapa manajer yang akan memercayainya. Yang ia tahu hanyalah berlatih teknik dengan baik dan mempelajari tips dan trik menjadi kiper yang baik sehingga ketika kesempatan itu datang, ia akan siap menjalankan tugasnya. Dan Mihajlovic-lah yang memberikannya kesempatan itu.

Di Milan, klub idolanya sejak kecil, ia benar-benar menempa dirinya dengan baik. Ia pun beruntung karena mendapatkan manajer yang terus memercayainya. Vincenzo Montella pun tetap memercayakan kesucian gawang Milan padanya musim ini. Ia tidak bernasib seperti Simone Scuffet yang dikembalikan ke tim primavera karena dianggap terlalu muda oleh Andrea Stramaccioni, manajer baru Udinese saat itu.

Di usianya yang menginjak 18 tahun, catatan penampilannya sudah baik, dan akan terus membaik di masa depan. Ia sudah tampil 55 kali dan mencatat 18 clean sheet di Serie A secara keseluruhan sejak debutnya musim lalu. Rataan penyelamatannya per partai di musim ini pun membaik dari musim lalu, yaitu sebanyak 3,44 penyelamatan.

Yang paling menakjubkan tentu saja kala ia menepis tendangan penalti Andrea Belotti di injury time pertandingan melawan Torino di pekan pertama Serie A pada 21 Agustus 2016 lalu. Belum lagi tendangan penalti Paulo Dybala yang ia tepis dalam adu penalti Supercoppa Italia 2016, yang mengantarkan Milan meraih trofi Supercoppa Italia, trofi pertama Donnarumma dalam karir profesionalnya dan trofi pertama untuk Milan sejak 2011. Di usia muda, ia sudah menunjukkan bahwa ia mempunyai mental baja yang mampu menghadapi situasi kritis, layaknya kiper berpengalaman.

ac-milan-gianluigi-donnarumma-amazing-penalty-save-vs-torino
Bocah 17 tahun berhasil menepis penalti di menit 90+5, di Serie A!

Donnarumma juga sudah tahu bagaimana rasanya bertanggung jawab terhadap negara yang dicintainya. Bukan lagi di level junior, namun sudah di level timnas senior Italia, tim yang sudah 4 kali menjadi juara dunia. Ia pun sudah 2 kali dipercaya menjaga gawang Gli Azzurri, meski bukan sebagai starter dan pertandingan yang dilakoninya hanya berskala persahabatan. Namun kini ia sudah menjadi cadangan tetap Gianluigi Buffon, sang legenda hidup sepakbola Italia. Ia juga dipercaya akan menjadi bagian dari 23 pemain yang berangkat ke Piala Dunia 2018 bila Italia lolos. Bahkan, ia dipercaya akan menjadi kiper utama Gli Azzurri di masa depan.

***

Milan sudah membangunkan seorang raksasa dalam diri Donnarumma. Raksasa yang akan berdiri menutupi gawang Milan dengan postur tubuh dan skill kelas wahid. Konsistensi dan kontinuitas bertanding di level tinggi hanya akan membuat Donnarumma menjadi semakin kokoh dan ditakuti lawan-lawannya. Kekuatan otot kaki dan tangannya akan sulit membuatnya ditidurkan kembali. Raksasa bernama Donnarumma itu sudah dan akan terus siap menjaga teritorinya dalam kurun waktu yang ia tentukan sendiri.

*Ditulis oleh Ario Teguh Prasetya, dalam rangka memperingati hari lahir Gianluigi Donnarumma, kiper masa depan Italia.

Featured Image : zimbio.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s