3 Hal Penyebab Kekalahan Roma Atas Lazio

AS Roma harus menerima kekalahan atas Lazio dalam partai derby ibukota Italia di pada Rabu 1 Maret 2017. Dalam pertemuan mereka yang ke-19 dalam sejarah Coppa Italia, Gli Aquilotti berhasil mengalahkan I Lupi dengan skor 2-0 lewat gol Sergej Milinkovic-Savic dan Ciro Immobile.

Pertandingan semifinal leg pertama ini sebenarnya didominasi oleh Roma, mulai dari penguasaan bola hingga jumlah serangan dan tembakan. Namun anak asuh Simone Inzaghi bermain jauh lebih baik malam itu. Bahkan mereka berhasil membuat permainan Roma yang terkenal eksplosif itu menjadi tumpul. Tercatat ada 3 hal yang membuat Roma kalah dalam pertandingan ini.

  1. Pertahanan Lazio yang dinamis

Dalam pertandingan ini Lazio benar-benar sabar dalam meladeni permainan Roma. Di babak pertama mereka cenderung mengandalkan serangan balik, meskipun kedua gol mereka tidak terjadi dengan proses tersebut.

Inzaghi menumpuk para pemainnya di bagian tengah, baik di dalam ataupun luar kotak penalti kala diserang. Pertahanan mereka pun dinamis, dan semua pemain aktif mundur mengikuti pergerakan arah bola. Hanya terkadang Immobile digantung sendirian di depan. Masih ingat gaya bertahan timnas Italia yang menjadi trending topic kala mengalahkan Belgia di Euro 2016 lalu? Kira-kira seperti itu gaya Lazio bertahan.

Kerapatan pertahanan Lazio ini membuat Roma kesulitan menemukan jalur operan. Pertahanan mereka bukannya tidak bisa ditembus oleh Roma. Namun, mereka seringkali hanya berhasil menembus ‘lapis pertama’ dan gagal saat hendak menembus ‘lapis kedua’, baik saat menyerang dari sayap ataupun dari tengah.

Capture.JPG
Contoh pertahanan berlapis Lazio. Garis merah adalah arah operan bola Roma. Tahu apa yang terjadi setelahnya? Nainggolan (sepatu kuning) yang awalnya bebas langsung dikerubuti para pemain Lazio dan bola dikakinya berhasil direbut.

Saat umpan satu-dua ataupun aksi individu pemain Roma berhasil melewati para pemain Lazio, akan ada pemain lain di belakangnya yang menghadang, dan pada saat ini, biasanya penguasaan bola Roma lepas, baik secara bersih ataupun menjadi pelanggaran. Akibatnya, Roma seringkali melakukan tembakan yang percuma, meskipun bisa menembus kotak penalti Lazio.

Begitu juga dengan umpan silang dan through ball. Kepadatan di kotak penalti membuat serangan seperti ini banyak digagalkan pertahanan Lazio. Kalaupun berhasil, seringkali penyelesaian akhirnya tidak bagus. Kedua hal ini terjadi dikarenakan pemain depan Roma tidak leluasa untuk menembak karena ketatnya penjagaan Lazio.

Statistik berupa 32 tekel, 53 clearance, 19 intersep, dan 18 kali merebut bola adalah bukti betapa suksesnya Lazio meredam Roma. 19 dari 22 tembakan Roma pun gagal mengarah ke gawang. Tentu strategi bertahan yang mereka peragakan berperan besar dalam hal tersebut.

Setelah gol pertama, Lazio sedikit mengubah permainan. Mereka juga sesekali melakukan pressure di daerah pertahanan Roma, sehingga terkadang ada ruang di pertahanan mereka. Namun para pemain Lazio tergolong disiplin dan tidak telat mundur kala diserang, sehingga kondisi ini tidak terlihat sebagai sebuah masalah.

  1. Mandulnya Edin Dzeko

Sebenarnya bukan hanya Edin saja yang bermasalah. Semua pemain Roma yang berkarakter menyerang pun kesulitan menembus pertahanan Lazio. Mulai dari Radja Nainggolan hingga Francesco Totti pun kena imbasnya. Bahkan, saat formasi Roma sudah menjadi ultra-ofensif dengan masuknya Diego Perotti, Stephan El Shaarawy, dan Totti pun Roma tetap tak berhasil mencetak gol.

Hanya saja, dampak mandulnya Edin ini lebih besar. Dari 7 kali kesempatan menembak yang ia dapatkan, hanya satu yang mengarah ke gawang, dan gagal menjadi gol. Padahal, kala melawan Villareal, dengan jumlah tembakan yang sama, ada 3 yang menjadi gol. Sebagai penyerang tunggal, ditambah dengan statusnya kini sebagai top skor Serie A dan Liga Europa, tentu penjagaan terhadap Edin akan berlipat ganda.

edin-dzeko-of-as-roma-in-action-during-the-serie-a-match-between-ss-lazio-and-as-roma
Jangan buang-buang peluang, Edin! (Foto: inquisitr.com)

Dengan Lazio sudah menemukan formula untuk melumpuhkannya, Edin harus mulai memikirkan jalan keluarnya seandainya kondisi serupa terjadi lagi, baik di semifinal leg kedua ataupun laga lainnya. Ingat, pertandingan malam itu pasti ditonton oleh banyak analis dari lawan-lawan Roma. Jika tidak segera menemukan solusinya, keran gol Edin bisa tersumbat.

  1. Lemahnya Roma Terhadap Serangan Tusukan Lazio

Cek saja proses terjadinya dua gol Lazio. Pada gol pertama, aksi Felipe Anderson berhasil menembus pertahanan Roma, melewati Federico Fazio untuk kemudian melepaskan umpan silang datar pada Sergej. Gol kedua lebih parah lagi. Keita Balde berhasil mengalahkan Kostas Manolas dalam adu lari dari sayap kanan penyerangan Lazio sebelum memberikan umpan silang (lagi-lagi) datar kepada Immobile.

Kedua hal ini menunjukkan lemahnya pertahanan Roma jika diserang dengan cara seperti ini, setidaknya untuk pertandingan malam itu.

Selain itu, minus lainnya dari pertahanan Roma adalah kurang fokusnya mereka terhadap pemain Lazio yang melakukan aksi coming from behind. Setidaknya ada 3 kali kondisi ini terjadi (Sergej, Marco Parolo, dan Immobile) dan dua diantaranya menjadi gol.

Pada gol pertama, Sergej yang mengumpan bola pada Felipe terus berlari memasuki kotak penalti Roma untuk membantu penyerangan dan ia pula yang menyambut umpan silang Felipe. Pada kondisi ini, Antonio Rudiger dan Leandro Paredes yang pada awalnya mengawal Sergej malah melepaskan penjagaan sehingga Sergej bisa berlari dengan bebas. Kondisi ini agak aneh, pasalnya Roma banyak melakukan pressing sepanjang pertandingan untuk mengganggu penguasaan bola Lazio, namun Rudiger dan Paredes tak melakukannya kala itu.

Selain itu, Manolas yang berada di kotak penalti pun terlalu fokus pada Immobile sehingga tak memperhatikan Sergej yang melesat masuk, sehingga ia telat menutup sepakan Sergej. Bahkan ia kalah cepat menutup dari Kevin Strootman yang berlari dari tengah lapangan! Terang saja sehabis gol terjadi, Strootman terlihat marah padanya.

sergej
Di detik terakhir, sambil duduk Strootman marah kepada Manolas (yang juga duduk) karena lambat menutup.

Kondisi serupa terjadi pada gol kedua. Rudiger yang awalnya berada di belakang Immobile malah memilih fokus pada Keita yang hendak melakukan umpan. Dari pergerakannya kita bisa melihat bahwa Rudiger ingin menutup jalur operan Keita, terlebih setelah melihat Fazio sudah berhasil menutup jalur umpan ke tiang dekat gawang Roma. Namun ternyata Keita berhasil mengolongi bola melewati kaki Fazio sehingga umpan tersebut berhasil diterima Immobile dan ia sudah tak terjaga siapapun. Bruno Peres yang telat mundur pun tak bisa apa-apa. Gol.

ciro
Kolongin bola sedikit, dan bam!

***

Pada pertandingan ini Inzaghi berhasil mematikan taktik Luciano Spaletti yang sejauh ini berhasil membawa Roma melaju jauh di 3 kompetisi. Hasil ini merupakan modal yang berharga untuk leg kedua nanti, apalagi Lazio berhasil mencatatkan clean sheet. Untuk Roma, mereka harus berusaha membalikkan keadaan dan mengevaluasi permainan mereka. Mereka harus bisa menemukan cara menembus pertahanan Lazio seperti kala mengalahkan mereka di pekan 15 Serie A musim ini. Jika tidak, ambisi mereka untuk meraih treble musim ini pun akan melayang.

Featured Image : skysports.com

Advertisements

4 thoughts on “3 Hal Penyebab Kekalahan Roma Atas Lazio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s