Tingkah Laku Ball Boy Yang Mengesalkan

Menjadi seorang ball boy terkadang membuat iri sebagian orang. Ya, mereka bisa menonton pertandingan sepakbola, mengamati para pemain idola mereka dari jarak yang begitu dekat, langsung dari pinggir lapangan. Terutama jika kondisi stadionnya tidak seperti di Inggris, dimana Antonio Conte bisa dengan mudah memeluk para suporter setelah Chelsea berhasil mencetak gol. Ya, selama saya berkunjung ke stadion di Indonesia (Gelora Bung Karno dan Pakansari), saya hanya bisa iri melihat para ball boy itu menonton dari jarak dekat, mungkin sedekat para pemain cadangan.

Namun, terkadang saya juga maklum bila pada suatu waktu para ball boy ini tidak disukai oleh para pemain bola, apalagi jika para pemain tersebut sedang melakukan pertandingan tandang. Masih ingat kan kasus kartu merah Eden Hazard setelah dianggap menendang ball boy saat melawan Swansea City di Liberty Stadium pada 2013 lalu?

Kala itu di semifinal Piala Liga, Chelsea memang sedang tertinggal 2-0 secara agregat, dan sang ball boy, Charlie Morgan, terlihat menahan bola yang seharusnya diberikan pada kiper Swansea, agar pertandingan kembali dimulai. Hazard pun berusaha untuk merebut bola itu dari Charlie, namun ia tetap saja menahan bola itu, dan Hazard yang berusaha menendang bola tersebut agar lepas dari genggamannya, akhirnya malah menendang Charlie. Entah memang terkena tendangan Hazard atau tidak, Charlie pun terlihat kesakitan kala itu (atau pura-pura kesakitan, entahlah). Hazard pun akhirnya harus diusir wasit.

article-2267629-171eefb4000005dc-417_634x526
Ball boy-nya emang tengil sih. (Foto: dailymail)

Namun kala itu, Harry Redknapp, pelatih kenamaan di Inggris, membela Hazard. Dalam sebuah kesempatan, ia justru menyebut kelakukan ball boy itu ‘disgusting’. Ya, ball boy itu memang sengaja membuang waktu. Sebagai ball boy di stadion milik Swansea, maka dipastikan ia adalah penggemar Swansea dan tentu ingin Swansea yang menang, sehingga cara seperti itu pun ia lakukan.

Singkat cerita, kejadian ini terlihat lagi pada tanggal 1 Maret lalu, saat partai semifinal Coppa Italia antara Lazio dan AS Roma memasuki babak injury time dan Lazio unggul 2-0. Meski mempunyai kandang yang sama, namun kala itu Lazio bertindak sebagai tuan rumah, sehingga para ball boy yang ada dapat dipastikan berasal dari akademi ataupun pendukung Lazio.

Para ball boy Lazio pun melakukan hal yang sama menyebalkannya dengan Charlie. Kejadiannya memang berbeda, namun tujuannya tetap sama, yaitu membuang waktu. Jika Charlie membuang waktu dengan cara menahan bola dalam genggamannya, ball boy Lazio melakukannya dengan cara membiarkan bola keluar yang bergerak menuju mereka. Padahal ada 2 orang ball boy disitu!

Dua orang ball boy itu hanya diam saja melihat bola yang keluar dan tak terlihat ada niatan untuk mengambilnya dan memberikan pada Diego Perotti yang akan melakukan lemparan ke dalam. Padahal, itu adalah pekerjaan mereka. Akhirnya bola itu diberikan pada Perotti oleh salah satu ofisial Roma yang harus berlari terlebih dahulu dari arah bangku cadangan. Setelahnya pun, sang ofisial Roma bersiap-siap di daerah itu, berjaga-jaga agar seandainya bola keluar lapangan lagi dan bergerak ke arah sana.

ball-boy
Dua ball boy itu tanpa berdosa membiarkan bola lewat begitu saja.

Sikap ofisial Roma itu pun menandakan bahwa kala itu, ball boy sudah tak bisa diandalkan lagi. Dua ball boy tersebut dianggap tidak akan mau membantu lagi, karena saat itu, mereka ingin Lazio tidak kebobolan di menit-menit akhir.

Kejadian membuang waktu yang dilakukan oleh para ball boy itu kelihatannya menjadi sebuah hal yang umum terjadi di sepakbola. Dan tim yang bertandang adalah tim yang akan merasakan dampaknya, terutama jika mereka sedang mengincar gol. Sikap mereka pun terlihat lebih menyebalkan daripada pemain yang berpura-pura cedera parah karena mereka tidak terlibat sama sekali dalam pertandingan.

Contoh- contoh seperti ini pun pernah saya saksikan beberapa kali sebelumnya. Seperti misalnya kala Torino vs Juventus di Serie A 2014-15 dan Inggris vs Italia di Piala Dunia 2014. Hal ini juga terjadi saat Skotlandia vs Perancis di kualifikasi Euro 2008. Khusus untuk Inggris vs Italia, hal ini sedikit aneh kala Joe Hart tidak kunjung di beri bola untuk melakukan goal kick, padahal Italia bukan tuan rumah Piala Dunia. Namun kelihatannya saat itu sang ball boy tidak bermaksud demikian, dan hanya membutuhkan waktu untuk mengambil bola. Lagipula, bukan Brazil yang bermain saat itu.

joe_hart_rant-642x362
Hey! Hey! Hey! Give me the f***ing ball!! (Foto: craveonline.com)

Sedangkan pada kasus Torino dan Skotlandia, kala itu mereka sedang unggul, sehingga para ball boy di Olimpico Turin dan Hampden Park bersikap demikian. Apalagi, yang bertamu ke kandang mereka adalah tim yang tergolong kuat. Mereka pun akhirnya memenangkan pertandingan kala itu. Torino menang 2-1, Skotlandia menang 1-0.

***

Kalian juga pasti pernah melihat hal-hal semacam itu di pertandingan lainnya, karena yang saya sebutkan tadi adalah contoh kecil saja dari kasus-kasus seperti ini. Sebenarnya hal-hal ini terjadi dikarenakan umumnya para ball boy ini adalah anak-anak yang berasal dari lingkungan tempat klub sepakbola dan stadion tersebut berada. Baik dari akademi mereka sendiri, sekolah-sekolah di kota tersebut, atau mungkin fans-fans cilik mereka. Sehingga sangat wajar jika mereka bersikap demikian.

Apalagi, khususnya di Eropa dan Amerika Latin, mereka yang mendukung klub sepakbola sejak kecil terkadang sudah terdoktrin oleh fanatisme, sehingga bila mereka dapat membantu tim mereka memenangkan pertandingan kandang, maka apapun akan mereka lakukan, termasuk membuang waktu.

Setelah kasus Hazard vs Charlie, Arsene Wenger, manajer abadi Arsenal, pernah berujar bahwa Hazard seharusnya tidak bersikap demikian, tapi ia memaklumi sikapnya kala itu dan yakin bahwa Hazard tak bermaksud menyakiti Charlie. Sedangkan untuk Charlie dan ball boy lainnya, ia mengatakan bahwa mereka harus dididik sedemikian rupa, sehingga mereka bisa bersikap adil kepada siapapun, termasuk pada tim yang bertandang. Mereka tidak boleh membuang-buang waktu dan harus memberikan bola secepat mungkin.

Panditfootball pernah membahas hal ini dan mereka mengatakan mungkin sepakbola harus belajar pada tenis, dimana para ball boy diseleksi lebih dulu dan harus mengikuti sejumlah pelatihan. Kita pun bisa melihat bagaimana cara ball boy bersikap, mulai dari mengambil bola yang keluar hingga memberikan bola pada atlet yang bermain. Sedikit kaku, tapi terlihat bahwa mereka mengikuti prosedur yang ada, dan tak pernah terlihat ada masalah di tenis yang terkait dengan ball boy. Bahkan, ball boy diberi tepuk tangan oleh penonton kala menangkap bola.

Sehingga, mengambil kesimpulan dari artikel Panditfootball dan pernyataan Wenger, barangkali hal yang sepatutnya diajarkan pada para ball boy di sepakbola adalah bagaimana menegakkan profesionalisme mereka dalam bertugas, sehingga sejak kecil mereka sudah diajarkan bertanggung jawab dengan baik  dan bersikap amanah, karena itulah tujuan awal mereka ditunjuk. Semua orang pasti sepakat.

Permasalahannya, hal ini lebih mudah dilakukan jika para ball boy itu berasal dari kota lain dan tidak merasakan ikatan dengan klub tempat mereka menjadi ball boy. Bila mereka tetap berasal dari lingkungan yang sama dengan klub sepakbola itu, rasanya hal itu akan sulit terjadi. Ya, semua ini karena para ball boy itu juga seorang fans biasa yang ingin tim kesayangannya menang. Jika sudah begini, kelihatannya tradisi ball boy yang negatif ini masih akan terus berlanjut.

Featured Image : youtube.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s