Mengembangkan Pariwisata Lewat Sepakbola

Di negara kita, jika mendengar tentang pariwisata, umumnya yang terlintas di kepala adalah berkunjung ke alam terbuka berpemandangan indah, eksotis, dan memanjakan mata. Ada pula yang berpikir tentang bermacam-macam makanan yang bisa dinikmati di tiap tempat yang dikunjungi. Ada juga yang bertualang mengelilingi Indonesia agar bisa mengenal budaya tradisional, sejarah dan adat istiadat daerah setempat.

Ketiga hal diatas tentu merupakan bentuk pariwisata negara kita yang telah berhasil mengundang jutaan wisatawan lokal dan asing setiap tahunnya untuk datang berkunjung. Belum lagi jika menyebut berbagai industri kreatif yang ada di Indonesia.

Namun, rasanya tidak banyak yang berpikir bahwa sepakbola, olahraga paling populer di negara kita ini, dengan segala hiruk pikuknya, bisa menjadi senjata andalan untuk mempromosikan sebuah daerah. Ya, sederhananya, sebuah daerah menjadikan sepakbola sebagai tujuan wisata di daerahnya. Bila masih terlalu sulit untuk menjadi tujuan utama, setidaknya sepakbola bisa menjadi salah satu pilihan untuk para wisatawan yang datang berkunjung ke suatu daerah.

Contoh yang paling gampang misalnya orang yang berkunjung ke Bali, selain menikmati pantai dan pesona alam lainnya, mereka juga bisa menonton pertandingan kandang Bali United atau Perseden Denpasar. Atau, orang yang bekunjung ke Lamongan, selain menikmati soto khas daerah tersebut, juga dapat berkunjung ke stadion tempat Persela bertanding. Bagaimana, menarik bukan?

Yang lebih menarik lagi, orang yang mengingatkan kita akan potensi besar tersebut bukanlah orang pribumi negeri ini, melainkan pria paruh baya asal Inggris bernama Antony Sutton, seorang fans fanatik Arsenal yang ketika saya mengatakan ‘Now I watched Chelsea in Premier League’, dengan sedikit bercanda ia ingin mengambil kembali buku yang sudah ditandatanganinya dari tangan saya.

Antony, bersama dengan rekannya, sutradara bernama Andibachtiar Yusuf, menjelaskan hal tersebut dalam acara bedah buku berjudul ‘Sepakbola: The Indonesian Way of Life’ di Braga, Bandung, 4 Maret lalu. Buku tersebut menjelaskan kisah perjalanan Antony selama belasan tahun mempelajari sepakbola nasional serta segala hal yang ada di baliknya, dan Andibachtiar adalah orang yang berjasa dalam menerjemahkan tulisan Antony agar lebih diterima di masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan.

Selama sekitar 1 jam acara diskusi tersebut, topik terkait football tourism-lah yang menyita perhatian saya, mengalahkan topik yang lainnya. Padahal bahasan dalam bedah buku itu cukup beragam. Fakta bahwa Antony sudah menjalani kehidupannya sebagai turis sepakbola dengan segala senang dan susah yang dialaminya, terutama di Indonesia, membuat saya yakin dan setuju dengan Antony, bahwa pangsa pasar untuk football tourism sebenarnya ada, namun tak terlihat selama ini. Hal yang paling banyak dilihat masyarakat Indonesia justru adalah buruk-buruknya sepakbola nasional.

Padahal, jika kita melihat ke luar negeri sana, terutama di Eropa, sudah banyak klub-klub yang telah berhasil menerapkan wisata sepakbola ini, mulai dari sekedar tur stadion hingga membuat para wisatawan rela merogoh kocek mereka untuk menonton pertandingan sebuah klub secara langsung, padahal mereka bukanlah warga tempat klub bola tersebut berasal. Kotanya pun belum tentu merupakan tempat yang indah untuk dikunjungi. Namun klub sepakbola di sana mampu membuat orang asing datang berkunjung.

Sebagai contoh, Antony beberapa kali mengunjungi stadion Benteng, Tangerang, untuk melihat Persita atau Persikota bertanding. Terlepas ia sudah tinggal di sana untuk beberapa lama, namun bila diperhatikan sebenarnya tak ada yang begitu menarik untuk dikunjungi di Tangerang yang merupakan kota industri (saya tinggal disana selama belasan tahun, dan menurut saya memang hampir tak ada tempat hiburan yang menarik untuk dikunjungi orang kecuali mall-mall).

Namun sepakbola berhasil membuat orang seperti Antony berhasil datang berkunjung ke stadion. Sebuah hal yang sejauh ini belum disadari potensinya oleh pihak klub, sponsor, investor dalam negeri, ataupun pemerintah daerah tempat klub tersebut bernaung.

***

Mengelola sepakbola menjadi tujuan wisata bukan hal yang mudah pastinya. Di level pengurus liga, ketidakkonsistenan dalam menetapkan jadwal pertandingan saja sudah mampu merusak mood para suporter klub, apalagi wisatawan dari luarkota/negeri. Di pihak klub sendiri, tidak banyak klub yang sejauh ini mampu menjalankan operasional klubnya dengan benar-benar layak. Sehingga, bila hal yang pokok (pembayaran gaji, akomodasi pertandingan, penyewaan stadion, dsb.) saja masih belum terlaksana dengan baik, tentu hal yang bersifat tersier seperti ini seringkali diabaikan.

Memang, ketika kita ingin menjadikan sepakbola sebagai alat promosi suatu daerah, banyak hal yang harus diperhatikan, bahkan yang tak terkait sepakbola sekalipun. Mulai dari infrastruktur, akses jalan dan transportasi ke stadion, media informasi klub yang baik dan up to date, hingga operasional dan tata kelola klub yang baik pun perlu dilakukan.

Hal ini tentu merupakan pekerjaan rumah yang cukup berat bagi pengurus sepakbola nasional, klub-klub Indonesia dan juga pemerintah daerah. Namun jika semuanya berjalan dengan baik, tentu akan mempermudah para turis-turis di masa yang akan datang untuk berkunjung ke stadion suatu kota/kabupaten untuk menikmati pertandingan sepakbola. Karena kondisinya saat ini hanya orang-orang seperti Antony yang rela berganti-ganti moda transportasi demi menonton pertandingan sepakbola, dan tak semua orang se-spartan Antony.

***

Tentu pengembangan pariwisata sepakbola juga mempunyai dampak yang kurang mengenakkan. Contohnya saja dari segi dukungan suporter. Di periode keduanya melatih Chelsea, Jose Mourinho pernah mengeluh karena kurangnya dukungan yang diberikan dari para penonton yang hadir di Stamford Bridge kala Chelsea bertanding. Namun kala itu, salah seorang fans Chelsea sendiri juga membela diri bahwa saat ini para penonton yang datang sudah terlalu banyak turis ketimbang para suporter lokal, dan tentu para turis ini memiliki keterikatan yang berbeda dengan warga London asli.

Ya, di Inggris sana, sepakbola sudah menjadi industri. Hanya yang berkantong tebal yang mampu masuk stadion, dan terkadang para turis-lah orang-orang berkantong tebal tersebut. Namun, bila banyak  turis yang sudah berkunjung, itu menandakan bahwa klub-klub tersebut sudah mampu mengelola operasional mereka dengan baik. Dan untuk sekarang ini, pengelolaan klub yang baiklah yang dibutuhkan dalam perkembangan sepakbola nasional.

Toh, tidak berarti di masa depan, saat klub-klub di negara kita sudah menjadi daya tarik wisatawan, mereka harus mengikuti gaya industri sepakbola Inggris yang kapitalis kan? Mereka masih bisa mengikuti gaya industri sepakbola Jerman yang merangkul para suporter dan tiketnya murah, sehingga para suporter klub yang loyal tersebut, yang sebagian berasal dari kalangan menengah ke bawah, masih bisa datang mendukung dan meneriakkan yel-yel, dan tidak tergerus oleh kekuatan finansial para turis sepakbola.

*Tulisan ini merupakan hasil pengembangan sederhana dari apa yang saya dapat selama acara bedah buku tersebut. Tulisan ini juga bukan merupakan review dari bukunya, karena saya belum membacanya sampai selesai. Saya akan bercerita tentang bukunya nanti setelah selesai membacanya. Oh ya, saya juga berfoto bersama dengan Antony (foto atas) dan Andibachtiar (foto bawah) sebagai kenang-kenangan.

sutton

andibachtiar

Featured Image : wearedevelopment.net

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s