3 Momen Yang Paling Diingat Dari Florenzi

Entah kebetulan atau tidak, dalam beberapa tahun terakhir seperti ada peraturan tak tertulis yang mengatakan bahwa kapten utama AS Roma haruslah orang yang lahir, besar, dan berguru di akademi Roma. Hal ini terlihat di lapangan. Bila sang pangeran Roma, Francesco Totti, sedang berhalangan hadir di daftar starting line-up (dan semakin sering musim ini), maka Daniele De Rossi yang akan mengenakan ban kapten dalam setiap pertandingan yang dilakoni Giallorossi. Bila keduanya berhalangan, maka otomatis Alessandro Florenzi-lah yang akan memimpin Roma di lapangan.

Jika dilihat lebih detil, hirarki kapten ini kelihatannya tidak hanya berdasarkan hal terkait asal usul tersebut, namun juga berdasarkan durasi bermain di Roma. Kebetulan, mereka bertiga juga yang masa baktinya paling lama. Sehingga wajar bila urutan jabatan kapten di Roma seperti itu.

Khusus untuk Florenzi, barangkali tidak sedikit yang setuju bila ia disebut sebagai pangeran Roma berikutnya, menggantikan Francesco. Ya, setelah lebih dari 18 tahun Francesco menjabat sebagai kapten Roma dan berhasil membawa Roma meraih gelar scudetto Serie A Italia tahun 2001, maka Florenzi-lah yang diperkirakan bisa mengemban jabatan kapten Roma dalam kurun waktu yang lama di masa depan, meski tak akan selama Francesco (di zaman sepakbola modern ini, nampaknya sudah mustahil terjadi).

Sang pangeran Roma diperkirakan akan pensiun akhir musim ini, dan wakilnya selama bertahun-tahun, De Rossi, akan berusia 34 tahun saat menjabat sebagai kapten utama musim depan (bila Francesco jadi pensiun). Di usia tersebut, mungkin saja usia karirnya sebagai pesepakbola tak akan lama lagi. Itu sebabnya Florenzi digadang-gadang akan menjadi kapten utama Roma dalam beberapa tahun ke depan. Tentu, jika ia mau bertahan di Roma, seperti yang dilakukan Francesco dan De Rossi.

Saat ini, Florenzi sedang absen membela Roma sampai akhir musim dikarenakan rangkaian cedera ligamen yang dideritanya. Namun, ia tetaplah pemain andalan bagi Roma dan timnas Italia di masa depan bila ia bisa menampilkan performa terbaiknya seperti sedia kala. Kemampuannya untuk bisa bermain di banyak posisi dan juga kecerdasan taktiknya membuat ia selalu bisa diandalkan oleh pelatih manapun.

Dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang jatuh pada 11 Maret, saya ingin membagikan 3 hal menyenangkan yang paling saya ingat dari Florenzi. Ini dia 3 hal tersebut.

  1. Menghampiri neneknya setelah mencetak gol

Saat menghadapi Cagliari di stadion Olimpico pada pekan ketiga Serie A musim 2014-15, tepatnya tanggal 21 September 2014, sang nenek tersayang datang untuk menyaksikannya bertanding secara langsung. Menurut Florenzi, sang nenek yang kala itu berumur 82 tahun belum pernah datang ke stadion sama sekali. Pada kunjungan pertamanya ke stadion, Florenzi pun bertekad untuk mencetak gol. Sebuah hal yang akhirnya menjadi kenyataaan.

Memasuki menit ke 13, berawal dari umpan Gervinho ke sisi kanan kotak penalti, Florenzi tanpa basa basi langsung melepaskan sebuah tendangan datar dan keras yang tak bisa dihadang oleh kiper Alessio Cragno. Diserbu oleh rekan-rekannya untuk merayakan gol, ia justru malah berlari ke tribun penonton dan langsung memeluk sang nenek. Sebuah pemandangan haru yang mendapat banyak tepuk tangan dari para penonton di sekeliling neneknya. Bahkan sang nenek pun ikut menangis terharu.

Memang setelahnya Florenzi mendapat kartu kuning atas perayaan itu, namun pelatih Roma kala itu, Rudi Garcia, tak mempermasalahkannya. Bahkan, pelatih timnas Italia kala itu, Antonio Conte juga mengizinkannya mengulangi hal yang serupa, asal ia belum mendapatkan kartu kuning sebelumnya.

Ya, terkena kartu kuning tentu bukanlah masalah besar buat Florenzi bila dibandingkan dengan kebahagiaan yang diberikan untuk sang nenek.

  1. Gol spektakuler ke gawang Barcelona

Sederhana saja. Siapa sih yang tidak terkesan dengan gol jarak jauh? Perpaduan antara kepintaran melihat situasi, kemampuan menendang jarak jauh yang akurat, serta keteledoran yang biasa dilakukan kiper pada umumnya, yaitu meninggalkan gawang saat bola sedang jauh dari wilayah pertahanan membuat tipe gol seperti ini terlihat menakjubkan. Kesan jenius akan terpancar dari sang penendang, dan kesan bodoh akan muncul dari sang kiper.

Sama seperti peristiwa pertama, kejadiannya berlangsung di stadion Olimpico. Roma saat itu sedang bertanding melawan Barcelona di matchday 1 Grup E Liga Champions 2015-16.

Dalam keadaan tertinggal 1 gol, memasuki menit ke-31 Florenzi yang menggiring bola sendirian di sayap kanan mendapatkan pengawalan dari pemain-pemain Barcelona. Tidak ketat memang, hanya sekedar diiringi saja. Namun disitulah letak kesalahannya. Kala menggiring bola, dengan leluasa Florenzi berkali-kali melihat ke depan. Awalnya mungkin untuk melihat siapakah pemain Roma yang bisa ia umpan, namun setelah melihat posisi Marc-Andre ter Stegen yang terlalu maju, mungkin ia mengubah keputusannya untuk melepaskan tembakan ke gawang Barcelona yang kosong tak terkawal.

Sebuah keputusan yang bagus tentunya, karena kala itu pertandingan berakhir imbang 1-1 dan Barcelona membuang keunggulan yang ada dengan membiarkan Florenzi sendirian tanpa pengawalan ketat.

  1. Flying-saves saat melawan Jerman

Bagi para pecinta sepakbola menyerang, Euro 2016 menjadi sebuah turnamen paling tak populer. Hal ini dikarenakan banyak tim-tim penganut paham ofensif yang banyak bertumbangan. Melihat tim-tim yang bermain negative football menang tentu mengesalkan buat mereka.

Tim yang jelas-jelas mengesalkan kelompok ini adalah Italia, yang berhasil meredam Belgia dan Spanyol, dua tim yang pasti dicintai penikmat offensive football, selain karena gaya main mereka, juga karena nama-nama tenar yang banyak bermain di La Liga dan Premier League.

Sayangnya, Italia gagal melangkah lebih jauh karena harus dihentikan Jerman di perempat final. Namun dalam pertandingan ini Florenzi, yang diturunkan menjadi starter, melakukan sebuah penyelamatan akrobatik.

Saat itu, Thomas Muller yang berhasil mengecoh Giorgio Chiellini di dalam kotak penalti melepaskan tembakan tinggi ke arah kanan gawang Italia. Gianluigi Buffon yang terpaku hanya bisa melihat ke arah kanan gawangnya. Namun pemandangan yang ia lihat di depan mata pastilah sama mengejutkannya dengan yang dilihat oleh penonton di rumah.  Ia melihat Florenzi terbang untuk membelokkan bola tendangan Muller sehingga bola tersebut tidak menjadi gol.

Florenzi terbang ke arah yang berlawanan dengan datangnya bola. Di saat ia bersimpangan jalan dengan bola di udara, Florenzi mengusir bola dengan ujung kaki kanannya lalu jatuh dengan punggung sebagai bantalan.

Pada akhirnya Florenzi harus melihat teman-temannya gagal dalam babak adu penalti, namun aksi heroik darinya membuat Jerman harus menggunakan jurus andalannya di turnamen besar (adu penalti) untuk lolos ke semifinal.

Bagaimana, kalian punya momen menarik lainnya untuk mengingat Florenzi?

Featured Image: twitter @ASRomaEN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s