Manajer Baru, Leicester Baru

Leicester City berhasil mengambil jatah slot terakhir babak perempat final liga champions musim 2016/17 setelah membungkam juara liga europa 3 musim terakhir, Sevilla. Mereka pun bergabung dengan 7 tim elit Eropa lainnya, yang tak perlu disebut namanya pun kalian sudah tahu semuanya.

Bisa dibilang, mereka-lah satu-satunya tim yang masih ‘bau kencur’ disini. Semua tim sudah pernah merasakan bagaimana rasanya bermain di final kompetisi tertinggi di Eropa tersebut, sementara The Foxes baru mencicipi liga champions di musim ini. Namun keberhasilan mereka melaju ke babak delapan besar di musim perdana tentu merupakan sebuah prestasi tersendiri.

Ya, apalagi prestasi ini hadir ditengah masa-masa suram mereka musim ini. Mulai dari ‘sekali main langsung tersingkir’ di piala liga, tidak pernah mencetak gol di liga sepanjang tahun 2017 bersama Claudio Ranieri, hingga tersingkir dari piala FA oleh tim asal divisi 3 yang bermain dengan 10 orang sepanjang babak kedua. Sebagai juara bertahan premier league, kurang memalukan apa, coba?

Namun dengan ‘revolusi’ yang dilakukan pihak klub, sedikit demi sedikit Leicester mulai membenahi diri. Performa mereka mulai membaik sejak Craig Shakespeare mengambil alih jabatan Ranieri. Mereka pun berhasil memenangi 3 partai beruntun dibawah arahan Craig. Sebuah hal yang tidak pernah terjadi di musim ini.

Optimisme para pendukung pun kembali meningkat. Rasa yakin untuk berhasil lolos degradasi dan berbicara lebih jauh di liga champions pun mulai terpancar dari wajah-wajah mereka yang memenuhi tribun King Power Stadium ketika melihat Jamie Vardy dan kawan-kawan kembali ke jalur kemenangan.

Apa bedanya 4-4-2 Ranieri dengan 4-4-2 Shakespeare?

Saat Craig ditunjuk sebagai caretaker, yang benar-benar terlihat dari gaya main Leicester adalah mereka kembali memakai formasi 4-4-2 yang sempat diutak-atik oleh Ranieri di saat-saat akhir masa kerjanya. Bukan hanya formasi yang kembali ke dasar, komposisi pemainnya pun juga. Dalam 3 partai terakhir (2 premier league dan 1 liga champions), starting eleven Leicester diisi kembali oleh mereka yang menjadi starter saat menjadi juara musim lalu. 10 orang yang tersisa, minus N’golo Kante, kembali ke posisinya masing-masing. Bisa dibilang, Craig memakai formasi dan komposisi yang dipakai Ranieri musim lalu. Sedangkan posisi Kante The Great diisi oleh Wilfred Ndidi, pemain yang baru direkrut Ranieri pada Januari lalu.

Performa Ndidi pun cukup memuaskan sejauh ini. Media sudah mulai menyebut dirinya mampu mengisi pos yang ditinggalkan Kante. Sedangkan 10 pemain lainnya bermain seolah-olah mereka sedang mengejar gelar juara, seperti musim lalu. Ya, the good old Foxes is back. Bahkan, saat melawan Hull di pekan 27 premier league, mereka mampu mengejar ketertinggalan satu gol dan memenangkan pertandingan dengan skor meyakinkan, 3-1. Kondisi mampu membalikkan keadaan itu terakhir kali mereka alami musim 2015/16 lalu, tepatnya di pekan 11 saat melawan West Bromwich Albion.

Hasil positif di tiga laga terakhir ini terbilang mengagumkan sekaligus mengherankan. Apa bedanya sih 4-4-2 Craig dan Ranieri? Pemain-pemain yang dipakai kan hampir sama. Sampai sebelum melawan West Ham United di pekan 19 premier league (saat itu Leicester memakai formasi 4-2-3-1), Ranieri hampir selalu memakai formasi 4-4-2. Bahkan di partai terakhir yang dipimpinnya (vs Sevilla di liga champions), ia pun kembali ke formasi itu.

Riyad-Mahrez-695138
Mahrez pun sempat dipasang sebagai striker oleh Ranieri musim ini (Foto: express.co.uk)

Yang membedakan hanyalah susunan pemain. Pemain-pemain seperti Andy King, Islam Slimani, Ahmed Musa, hingga Daniel Amartey pernah dipasang menjadi starter dalam jumlah yang lumayan. Beberapa pemain pun pernah dipasang di posisi yang tidak biasa.

Perbedaan komposisi dan peran pemain ini yang mungkin membuat gaya bermain Leicester jadi sedikit berbeda. Slimani, misalnya, tentu tidak sama dengan Shinji Okazaki. Mungkin perubahan ini yang tidak bisa dipahami oleh para pemain dengan cepat, meskipun mereka sempat menggulung Manchester City 4-2 (unggul 4 gol terlebih dahulu) dengan susunan pemain yang sedikit berbeda dengan musim lalu.

Namun, apakah benar bermain dengan susunan formasi seperti musim lalu menjadi penyebab Leicester kembali meraih kemenangan??

3 laga, mencetak 8 gol, dan hanya kebobolan 2 gol   

Sub-judul diatas adalah kiprah Leicester arahan Craig sejauh ini. Hasil tersebut seperti menunjukkan bahwa Leicester tidak punya masalah dalam urusan ketajaman di depan  gawang lawan, serta mempunyai pertahanan yang kokoh, seolah-olah Kante masih ada.

robert-huth-morgan-wes_3440387
Tiba-tiba saja mereka kembali kokoh menjaga pertahanan Leicester. (Foto: skysports)

Namun hasil itu juga menunjukkan keanehan performa Leicester. Betapa susahnya mereka mencetak gol saat masih diasuh Ranieri musim ini. Total 8 gol baru bisa didapatkan setelah 6 partai (1 community shield, 4 premier league, 1 liga champions), itu pun 3 diantaranya berakhir kekalahan. Bahkan, khusus di liga, sampai Ranieri lengser, mereka hanya bisa mencetak 24 gol dalam 25 partai. Sementara untuk urusan pertahanan, The Foxes kebobolan 43 gol selama dilatih Ranieri.

Bisa dibilang, permainan Leicester musim ini di bawah Ranieri hanya sukses di liga champions, dimana saat memastikan lolos ke babak 16 besar, Leicester hanya kebobolan 1 gol. Awalnya banyak juga yang memperkirakan mereka belum terbiasa bermain dengan jadwal sepadat musim ini, namun saat rentetan hasil negatif justru semakin bertambah banyak di saat liga champions memasuki masa rehat, tentu ada hal lain yang dicium oleh media dan juga para suporter.

Mereka (media dan suporter) bisa jadi merasa, bukan ketidakmampuan beradapatasi dengan jadwal-lah yang membuat Leicester mengalami penurunan performa.

Pergantian manajer mungkin jawaban yang paling tepat

Sudah banyak yang memperkirakan bahwa ada sesuatu yang bersifat non-teknis, yang merusak performa Leicester musim ini. Mungkin mirip dengan Chelsea musim lalu. Bila sudah begitu, demi kebaikan tim, tentu mengorbankan manajer lebih murah biaya dan resikonya ketimbang menghukum para pemain.

Dan jika setelah sang manajer dilengserkan, tiba-tiba performa tim berubah 180 derajat, maka hal itu pun tidak perlu dipertanyakan. Dalam dunia sepakbola, kejadian seperti itu sudah terjadi berkali-kali. Apalagi bila penggantinya adalah sosok yang juga mempunyai pengaruh di mata pemain, seperti Craig saat ini. Seperti ada motivasi baru untuk bermain dan memenangkan pertandingan, yang sedikit luntur kala masih dilatih oleh manajer sebelumnya (Ranieri dalam kasus ini). Hasilnya pun sejauh ini sudah terlihat. Leicester sudah keluar dari zona degradasi di premier league serta berhasil menembus perempat final liga champions.

craig-shakespeare-leicester-premier-league_3435472
Bisa membawa Leicester lolos degradasi, Craig? (Foto: skysports)

Contoh-contoh perubahan drastis yang paling luar biasa tentu saja Chelsea yang dilatih Roberto Di Matteo (menggantikan Andre Villas-Boas) pada tahun 2012 dan Real Madrid yang dilatih Zinedine Zidane (menggantikan Rafael Benitez) pada 2016. Keduanya berhasil memenangkan liga champions di akhir musim. Keduanya pun dihormati para pemain Chelsea dan Madrid, seperti halnya Craig, karena kebetulan mereka berdua adalah legenda di klub masing-masing. Dan sama seperti Ranieri, Villas-Boas dan Benitez pun dilengserkan saat itu karena penurunan performa yang diduga disebabkan masalah internal dengan para pemain.

***

Terlepas dari apapun masalah yang terjadi di masa kepemimpinan Ranieri, para pemain Leicester saat ini sudah berhasil mengembalikan kepercayaan para suporter yang sempat menurun saat Ranieri keluar. Ironis memang jika melihat kondisinya, seolah para pemain memang sengaja ingin melengserkan Ranieri dengan cara bermain buruk, dan malah bermain bagus saat manajer baru ditunjuk. Namun para suporter pun kelihatannya sudah move on dari Ranieri dan siap mendukung siapapun manajer yang menangani Leicester. Selama Leicester bisa terus menang, maka tampaknya hal itu tinggal masa lalu yang harus dilupakan.

Craig pun saat ini juga yakin bahwa Leicester bisa melaju jauh di liga champions musim ini, bahkan meraih gelar juara. Memang, hanya itulah trofi yang bisa diraih The Foxes musim ini, meskipun meraih gelar tersebut tidaklah semudah berjalan di taman kota. Namun, bisa jadi ia pun terinspirasi oleh Di Matteo dan Zidane, dan merasa yakin mampu melakukannya.

Kita lihat saja nanti, apakah hasil positif yang diraih Leicester bisa terus berlanjut di premier league dan juga liga champions, atau hanyalah performa baik sesaat.

Featured Image : sports.naij.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s