Aturan Marquee Player Tidak Dibutuhkan Di Liga Indonesia

marquee player is a leading or pre-eminent professional athlete with the ability to attract a large audience. (Tom Dalzell dan Terry Victor, 2015, dalam buku The New Partridge Dictionary of Slang and Unconventional English).

Kalimat diatas adalah definisi dari marquee player, istilah yang sedang banyak dibahas dalam sepakbola nasional akhir-akhir ini. Dalam Wikipedia, marquee player diartikan sebagai an athlete who is considered exceptionally popular, skilled, or otherwise outstanding, especially in professional sports. Sederhananya, atlet yang populer, terkenal, dan berteknik mumpuni dalam dunia olahraga profesional.

Dalam pikiran saya dan mungkin kebanyakan orang, pemain yang bisa dikategorikan seperti ini pastilah pemain-pemain kelas dunia yang bersinar di Eropa sana. Apalagi jika kita mengacu pada Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat, A-League di Australia, dan Indian Super League (ISL) di India, nama-nama yang datang ke sana dengan status tersebut memang demikian adanya. Contoh-contoh dari David Beckham hingga Alessandro Del Piero tentu sudah tak asing lagi bagi kita.

Meskipun ada sedikit perbedaan aturan dan definisi dalam penerapannya di masing-masing liga, namun biasanya marquee player (di AS namanya designated player) bergaji cukup besar, jauh diatas rekan-rekan setimnya. Bahkan terkadang total gaji seluruh rekan setimnya jika digabungkan pun masih lebih kecil dari sang marquee tersebut.

Ini juga yang terjadi di Indonesia, yang mulai tahun ini ingin menerapkan aturan tersebut sejak kedatangan Michael Essien ke Persib. Meski tidak disebutkan jumlah kontraknya (ciri khas para pengurus klub di negara ini), diperkirakan ia menerima gaji yang jauh lebih besar dari pemain-pemain Maung Bandung yang lain, meski mungkin nilainya sudah jauh menurun dibandingkan kala ia membela Chelsea.

michael-essien-persib
Essien datang, peraturan baru pun tiba-tiba muncul. (Foto: persib.co.id)

Aturan marquee player yang ada di Indonesia pun memiliki kriteria yang sedikit berbeda, yaitu pernah bermain di tiga edisi terakhir Piala Dunia atau pernah bermain di liga papan atas di Eropa, serta berumur di bawah 35 tahun.

Namun bukan itu yang jadi masalahnya. Sejak diperkenalkan pada 16 Maret 2017 lalu, peraturan ini langsung mengundang banyak reaksi, baik positif ataupun negatif. Yang jadi pertanyaan utama, perlu ga sih aturan ini di liga Indonesia?

Merugikan tim-tim ‘medioker’

Di awal kepengurusan baru, PSSI merencanakan penerapan beberapa peraturan baru, mulai dari pembatasan usia sampai pengurangan jatah pemain asing menjadi 3 saja (1 Asia, 2 non-Asia). Alasannya agar pemain-pemain lokal bisa mendapat kesempatan lebih banyak. Namun, dengan munculnya aturan marquee player ini, sama saja dengan tidak merubah aturan. Sebuah klub tetap diperbolehkan memiliki 4 pemain asing (2 non-Asia + 1 Asia + 1 marquee). Munculnya aturan ini terlihat seperti sebuah cara untuk mengakali peraturan yang hendak dijalankan.

Memang aturan ini bersifat optional, sehingga tidak ada kewajiban untuk diterapkan. Namun, masalahnya klub yang tidak menerapkannya hanya diperbolehkan memiliki 3 pemain asing saja. Hal ini tentu tidak adil buat klub-klub yang dananya pas-pasan. Saat mereka hanya boleh punya 3 pemain asing, klub-klub kaya dengan enaknya bisa punya sampai 4 pemain asing.

Klub-klub yang tidak memiliki dana melimpah itu bukannya tidak mau memakai 4 pemain asing. Lagipula, banyak kan pemain asing yang harganya masih murah. Tapi peraturan baru menghalangi mereka untuk menambah jasa 1 pemain asing lagi.

persela
Persela Lamongan tidak berniat mendatangkan marquee player. (Foto: perselafootball.com)

Memang, tidak ada jaminan bahwa marquee player akan membuat sebuah klub menjadi lebih hebat, namun setidaknya PSSI harus bersikap adil dari awal, bukannya malah memicu perdebatan dengan aturan yang berat sebelah ini.

Marquee player tak menjamin sponsor akan datang

Jika melihat kebijakan marquee player di MLS, A-League, dan ISL, bisa dianalisis jika tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas liga, meningkatkan jumlah kehadiran penonton di stadion, serta mempopulerkan sepakbola di negara-negara tersebut, yang bukanlah olahraga nomor satu di sana.

Namun, di Indonesia, tanpa marquee player pun sepakbola tetaplah olahraga paling populer di negara ini. Tanpa marquee player pun para suporter tetap banyak yang datang ke stadion. Khusus untuk Liga 1, liga dimana aturan marquee player diterapkan, sebagian besar klubnya pun mempunyai dukungan suporter yang besar di setiap partai kandang, seperti Persib, Arema, Semen Padang, dan masih banyak lagi. Begitu juga dengan penjualan jersey. Siapapun pemainnya, penjualan jersey klub-klub pun tetap akan laku. Terlepas dari suporter pada bayar tiket atau nggak, beli jersey asli atau nggak, itu mah balik lagi ke edukasi klub pada suporter serta kantong masing-masing suporter.

Lagipula, saya masih yakin bahwa kedatangan marquee player tidak akan menjamin munculnya banyak sponsor yang akan bersedia untuk mendanai sebuah klub. Bisa jadi, para sponsor itu justru hanya menjalin kesepakatan dengan sang marquee, bukan dengan klub. Kalo bisa sampai begini, klub yang repot kan?

Sebaiknya kita melihat Persib sebagai contoh. Mereka sudah memiliki banyak sponsor jauh sebelum Essien datang. Itu artinya, lebih diperlukan manajemen klub yang baik serta laporan keuangan yang jelas ketimbang kedatangan marquee player untuk menarik minat para sponsor. Persib pun mendatangkan Essien karena mereka punya uang, bukan karena adanya aturan marquee player.

tim_persib_pbfc_jat
Banyak sponsor, banyak uang, bisa beli pemain mahal. (Foto: persib.co.id)

Khusus untuk federasi, ketimbang membuat aturan marquee player, PSSI seharusnya lebih memerhatikan tata kelola liga yang baik, pengaturan jadwal yang konsisten, serta laporan keuangan yang sehat dan transparan, sehingga para sponsor mau berbondong-bondong datang untuk mendanai liga, sehingga dana yang bisa disubsidikan kepada setiap klub (musim ini 7,5 miliar Rupiah per klub plus nilai hak siar) bisa semakin membesar.

Dengan dana subsidi tersebut, ditambah dana sponsor klub masing-masing, para klub Liga 1 pun bisa lebih mudah menjalankan operasional mereka, sedikit demi sedikit membangun infrastruktur, dan juga mendatangkan pemain yang berkualitas tanpa perlu adanya aturan marquee player. Kalau sudah begini, kualitas dan nama liga akan terangkat dengan sendirinya.

Kuota 2+1 lebih baik untuk sepakbola nasional

Sejauh ini, daftar pemain asing Persib masih terisi 3 orang, yaitu Essien, Vladimir Vujovic, dan Shohei Matsunaga. Jadi, Persib pun sebenarnya masih memenuhi aturan 2+1 untuk pemain asing yang direncanakan PSSI di awal.

Selain itu, skuad klub-klub peserta Liga 1 yang lain pun sejauh ini tidak ada yang kelebihan jumlah pemain asing. Sehingga, sebelum para klub kaya mendatangkan pemain asing yang baru, lebih baik PSSI segera mempertegas aturan ini. Harapannya sih, peraturan ini dicabut, karena seperti yang sudah dijelaskan, aturan ini merugikan pihak-pihak tertentu.

ketua-umum-pssi-edy-rahmayadi-memberikan-kata-sambutan-pada-_161111110135-697
Mending ngeberantas mafia wasit daripada buat peraturan marquee player, Pak Komandan. (Foto: republika)

Sebaiknya PSSI konsisten dengan tujuan awal mereka menerapkan aturan 2+1 untuk pemain asing. Mereka sudah ‘memaksa’ klub-klub untuk memainkan para pemain muda minimal 3 orang selama 45 menit demi kepentingan timnas U-23 menghadapi Sea Games 2017 dan Asian Games 2018. Jangan lagi mereka menerapkan peraturan yang merugikan untuk banyak klub di Liga 1.

Lagipula, jika salah satu tujuan diterapkannya aturan marquee player ini adalah untuk membantu peningkatan kualitas para pemain lokal karena bermain bersama mereka, sebenarnya PSSI bisa melakukan itu dengan memberikan pemain lokal kesempatan bermain yang banyak serta menambah jumlah pelatih berkualitas di negara kita, yang justru bisa mendatangkan manfaat lebih luas untuk persepakbolaan nasional. Ingat, manfaat yang didapat dengan bermain bersama marquee player hanya bisa dinikmati segelintir pemain saja.

***

Kebijakan marquee player ini terasa seperti terburu-buru sekali, karena baru diumumkan sekitar sebulan menjelang kompetisi dimulai. Padahal aturan-aturan baru sebaiknya sudah disosialisasikan jauh-jauh hari. Bahkan, dikutip dari Bola.com, klub sebesar Arema saja mempertanyakan aturan marquee player ini, sehingga kita bisa melihat bahwa klub yang diuntungkan dari aturan ini benar-benar sedikit.

Jika manfaat suatu peraturan hanya bisa dirasakan golongan tertentu saja, maka bisa dipastikan bahwa aturan tersebut tidak akan membawa manfaat untuk sepakbola nasional. Yang ada, kecemburuan terhadap pihak tertentu akan meningkat, dan tentu tidak akan baik untuk iklim kompetisi nasional ke depannya.

Lagipula, menurut analisis diatas, aturan marquee player tidak begitu penting untuk diterapkan. Bila ingin mendatangkan pemain terkenal, toh masih bisa dimasukkan ke dalam kuota pemain asing. Tak perlu dipisah-pisah, apalagi tak ada jaminan apapun di awal yang bisa diberikan oleh marquee player tersebut, sama seperti pemain asing lainnya di awal kedatangan mereka.

Jika PSSI ingn meningkatkan pamor dan kualitas kompetisi sepakbola nasional, lebih baik mereka dengan sabar dan bertahap memperbaiki tata kelola dan peningkatan mutu sepakbola nasional. Itu bisa menjamin adanya peningkatan kualitas kompetisi dibandingkan membuat peraturan tentang marquee player. Ya,  jangan dibiasakan membuat program-program mercusuar seperti masa lalu. Masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan ketimbang aturan marquee player ini, Pak Komandan.

* Kabar terbaru, Persib sudah mempunyai 4 pemain asing, dengan Carlton Cole sebagai tambahan. Persela yang awalnya menampik pun akhirnya membeli pemain berstatus marquee player, yaitu Jose Coelho.

Featured Image : skysports.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s