5 Hal Menarik Dalam Pertandingan Italia-Albania

Pada Sabtu (25/3) dinihari WIB, Italia berhasil menjaga asa untuk lolos langsung ke Piala Dunia 2018 setelah mengalahkan Albania 2-0 dalam lanjutan kualifikasi Grup G. Dua gol yang dicetak Daniele De Rossi dan Ciro Immobile membuat tim asuhan Gian Piero Ventura ini menempel ketat Spanyol di puncak klasemen, dengan poin yang sama (13 poin) dan hanya kalah selisih gol (9 berbanding 17). Sedangkan tim asuhan Gianni De Biasi saat ini terdampar di posisi 4 klasemen dengan nilai 6.

2-0
Itu bukan 4-4-2 ya, Italia pake 4-2-4 tadi malem. (Foto: livescore.com)

Dilangsungkan di stadion Renzo Barbera, Palermo, partai tersebut menyajikan permainan yang menarik dari kedua tim. Tidak ada istilah tim underdog atupun unggulan, yang terlihat hanyalah dua tim yang sama-sama lapar kemenangan. Kedua tim yang sama-sama dilatih Italiano gaek (keduanya berusia lebih dari 60 tahun) ini saling melakukan permainan menyerang, saling melakukan pressing, saling memotong bola, hingga saling mengancam gawang lawan dengan peluang masing-masing. Italia berhasil mencatatkan 16 tembakan, sedangkan Albania 11. Namun Gli Azzurri-lah lebih efektif dalam menyelasaikan peluang, sehingga berhasil keluar sebagai pemenangnya.

Dalam pertandingan tersebut, tercatat ada 5 hal menarik yang dapat kita pelajari, khususnya dari tim tuan rumah.

  1. Itu Verratti atau Pirlo?

Jika Marco Verratti disebut-sebut sebagai penerus Andrea Pirlo di timnas Italia, maka saya akan bilang bahwa ia lebih tepat disebut sebagai reinkarnasinya. Tadi malam, sektor tengah lapangan Italia seolah-olah diisi oleh Sang Pangeran Brescia tersebut, tapi dengan pergerakan yang lebih cepat.

Verratti benar-benar menunjukkan bahwa ia memang sudah pantas menjadi playmaker timnas Italia untuk sedekade ke depan. Permainan Gli Azzurri tadi malam benar-benar dikomandoi olehnya, terutama serangan lewat sektor tengah. Mulai dari build-up serangan, turun membantu pertahanan, berkali-kali berhasil melakukan tekel dan merebut bola (babak kedua tercatat 4 kali), melakukan pressing pada pemain Albania, dribbling yang oke, melakukan crossing, bergerak ke sayap membantu penyerangan, hingga melakukan hal yang biasa Pirlo lakukan, yaitu melepaskan through ball mematikan.

timthumb
Duetnya dengan De Rossi benar-benar menakjubkan pada pertandingan ini. (Foto: sportfair.it)

Italia setidaknya 15 kali melepaskan through ball ke depan gawang, 9 diantaranya lewat Verratti. Sayangnya, tidak ada satupun umpan ini yang berhasil dimanfaatkan oleh duet Andrea Belotti-Immobile untuk mencetak gol. Meskipun begitu, Verratti layak mendapatkan status man of the match pada partai ini, setidaknya bagi saya.

  1. Ilusi semu skuad berusia muda

Jika Italia dibawah Ventura disebut-sebut lebih banyak memberikan kesempatan pada pemain muda, mungkin lebih tepat jika mengatakan bahwa ia mulai percaya pada para pemain yang berpengalaman minim dalam ajang internasional, namun lebih berkualitas. Kalau pun Ventura memasang banyak pemain muda, biasanya itu terjadi dalam partai persahabatan. Namun semua pelatih Italia melakukannya, kan?

Rataan usia 11 pemain Gli Azzurri yang turun saat melawan Albania (Italia tidak melakukan substitusi) pun masih menyentuh angka 28,4 tahun, tak jauh berbeda dengan di Euro 2016. Hanya saja, di era Ventura pemain yang caps-nya masih sedikit namun berhasil menyegel posisi utama di timnas memang banyak jumlahnya. Contohnya saja Lorenzo Insigne, Belotti, Davide Zappacosta, dan Immobile yang bermain melawan Albania. Bisa dibilang, hanya Verratti dan Mattia De Sciglio yang masih berusia muda namun sudah menjadi pemain inti sebelum Ventura mengambil alih komando di timnas. Sisanya? Dulu sih masih jadi cadangan.

C7tiCSWWsAQu98z
Starting line-up vs Albania. Semua main full 90 menit! (Foto: @azzurri)

Kelihatannya memang Ventura ingin menunjukkan bahwa kombinasi pemain senior dan junior (selain usia, juga dalam perihal caps) akan memberikan kualitas yang lebih mumpuni dalam timnas Italia, selain tentu saja sebagai bentuk regenerasi yang berkelanjutan. Kita lihat saja nanti bagaimana skuad Italia di Rusia 2018, apakah para pemain junior ini akan memenuhi skuad lebih banyak dibandingkan generasi De Rossi dan kawan-kawan atau tidak.

  1. Skema 4-2-4 belum berjalan sempurna

Memang strategi ofensif ini belum biasa dipakai oleh Italia, namun bukannya strategi ini tidak berhasil. Permainan Gli Azzurri justru terlihat segar, eksplosif, dan dinamis. Kuat dan rapat di belakang, serta agresif di lini depan, baik dari tengah maupun sayap.

Hanya saja, cukup terlihat bahwa para pemain butuh waktu unutk menjalankan formasi ini dengan baik. Pada partai tersebut, Italia masih kesulitan menciptakan peluang, terutama dari situasi open play. Di babak pertama, hanya 1 dari 5 tembakan Italia yang tercipta dari open play.

Di babak kedua, kondisinya lebih baik. 6 dari 10 tembakan tercipta dari situasi open play, 1 menjadi gol. Namun tetap saja selama pertandingan, jumlah tembakan yang berasal dari situasi bola mati lebih banyak, yaitu 9 berbanding 7. Kedua gol Italia pun proses awalnya terjadi dari tendangan bebas. Bandingkan dengan Albania yang hampir semua peluangnya berasal dari situasi open play.

Selain itu, minus dalam gaya main Italia tadi malam adalah ketidakmampuan untuk memanfaatkan umpan silang, baik itu dari pengumpan ataupun penerima. Sekian banyak crossing yang dilancarkan, hanya 3 yang tepat sasaran. Memang salah satunya berbuah gol Immobile, yang bermula dari tendangan bebas Insigne. Namun jika melihat pertandingan tadi malam, tentu rasa kesal akan muncul, khususnya untuk para pengumpan.

Begitu juga dengan para pemain depan Italia sebagai penerima tadi malam. Sudahlah through ball ga ada yang beres nerimanya, umpan silang pun juga sama. Padahal Belotti dan Immobile termasuk penyerang yang cukup kuat di udara. Jika memang dibutuhkan dan mau, mungkin Ventura bisa memanggil kembali Graziano Pelle (meskipun rasanya sulit) untuk memperbanyak opsi pemain depan. Atau, terus melatih formasi ini dengan baik agar pemain Italia makin terbiasa.

  1. 1000 pertandingan resmi untuk Gianluigi Buffon

Ya, di partai ini, sang juara dunia itu mencatatkan milestone tersendiri. Pertama kali menjalankan debutnya di partai resmi pada 19 November 1995 saat melawan AC Milan-nya Roberto Baggio di Serie A, 22 tahun kemudian pun ia menunjukkan pada dunia bahwa ia masih mampu menjaga kualitas permainannya di level tertinggi dengan berhasil bermain di 1000 partai resmi.

Capture
Salah satu ucapan untuk Buffon dari para tifosi. (Foto: full-matches.com)

Sama seperti partai debutnya, Buffon pun berhasil membuat clean sheet kali ini, seolah-olah ia tak mau salah satu pencapaian terbaiknya ini dinodai oleh gol dari pemain Albania. Buffon juga masih berhasrat memenangkan Piala Dunia tahun depan di Rusia, sehingga jumlah caps-nya untuk timnas Italia dan jumlah partai resmi yang ia mainkan pun mungkin masih akan bertambah banyak.

Anak-anak yang bertugas sebagai player mascots dalam pertandingan tersebut pun semuanya memakai kaos bertuliskan angka 1000 di dada mereka untuk memperingati hari bersejarah itu.

  1. Flare yang kembali masuk ke stadion

Sama seperti ketika melawan Kroasia di stadion San Siro, Milan, dalam partai kualifikasi Euro 2016, pertandingan kali ini pun sempat terhenti beberapa menit dikarenakan flare yang dinyalakan di tribun, bahkan masuk ke dalam lapangan. Lebih parah dari kelakuan suporter timnas Indonesia di Piala AFF 2016 lalu. Bahkan kapten Albania, Ansi Agolli, dan beberapa pemain Albania lainnya sampai harus meminta mereka untuk tenang.

Salah satu yang disayangkan adalah panitia pertandingan seperti tidak belajar pada pengalaman sebelumnya. Pengawasan yang kurang ketat membuat banyak flare yang berhasil lolos dan dinyalakan dalam stadion.

Untitled
Untung De Rossi masih sabar menanti flare dipindahkan petugas. (Foto: full-matches.com)

Padahal, kondisi ini bisa saja mengganggu ritme permainan yang sedang dibangun. De Rossi pun sempat terganggu saat hendak menendang penalti karena masuknya flare ke lapangan. Untung saja ia masih berhasil melakukan tugasnya dengan baik.

***

Dengan kemenangan ini, banyak pengamat yang memperkirakan bahwa siapa yang akan lolos langsung ke Rusia sebagai perwakilan grup G akan ditentukan pada partai Spanyol-Italia di bulan September nanti.

Namun, bukan berarti Italia bisa leha-leha saat melawan tim yang lain. Menang terhadap kontestan grup G yang lain (Makedonia, Israel, Liechtenstein, dan kembali melawan Albania) di 4 partai lainnya juga sama pentingnya. Karena, menyapu bersih 5 partai sisa dengan kemenangan adalah satu-satunya cara untuk menjamin Gli Azzurri bisa lolos langsung. Mari kita nantikan dan doakan.

Featured Image : fullmatchesandshows.com

Advertisements

4 thoughts on “5 Hal Menarik Dalam Pertandingan Italia-Albania

  1. Itu dia mas. Makanya bisa dibilang kalo mau aman ya sisa 5 partai Italia harus menang semuanya. Apalagi kita tahu Italia bukan tim yang doyan ngebantai, sekalipun lawannya tim kecil. Beda sama Spanyol.

    Jadi kemungkinan besar Italia harus unggul poin dari Spanyol, bukan unggul selisih gol karena keliatannya sekarang hampir mustahil ngejer perbedaan selisih gol. 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s