“Warisan” Cruyff Itu Bernama Statistik Sepakbola

“Before I make a mistake, I don’t make that mistake.” – Hendrik Johannes Cruijff (1947-2016)

Kalian pasti tahu, kalimat diatas adalah sebuah kemustahilan. Bahkan Johann Cruyff, orang dibalik ucapan tersebut, juga tahu hal itu. Namun, meskipun ia dikenal ‘tidak religius’, ia sepakat dengan ajaran agama yang mengatakan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan tak ada yang sempurna, tapi manusia yang cerdas akan sadar ketika membuat kesalahan dan terus berusaha untuk memperbaikinya.

Ya, itulah maksud dari kalimat pembuka tulisan ini. Jika kalimatnya seolah-olah terdengar seperti menuntut kesempurnaan dan tinggi hati, itu hanyalah permainan kata-katanya saja. Johann memang dikenal dengan ucapan-ucapannya yang cerdas. Ucapannya kadang terdengar lugas seperti seorang pemikir, kadang dengan sedikit perumpamaan layaknya penyair.

johan cruyff www.thenational.ae
Great as a player, and so did he as a coach. That’s why he’s the best. (Foto: thenational.ae)

Waktu sudah berlalu cukup lama sejak Johann mengatakan kalimat di baris pertama tulisan ini. Namun, seperti yang kita ketahui, ucapan seseorang yang terekam dengan baik bisa kekal bertahan di ingatan orang lain dan bisa menjadi sebuah ilmu yang diwariskan turun-temurun, bahkan setelah sang pemberi ilmu sudah tiada. Itu sebabnya bila kita mengucapkan sesuatu yang baik, maka ucapan tersebut bisa menjadi ilmu yang berguna oleh para pendengarnya, begitu juga sebaliknya.

Dan kalimat pembuka tulisan ini pun menjadi ilmu dari Johann yang akhirnya diwariskan olehnya kepada seluruh pelaku dunia sepakbola, terutama pemain dan pelatih.

Saat zaman menjadi semakin modern, semakin banyak pula pelaku dunia sepakbola yang mendengar ucapannya, dan akhirnya mereka terus berlomba untuk melakukan yang diucapkan Johann, yaitu semaksimal mungkin mengurangi jumlah kesalahan.

Kini, sepakbola pun jadi semakin berkembang. Mulai dari begitu banyaknya adu taktik yang disajikan para pelatih, peran pemain di lapangan yang semakin berkembang, hingga penggunaan data statistik untuk menganalisa performa tim. Tujuan perkembangan tersebut hanya satu, yaitu membuat tim memenangkan setiap pertandingan. Dan tentunya tim yang menang adalah mereka yang bisa meminimalisir jumlah kesalahan dibandingkan lawannya.

Namun, dari semua perkembangan itu, ilmu statistik sepakbola termasuk yang paling terlihat kemajuannya. Hal ini pun dirasakan oleh semua pihak, mulai dari direktur olahraga, tim pelatih, pemain, pemandu bakat, analis/komentator hingga para penonton televisi.

Kini para pemandu bakat bisa memanfaatkan data statistik yang ia peroleh untuk menawarkan seorang pemain pada sebuah klub. Tim pelatih pun bisa membuat daftar pemain yang diinginkan untuk direkrut di bursa transfer berdasarkan kebutuhan taktikal dari data statistik.

Selain itu, tim pelatih juga bisa meneliti dan mengevaluasi kelemahan dan kelebihan tim sendiri dan juga tim lawan dari data statistik, sehingga mereka bisa menentukan strategi apa yang cocok saat menghadapi lawan tertentu, siapa saja pemain yang diturunkan, hingga siapa yang mengambil tendangan bebas. Semua demi terciptanya permainan yang efektif, efisien, dan tentu saja, berakhir dengan kemenangan.

Bagi para pemain, dengan melihat statistik performa pribadi, mereka dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan yang mereka miliki, sehingga mereka dapat menemukan cara untuk memanfaatkan kelebihan mereka dan menutupi kekurangan mereka dengan bantuan staf pelatih.

Sampai sini saja kita sudah bisa melihat bagaimana kehebatan statistik ini mempengaruhi dunia sepakbola. Juara Superliga Denmark 2015, FC Midtjylland pun merupakan salah satu contoh nyata sebuah klub yang benar-benar memanfaatkan data statistik dalam sejumlah kebijakan mereka, mulai dari taktik hingga pembelian pemain.

Saking hebatnya statistik ini berperan dalam dunia sepakbola, sampai-sampai banyak pihak yang terlalu mengagungkan data statistik. Hal ini pun juga sempat dikritik oleh Johann dalam ucapannya yang lain:

I find it terrible when talents are rejected based on computer stats. Based on the criteria at Ajax now I would have been rejected. When I was 15, I couldn’t kick a ball 15 meters with my left and maybe 20 with my right. My qualities technique and vision, are not detectable by a computer.”

cruyffajax_0
Statistik tak akan bisa menilai kecerdasannya. (Foto: fourfourtwo.com)

Ya, Johann pun mengingatkan mereka yang terlalu memuja data statistik, bahwa ada hal yang tidak bisa dilihat dengan angka, seperti visi, kecerdasan pemain, dan kualitas teknik. Lagipula statistik sudah sering ‘menipu’ kita dengan angka-angka yang terlihat mengagumkan namun tak berarti apa-apa.

Sebagai contoh, dahulu Arsenal pernah ingin merekrut Antoine Griezmann dari Real Sociedad, namun batal karena data statistiknya yang tidak begitu impresif. Kenyataannya, sekarang ia diburu banyak klub ternama, dan Arsenal sudah tak mampu (atau tak mau) membelinya karena ia sudah dipatok dengan harga selangit.

Contoh lainnya yang gampang diingat adalah Barcelona yang disingkirkan Chelsea di semifinal Liga Champions 2012 dan Portugal yang dikalahkan Yunani di final Euro 2004. Dua pertandingan tersebut menunjukkan bahwa dominan dalam penguasaan bola, jumlah umpan, peluang, percobaan tembakan, dan lain sebagainya tak akan berguna bila kita tetap kalah karena tak mampu mencetak gol lebih banyak dari lawan.

***

Pada dasarnya statistik sepakbola adalah alat bantu yang merupakan kumpulan data hasil pengamatan di masa lalu, untuk dimanfaatkan di masa kini, dan berharap mendapatkan hasilnya di masa depan. Dengan fungsinya sebagai alat bantu buatan manusia, tentu statistik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang sesuai harapan. Contoh-contoh di atas sudah menjelaskan semuanya.

Namun statistik digunakan agar sebuah tim sepakbola bisa memperbaiki penampilan mereka di lapangan, sehingga mereka bisa mengubah sejarah klub menjadi lebih baik lagi, terus melakukan inovasi, dan berjuang agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Dan siapa yang menyangka bahwa statistik sepakbola bisa menjadi wujud implementasi yang pas dari ucapan Johann di awal tulisan ini, meskipun penggunaan statistik mungkin bukan dipopulerkan olehnya. Namun, bisa saja para penggiat statistik di zaman sekarang juga terinspirasi dari ucapannya yang satu ini. Yah, hanya Tuhan yang tahu.

Semoga tenang di alam sana Opa Johann, dan berbanggalah bahwa kamu telah meninggalkan banyak hal berguna untuk dunia sepakbola, mulai dari akademi La Masia hingga petuah-petuah bijakmu yang abadi terekam dalam catatan sejarah sepakbola.

*Tulisan ini di-publish untuk mengenang Opa Johann yang wafat pada Maret tahun lalu.

Featured Image : fourfourtwo.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s