Semrawutnya Liga 1

Tak lama lagi, liga Indonesia musim baru akan bergulir lagi. Setelah sempat mengalami pengunduran jadwal, akhirnya pengurus PSSI menetapkan bahwa pada 15 April 2017, Liga 1 akan melangsungkan kick-off dengan partai pembuka antara tuan rumah Persib Bandung melawan Arema Malang. Liga 1 tahun ini merupakan kompetisi resmi pertama sejak 2014, dimana Persib menjadi juaranya.

Pengurus PSSI yang baru ditunjuk pun sudah mempersiapkan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan Liga 1. Berbagai kerjasama, kebijakan, dan terobosan pun dibuat dengan harapan kompetisi ini bisa menjadi titik balik sepakbola nasional menuju arah yang lebih baik, mulai dari kualitas kompetisi, pengelolaan liga, hingga operasional klub. Namun benarkah demikian?

Berikut ini saya akan jelaskan 4 hal yang perlu kamu tahu tentang persiapan Liga 1, biar kamu tidak kerepotan membuka sekian banyak link berita. Kemudian silahkan ambil kesimpulan, bagaimana Liga 1 akan berjalan ke depannya, apakah lebih baik dari yang sudah-sudah atau…. silahkan dibaca dulu deh.

1. Transparansi nilai kontrak kerjasama sponsor dan hak siar televisi

Bagaimana rasanya bila kamu mendengar bahwa Go-Jek dan Traveloka, dua perusahaan yang sedang terkenal dan berkembang dengan pesat saat ini, akan menjadi sponsor utama Liga 1? Waw, asyik dong. Belum lagi dengan penunjukkan TV One sebagai stasiun televisi yang menyiarkan pertandingan Liga 1. Tercatat akan ada 7 partai per minggu yang disiarkan secara langsung.

Namun saat bertanya berapakah nilai kontrak sponsor dengan Go-Jek dan Traveloka, seperti biasa, kita tidak tahu jawabannya. Pihak federasi maupun pihak sponsor tidak pernah mau menyebutkan. Kita hanya bisa mengira-ngira dari ucapan Pak Edy Rahmayadi, Ketua PSSI, yang mengatakan bahwa masing-masing klub (total 18 klub) akan mendapatkan subsidi sebesar 7,5 miliar Rupiah. Lalu muncul perhitungan 7,5 x 18 klub = 135 miliar Rupiah. Yah minimal segitulah.

ketua-umum-pssi-edy-rahmayadi-memberikan-kata-sambutan-pada-_161111110135-697
Yaelah pak, hari gini masih ga mau transparan juga? (Foto: republika)

Bagaimana dengan nilai kontrak hak siar televisi? Sama, tidak tahu juga. Hal ini pun juga hanya bisa dikira-kira dari perkataan Pak Edy (lagi) yang mengatakan bahwa sang juara Liga 1 bisa mendapatkan maksimal sekitar 17 miliar Rupiah. Jadi, nilai kontrak hak siar dan rating televisi yang diperoleh sebuah klub adalah sekitar 9,5 miliar Rupiah (maksimal). Hanya saja, berapa besar nilai minimumnya tidak jelas.

Sepintas, nilai uang yang diperoleh klub cukup besar, sehingga rasanya tidak mungkin bila nantinya ada klub-klub yang mengalami kesulitan dalam urusan operasional dan gaji. Tidak dapat prize money sebagai juara Liga 1 pun tak masalah. Apalagi mereka juga bisa mendapatkan sponsor dari pihak lain.

Namun bukan itu masalahnya. Yang dipertanyakan adalah transparansinya. Memang apa masalahnya jika dibeberkan ke publik? Nilai kontrak hak siar English Premier League saja kita bisa mengetahuinya untuk beberapa musim ke depan. Alasan hal tersebut ditutup-tutupi juga tidak jelas.

Bila pihak federasi sudah bersikap tidak transparan sejak awal, maka ke depannya dikhawatirkan hal-hal lain yang terkait dengan urusan finansial seperti laporan keuangan klub dan PSSI, pendapatan klub, pembayaran pajak, dan lain sebagainya juga akan tertutup untuk umum.

Kebiasaan ini sebenarnya harus diubah jika pengelolaan sepakbola nasional ingin menjadi lebih baik. Sederhana dan mudah dilakukan sebenarnya, tapi penting untuk sepakbola profesional.

2. Verifikasi klub peserta Liga 1

Dalam konferensi pers, Pak Edy mengatakan bahwa 18 klub peserta Liga 1 semuanya sudah lolos verifikasi. Ia mengatakan bahwa sejak awal proses verifikasi ini sudah diurus, seperti dikutip dari panditfootball.

“Sudah dari awal kami urus. Klub-klub ini, kan, bukan baru lahir. Mereka sudah profesional dan klub sudah siap bertanding dan jelas, dong, dia legal.”

Begitulah kata-katanya. Hanya saja, publik lagi-lagi tidak mengetahui proses verifikasi yang dilakukan itu seperti apa dan bagaimana menilainya.

Padahal, seperti dikutip dari detik, pihak Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) hingga akhir Maret ini masih mempertanyakan status verifikasi klub-klub tersebut. PSSI atau operator PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) sejauh ini belum memberikan data-data kepada BOPI untuk diverifikasi. Proses verifikasi yang dimaksud tersebut salah satunya adalah kepastian tentang jumlah peserta dan klub-klub yang wajib memenuhi persyaratan untuk mengikuti liga profesional.

ketua-umum-pssi-edy-rahmayadi-memberikan-kata-sambutan-pada-_161111110135-697
Mau kalo PSSI dibekuin lagi pak? (Foto: republika)

Masih segar di ingatan kita, bahwa penyebab pembekuan PSSI dulu erat kaitannya dengan masalah verifikasi ini. Tentunya Pak Edy tak ingin kejadian tersebut berulang di masa kepemimpinannya kan? Apakah penyerahan data-data klub untuk diverifikasi oleh BOPI ini hanya masalah waktu saja yang sedikit terlambat? Atau memang ada hal lain yang membuat Pak Edy bisa menjamin bahwa Liga 1 bisa berjalan dengan lancar meskipun di luar sana BOPI berkoar-koar tentang masalah verifikasi?

3. Usia dan komposisi pemain dalam skuad*

Singkatnya, jumlah pemain dalam sebuah klub tidak dibatasi. Namun mereka wajib memiliki setiaknya 5 pemain lokal berusia dibawah 23 tahun, 3 diantaranya wajib bermain sebagai starter dan bermain minimal 45 menit. Jumlah pemain berusia diatas 35 tahun yang boleh didaftarkan klub pun akan dibatasi menjadi dua orang saja.

Perlu diingat juga, bila pemain-pemain U-23 tersebut dipanggil oleh timnas untuk persiapan menghadapi turnamen, pihak klub yang kehilangan pemainnya karena urusan negara itu tetap tak akan mendapat keringanan dalam pertandingan. Mereka tetap harus memainkan 3 pemain U-23 selama 45 menit di setiap pertandingan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, semakin jelas bahwa regulasi ini seperti bertujuan untuk membuat liga yang mampu menopang timnas untuk berprestasi di Sea Games 2017 dan Asian Games 2018. Regulasi ini seperti ingin memberikan kesempatan pemain muda untuk lebih banyak bermain, agar Luis Milla selaku pelatih timnas bisa dengan mudah memilih pemain untuk kepentingan timnas di dua kompetisi antar negara tersebut.

ketua-umum-pssi-edy-rahmayadi-memberikan-kata-sambutan-pada-_161111110135-697
Please, Pak, asal pembinaan mulai dibenerin dari sekarang, ga dapet medali emas Sea Games juga orang ngerti kok. (Foto: republika)

Padahal, pemain muda yang dibutuhkan Luis Milla adalah pemain berkualitas yang memang mampu menjadi starter karena kualitasnya, bukan karena diberi jalan pintas seperti ini. PSSI pasti tahu, bila mereka ingin memiliki stok pemain muda dalam jumlah banyak, maka gulirkanlah liga untuk pemain U-21, U-19, U-17, hingga yang lebih muda.

Sayangnya, ini proses yang panjang. Kelihatannya ada target prestasi yang dipertaruhkan di Sea Games dan Asian Games, dan kepengurusan ini tak akan dianggap lebih baik dari yang sebelumnya bila tak ada medali emas yang bisa dibawa pulang.

Padahal, dengan keseriusan PSSI memperbaiki pembinaan, pendidikan dan kompetisi pemain muda, jangankan Sea Games, Piala Asia pun mungkin kita akan menjadi unggulan di masa depan. Sayangnya target jangka pendek seperti terlihat lebih penting.

Selain itu, peraturan pemain asing yang dibuat juga aneh. Pemain asing yang boleh direkrut adalah 2 pemain asing non-Asia, 1 pemain asing Asia, dan marquee player. Khusus untuk marquee player, jumlahnya bisa berapapun dan berasal dari negara manapun, yang penting klub tersebut memang punya dana yang cukup. Bagaimanakah kriteria marquee player di Liga 1 itu? Singkatnya, pemain tersebut merupakan pemain berkualitas, pernah ikut di tiga edisi Piala Dunia atau pernah bermain di liga top dunia, serta harus berusia di bawah 35 tahun.

Pengurus baru PSSI di awal kepengurusan mengatakan ingin memberikan kesempatan pada pemain lokal dan ingin mengurangi kuota pemain asing,  namun malah mengizinkan marquee player dalam jumlah yang tak terbatas. Bukankah ini bisa mematikan para pemain lokal, terutama yang berusia lebih dari 23 tahun?

Contoh kasus terburuk level minimum, dalam susunan starting line-up sebuah klub Liga 1, terdapat 3 pemain asing, 1 marquee player, dan 3 pemain U-23, maka pemain lokal senior hanya memiliki jatah 4 slot untuk bermain selama 90 menit. Bayangkan bila marquee player-nya ada 5, makin gawat kan. Tentu saja kasus diatas belum tentu terjadi, namun sudah ada potensi ke arah sana.

047677200_1456487951-Glenn_Sugita_01
Aturan marquee player biar klub Bapak (baca: Persib) gampang ya dapet untungnya? Bisa aja bikin peraturannya. (Foto: liputan6)

Jangan lupakan juga bahwa peraturan marquee player ini mampu menciptakan kecemburuan sosial antara klub kaya dan medioker, karena klub yang tidak merekrut marquee player hanya dibolehkan merekrut 3 pemain asing saja.

Yang saya pikirkan adalah, memangnya para pemain senior ini tidak akan dipertimbangkan lagi untuk timnas di masa depan, setidaknya selama kepengurusan Pak Edy? Kalau tidak, maka wajarlah bila kesempatan mereka bermain tidak dipedulikan.

4. Substitusi sebanyak 5 kali

Yang aneh dari peraturan baru ini adalah penggunaan 5 substitusi oleh sebuah klub di tiap pertandingan selama kompetisi berlangsung. Bagaimana mungkin PSSI menggulirkan kompetisi profesional level tertinggi di negara ini namun tidak mengikuti pedoman Laws of the game dari FIFA dan IFAB (badan internasional yang salah satu tugasnya adalah membuat peraturan dalam pertadingan sepakbola) yang hanya mengizinkan 3 subtitusi per klub? Di kompetisi atau turnamen apapun yang statusnya merupakan level tertinggi di sebuah federasi negara, konfederasi benua, hingga FIFA, memang hanya 3 substitusi yang diizinkan.

Menurut CEO PT LIB, Risha Adi Wijaya, hal ini dilakukan karena adanya pemain-pemain U-23 yang harus dimainkan sejak awal. Selain itu, peraturan ini dibuat agar kualitas kompetisi tetap terjaga. Aneh sekali ucapannya, seolah-olah para pemain U-23 inilah yang akan merusak kualitas kompetisi.

Bila memang demikian, maka peraturan wajib memakai 3 pemain U-23 selama 45 menit sudah cacat sejak awal, karena kualitas mereka diragukan, bahkan oleh pengurus liga. Namun demi kepentingan timnas, pemain-pemain ini tetap harus difasilitasi.

RAW jawapos
Suka-suka Bapak ajalah mau bikin peraturan kayak apaan. (Foto: jawapos)

PSSI seharusnya sadar bahwa Liga 1 adalah kompetisi resmi level tertinggi di negara ini, bukan seperti Indonesia Soccer Championship (ISC) A tahun lalu. Nil Maizar, pelatih Semen Padang pun mengatakan bahwa bila PSSI hendak mengakali penggunaan pemain U-23, harusnya PSSI membuat liga kelompok umur dari level kabupaten sampai nasional dan harus terorganisir dengan baik dan tidak menghapus tim level U-21 di setiap klub, yang akan dilakukan mulai musim ini.

Nil juga mengatakan bahwa akan ada pengaruh yang terasa bila klub harus bermain di kompetisi antarklub Asia, dimana hanya 3 substitusi saja yang dibolehkan. Itu pun jika juara Liga 1 diperbolehkan ikut kompetisi antarklub Asia. Ingat, jika Liga 1 tetap memakai 5 substitusi, maka Liga 1 akan dianggap kompetisi tidak resmi, selayaknya ISC A. Bila sudah begitu, kemungkinan Indonesia tidak akan bisa mengirim wakil di Piala AFC ataupun Liga Champions Asia.

Yang paling aneh, PSSI akan meminta izin kepada FIFA agar diperbolehkan memakai aturan ini. Sehebat apa PSSI sampai berharap akan diizinkan FIFA untuk mengakali Laws of the game?

***

Belum mau transparan, masih bebal soal verifikasi klub, hingga membuat aturan semaunya yang sesuai dengan kepentingan target pengurus. Itulah ‘sedikit’ keanehan di Liga 1. Jika liga utamanya saja sudah aneh begini, tak perlu heran bila nantinya Liga 2 dan Liga 3 tak lebih baik pengelolaannya. Semuanya  ini seperti menjelaskan bahwa pengurus baru belum memberikan efek perbaikan sepakbola nasional di awal kepengurusan.

Bahkan peraturan yang dibuat pun seperti ingin melakukan cara-cara instan demi meraih prestasi yang bisa dibanggakan kelak, seolah cita-cita mereka adalah mengatakan “kepengurusan saya sangat baik, buktinya dapat medali emas Sea Games” di masa depan. Ya, mungkin medali emas itu bisa kita dapatkan nanti, tapi tak serta-merta sepakbola kita jadi lebih baik.

Semoga saja para pengurus baru PSSI ini tidak berlarut-larut dalam segala hal aneh diatas, dan mau kembali ke jalan yang benar dalam usaha mereka memperbaiki sepakbola nasional. Mari kita doakan.

Jangan sampai orang jadi malas menulis dan membaca tentang perkembangan sepakbola nasional karena yang dibahas sama terus dari sejak dulu sampai sekarang. Di saat Thailand udah ngomongin peluang ke Piala Dunia, kita masih aja ngomongin medali emas Sea Games serta pentingnya tata kelola kompetisi yang baik dan pembinaan usia muda.

*Prediksi bahwa peraturan-peraturan Liga 1 dibuat untuk mengakomodasi timnas agar berprestasi di Sea Games 2017 dan Asian Games 2018 sudah pernah saya buat sejak saya menulis tentang artikel aturan pembatasan usia pemain. Linknya disini.

*Aturan marquee player akhirnya ditetapkan maksimum hanya 1 pemain saja per klub.

Featured Image : sidomi.com

Advertisements

2 thoughts on “Semrawutnya Liga 1

  1. Si edy terlalu keras kepala, bikin aturan semaunya, bukannya liga makin menarik tapi malah bikin males buat di tonton.
    Pemain senior lokal banyak yang terancam gantung sepatu karna aturan pembatasan usia. ini malah ada aturan baru yang super aneh bernama marquee player yang jumlahnya tidak di batasi.
    Sudah bisa di pastikan timnas kita kedepannya akan krisis striker.

    Liked by 1 person

    1. Ternyata aturan marquee playernya berubah mas, udah ditetapin jadi 1 aja.

      tapi memang peraturan lain sedikit merugikan beberapa pihak.

      kalo krisis striker, mungkin dikarenakan klub-klub lokal kalo beli pemain asing biasanya striker ya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s