Belajar Dari Cara Blackburn Melindungi Para Pemain Muda

Perkembangan para pemain muda yang baik dapat menjamin kelangsungan kekuatan sepakbola suatu negara di masa depan. Di Eropa yang merupakan kiblat sepakbola, hal ini benar-benar diperhatikan oleh klub-klub profesional, khususnya di negara-negara adidaya sepakbola.

Blackburn Rovers, juara English Premier League 1994-95, yang kini bermain di divisi EFL Championship (setara kastanya dengan Liga 2 Indonesia) juga mengatur dengan baik perkembangan para pemain muda mereka. Mereka sangat fokus menciptakan pemain-pemain muda yang kuat dan siap berkarir untuk jangka waktu yang panjang di masa depan. Disadur dari FFT Performance, Blackburn pun menjelaskan program mereka tersebut.

Pada suatu waktu, perwakilan FFT mengamati hasil X-rays dua orang pemain muda Blackburn. Kedua hasil X-rays tersebut menunjukkan kondisi tangan 2 orang pemain Blackburn Rovers yang sama-sama berusia 11 tahun, dengan tanggal lahir berselisih 2 minggu.

Sebuah hasil X-rays menunjukkan bahwa tulang pergelangan tangan salah satu pemain belum sepenuhnya berkembang dan memiliki usia biologis mendekati 10 tahun, sedangkan perkembangan tulang pemain lainnya mendekati kondisi pemain yang berusia 17 tahun.

Hasil scan tersebut diambil untuk mengetahui usia fisik sesungguhnya dari masing-masing pemain dan melihat perbedaan tingkat kedewasaan antar pemain di kelompok usia yang sama.

Singkatnya, usia boleh sama berdasarkan waktu kelahiran, namun usia kondisi fisik belum tentu. Di Blackburn, setiap pemain memiliki program latihan khusus individu untuk memastikan mereka berlatih dengan intensitas tertentu, sesuai dengan kemampuan fisik mereka.

blackburn 2(rovers.co.uk)
Anak-anak ini memiliki beban latihan yang berbeda-beda. (Foto: rovers.co.uk)

Dr. Russ Wigley, yang menjabat sebagai Head of Academy Sports Science di Blackburn, mengatakan bahwa sangat berbahaya bila semua pemain menjalani program yang sama.

“Kami tidak mau melihat seorang pemain yang lebih mungil mengangkat beban yang sama dengan pemain yang secara fisik sudah lebih berkembang di gym karena hal ini dapat menyebabkan cedera pada pemain mungil tersebut,” ujar Dr. Wigley.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Blackburn juga menemukan adanya peningkatan resiko cedera di masa pertumbuhan. Selama periode 2011-2015, sebanyak 21 persen cedera yang dialami oleh pemain-pemain Blackburn yang berada di tim U-9 hingga U-18 sangat terkait dengan kondisi pertumbuhan. Oleh karena itu, Dr. Wigley mengingatkan pentingnya melindungi fisik para pemain muda selama periode usia tersebut.

Menurutnya, tubuh mengalami perubahan fisik dan emosional yang luar biasa selama masa pubertas. Secara fisik, para pemain akan bekerja keras selama periode tertentu – bisa seminggu, sebulan, bahkan setahun. Hal itu dikarenakan kekuatan, koordinasi, serta fleksibilitas mereka semuanya terkena dampaknya.

Selama periode pertumbuhan yang tinggi tersebut, setiap pemain akan diukur setiap minggunya, dan latihan mereka akan disesuaikan.

blackburn 3(rovers.co.uk)
Mereka dijaga kondisinya agar tidak pensiun dini akibat cedera. (Foto: rovers.co.uk)

“Kami akan mengurangi beban latihan mereka (para pemain akademi) sebesar 20 persen, yang artinya mereka akan melakukan satu sesi latihan lebih sedikit setiap minggunya. Mereka masih berlatih di gym pada hari tersebut namun tanpa latihan beban, hanya latihan terkait berat badan saja. Hasil studi kami menunjukkan metode ini berhasil mengurangi jumah cedera yang terkait dengan kondisi pertumbuhan,” jelas Dr. Wigley.

Kunci utama untuk memastikan para pemain terhindar dari cedera semacam ini adalah program pengembangan kekuatan yang berjangka panjang. Dr. Wigley menjelaskan bahwa jika ada satu hal yang bisa ia berikan pada para pemain muda Blackburn, hal itu adalah peningkatan kekuatan.

“Anda bisa meningkatkan kecepatan hingga 5-10 persen dari kondisi sebelumnya, namun anda juga bisa membuat seseorang menjadi 30-50 persen lebih kuat dari sebelumnya dengan program jangka panjang,” ujar Dr. Wigley.

Dr. Wigley juga mengatakan bahwa para pemain akan langsung dilatih membangun kekuatan dasar mereka segera setelah masuk akademi di usia 9 tahun. Dimulai dari hal-hal yang fundamental seperti squat, melompat, mendarat, hingga merangkak. Setelah mereka menguasai semua hal tersebut, barulah mereka dilatih mengenai daya tahan di kelompok U-13.

blackburn 5(lancashiretelegraph.co.uk)
Para pemain muda itu tentu ingin menjadi seperti Danny Graham nantinya. (Foto: lancashiretelegraph.co.uk)

Ia menambahkan, para pemain muda Blackburn menjalani tiga sesi gym per minggu. Di hari Senin, para pemain akan melakukan latihan khusus untuk tubuh bagian atas yang terdiri dari latihan semacam bench press, shoulder press, chin-ups, ataupun pull-ups. Di hari berikutnya, barulah mereka fokus pada tubuh bagian bawah, dengan latihan rutin mencakup squat, split squat, Nordic hamstring curls, dan single leg deadlifts.

Rabu adalah hari istirahat, sedangkan Kamis dikhususkan untuk sesi pengembangan kekuatan, yang terfokus pada daya tahan saat bergerak dalam kecepatan tertentu. Latihan semacam cleans, hang cleans, plyometric, dan juga box jumps dipakai dalam sesi ini untuk meningkatkan kekuatan. (Catatan : semua jenis latihan tersebut bisa ditemukan dengan mudah di google dan kanal youtube.)

Dr. Wigley mengatakan bahwa program yang dijalankan dengan baik dapat memastikan para pemain memenuhi potensi atletik mereka dan menikmati karir yang panjang.

“Tujuan utama pekerjaan saya adalah menciptakan atlet kuat yang memiliki karir yang panjang tanpa terganggu oleh cedera. Jika anda memiliki rencana yang dapat berjalan selama 5-10 tahun, maka anda dapat mencapai hasilnya,” tutupnya.

Meskipun karir pemain sangat bergantung pada kiprah pemain itu sendiri, namun langkah yang dilakukan Blackburn juga sangat membantu para pemain muda tersebut dalam meniti karir sepakbola mereka.

blackburn 4(rovers.co.uk)
Atau mungkin ingin menjadi seperti mereka. (Foto: rovers.co.uk)

***

Coba kalian bayangkan, klub yang bermain di kasta kedua sepakbola Inggris saja sampai memiliki divisi sport science sendiri yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan menjaga kondisi fisik para pemain akademi mereka.

Sementara, perkembangan para pemain muda di Indonesia tampaknya belum terawasi dengan baik sejauh ini. Klub-klub profesional Indonesia pun belum memiliki akademi yang berjenjang seperti lazimnya di Eropa sana. Bila kurikulum sebagai standar pendidikan dan pembinaan pemain muda saja belum ada di negara kita, mungkin hal-hal yang detil seperti ini pun tak terpikirkan.

Bisa jadi hanya para pemain timnas dan pemain-pemain di tim utama tiap klub saja yang diperhatikan kondisi fisiknya. Sedangkan para pemain muda yang sedang merintis karirnya mungkin harus berjuang sendirian menjaga kondisinya sebelum akhirnya direkrut klub.

Dalam forum diskusi sepakbola yang diadakan oleh Bola.com dan KickOff! Indonesia pada 29 Maret lalu di Senayan, Jakarta, terdapat sesi yang membahas tentang sepakbola usia muda di Indonesia.

Pada acara yang juga dihadiri banyak perwakilan sekolah sepakbola (SSB) seantero Jabotabek itu, Danurwindo (Direktur Teknik PSSI) selaku pembicara saat itu juga mengakui masih banyak perbaikan yang harus dilakukan untuk membantu perkembangan sepakbola nasional di tingkat usia muda.

Om danur
Bersama Om Danurwindo di sebuah acara diskusi sepakbola. Sayang ia tidak fokus ke kamera saya, hehehe. (Foto: Adhi Prasetya)

Ia mengatakan bahwa mulai tahun 2017 ini PSSI akan mengadakan kompetisi usia muda di setiap provinsi. Ia juga menyebut program sertifikasi pelatih sedang digalakkan di kepengurusan baru ini, agar jumlah pelatih yang terstandarisasi di Indonesia semakin banyak. Dengan begitu, di masa depan para pemain muda kita bisa mendapatkan pembinaan yang baik dan berkualitas. Bila program pembangunan infrastruktur sepakbola yang bertahap juga dilakukan, maka setidaknya ada sedikit harapan yang muncul untuk kemajuan sepakbola nasional di masa depan.

***

Rasanya memang tidak adil jika membandingkan kondisi sepakbola usia muda di negara kita dengan Inggris. Kita masih jauh ketinggalan. Namun diharapkan para pemangku jabatan di dunia sepakbola nasional mau bergerak ke arah sana, belajar dari negara-negara maju di dunia sepakbola.

Semoga saja, di masa depan para pemain muda kita juga bisa dilindungi kondisi fisiknya di saat masa pertumbuhan, seperti yang dirasakan pemain-pemain muda Blackburn. Bila sudah demikian, maka pemain-pemain berkualitas yang bisa dihasilkan di negara kita akan semakin banyak. Dan, ya, PSSI memang harus sabar menjalankan prosesnya.

Featured Image : rovers.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s